Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Ungkapan Hati Nisa.


__ADS_3

"Di, mana Romadhon?. " Tanya Nisa sambil menduduk kan pant*tnya di samping Yudi.


"Lah kok nanya gue, biasanya kan nempel mulu kayak Prangko sama lo." Jawab Yudi yang duduk di samping Nisa.


Nisa melengos kesal." Ya nggak setiap waktu juga kali, lagian aku lagi serius ni nanya, biasanya jugakan sama kamu kalau nggak lagi sama aku." Kata Nisa tak mau kalah.


Yudi manggut-manggut membenarkan.


"Gue nggak tau Nis, mungkin ajah lagi di kamar mandi."


"Ngapain?." Tanya Nisa lemot.


"Semediii!!!." Jawab Yudi cepat.


Nisa cemberut mendengar jawaban Yudi.


"Pakek nanya ni bocah, ya gue nggak tau lah. Biasanya orang ngapain ke kamar mandi?. Lagian terserah Romadhon mau ngapain." Kata Yudi sambil mengibaskan tangan di udara.


Nisa fokus menghadap ke arah depan, dan menyenderkan badannya di dinding sekolah.


Sekarang Nisa dan teman-temannya dalam waktu istirahat, setelah melakukan latihan fisik yang menguras banyak tenaga.


"Atau jangan-jangan lagi ngapel." Celetuk Yudi tiba-tiba dengan mata melotot ke arah Nisa .


Ppllukkkk...


"Aw sakit Nis." Protes Yudi kesal sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak Nisa.


"Apa'ann, ngapel kok di kamar mandi. Bau tau nggak, yang ada cewek nya pingsan karena kelamaan menghirup bau sisa pembuangan manusia yang habis makan jengkol." Cerocos Nisa.


Nisa menyandarkan kembali badannya ke dinding, sambil memejamkan mata.


"Ringan amat tangan lo Nis, kasihan kepala gue. Udah nggak ada isinya, di tambah kena gamparan tangan lo setiap saat. Bisa oon abadi gue." Protes Yudi.


"Jadi cewek kok bar bar amat, awas jadi perawan tua lo."


"Bodo amat." Jawab Nisa enteng masih dengan mata terpejam.


"Hhuuu, jadi perawan tua beneran baru tau rasa. Nyesal karena pernah bilang bodoh amatt!!." Ujar Yudi sewot.


Mendengar itu, Nisa membuka matanya. Memandang Yudi dengan serius.


"Serius amat pak." Ujar Nisa cengengesan.


"Udah ah, males ngomong sama lo, ujung-ujungnya kepala gue jadi keluar asap." Yudi bangkit dengan wajah sebal.


"Ya maaf, sensitif amatt, lo mau kemana. Serius nanya?." Nisa mendongak ke atas karena Yudi berdiri di depan nya.


"Kamu nanya, kamu bertanya tanya." Jawab Yudi dengan kesal.


Nisa melengos kesal.

__ADS_1


Yudi menatap sinis. "Ya serah gue lah Nis, emang nya lo mau ikut?."


"Emz, nggak deh." Jawab Nisa setelah berfikir.


"Lah, tadi ngapain nanya." Ujar Yudi dengan dahi mengkerut dalam.


"Udah ah lagi malas ngomong." Yudi melangkah pergi membelakangi Nisa.


Nisa ikut bangkit dari duduk. "Woy serius mau kemana." Kata Nisa sedikit berteriak karena Yudi sudah sedikit berjarak dari posisi Nisa sekarang.


Yudi memutar badannya menghadap ke arah Nisa." Ke toilet lah Nis, jalan ini emang menuju ke mana lagi selain toilet." Jelas Yudi dengan wajah masam.


"Mau ikut." Tanya Yudi lagi.


Nisa cengengesan." Nggak lah, ya udah sono pergi."


"Ahh lo Nis." Yudi pun akhirnya melanjutkan perjalananya ke toilet.


"Kalau ketemu Romadhon bilang di cariin sama gue." Teriak Nisa sebelum Yudi benar-benar menghilang dari pandangan nya.


"Iya bawel." Jawab Yudi tak kalah berteriak.


"Hhuuu, pacaran nggak. Tapi kemana-mana mesti berdua terus, dasar aneh, coba ajah salah satu nya nggak saling lihat atau nggak berdekatan, mulai deh saling cari." Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Yudi mengomel.


Buuuggggghhh,......


Yudi baru saja terjatuh karena tersandung ember sampah yang mangkal di panggir jalan karena Yudi kurang berhati-hati saat berjalan.


*


*


*


"Nis, tadi kata Yudi kamu cari aku. Emang kenapa?. " Tanya Romadhon ketika menghampiri Nisa yang tengah bersandar di dinding sekolah dengan mata terpejam.


Tak lama insiden Yudi terjatuh, Yudi bertemu dengan Romadhon yang ternyata sedang menelpon seseorang di samping toilet.


Nisa membuka mata karena mendengar suara Romadhon." Nggak ada, cuma nanya doang." Kata Nisa sesantai mungkin.


Bibir Romadhon terangkat sebelah ke atas."Bohonggg, jujur ajah deh, kamu nggak bisa jauh dari aku kan." Ujar Romadhon dengan bangga nya.


Bibir Nisa terangkat sebelah ke atas dengan pandangan mencemo*h mendengar penuturan Romadhon."Iiidihh, ni bapak kegeeran banget. Sok tauu." Bisik Nisa di dekat daun telinga Romadhon.


"Lah emang ngapain lagi nyari-nyari aku kalau nggak bisa jauh dari aku, padahal aku masih di lingkungan sekolah, nggak jauh."


Nisa memanlingkan wajah dari tatapan mata Romadhon, takut ketahuan apa yang tengah ia rasa di dalam hatinya.


"Udah deh, ngaku ajah kalau memang iya." Romadhon menyengol-menyengol badan Nisa dengan lengannya bermaksud mengoda Nisa.


"Apa'an si, kayak anak kecil. kepedean." Wajah Nisa sudah memerah karena salah tingkah.

__ADS_1


"Ciiiee ada yang merah pipi nya." Semakin gencar saja Romadhon mengoda Nisa karena ingin lebih jauh mengetahui Perasaan Nisa terhadap dirinya.


Apakah cinta nya selama ini sudah mendapat balasan dari Nisa.


"Dalam hitungan ke sepuluh semua sudah berbaris kembali, satu, dua,,,,." Terdengar suara senior mereka yang tengah menghitung , mengintruksi para junior agar kumpul kembali untuk melanjutkan latihan, karena waktu istirahat sudah habis.


"Udah mau kumpul, cepatt." Ajak Nisa.


Nisa bangkit dan berniat berlari untuk cepat menghindari pertanyaan Romadhon.


"Niss, jawab dulu yang tadi." Teriak Romadhon, karena Nisa sudah berlari meninggalkannya.


Nisa menoleh ke belakang tanpa menjawab teriakan Romadhon.


"Ah selamatttt." Batin Nisa.


"Nis tunggu." Teriak Romadhon.


Romadhon segera menyusul Nisa yang sudah berlari jauh.


Dari arah ke jauhan, ternyata ada sesosok manusia yang sedari tadi terus memperhatiakan interaksi mereka berdua. Dengan pandangan mata menyala, marah, ia berlari menuju tempat di mana orang-orang sudah berkumpul kembali.


"Tunggu waktu mainnya Nisa, kita lihat. Siapa yang akan berada di samping Romadhon, aku atau kamu. Dan aku pastikan orang itu adalah aku." Ujar nya di dalam hati dengan wajah penuh amarah dan sombongnya.


Kini mereka sudah kumpul kembali di lapangan untuk melanjutkan aktivitas latihan mereka, dan kali ini mereka di minta untuk membuat dua barisan memanjang kebelakang.


Yang di bagi menjadi, satu barisan laki-laki dan satu lagi barisan perempuan.


"Nis, Nisa." Panggil Romadhon berbisik di dekat Nisa.


Nisa menoleh sebentar, dan kembali menoleh ke depan.


"Nis." Panggil Romadhon lagi, sedangkan yang di panggil pura-pura tidak dengar.


"Woy lagi latihan, bukan waktu pacar pacaran. " Tegur Yudi yang berada di barisan belakang Romadhon.


Romadhon menoleh Yudi sinis."Ganggu ajah!, tinggal tutup telinga doang." Ujar Romadhon.


"Ya ella bapak satu ini, susah banget kalau di kasih tau. Serah lo ajah deh, ntar kalau di marahin sama coach, nikmatinnn." Kata Yudi akhirnya.


"Yudi, Romadhon!." Panggil Coach Joni.


Yudi dan Romadhon saling pandang.


"Apa gue kata." Kata Yudi dalam hati.


"Lo sih, ngomong nya pakai toa."Jawab Romadhon dalam hati, seakan bisa membaca dari wajah Yudi.


"Ahh siall!!." Umpat Yudi dalam hati.


******

__ADS_1


__ADS_2