
Ibu, Bapak serta kakak Nisa yang mendapat kabar pun terkejut bukan kepalang. Sampai-sampai Kini Ibu Nisa sedang terbaring lemah di kamar dengan di temani Arini di sampinya, setelah mendapat kabar dari warga bahwa putri bungsunya mengalami kecelakaan ibu dari dua anak itupun langsung jatuh pingsan.
Ibu Nisa syok serta kaget, saat dirinya tengah menunggu kepulangalan putrinya di teras, malah mendapat kabar buruk yang tidak pernah ia harapkan.
Arini kakaknya Nisa sedang berusaha membangunkan ibu nya dari pingsan dengan mengoleskan minyak kayu putih di dekat pangkal hidung ibunya, sedangkan sang Bapak sudah lebih dulu ikut warga yang menyampaikan kabar ke puskesmas di mana Nisa di larikan.
"Bu sadar Bu." Nisa terus mencoba membangunkan Ibunya dengan berbagai cara, kini ia tengah memijit ujung kaki ibunya. Berharap supaya sang Ibu segera siuman.
Tak lama nampak sang Ibu membuka matanya secara perlahan, di sana tergambar jelas sebuah kesedihan serta rasa cemas.
"Alhamdulillah Ibu sudah sadar." Ujar Arini penuh syukur.
"Ibu minum dulu." Arini menyodorkan cangkir yang berisi air putih hangat kepada ibunya.
Ibu pun mengambil cangkir yang di pegang oleh Arini dan meminumnya sedikit." Nak, bagaimana apa ada kabar baru tentang adikmu?, Bapak mu mana sudah pulang belum." Ibu mencerca Arini dengan banyak pertanyaan.
"Belum Bu, Bapak belum pulang, Kita berdo'a saja supaya Anisa baik-baik saja. Bagaimana keadaan Ibu sekarang?." Arini khawatir kabar kecelakaan Nisa dapat mempengaruhi kesehatan ibunya.
"Alhamdulillah nak Ibu baik-baik saja. Mendingan sekarang kita susul Bapak mu saja, Ibu tidak tenang jika belum melihat kondisi adikmu secara langsung."
"Tapi bagaimana dengan kondisi Ibu, apa tidak apa-apa jika Ibu juga kesana?." Tanya Arini ingin memastikan.
"Tidak apa-apa nak, Ayo cepat kita lihat adikmu. Ibu sudah baikan." Ajak Ibu tidak sabaran, Ibu pun segera turun dari ranjang segera bersiap,om-siap, di susul Arini yang segera beranjak menuju kamarnya. Mengganti pakaian yang ia kenakan dengan pakaian yang agak tebal dan panjang, karena hari sudah malam tentu udaranya akan terasa dingin saat bersentuhan denga kulit.
Arini pun sudah duduk di kursi yang berada di depan tv menunggu ibunya yang sedang berganti pakaian, Arini sendiri sudah siap dengan jaket yang melekat di tubuhnya serta ia juga membawa jaket miliknya yang lain untuk di kenakan pada Ibunya.
"Ayo nak kita berangkat." Ajak Ibu pada Arini.
"Ayo Bu, tapi pakai jaket ini dulu. Supaya Ibu tidak masuk angin." Arini memakaikan jaket yang sedari tadi ia pegang ke badan ibunya.
"Sudah Ayo Bu." Ajak Arini, yang di jawab dengan anggukan oleh Ibunya. Arini dan Ibunya bergegas menuju teras depan di mana motornya berada.
Arini segara menghidupkan mesin motor setelah memastikan keadaan rumah aman serta mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
__ADS_1
*
*
*
Nisa dan Tina masih terbaring di rumah sakit, mereka sudah sama-sama tersadar. Namun untuk bergerak masih lemah karena badan mereka yang terasa sakit karena terpental membentur aspal dan terjungkir ke semak-semak.
Tina hanya mengalami luka-luka saja di sekujur tubuhnya sedangankan Nisa tangannya sedikit membengkak karena sedikit keseleo karena ia jatuh dalam keadaan menyetir. Rencananya nanti setelah pulang ke rumah Nisa akan di minta di urut dengan tukang urut yang tentunya sudah berpengalaman.
"Nak bagaima keadaanmu, apa ada yang sakit. Atau ada yang mau kamu makan Bapak ambilkan." Tanya Bapak khawatir.
"Tidak ada, Nisa cuma mau minum Pak, Nisa sekarang sudah merasa lebih baik." Jawab Nisa.
Bapak pun segera mengambil cangkir air mineral yang sudah ia beli beberapa menit yang lalu.
"Ini nak." Bapak menyodorkan cangkir air mineral ke hadapan Nisa.
"Pak, dimana Ibu sama kak Arini?, mereka tidak ikut."
"Tidak nak, tadi Ibumu pingsan." Jelas Bapak jujur.
"Apaa Ibu pingsan?." Tanya Nisa memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
"Iya nak, tapi Ibumu tidak apa-apa. Ibumu hanya kaget saja." Elak Bapak setelah melihat wajah Nisa yang beruba cemas.
Tak lama muncul lah Ibu bersama Arini dari balik pintu.
Nisa dan Bapak Syukri pun melihat ke arah pintu." Nah itu mereka." Kata Bapak syukri.
Ibu pun segera mendekat ke arah ranjang Nisa, tanpak di sebelah ranjang Nisa ada Tina yang berbaring di temani kedua orangtuanya yang duduk di kursi.
Ibu pun meyapa mereka dengan tersenyum ke arah kedua orangtua Tina, begitupun sebaliknya kedua orangtua Tina tampak tersenyum ke arah Ibu Nisa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu nak." Ibu memperhatikan setiap inci tubuh putrinya.
"Nisa baik-baik saja Bu." Jawab Nisa seraya tersenyum manis ke arah ibunya, agar menyakinkan ibunnya bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Alhamdulillah nak kalau begitu." Ucap Ibu penuh syukur.
Ibu pun terus berada di sisi Nisa, melihat seberapa parah luka anaknya dan bertanya bagaimana mereka bisa mengalami kecelakaan. Setalah yakin tak ada yang begitu serius selain tangan Nisa yang keseleo Ibu pun pamit untuk melihat keadaan Tina teman Nisa anaknya.
"Kalau begitu Ibu mau melihat keadaan teman mu dulu. Kamu istitahat saja." Ibu pun segera berjalan menuju ranjang di samping Nisa di mana Tina dan kedua orangtuanya berada.
Nisa pun menurut, akhirnya ia kembali berbaring di temani Arini yang sedang duduk di sampingnya. Sedangkan sang Bapak ikut bersama Ibu menjenguk melihat keadaan Tina.
"Bagaimana, masih mau kebut-kebutan.?" Arini tersenyum ke arah Nisa.
Arini yang mendegar Nisa bercerita dengan sang Ibu mengenai sebab dirinya mengalami kecelakaan pun di buat geleng-geleng kepala. Sebab dirinya sudah begitu rawel memperingati Nisa supaya ketika bermotor tidak kebut-kebutan, namun ucapannya nyatanya tidak di indahkan oleh Nisa.
"Apa'an si kakak, ngomongnya kok gitu."
"Ya kakak nanya, enak nggak hasil dari kebut-kebutan di jalan. Nggak enak kan, makanya lain kali nggak usah ngebut kalau lagi berkendara. Biar pelan asal selamat." Ujar sang kakak.
"Kalau sudah begini, mau bilang apa lagi coba. Otomatis kamu belum bisa ikut latihan lagi kalau tangan kamu belum sembuh, untung cuma keseleo, bagaimana kalau patah. Kakak nggak bisa bayangin bagaimana reaksi Ibu sama Bapak." Ujar Arini panjang lebar.
"Iya, iya Nisa minta maaf. Nisa yang salah, lain kali Nisa bakalan ngebut lebih kencang lagi." Arini pun tersentak kaget dengan jawaban yang baru saja di berikan oleh adiknya.
"Kamu mau Kakak ikat di kamar hah,, dasar anak nakal. Awas saja kalau berani ngebut-ngebut lagi, bakalan kakak jadiin sate kamu." Ancam sang kakak.
Mendengar ancaman sang kakak Nisa malah tesenyum mengejek." Coba saja kalau kakak bisa, Aku yakin kakak nggak bakalan sanggup ngejar Aku." Ujar Nisa dengan percaya dirinya.
"Dasar adik lakn*ttt." Ucap kakak Nisa kesal.
Arini yang merasa sia-sia menasihati adiknya pun akhirnya memilih keluar dari ruangan puskesman, ia memilih duduk di kursi tunggu yang sudah tersedia di bagian depan puskesmas.
"Kakak ku cantik kalau lagi marah, tapi kok jelekk kalau lagi nggak marah. Apa ada set*an yang nempel ya, saking cintanya sama kakak. Makanya kakak cantik pas lagi marah saja." Ujar Nisa asal ketika sang kakak sudah keluar.
__ADS_1