
Nisa nampak menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk menonton televisi.
Ya setelah makan malam selesai kedua orangtua Nisa memilih duduk di depan televisi sesekali terdengar bercengkrama, di temani secangkir kopi hitam dan teh manis.
Sedangkan Nisa dan kakaknya setelah mencuci piring dan membersihkan meja barulah mereka pergi ke kamar masing-masing.
Nampak Nisa menghampiri kedua orangtuanya yan sedang menonton televisi.
Menyadari kehadiran sang anak nampak Ibu dan Bapak menoleh sejenak ke arah anaknya.
"Belum belajar nak?." Tanya sang Ayah.
"Belum pak, sebentar lagi." Jawab Nisa ketika mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di samping ibunya.
Nampak sang Bapak matuk-matuk." Oh iya bagaimana tangan kamu nak, apa sudah tidak sakit lagi." Tanya sang ayah memastikan.
Nisa mengangguk mengiyakan."Iya pak alhamdulillh udah nggak lagi."
"Alhamdulillah kalau udah nggak lagi." Pungkas sang Ayah yang duduk di sebelah istrinya, ia merasa lega.
Tak ada obrolan lagi, hening, semua sama-sama sedang fokus memperhatiakan acara di layar televisi dengan serius.
"Buk, usaha di ladang masih menurun ya buk?." Tanya Nisa kemudian takut-takut dengan sedikit berbisik.
Ibu sejenak menoleh ke arah Nisa, nampak ibu pun mengangguk seakan mengiyakan pertanyaan Nisa." Begitulah nak, sekarang masih musim kemarau, tanah menjadi tidak subur." Jelas sang ibu dengan raut wajah sedih.
Kepala Nisa pun menunduk mendengar penuturan sang ibu.
"Memangnya kenapa kamu nanya begitu nak, apa ada masalah?." Tanya Ibu memastikan.
Nisa pun kembali menatap sang ibu." Nggak apa-apa buk, Nisa cuma iseng pengen tau." Nisa menyunggingkan senyuman terpaksanya agar ibunya tidak kepikiran dan sedih.
Nampak ibu hanya tersenyum kecil, karena ibu sadar Nisa bertanya begitu pasti ada alasan kuat di baliknya.
Dan ibu mulai berfikir dan menduga-duga apakah itu tentang baju seragam yang sempat Nisa bicarakan pada nya waktu itu.
"Ya sudah buk, Nisa ke kamar dulu. Nisa lupa kalau belum belajar." Pamit Nisa, ia segera berlengang menuju kamarnya berada.
Sedangkan ibu terus memperhatikan Nisa sampai Nisa menghilang di balik pintu.
"Hhuuuuff." Ibu Nisa menghembuskan nafas panjang.
Ya ibu sangat yakin jika pertanyaan Nisa barusan pasti ada kaitannya dengan yang di bicarakan Nisa waktu itu, hanya saja Nisa tak mau mengatakan padanya dengan jujur.
__ADS_1
Ibu pun kembali mengarahkan pandangannya ke arah televisi, namun fikirannya melayang entah kemana.
Hanya matanya saja yang seolah sedang melihat acara di televisi namun tidak dengan fikirannya.
"Nisa tadi nanya apa buk." Tanya suaminya memecah lamunanan sang istri.
Ya Bapak Nisa tak mendengar dengan jelas apa yang di bicarakan Nisa dengan sang ibu Karena Nisa bicara dengan suara pelan dan di tambah pula suara bising televisi yang menanbah kebisingan.
"Nggak apa-apa pak, cuma nanya ladang." Jawab sang istri.
Alis Bapak mengkerut." Nanya ladang." Gumam Bapak pelan.
"Iya pak."Jawab Ibu lagi.
"Memangnya kenapa Nisa nanya ladang."
"Nggak apa-apa pak, Nisa cuma nanya ladang sudah membaik apa belum. Itu saja." Jelasnya.
Bapak yang sebenarnya masih penasaran pun akhirnya menganggukkan kepala dan tidak bertanya lagi, ia lebih memilih diam.
*
*
*
Walaupun sudah usang namun tetap bisa di pakai, Nisa selalu merawatnya dengan baik, menjemurnya dan memukulnya dengan alat untuk memukul kasur yang terbuat dari rotan. Agar debu atau kotoran yang menempel hilang.
"Ya Allah semoga saja tabungan ku cepat terisi, aamiin." Nisa mengusap kedua telapak tangannya di wajahnya.
Besar harapannya agar tabungannya cepat terisi sehingga ia bisa segera membeli seragam seperti teman-temannya yang lain.
Ya sebenarnya ia juga agak minder melihat teman-temannya semua terlihat sangat keren saat memakai seragam, sedangkan hanya dirinya saja yang tidak memakai seragam seperti yang lain.
Namun ia tetap harus semangat latihan walaupun belum memakai seragam.
Itu lah sebabnya mengapa tadi waktu di depan televisi ia sempat menanyakan soal ladang pada ibunya.
Ia berharap semoga hasil panen ibunya segera membaik agar sisa uang yang kurang bisa minta tambah sama ibunya.
Namun apalah daya, nasib belum berpihak ke padanya. Ia harus lebih menguatkan hati menerima keadaan yang ada.
Setelah puas berfikir dan melamun akhirnya Nisa beranjak menuju meja belajar nya berada, ia akan segera belajar.
__ADS_1
Waktu pun terus berputar, tak terasa angka jarum jam yang ada di dalam kamar Nisa sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Nisa yang sudah merasa lelah pun segera ke kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok gigi terlebih dahulu .
Selesai dengan rutinitasnya ia pun segera membaringkan tubuh lelahnya di ats kasur lipat miliknya.
Nisa memejamkan mata nya namun ia belum juga bisa tidur, hingga ia terus berusaha memejamkan matanya, sampai-sampai sudah satu jam lamanya ia membolak balikkan badannya mencari posisi yang nyaman, namun belum juga ia dapat memejamkan matanya.
"Ya ampun padahal tadi perasaan aku nggak ngopi." Keluh Nisa.
"Hhaaa, kena insomnia lagi pasti ini." Nisa menghembuskan nafas berat.
Nisa memang kerab tiba-tiba terkena insomnia, dan terkadang karena banyaknya beban di fikiran yang sedang melanda juga dapat menghambat dirinya untuk memejamkan mata.
Nisa pun akhirnya bangkit dari tidurnya dan kembali ke meja belajarnya, mencoba kembali menyibukkan diri, supaya matanya berat dan akhirnya mengantuk.
Ternyata upayanya pun berhasil, setelah setengah jam lamanya akhirnya ia mengantuk, segerah Nisa kembali ke atas kasurnya dan memejamkan matanya.
*
*
*
Di belahan bumi yang lain.
"Kira-kira sedang apa yah calon pacar ku?." Gumam Romadhon sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya, ia terus saja tersenyum-senyum sendiri. Dan untunglah dia hanya sendiri di kamar, jika tidak, sudah pasti dia di anggap orang sudah gila.
Tiba-tiba Romadhon bangun dari berbaringnya."Ahh, aku tau, pasti dia sedang memikirkanku. Aku sangat yakin kalau sekarang dia sedang terbayang-bayang dengan wajahku yang tampan ini." Romadhon benar-benar merasa bahagia, saking senangnya sampai-sampai ia berjoget ria.
"Aku telepon saja ah, siapa tau rasa galau Nisa hilang kalau sudah dengar suara pujaan hatinya." Romadhon cepat-cepat mengambil hanpone nya yang berada di atas kasur yang berada di samping dirinya yang sedang duduk selonjoran.
Raut wajah Romadhon seketika berubah mendung bahunya kembali turun, ia meletakkan kembali hanpone nya ke atas kasur." Lupa kalau nggak punya kontak hanpone nya." Gumamnya lirih.
Romadhon terus menggerutu, menyesali dirinya yang tak sempat meminta kontak hanpone Nisa." Bodoh, bodoh, bodohhhh, kenapa juga aku sampai lupa hal sepenting itu." Romadhon menjabak rambutnya frustasi.
Romadhon terus berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, berfikir bagaima caranya agar ia bisa mendapatkan cepat kontak handpone Nisa.
"Hhuuufff,, kalau sudah begini malah aku yang jadi galaau. Nasib, nasibbb, Emaakkkk tolong anakmu ini, aku galau makkkk." Teriaknya.
Romadhon pun terduduk dengan lemas di atas kursi yang berada di depan meja belajarnya.
Khiiiisss, khiiiisss.
"Dewi cinta tolong lah aku, aku sedang patah hati. Khiiisss, khiiisss." Romadhon cekikikan, eehh, salah maksudnya menangisss. wkwkwk.
__ADS_1
********