Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Cemburu.


__ADS_3

Di sekolah.


Nisa dan teman-temannya sedang duduk di teras depan sekolah, seperti biasa mereka akan menghabiskan waktu dengan mengobrol menunggu lonceng di bunyikan.


"Tangan kamu gimana Nis?, udah baikan." Tanya Tina yang duduk di samping Nisa.


"Iya alhamdulillah, semalam udah di urut ketika sampai di rumah." Jawab Nisa.


"Tangan kamu kenapa Nis?!, kok kayak ikan buntal." Tanya Dia yang baru menyadari tangan Nisa sedikit berbeda dari biasanya.


"Biasalah Dia, habis balapan. Mau cepat-cepat ketemu jodoh." Jawab Tina dengan ekspresi datar.


"Ketemu jodohh?, tumben. Biasanya kayak nggak pernah tertarik dengan yang namanya laki-laki apalagi masalah jodoh." Cicit Ayu bingung.


"Iya, Nisa kan manusia anti laki-laki. Biasalah mau jadi perawan tua seumur hidup. Aku nggak percaya Nisa ngejar laki-laki." Ujar Dia.


Nisa yang sedari tadi hanya menjadi penonton pun membuka suara." Enak saja bilang perawan tua!, gini-gini masih normal kali. Nggak bahas cowok bukan berarti nggak tertarik, cuma Aku lagi jaga hati, supaya terhindar dari sakit hati dan yang namanya virus bucin. Kayak situ tu." Nisa menunjuk Tina dengan ekor matanya.


"Nyindir ni ceritanya." Tina yang merasa tersindir jadi sedikit kesal.


Nisa, Dia dan Ayu cekikikan mendengar protes dari Tina." Yang sabar ya Tin, ini ujian." Balas Nisa yang masih cekikikan.


Tina pun hanya mendengus kesal.


"Aku lihat-lihat tangan kamu bengkak banget Nis, pasti sakit banget kan." Ujar Ayu dengan ekpresi khawatir.


"Udah enggak, kalau semalam ia sakit banget." Jawab Nisa.


"Kasihan banget kamu Nis, semoga cepat sembuh ya Nis." Dia nampak prihatin melihat kondisi tangan Nisa yang sedikit memar di sertai bengkak.


Tina yang duduk di samping Ayu pun membuka suara."Ya elah cuma Nisa saja yang di tanya, aku nggak di tanya ni?." Ujar Tina protes.


Nisa pun tersenyum kecil.

__ADS_1


"Kamu kan nggak terlalu parah Tin, cuma luka-luka kecil saja, kalau Nisa ya beda. Liat tu tangan Nisa bengkak udah kayak orang kena kaki gajah saja." Jelas Ayu.


"Iya kamu Tin, jangan manjan deh. Luka dikit gitu saja udah heboh." Ujar Dia jutek.


"Apa'an lo Dia, siapa juga yang manja. Aku cuma mau bilang kalau yang kena musibah bukan cuma Nisa tapi Aku juga. Dasar teman nggak adil, kalian hanya memperhatikan Nisa saja dan menganggapku setan tak kasat mata di sini."Setelah mengatakan itu Tina segera beranjak pergi meninggalkan Nisa, Dia, dan Ayu menuju ke dalam kelas.


Nisa, Dia dan Ayu pun saling memandang, karena tidak biasanya Tina seperti itu.


"Kenapa tu anak?." Tanya Nisa pada kedua temannya.


" Nggak tau, kerasukan set*n ngambek kali." Jawab Dia asal.


" Wusss jangan sembarangan kalau mgomong!." Ujar Nisa pada Dia.


"Iya Nis Aku setuju sama Dia, siapa tau Tina lagi kerasukan set*n kesepian makanya mudah ngambek. Atau lagi mode manja pengen di sayang-sayang. Tina kan nggak biasa ngambek, dia itu tahan banting dari rasa cuek dan nggak pernah ngambek kalau lagi di omongin yang jelek-jelek. Tapi sekarang ngambek, aneh kan. Apalagi kalau bukan ketempelan set*n kesepian." Ujar Ayu yang tambah ngelantur.


Nisa geleng-geleng kepala dengan jawaban kedua temannya."Sudah, sudah lebih baik sekarang kita susul Tina, siapa tau dia lagi ngambek beneran, karena tersinggung karena kalian nggak merhatiin dia juga kayak sama Aku. Udah cepat sekarang kita susul Tina siapa tau dia butuh hiburan." Nisa segera beranjak dari duduk nya meninggalkan kedua temannya yang masih bengong di tempat.


*


*


*


"Kita mau jeguk kamu Tin, masak ia jeguk yang lain. Kita kan lagi di depan kamu, berarti tujuan nya ya kamu."Jelas Nisa.


"Iya Tin kita minta maaf ya, karena tadi lupa nanya keadaan kamu. Karena tadi Aku nggak lihat." Jawab Dia.


Tina pun melotot." Masa iya Aku yang besar gini kamu nggak lihat, mata kamu rabun ya. Kamu kira Aku debu tak kasat mata." Ujar Tina kesal karena mendengar alasan Dia yang tidak masuk akal.


"Hheehehhe, jangan mara Tin jelekk. Udah jelek tambah jelek lagi, parah abisss." Cicit Dia tanpa dosa.


"Diiaaaaa!!!!!." Teriak Tina kesal.

__ADS_1


Nisa, Dia dan Ayu reflek menutup gendang telinga mereka agar tidak mendengar dentuman suara merapi Tina meletup." Oh tidak telinga ku bisa budek mendengar teriakan mu yang seperti suara kentut. Menyebalkan!." Teriak Nisa yang sedang mengusap daun telinganya yang terasa berdengung.


"Orang lagi sedih malah ngomong yang nggak jelas, bikin hati ku tambah hancur saja." Omel Tina.


"Iya, iya maaf, nggak lagi deh." Ujar Nisa dengan wajah serius.


Tina yang masih kesal pun memalingkan wajah ke samping, tapi sayang karena tak melihat keadaan, bibirnya tak sengaja mencium jari Dia yang terdapat upil. Karena baru saja habis mengupil.


Suara tawa dari teman-temannya pun kembali menggema." Kasihan banget si kamu Tin, pasti kamu nggak mandi tadi saat mau berangkat. Makanya kena sial mulu." Cicit Ayu dengan gelak tawa menertawakan Tina.


Tina menghapus bibirnya dengan telapak tangannya."Ya ampun Mak malangnya hidup anak mu ini, sudah lama menjomblo. Ciuman pertama malah di ambil sama upil." Tina benar-benar merasa sedih dengan nasib nya pagi ini yang selalu sial.


*


*


*


Jam istirahat pun di bunyikan, menadakan waktunya isoma. Anak-anak sudah mulai keluar dari kelas menuju kantin, ada pula yang ke perpustakaan untuk membaca dan serta membuat tugas dan ada pula yang ke mushola kecil yang terletak di bagian depan untuk menunaikan ibadah sholat.


"Nis jadi kamu sama Tina nggak latihan hari ini." Dia memandang Nisa dan Tina secara bergantian.


"Kalau belum sembuh gini ya nggak latihan, tapi kalau udah sembuh nanti Aku maunya ikut latihan. Sebenarnya sayang kalau nggak latihan, kayak ketinggalan gitu." Jawab Nisa.


"Kalau kamu Tin?." Tanya Dia lagi karena Tina hanya diam.


"Tin kamu dengar nggak si." Tanya Dia sedikit berteriak di depan daun telinga Tina, saking dekatnya air liur Dia muncrat mengenai teliga Tina.


Tina segera mengelap daun telinganya yang terkena air liur." Ya ampun teriak-teriak udah kayak tukang ojek saja, sakit ni telinga!!, di sirem pula dengan air najismu. Bau jadinya telinga ku, awas ya kalau telinga ku kena bisulan. Bakalan Aku kasih rendang jengkol kamu." Omel Tina.


"Enak dong rendang jengkol, sini Aku kasih lagi supaya dapat banyak rendang jengkol gratis dari kamu. Ibu kamu jualan jengkol ya Tin?." Tanya Dia antusias serta berusaha mendekatkan mulutnya dengan telinga Tina namun di tahan cepat oleh tangan Tina.


"Jualan jengkol kepala mu!." Ujar Tina kesal

__ADS_1


**********


__ADS_2