
Hari ini tiba lah saatnya di mana seleksi atlet di adakan.
Berbalut dengan celana trening olahraga lengkap Nisa dan Romadhon berbaris di antara peserta yang lainnya.
Selesi itu di ikuti banyak siswa dari berbagai desa dan sekolah , dan juga berbagai aliran pencak silat.
Setekah mengikuti berbagai rangkaian tes, Nisa dan peserta lainnya bersiap-siap pulang, dan menunggu hasil dari seleksi hingga beberapa minggu lagi.
Nisa berharap dirinya masuk ke daftar yang terpilih.
Begitupun dengan Romadhon yang masih setia mendampingi Nisa.
Setelah menunggu selama satu minggu lamanya, akhirnya pengumuman penerimaan pun di bagikan ke pada coach masing-masing.
Melihat teman-temannya bergerombol, Nisa ikut penasaran dengan hasilnya.
Perasaan Nisa sudah tak menentu, was-was tiada henti sebelum melihatnya secara langsung.
Alangkah terkejutnya Nisa ketika namanya tidak ada di dalam daftar nama yang di terima, begitu pun nama Romadhon yang juga tidak ada.
Namun Romadhon bersyukur, karena dengan begitu dirinya akan tetap bersama dan dekat dengan Nisa.
Tidak satu pun nama Nisa dan Romadhon yang tercantum di kertas yang di pegangnya.
Nasib baik memang sedang berpihak ke Romadhon sepertinya, yang tidak membiarkan ia berpisa dengan Nisa.
Sejak melihat namanya tidak ada di daftar, Nisa jadi sering melamun, dan napak begitu nyata di mata Romadhon jika Nisa kecewa.
"Sabar ya Nis, mungkin memang lebih baik kamu tetap di sini. Mungkin juga ibu kamu memang nggak mau jauh dari kamu, karena dia sayang sama kamu." Kata Romadhon yang tengah duduk di samping Nisa di bangku taman sekolah.
Nisa menoleh sejenak ke arah Romadhon, dan kembali melihat ke depan dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Ya Nisa memang tengah kecewa dan menyalakan ibunya, karena dia tidak masuk atlet, sebab do'a ibunya, yang mendoakan dirinya tidak di terima jadi salah satu atlet kabupaten.
"Kamu nggak tau si Don, bagaimana rasanya jadi aku. Coba bayangin di saat kamu sangat menginginkan sesuatu, dan sesuatu itu tidak bisa kamu dapat kan. Apalagi penyebabnya orang terdekat kita."
Tampak Romadhon menghembuskan nafas pelan ketika mendengar ucapan Nisa.
"Nis, ibu kamu mau yang terbaik buat kamu, dia nggak mau kehilangan kamu, kalau kamu jauh dari dia, otomatis dia nggak bisa setiap hari melihat dan memantau keadaan kamu."
Nisa pun tak menyangkah ternyata do'a orang tua memang terkabulkan, dirinya semula menyangkal itu semua, sekarang jadi percaya, bahwa semua terletak dari ridho nya orang tua.
"Coba kamu lihat dari posisi ibu kamu, jangan menumpahkan masalah hanya pada ibu mu, hanya karena ibu mu mendoa'akan kamu nggak masuk, lantas kamu jadi membenci dan terus menyalakannya. Dan mungkin juga Allah memang juga maunya kamu tetap dekat sama ibu." Romadhon berusaha memberi pengertian terhadap Nisa, dan ia berharap Nisa bisa memahami maksudnya.
"Ya tetap aku nggak suka Don, kan kamu tau sendiri, aku udah melakukan semaksimal aku, aku sudah berusaha menjadi yang terbaik, tapi apa hasilnya?, aku gagal!!!." Bentak Nisa.
"Dan coba kamu lihat, Dia, Ayu, sama Tina semuanya masuk, cuma aku yang nggak masuk!!!."
Romadhon berusaha diam, dan berusaha meberikan Nisa ruang untuk mengeluarkan semua beban yang ada di hatinya.
"Istighfar Nis, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, Allah nggak suka, dan itu nggak baik." Romadhon masih berusaha menguatkan dan mengingatkan Nisa.
Nisa belum bisa menerima kenyataan, bahwa di antara banyaknya anak didik coach Joni ternyata yang sudah lama latihan hanya tinggal dirinya dan Romadhon saja, sedangkan yang lainnya masuk ke daftar atlet semua Dan sekarang hanya menyisahkan dirinya, Romadhon dan anak didik baru coach Joni yang baru bergabung beberapa bulan yang lalu.
Dan kabarnya, mereka yang terpilih, akan pindah sekolah ke tempat yang sudah di tentukan.
Di bangku taman sekolah Nisa menagis tanpa suara, di saksikan oleh Romadhon yang masih setia di sampingnya, menyaksikan tangisan pilu dari Nisa.
"Sekarang kamu boleh nagis sepuasnya Nis, tapi setelah itu sudah tidak boleh lagi ada air mata kesedihan yang kamu keluarkan, kecuali air mata bahagia, aku yakin kamu bisa jadi juara, walaupun hanya latihan di desa. Yang terpenting itu kamu mau belajar sungguh-sungguh pantang menyerah, dan bertekad menjadi sang juara." Pesan Romadhon.
Setelah beberap menit menangis, Nisa sudah bisa mengontrol emosinya, sekarang sudah tidak menagis, hanya menyisahkan sesegukan saja. Akibat terlalu lama menagis.
Dan Romadhon tentunya masih setia mendampingi Nisa.
__ADS_1
*
*
*
"Ibu, ibu kok tega do'ain Nisa nggak masuk jadi atlet." Protes Nisa ketika baru selesai makan malam.
Ibu Mulyani menoleh sejenak ke arah Nisa, dan kembali meminum teh miliknya.
Ya sekarang Nisa dan Ibunya tengah duduk di teras rumah, di temani teh hangat dan cemilan keripik singkong balado.
"Ibu melakukan demi kabaikan mu Nis." Ujar Ibu beralasan.
Yang sebenarnya Ibu Mulyani takut bila berjauhan dengan anaknya. Dan ia belum siap bila harus jauh dari putrinya.
"Ibu kan tau Nisa pengen banget masuk jadi atlet." Jawab Nisa dengan nada lembut, bagaimana pun yang ia ajak bicara tetaplah orang tua yang harus di hormati dan ia jaga perasaannya.
Ibu Mulyani diam tak menjawab.
"Andai kamu tau nak, ibu berusaha melakukan yang terbaik buat kamu, dan ibu belum siap jika harus berjauhan dengan semua anak ibu, cukup kakak mu saja yang sudah susah ibu jangkau." Batin ibu Mulyani.
"Ya udah Bu, Nisa pamit ke kamar, ngantuk." Nisa segera berlalu dari sisi ibunya.
Dan sekarang hanya menyisahkan Ibu Mulyani seorang diri duduk di luar, karena suaminya sudah izin tidur lebih dulu, karena merasa tak enak badan dan mengantuk.
Ibu Mulyani menatap nanar kepergian Nisa.
"Ibu berharap kamu mengerti suatu saat nanti nak, bahwa tak selamanya kamu berada di sisi ibu, begitupun ibu yang tidak selamnya bisa berada di sisi mu. Dan sekarang ibu tengah menikmati kebersamaan ini. Tolong mengertilah nak." Ujar Ibu lirih ketika ia sendirian di teras, ada air yang mengalir di pelupuk mata yang sudah kendur miliknya.
Ibu Mulyani menagis pilu dalam diam, merasa dirinya terlalu tega membiarkan anaknya gagal mencapai ke inginannya, dan di sisi lain dirinya tetap merasa belum rela bila harus jauh dari anak-anaknya.
__ADS_1
*********