
Pagi hari.
"Eh Nis, gue perhatiin lo kok sedih gitu dari tadi, kenapa?, belum sarapan?." Celetuk Dia.
"Hooh, kenapa lo?, muka lo horror." Kata Tina juga.
"Iya Nis, kalau ada masalah cerita sama kita. Siapa tau kita bisa bantu." Sambung Ayu yang duduk di antara Tina dan Dia.
Nisa menoleh sebentar ke arah teman-temannya, lalu kembali melihat ke depan.
Nisa menghembuskan nafas berat.
"Gue nggak apa-apa." Jawab Nisa singkat.
"Iis, sebel gue sama lo Nis!." Dia mendengus sebal dengan tangan ia lipat di depan dada.
Mendengar itu Nisa menoleh ke arah Dia, protes." La kenapa?, emangnya gue salah apa ke elo?!." Lirih Nisa.
"Ya gimana nggak sebel Nis, lo kayak lagi ada masalah, terus elo dengan mudahnya bilang nggak apa-apa. Sekarang gue tanya kita-kita ini lo anggap teman lo bukan sih?, bagi dikit ke kita kenapa!." Sinis Tina.
Nisa kembali menghembuskan nafas berat.
Bukan tidak mau bercerita, hanya saja Nisa malas jika harus melibatkan teman-temannya. Karena Nisa tau betul dengan sifat teman-temannya, yang tak akan segan membantunya.
Nisa tak mau merepotkan teman-temannya.
"Kalau bukan ya udah kita pergi." Karena tak mendapatkan penjelasan dari Nisa, Ayu, Dia dan Tina berniat beranjak dari tempat duduk mereka.
Karena bagi mereka diamnya Nisa menunjukkan bahwa Nisa tidak mau berbagi keluh kesah dengan mereka. Lalu apa gunanya mereka sebagai teman. Begitu fikir mereka.
Ayu, Dia dan Tina masuk ke dalam kelas meninggalkan Nisa yang masih setia dengan diamnya.
Nisa menghembuskan nafas kasar.
"Aagghh!, Dasar egois!!." Racau Nisa frustasi.
*
*
*
Selama berlangsungnya jam pelajaran pertama Ayu, Tina dan Dia masih setia mendiami Nisa, begitu pun dengan Nisa yang ikut mendiami teman-temannya.
Tak ada suara berisik mereka berempat seperti biasanya, tak ada canda tawa, tak ada keusilan mereka.Tak ada geng yang usil menganggu orang lain.
Sunyi, sepi, seperti di kuburan.
Diam dengan fikiran dan ego masing-masing.
Bagi Nisa, teman-temannya terlalu egois jika memaksa dirinya bercerita tentang masalah yang tengah ia hadapi.
Karena itu masalah keluarganya, dan ia berhak untuk tidak bercerita. Itu menurut Nisa.
__ADS_1
"Ay, Tin, ayo kita makan di sana ajah." Tunjuk Dia ke arah sudut kelas.
Nisa terperangah, karena secara tidak langsung dirinya tidak di ajak ikut serta dengan mereka.
"Ayo." Jawab mereka serempak.
Mereka bertiga menuju ke sudut ruangan, sedangkan siswa yang lainnya sudah banyak keluar menuju kantin.
"Ya sudah kalau itu maunya kalian, akan aku turuti." Ujar Nisa dengan suara pelan.
Setalah bekalnya habis, Nisa beranjak keluar.
Menenangkan fikiran.
"Tumben sendirian." Ujar Romadhon mengagetkan Nisa yang sedang melamun di bangku depan kelas.
Romadhon duduk di samping Nisa.
"Emang kenapa kalau sendirian?, nggak boleh?!. Gue lahir ajah sendirian." Sinis Nisa.
Romadhon menggaruk tengkuknya yang tak gatal." Bukannya nggak boleh, cuma nggak kayak biasanya ajah. Yang lain pada kemana?." Tanya Romadhon.
"Iisss, nggak tau!." Desis Nisa.
"Ya elah galak amat, lagi dapet apa."
Nisa mendengus.
Tak mau ambil pusing dengan teman-teman Nisa, Romadhon berniat mengambil kesempatan mendekati Nisa. Dengan mengajak Nisa makan berdua di kantin. Sebagai langkah awal pendekatan.
"Udah." Jawab Nisa singkat.
"Ya udah temenin gue ajah kalau gitu, gue belum makan soalnya." Tanpa menunggu jawaban Nisa, Romadhon langsung menarik tangan Nisa menuju kantin.
Kapan lagi bisa dekat-dekat dengan Nisa, fikir Romadhon.
"Lo mau pesan apa Nis?." Tanya Romadhon sesampainya di kantin.
"Minum ajah deh, es jeruk, gue udah makan tadi soalnya. Kanyang."
Romadhon manggut-manggut." Ok, tunggu bentar. Gue pesan dulu."
"Kak, bakso urat satu, es teh satu sama es jeruk satu." Ujar Romadhon pada kakak penjual bakso, yang berusia kira-kira delapan belas tahun .
"Iya dek, di buatin dulu." Jawab kak Ningsi.
Ningsi yang baru lulus sekolah menengah atas, terpaksa membantu ibunya berjualan di kantin sekolah menengah pertama. Karena belum mendapat perkerjaan.
Zaman sekarang begitu sulit mencari perkerjaan, apalagi hanya bermodalkan ijazah sekolah menengah atas.
Banyaknya saingan menyebabkan sedikitnya peluang mendapatkan pekerjaan.
Setalah memesan pesanannya, Romadhon kembali ke meja di mana Nisa berada.
__ADS_1
"La, kok lo di sini si!." Kesal Romadhon, melihat ada orang lain yang duduk di samping Nisa.
"Ya elah, sama teman sendiri pelit amat." Ujar Yudi.
"Minggir, lo di sana. Gue yang duduk di samping Nisa." Romadhon mengusir Yudi yang duduk di kursi yang tadi ia duduki.
"Cemburu,, hah. Ee Nis lo pacar nya Romadhon ya?." Tatapan remeh Yudi terarah ke arah Romadhon.
Sedangkan Romadhon benar-benar kesal, dengan kedatangan duri dalam usaha Romadhon mendekati Nisa.
"Sialan si Yudi, awas lo, gue sumpelin ke dalam sepatu gue habis ini!, dasar ganggu." Gerutu Romadhon dalam hati.
"Emz, enggak. Emang kenapa?." Tanya Nisa.
"Nggak, nanya doang. Habis ada yang keluar tanduk." Yudi menatap sinis Romadhon.
Yudi sengaja memancing amarah Romadhon, ini lah saat nya membalas Romadhon yang selalu berbuat seenaknya dengan dirinya.
Yudi benar-benar puas melihat wajah pias Romadhon.
Tak lama pesanan Romadhon datang berserta pesanan Nisa.
"Woy, itu minuman gue." Cepat-cepat Romdhon mengambil alih minumannya yang hampir di minum oleh Yudi.
"Pelit amat, Nis lo jangan mau ya, kalau Romadhon nembak lo jadi pacarnya. Orangnya perhitungan." Yudi berusaha mengompori Nisa.
Romadhon mendelik lebar.
"Apa-apa'an Yudi, wah, benar-benar cari masalah ni anak." Gerutu Romadhon dalam hati.
"Nggak kok Nis, jangan di dengar mulut baskom ini. Kalau ngomong emang nggak pernah bermutu, biasalah jomblo akut, iri dia." Romadhon melotot ke arah Yudi.
Yudi mencebik.
"Buseettt, emang sialan ni Romadhon, orang ganteng gini di sama'in sama baskom." Batin Yudi.
"Sudah, sudah lebih baik makan sekarang, keburu masuk. Lo juga Yud, pesan sana." Nisa mencoba menjadi penengah.
Yudi pun mengangguk, dan segerah memesan pesanannya sendiri.
"Kamu beneran nggak mau Nis." Tawar Romadhon sekali lagi.
"Nggak, makasih. Beneran aku masih kenyang." Tolak Nisa.
Nisa tidak lagi bicara ketus ke Romadhon, Nisa sedang berusaha membuka pertemanan di antara mereka.
Kalau untuk menjadi pacar Nisa tidak tertarik ke arah sana.
Karena bagaimana pun perasaan Nisa masih tertuju pada lelaki yang pernah ia kagumi semasa sekolah dasar.
Setelah memesan pesanannya, Yudi kembali bergabung duduk dengan Romadhon dan Nisa menunggu pesanannya selesai di buat.
Tak lama, pesanan Yudi pun datang, Yudi dan Romadhon makan dengan lahap, mereka bertiga sesekali bercengkrama, saling bertanya banyak hal.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*