Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Makan bekal bersama.


__ADS_3

"Huuuf, lega rasanya." Romadhon menghembuskan nafas lega ketika memasuki gerbang sekolah.


"Untung nggak telat, bisa-bisa nggak dapat jatah selama satu bulan. Slamet-slamet." Tutur Romadhon lagi sambil mengusap dadanya dengan tangan sebelah kirinya.


Setelah memarkirkan kendaraan roda duanya Romadhon bergegas menuju kelasnya yang berhadapan dengan kelas tujuh. Yang hanya di batasi lapangan upacara pengibaran bendera merah putih setiap hari senin saja.


Romadhon sudah menduduki kelas delapan, berada satu tingkat dari Nisa.


Romadhon berjalan sediri menyusuri koridor sekolah yang sunyi, karena siswa siswi sudah bayak memasuki kelas mereka masing-masing. Hanya menyisahkan beberapa saja yang kebetulan datang terakhir seperti Romadhon.


Romadhon mempercepat langkahnya, sesekali ia melihat ke samping seberang lapangan, mencari keberadaan Nisa, akankah pujaan hatinya itu memperhatikannya dari jauh, mungkinkah Nisa tengah menunggu kedatangannya dan mencari-cari dirinya.


Ah, Romadhon tersadar dari hayalannya, mana mungkin seorang Nisa memperhatikannya. Romadhon cepat menggelengkan kepala, sepertinya dirinya benar-benar sudah gila memikirkan gadis itu.


"Kenapa lu geleng-geleng, kerasukan setan gila goyang lu ya." Ujar Yudi tiba-tiba mengagetkan Romadhon yang tengah menatap kosong ke depan dan terkadang terlihat geleng-geleng kepala tak jelas.


Romadhon terlonjak kaget." Apa'an si ngagetin mulu kerjaan lu, pengen banget gue cepet metong, punya dendam apa lu." Sunggut Romadhon kesal.


Mendengar celotehan Romadhon akhirnya Yudi tak tahan mengeluarkan tawanya." Sabar bos, jangan marah-marah, nanti cepat tua. Nggak mau kan punya muka keriput tapi aslinya masih berondong. Malu sama yang tua tapi awet muda." Celoteh Yudi tambah ngawur.


Ramadhon berdecak pelan."Ck,ck, Apa'an nggak nyambung dodol." Setelah mengatakan itu Romadhon memutar badannya masuk ke dalam kelas meninggalkan Yudi yang masih bengong di tempat nya.


"Ck, kalau lagi jatuh cinta begini'ni, ah, semoga saja aku nanti nggak kayak ni anak kalau lagi jatuh cinta. Mendadak jadi drakula menyebalkan." Gerutu Yudi sambil berjalan menyusul Romadhon yang sudah duduk di bangkunya.


Tak berselang lama bel pembelajaran pun di bunyikan, menandakan jam pembelajaran akan segera di mulai.


Para siswa siswi sudah duduk di bangku mereka masing-masing, menyiapkan diri menerima ilmu yang di salurkan oleh guru yang mengajar mereka.


Ya itu bagi mereka yang serius belajar, mereka akan dengan senang menunggu waktu itu. Namun tidak bagi mereka yang datang hanya untuk sekedar datang, bertemu teman, makan di kantin, lalu pulang. Dan ilmu yang di bawah pulang pun nol besar, karena penjelasan yang di berikan guru masuk telinga kanan keluar telinga kiri, nggak ada yang nyangkut sama sekali.


Hal seperti itu sering kali terjadi, karena anak-anak tidak memikirkan orang tua yang sudah berjuang keras demi menyekolahkan dan demi melihat anak nya sukses dan tentunya menyandang gelar bagus seperti mereka orang-orang yang sudah sukses.


"Tumben lu datengnya akhir." Ujar Yudi yang duduk di sebelah Romadhon.


"Semalaman habis telponan sama adik kelas pasti, makanya tidur kesiangan." Goda Yudi dengan mata di kedipkan.


Romadhon dan Yudi duduk berdampingan.


Romadhon menoleh ke arah Yudi dengan malas." Berisik lu, bicara lagi gue tabok lu." Ancam Romadhon sungguh-sungguh.


"Ulu ulu galaknya anak emak." Yudi mencolek sedikit dagu Romadhon menirukan gaya emak-emak yang gemas dengan anaknya.


Melihat hal itu Romadhon mendengus kesal ke arah Yudi.


"Gue sumpahin tu tangan bisulan baru tau rasa." Gerutu Romadhon kesal.

__ADS_1


*


*


*


"Emz enak ni, ayo gays tancap gas." Ajak Dia yang sudab tak sabar.


"Ntar woy, baca do'a dulu kali, supaya syaiton nggak ikutan minta makan." Hardik Nisa.


"Iya Ia, emang lu mau makan udah abis segentong tapi masih belum kenyang karena harus bagi-bagi sama tu syaiton." Sambung Ayu.


Dia mendengus kesal." Ya nggak lah enak saja." Jawab Dia dengan nada kesal.


Acara makan pun berlangsung khikmat setelah mereka membaca do'a terlebih dahulu.


Nisa dan teman-temannya duduk lelesahan di dalam kelas di bagian paling belakang, karena Nisa membawa bekal maka mereka berinisiatif untuk membawa bekal juga.


Kini mereka makan hanya bertiga, karena Tina lupa membawa bekal. Alhasil dia sendirian makan di kantin, karena teman-temannya membawa bekal semua.


Mereka bertiga pun saling mencicipi makanan yang mereka bawah, bekal Nisa sendiri terdiri dari nasi putih, sayur kangkung, berserta tempe goreng tiga iris.


Bekal Ayu nasi putih cocor kecap asin, sambel ikan nila, dan sayur kacang panjang.


"Emz, enak banget Yu sambel ikan bikinan ibu mu." Ujar Dia mengomentari sambel ikan milik Ayu setelah ia mencicipi sedikit ikan milik Ayu.


Nisa mengangguk membenarkan." Huum Yu enak, ibu mu hebat sekali." Puji Nisa sambil mengunyah daging ikan nila sambal.


Mereka bertiga saling mencicipi lauk pauk mereka masing-masing.


"Ibu kalian juga pada pandai masak kali, buktinya makanan kalian juga nggak kalah enak." Ujar Ayu jujur.


Dia dan Nisa hanya tersenyum menanggapinya, mereka pun kembali melanjutkan makan mereka dengan lahap.


"Alhamdulillah kenyang, berarti syaiton nggak ikutan makan pas aku lagi makan." Ujar Dia.


"Hhahahaha mana ada syaiton yang berani, lah kamu nya saja sudah mirip ratu syaiton." Ujar Nisa terbahak-bahak dan di ikuti Ayu.


"K*mpret emang." Ujar Dia kesal.


"Iya Ia, mana berani para syaiton, yang ada malah mereka di gampar sama ratunya syaiyon." Timpal Ayu yang kembali terbahak-bahak.


"Iiiisssss." Dia mendesis kesal dan pergi meninggalkan Ayu dan Nisa yang masih menertawakan nya.


"Jangan marah Ia, kalau lu marah malah makin mirip sama yang kita bilang tadi." Goda Nisa yang sudah kembali ke meja nya berada.

__ADS_1


"Iya Ia, santai ajah jangan marah-marah." Sambung Ayu yang duduk di sebelah Nisa.


"Iiiissss, berisik kalian berdua." Desis Dia.


Dia berjalan ke luar kelas meninggalkan Ayu dan Nisa yang masih senyum-senyum di bangku mereka.


"Galak amat, kalau udah nikah, pasti lakinya takut ama bini. Kalau modelannya kayak Dia." kekeh Nisa.


"Hhaaa, kalau aku mikirnya Dia bakalan perawan tua."


"Iiisss dasar temen nggak ada akhlak lu, do'ain temannya perawan tua segala." Cicit Nisa.


"Eeee, lu juga sama, tadi lu bilang kalau Dia nikah lakinya bakalan takut bini. Itu apa namanya?, sama saja bego." Jawab Ayu tak mau kalah.


"Ya kan nggak sampai do'a in perawan tua juga kali Yu."


"Udah ah, kita susul Dia saja. Pusing gue ngomong sama lu."


Ayu sedikit berlari menyusul Dia keluar kelas, dan Nisa yang berada di belakangnya ikut menyusul Dia keluar.


"Ngapain lu pada kesini, mau ngatain gue kayak syaiton lagi." Dia menarik sebelah ujung bibirnya dengan tangan bersedekap di depan dada.


"Sensi amat, kita bercanda doang kali." Jawab Nisa yang duduk di sebelah kanan Dia.


Sedangkan Ayu di sebelah kiri Dia, menjadikan Dia duduk di tengah-tengah mereka berdua.


"Sekarang udah puas, bilang aku kayak syaiton!?." Ujar Dia.


"Nggak, nggak kita tadi cuma bercanda kok. Kamu cuma mirip anak nya doang." Jawab Nisa.


Dia yang semula akan tersenyum berubah murung lagi mendengar penjelasan Nisa barusan." Apa Nis, coba ulangi lagi, kayaknya telinga ku salah dengar. Kamu bilang apa tadi?."


"Nggak ada, aku cuma bilang Tina juga udah selesai makan." Elak Nisa.


Nisa cepat-cepat menunjuk ke arah Tina yang sedang berjalan seorang diri mendekati tempat di mana mereka duduk sekarang.


"Kenapa lu Ia?, kusut amat." Tanya Tina ketika sampai di depan Dia.


Tina mengambil posisi duduk di samping Nisa.


"Nggak apa-apa, cuma habis dapat bisikan syaiyon doang barusan." Jawab Dia sambil melotot ke arah Nisa.


"Santai sayang, mata nya tolong di kondisi kan nanti masuk debu." Ujar Nisa cengengesan.


+****.**** +

__ADS_1


__ADS_2