
Assalammualaikum.
Terdengar suara seseorang mengucapkan salam dari arah luar rumah Nisa.
Nisa yang mendengar suara salam dari seseorang pun beranjak ke luar kamar untuk melihat siapa yang datang.
"Eh ternyata kamu, Aku kira siapa, Tika sama jesica mana." Ujar Nisa pada seseorang yang ada di depannya sesudah membukakan pintu.
"Iya Aku lah Nis, memengnya siapa lagi. Hantu?. Jesica sama Tika lagi ada kerjaan, makanya belum kesini. Katanya mereka nyusul." Jawab orang itu.
Nisa tersenyum." Oh iya, Ayo masuk dulu." Ajak Nisa kemudian.
"Kamu sendiri di rumah, kak Rini mana?." Tanya Santi celingak celinguk mencari keberadaan Kakak Nisa.
"Kakak ada di kamarnya." Jawab Nisa.
Nisa dan Santi berjalan menuju kamar Nisa."Tangan kamu bagaimana Nis?, udah agak mendingan belum." Tanya Nisa ketika mereka sudah tiba di dalam kamar Nisa. Santi sendiri tahu keadaan Nisa setelah tak sengaja mendengar tetangga rumah nya ngerumpi di depan rumah ibu-ibu yang menjadi ketua tukang gosip saat dirinya hendak ke warung membeli gula pasir.
"Udah agak mendingan San."
"Makanya Nis, ingat umur, Hati-hati kalau lagi nyetir. Karena Kamu nggak punya nyawa serep. Sudah kayak pembalap provesional saja." Cerca Santi.
"Hhee, tantangan hidup San. Hidup harus punya banyak warna, kalau nggak begitu nggak ada cerita di waktu tua nanti." Jawab Nisa di sertai gelak tawa kecil dari bibirnya.
"Kamu ini Nis, perbuatan kamu itu berbahaya, dapat mengancam nyawamu. Memangnya kamu tidak kasihan sama Ibu dan Bapak kamu saat mereka mendengar kabar kamu kecelakaan, mereka pasti sedih." Ujar Santi mencoba mengingatkan Nisa tentang tindakan berbahaya yang sering ia lakukan.
Sejenak Nisa pun terdiam mencerna setiap ucapan Santi."Iya kamu benar, Aku salah. Kamu tenang saja, nanti Aku akan usahakan sedikit mengurangi kecepatan laju motor ku." Ujar Nisa santai.
Santi pun menepuk jidatnya sendiri." Jangan sedikit Nis, tapi banyak. Karena sedikit pelan bagimu itu terlalu kencang bagi orang lain."
Santi paham betul sedikit pelan yang Nisa maksud yaitu ampere motor sekitar 70, dan itu masih terlalu kencang. Apalagi bagi seorang wanita.
__ADS_1
Nisa pun tertawa mendengar kekhawatiran Santi terhadap dirinya."Iya, iya Santi kamu tenang saja. Jangan tegang begitu, seperti sedang menahan kentut saja. Kamu ternyata paham betul tentang diriku." Nisa menepuk gemas bahu Santi, sedangkan Bibir Santi sudah monyong lima senti.
"Bukan nya apa-apa Nis, Kamu itu sudah terlalu sering di ingatkan tapi tetap saja begitu. Kalau nggak khawatir dengan dirimu sendiri setidaknya ingat kedua orangtuamu, mereka akan sedih dan khawatir jika melihat anak nya terkena musiba. Dan tentu itu akan mempengaruhi kesehatan mereka."
"Memangnya kamu tidak peduli dengan keadaan mereka?." Tanya Santi penuh penekanan.
Nisa pun terdiam karena tak bisa menjawab pertanyaan dari Santi.
*
*
*
"Kamu nggak latihan silat Nis." Tanya Tika, Kini Tika dan Jesica sudah sampai di rumah Nisa, Jesica membawa buah pisang sebagai buah tangan untuk di berikan pada Nisa.
"Nggak, nunggu tangan ku udah nggak sakit lagi baru Aku latihan lagi. Kalau sekarang masih agak nyeri." Jawab Nisa dengan menunjukka tangannya yang masih sedikit membengkak.
"Iya, tapi kayak nya sebentar lagi sembuh. Aku udah nggak nyaman sepulang sekolah hanya diam di rumah saja, nggak ada aktivitas. Membosankan!!." Cicit Nisa.
Jesica menurun naikkan alisnya." Tapi itu kan demi kebaikan mu sendiri Nis, salah kamu nya juga kenapa nggak sayang nyawa. Malah kebut-kebutan kayak jalan nenek mu saja."
"Yyeee, bukan nggak sayang nyawa, itu namanya gaya masa kini. Hidup harus punya banyak warnah, jangan cuma satu warnah. Gelapp." Cerca Nisa dengan yakin.
Jesica memalingkan mata malas."Terserah kamu saja Nis, di bilangin mala ngeyel. Awas saja kalau mati gentayangan, akan ku ulek muka mu pakai sambel terasi. Biar panas sekalian tu muka, biar nggak bisa lihat jalan."
"Iya Nis jesica benar, kamu harus hati-hati kalau sedang berkendara, jangan ngebut. Bahayaaa." Sambung Tika.
"Ya mana mau dengar tu telinga, telinga Nisa kan terbuat dari batu. Keras nggak ada lobangnya, mana bisa dia dengar apa yang kita omongin." Sambung Santi.
"Hhheheee kamu benar banget si San, kamu pintar." Kekeh Nisa dengan mengacungkan dua jempol nya ke arah Santi.
__ADS_1
Sedangkan Tika dan jesica hanya bisa menepuk jidatnya. Menjelaskan sesuatu pada Nisa harus benar-benar memikiki sabar yang kuat, kalau tidak. Pasti akan langsung melayangkan tangan di udara saking kesalnya.
"Terserahlah susah ngomong sama telinga batu kayak kamu Nis, mantull keluar!. Percummaaa." Teriak Jesica tepat di depan daun telinga Nisa yang tertutup kerikil.
*
*
*
Setelah kepulangan teman-temannya, Nisa kembali ke kamarnya dan menggulingkan badannya di atas kasur miliknya.
Nisa mencoba mencerna setiap ucapan dari teman-temannya." Apa benar Aku terlalu ngebut, padahal Aku menyetir sudah agak pelan. Ahh mereka saja yang terlalu berlebihan dan takut, makanya mereka bilang begitu."
"Mereka sering sekali bilang Aku begitu. Padahal Aku hanya main-main dan bersenang-senang saja. Aku kan menyetir dengan hati-hati, hari itu saja yang naas sebelumnya tidak." Nisa segera beranjak menuju meja belajarnya, di sana terdapat celengan yang sempat ia beli dengan Tina saat pulang latihan sebelum kejadian naas itu yang menyebabkan tangannya terkilir.
Nisa duduk di kursi yang biasa ia duduki saat belajar, lalu ia menarik sisa uang pembelian celengan dari saku baju sekolahnya." Ya ada nya cuma pahlawan yang ini, sedangkan pahlawan yang lainnya masih nangkring di dompet orang lain. Nggak apa-apa lah."
Kini Nisa memengang uang lembaran seribu dan dua ribu."Bismillah hirrahmnirrahim semoga lancar Aku menabung, dan tangan ku tidak khilaf untuk mengambilnya. Padahal Aku sangat ingin memakan bakso beranak walaupun nggak ada bayi nya." Ujar Nisa.
Setelah mengisi celengannya Nisa meletakkan kembali celengnnya pada tempat semula,sedangkan dirinya kembali berbaring dengan mata tertuju pada langit-langit kamarnya.
"Susah benar kalau nggak ada uang, seandainya Aku terlahir dari orang kaya. Mungkin nggak akan merasaka susahnya hidup seperti ini." Tanpa sadar Nisa mengeluh tentang hidupnya.
Seketika ia pun tersadar bahwa dirinya telah mengingkari nikmat Allah." Astaghfirullah haladzim." Ucap Nisa.
Nisa pun segera bangkit dan mengambil posisi duduk dan mengusap dadanya naik turun." Maafkan hamba mu ini ya Allah, hamba hilaf." Ujar Nisa penuh penyesalan.
Setelah menyadari kesalahannya, akhirnya Nisa memilih merebahkan tubuhnya kembali dan mencoba memejamkan matanya karena tidak memiliki perkerjaan yang harus ia kerjakan.
Tak berselang lama Nisa pun tertidur dengan nyenyaknya menyelami dunia mimpi yang tengah menghampirinya.
__ADS_1
***********