
Satu minggu kemudian.
"Wah keren banget baju seragam kita, Aku jadi tambah semangat latihan kalau begini." Ayu berjingkrak-jingkrak saking senangnya.
"Udah stop Yu, malu-maluin saja." Ujar Dia kesal, mereka berempat kini menjadi pusat perhatian.
"Iya ni Ayu pakai acara lompat-lompat segala, kayak kodok tau. Nggak ingat umur apa." Cicit Tina yang tak kalah kesal karena malu.
Mendapat plototan dari Dia dan Tina akhirnya Ayu kembali duduk seperti semula.
Lain dengan Nisa dia malah terkekeh."Sabar, mungkin karena saking senangnya Ayu sampai lupa daratan." Ujar Nisa sambil melihat ke arah Ayu yang cemberut.
"Iya ni kalian berdua, ikutin tu si Nisa. Yang ikut bahagia di saat temannya bahagia, bukan seperti kalian yang selalu tertawa di atas penderitaan ku, dan sekarang aku sedang berbahagia, kalian malah nggak seneng."
Mata Dia melotot keluar."Hah, apa kamu bilang, emangnya kita terlihat nggak seneng gitu. Perasaan juga kita nggak pernah deh senang di atas penderitaan mu, jangan ngawur kamu." Ujar Dia yakin, karena ia tak merasa menjadi teman seperti yang Ayu ucapkan.
"Hooh, kapan Yu." Tina juga ikut bersuara.
"Kalian nggak ngerasa, ya udah." Jawab Ayu enteng dan kembali mencoba mengenakan seragam baru mereka yang baru di bagikan dengan perasaan senang, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Sedangkan Nisa hanya diam memperhatikan mereka yang tampak sangat bahagia, dia hanya berdo'a dalam hati supaya tabungan nya cepat terisi penuh dan segera menyusul membeli seragam seperti teman-temannya.
"Eh Nis, kamu kok belum beli baju. Emang kenapa?." Dia berhenti mencoba baju barunya dan segera melipat kembali, karena akan ia cuci lebih dulu, setelah bersih baru akan ia pakai.
Itu memang sudah menjadi kebiasaan Dia jika membeli baju baru harus di cuci terlebih dahulu, agar terjamin nyaman dan tenang saat memakainya.
Nampak Ayu dan Tina juga memandang ke arah Nisa, seakan menunggu jawaban dari Nisa.
Ya mereka bertiga memang tak di beri tahu Nisa sebelumnya alasan mengapa dirinya belum juga memesan seragam seperti mereka.
Nisa memandang teman-temannya satu persatu sebelum menjawab pertanyaan mereka." Aku belum punya uang, aku masih nabung." Jawab Nisa jujur.
"Kenapa nggak minta sama orang tua kamu Nis." Tanya Dia yang penasaran.
Perlahan Nisa menghembuskan nafas panjang." Orang tua aku belum punya uang, hasil panen di ladang menurun. Kalau kalian mah enak, orang tua kalian semua nya berduit, kalau aku harus nabung dulu baru bisa beli." Tutur Nisa sedih.
Mereka bertiga ikut sedih mendengar penuturan Nisa." Yang sabar ya Nis, semoga saja tabungan kamu cepat terkumpul. Atau nggak kita bantu nanti kurangnya." Ujar Tina.
Ayu dan Dia manggut-manggut membenarkan.
Nisa nampak melihat ke arah ketiga temannya secara bergantian." Makasih sebelumnya, tapi nggak apa-apa aku bisa sendiri. Lagian aku pengen nya hasil usaha nabung ku sendiri, aku nggak mau nyusahin orang lain." Tolak Nisa.
__ADS_1
"Nggak nyusahin kok, kita kan sahabat. Sudah sepatutnya tolong-menolong." Sambung Ayu cepat.
"Makasih kalian udah mau bantu, tapi nggak usah. Aku mau usaha sendiri." Nisa fikir itu terlalu berlebihan, dan juga ia tak mau menyusahkan teman-temannya.
Ketiga teman Nisa nampak menghembuskan nafas prustasi." Ya udah deh Nis, mana yang terbaik buat kamu saja. Kita nggak mau maksa, dari pada kita maksa bantu kamu tapi kamunya menerima secara terpaksa kan nggak enak." Jawab Dia.
Nisa tersenyum karena mereka akhirnya mau mengerti dan mereka berempat berpelukan, sama-sama memberi dukungan kepada Nisa agar tetap semangat dan berjuang.
*
*
*
Selepas latihan, anak-anak nampak keluar pagar menuju rumah masing-masing, juga termasuk pelatih serta guru yang juga ikut latihan silat.
"Hay dek, mau bareng kakak nggak?, kakak pulang sendirian lo." Tawar Romadhon ketika sudah berada di samping Nisa.
Ya tadi tak sengaja Romadhon melihat Nisa duduk di antara anak-anak yang lain yang juga sedang menunggu teman mereka mengambil sepeda motor mereka yang ada di parkiran.
"Maaf kak, nggak bisa. Aku pulang bareng Tina." Tolak Nisa halus.
"Nggak papa Tina suru ajah pulang sendirian, biar kakak yang anter kamu pulang." Meski sudah di tolak, namun rupanya Romadhon tak mau putus asa begitu saja.
"Ajet?." Gumam Nisa kecil, namun masih bisa di dengar Romadhon dan Yudi.
"Iya dek, namanya Ajet." Tunjuk Yudi ke arah Romadhon yang ada di depannya.
Romadhon pun ternganga. "Apa'an si." Kesal Romadhon, karena Yudi membocorkan panggilan namanya dengan nama yang baginya sangat buruk, bahkan saat berada di depan wanita incarannya.
Mau di taruh di mana mukanya.
Romadhon kesal dengan Yudi yang tiba-tiba datang merusak rencananya.
Sedangkan Yudi hanya senyum-senyum tanpa adanya rasa bersalah.
"Apa'an si kamu Yud, turun sana. Aku pulang bareng sama Nisa." Romadhon mendorong Yudi agar turun dari boncengannya.
"Ye pelit amat." Yudi pun terpaksa turun dari boncengan Romadhon, karena di pelototi oleh Romadhon.
Tak lama Tina pun datang di antara mereka dengan sepeda motornya.
__ADS_1
"Ayo Nis kita pulang, bentar lagi magrib." Ajak Tina, dan ia melihat secara bergantian dua lelaki yang ada di depannya.
Nisa pun mengangguk, dan segera duduk di boncengan Tina.
"Kak kita duluan ya." Ujar Tina sebelum menjalankan sepeda motornya.
Sesangkan Nisa menganggukkan kepalanya ke arah Romadhon dan Yudi sebagai bentuk berpamitan.
"Nis bareng Aku ajah." Teriak Romadhon ketika kendaraan Tina melaju melewati gerbang sekolah.
Nisa sempat menoleh kebelakang sebelum kembali melihat ke arah depan.
"Ya gagal lagi, sendiri lagi dong pulangnya." Gumam Romadhon kecewa.
Yudi menepuk pundak Romadhon dengan keras.
"Aw, apa'an si kamu Yud. Udah ganggu rencana pdkt aku, sekarang malah main kasar." Romadhon terus ngerecocos sambil mengusap pundak nya yang baru saja di tabok oleh Yudi.
Sedangkan Yudi tertawa ngakak, seakan menertawakan kesialan yang melanda Romadhon, sunggu teman durjana yang nggak ada akhlak.
"Sabar Jet, kalau jodoh nggak bakalan kemana. Kalau dia kemana-mana berarti ya bukan jodoh mu. Sekarang ayo pulang." Yudi kembali naik ke boncengan Romadhon.
"Enak saja, kamu yang nyetir." Romadhon terun dan mendorong pundak Yudi ke depan agar Yudi yang menyetir. Lumayan nggak jadi pulang sama cewek gebetan dapat supir dadakan ya nggak papalah.
"Cepat." Titah Romadhon seolah menjadi seorang tuan.
"Siap bos." Motor mereka pun melaju dengan kecepatan sedang melewati banyak nya bangunan yang berjejeran di pinggir jalan.
*
*
*
"Nis kayak nya kak Romadhon beneran suka sama kamu." Ujar Tina sedikit berteriak.
"Entah lah Tin, kayak nya si iya. tapi aku nggak mau pacaran." Ungkap Nisa juga dengan sedekit berteriak karena mereka sedang berada di atas motor. Dan suara mereka berperang dengan hembusan angin.
"Takut pacaran ya Nis, trauma sakit hati karena di selingkuhin." Tebak Tina sok tau.
Nisa terperangah dengan tebakan Tina."Nggak, cuma nggak mau ajah. Males."
__ADS_1
Tina tak semerta-merta percaya begitu saja."Hhaaahha, kalau nggak mau ngaku ya sudah. Nggak papa kali Nis." Tina geleng-geleng kepala, karena Nisa tak mau mengaku trauma sakit hati fikit Tina.
*********