
Bel masuk sudah kembali di bunyikan, sebagai pertanda bahwa jam istirahat telah selesai.
Nisa berhenti dengan aktifitas membacanya, dan berniat kembali ke dalam kelas untuk bersiap mengikuti jam belajar selanjutnya.
"Nis, kamu kok nggak nyusul?." Tanya Tina saat Nisa tiba di dalam kelas.
"Hheee, maaf ya gays. Aku lupa." Elak Nisa. Ia mendudukkan diri di kursi miliknya.
"Ya ampun Nis, kita pada nungguin kamu lo dari tadi. Ee ternyata kamunya asik sendiri, sampai-sampai jam istirahat berahir kamu masih nggak dateng." Ujar Ayu yang duduk di sebelahnya.
"Maaf." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Nisa.
"Ya sudah kali ini kita maafkan. Lagi pula untuk apa di perdebatkan semuanya sudah lewat." Kata Dia ikut menimpali.
"Emang kamu nggak lapar Nis?, apa kamu udah beli jajan di tempat lain?." Tanya Tina.
Nisa tersenyum kecil." Sudah kok, tadi Aku beli jajanan di warung depan. Dan ku makan sebelum masuk perpustakaan." Ujar Nisa bohong.
"Pantesan nggak muncul-muncul ternyata sudah beli tempat lain." Cicit Tina dengan memutar mata malas.
Obrolan mereka seketika terhenti dengan kemunculan guru yang sedang berjalan di depan bersiap untuk memberikan ilmu kepada mereka.
*
*
*
Sepanjang pelajaran berlangsung Nisa terus saja mengusap-usap perutnya agar rasa sakit yang sedari tadi menghampirimya segera hilang. Ada rasa tidak nyaman di sana, Nisa yakin pendemo yang sempat tertib kembali melakukan demo besar-besaran, sehingga dirinya merasa tak nyaman.
"Ya ampun ni cacing pada nggak perngertian banget, Aku bikin sate baru tau rasa." Omel Nisa dalam hati.
"Ssiiiitt, Aduuh sakit banget lagi." Nisa meringis menahan sakit.
Tak sengaja Ayu mendengar Nisa berdesis sontak menoleh ke samping." Kamu kenapa Nis?." Tanya Ayu khawatir.
Menyadari dirinya di perhatiakan Ayu, Nisa keglagapan segera melepas tangannya yang sedari tadi berada di perutnya."Nggak apa-apa Yu, Aku cuma iseng saja." Elak Nisa menampakkan senyum terbaiknya.
"Oh, Aku kira kamu sedang sakit."
Ayu pun merasa lega setelah mendengar penuturan Nisa bahwa dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu sudah hampir selesai Yu." Nisa mendongak melihat tugas Ayu yang hampir selesai.
Ayu menoleh sekilas."Iya Nis, tinggal beberapa lagi yang belum di jawab."
"Yu Aku boleh nggak nyontek punya kamu?." Tanya Nisa dengan wajah memelas, karena keadaan perutnya yang sakit membuat dirinya sulit untuk berfikir. Itu lah sebab mengapa dirinya meminta contekan dari Ayu.
Ayu tercengang karena tidak biasanya Nisa mencontek."Boleh, lihat saja kalau mau." Ayu menyingkirkan tangannya yang berada di atas tugasnya yang sudah di isi oleh dirinya, agar Nisa bisa leluasa mencontek miliknya.
"Makasih Yu." Nisa tersenyum kecil ke arah Ayu, dan mulai menyalin jawaban milik Ayu.
Ayu terus memperhatikan Nisa yang tampak berbeda dari biasanya."Tumben minta contekan, biasanya juga Aku yang nyontek." Ayu memberanikan diri bertanya dari pada terus di hantui rasa penasaran.
"Kamu nggak ikhlas Yu?!." Tanya Nisa sedikit jengkel, keadaannya saat ini benar-benar membuatnya kacau.
"Aku cuma nanya Nis, kok ngegas!." Cicit Ayu yang sedikit kesal karena Nisa salah mengartikan pertanyaannya.
Nisa berhenti menyalin tugas Ayu."Ya sudah kalau nggak ikhlas, Aku bisa kerjakan sendiri." Ujar Nisa kemudian, karena dirinya tak mau bertambah pusing.
"Aku bukannya nggak ikhlas Nis, Aku cuma nanya karena kamu nggak kayak biasanya." Ujar Ayu hati-hati agar Nisa tidak salah paham.
"Nggak apa-apa Yu, perut ku lagi nggak enak, sakit. Makanya Aku malas mikir." Jelas Nisa sedikit melunak, karena perutnya memang sedang sakit, tapi Nisa tidak menyebutkan penyebab dirinya mengalami sakit perut.
"Nggak tau, mungkin tanda akan datang bulan." Jawab Nisa beralasan.
"Bisa jadi si, ini kamu oleskan minyak hangat ke perutmu. Siapa tau rasa sakitnya bisa berkurang." Ayu mengeluarkan minyak hangat dari tasnya, dirinya memang kerab membawa minyak hangat saat ke sekolah. Karena Ayu tidak tahan dengan udara pagi saat berangkat ke sekolah, makanya ia berinisiatif membawanya.
Nisa mengambil minyak hangat dari tangan Ayu."Makasih ya Yu." Nisa segera mengoleskan minyak ke perutnya, berharap rasa sakit itu bisa berkurang. Setidaknya sampai ia pulang.
Hanya satu yang Nisa inginkan sekarang, yaitu cepat pulang ke rumah, agar bisa segera menghentikan tindakan cacing yang semena-mena di dalam perutnya.
Sungguh Nisa merasa sudah tidak sabar ingin segera pulang.
Setelah merasa lebih baik Nisa dan Ayu kembali mengerjakan tugas yang di berikan guru agar bisa selesai tepat waktu.
*
*
*
"Kak cepetan ngebut!." Nisa dan kakaknya sedang dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
"Ngebut?." Tanya kakaknya dengan alis saling menaut.
"Iya kak, kakak pelat banget bawa motornya. Kayak jalannya siput saja." Omel Nisa.
"Tumben protes, biasanya anteng-anteng saja."
"Kalau kakak nggak mau nambah kecepatan, biar Aku saja yang nyetir." Ujar Nisa kesal, karena dirinya sudah tak sabar ingin segera datang ke rumah.
Kakak Nisa yang begitu paham dengan kebiasaan adik nya terpaksa menambah kecepatan, dari pada Nisa yang nyertir. Bisa-bisa nyawa nggak sampai besok, alias isdet.
Setelah memakan waktu beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah, Nisa segera berlari masuk ke rumah setelah melepas sepatunya.
Arini hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya, yang menurutnya tidak seperti biasanya.
Nisa segera ke dapur setelah meletakkan tas nya ke dalam kamar tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Langkah kaki Arini yang hendak ke kamar mandi pun seketika terhenti. "Dek, pelan-pelan makannya." Ujar Arini ngeri, saat dirinya tak sengaja melihat adiknya yang tengah makan dengan lahapnya, mulut Nisa mengembung karena penuh.
Namun Nisa seolah tak mendengar teguran dari kakaknya, ia terus saja mengunya tanpa hentinya.
"Dek kamu denger nggak, kakak lagi ngomong ini!." Ujar Arini kesal, Karena dirinya tidak di perdulikan adiknya. Seolah-olah dirinya makhluk tak kasat mata.
"Iya kak, Aku dengar." Nisa menghentikan makannya sejenak mengambil air minum karena haus.
Bagaimana tidak Nisa sudah menghabiskan dua piring sampai tak bersisa.
"Ya ampun Nis, kayak nggak makan setahun saja. Rakus bener." Arini melongo dengan sikap adiknya yang menurutnya aneh.
Aaaaakkkkggg,,,
Terdengar suara sendawa Nisa yang mengelegar. Nisa tersenyum senang karena dirinya sudah merasa kenyang.
" Isss Jorok!!." Omel Arini sambil mengapit hidungnya dengan kedua jarinya.
"Biarin." Ujar Nisa, sebelum berlenggang meninggalkan kakaknya yang masih bengong di tempat.
"Ya ampun kesambet set*n mana itu anak?, kesurupan set*n got kali. Makanya rakusnya Minta ampun." Arini bergidik ngeri mengingat adiknya yang menghabiskan nasi sampai dua piring penuh sampai-sampai isi piringnya ada yang keluar.
Arini yang merasa merinding pun mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.
***********
__ADS_1