Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Masa depan.


__ADS_3

Ku lalui hari-hari ku dengan perasaan sedih, bukan tak ikhlas, hanya saja diri ini belum bisa menerima kenyataan yang ada.


"Semangat woy, bengong Mulu." Ujar Romadhon mengagetkan Nisa yang tengah meratapi kegagalannya.


"Iissss ganggu!." Desis Nisa sewot.


"La, mau gimana lagi, kalau terus di biarkan nanti kamu kesurupan. Terus siapa coba yang bakalan repot?, aku kan."Jawab Romadhon sambil menunjukkan dirinya sendiri dengan mimik muka seserius mungkin.


Nisa melotot ke arah Romadhon." Itu lah gunanya teman dodoll!, kalau nggak kayak gitu, terus apa gunanya lo sebagai teman gue." Tunjuk Nisa ke arah dirinya sendiri.


"Iiiii mode nenek lampir keluar. Seremmm." Romadhon bergidik ngeri, sedangkan mata Nisa sudah melotot bertambah dua kali lipat.


"Eeehhh,, eeehhh, sabar jangan Buru-buru. Aku belum siap, nanti ajah marah-marahnya tunggu kalau kita sudah nikah." Tangan Romadhon siaga di depan dada menghalangi badan Nisa yang sudah condong ke arah dirinya.


Dengan berkacak pinggang Nisa memandang sinis Romadhon. "Terus apa kaitannya coba?, nggak ada!!, lagian emangnya kamu mau nikah sama aku?, tadi kamu bilang aku kayak nenek lampir kan." Ujar Nisa sinis.


"Mamp*s lo Don, mancing sing* si." Umpat Romadhon pada dirinya sendiri di dalam hati.


"Kenapa diam, emangnya lo siap perang tiap hari sama gue. Gue yakin lo bakalan cepat tua kalau nikah sama gue, gue kan galak kayak nenek lampir." Sindir Nisa sambil melengos ke arah lain.


"Enggak kok, kamu cantik kok, baik hati, rajin menabung, nggak sombong." Puji Romadhon sambil cengengesan.


Nisa mnegibaskan tangan di udara." Ah omong kosong!, tadi bilang nya apa, sekarang bilangnya beda lagi." Nisa pergi meninggalkan Romadhon menuju kelasnya.


"Nis, Nisa tunggu'in colon suamiiii mu ini,,!." Romadhon bergegas menyusul Nisa yang sudah berjalan menjauh.


Nisa terus saja berjalan menjauh, meninggalkan Romadhon yang sudah tertinggal jauh.


*


*


*


"Nis kalau kita di masa depan menikah beneran gimana?, kamu bakalan bahagia nggak dapat suami macam aku?." Tanya Romadhon.


Romadhon dan Nisa tengah dalam perjalanan pulang sekolah.


"Cciiieee ada yang ngarep jadi suami aku ni." Ujar Nisa sinis dengan bibir di naikkan sebelah ke atas.

__ADS_1


"Eh, nis kita nggak tau di masa depan yang akan datang, kan siapa tau kita jodoh, pasti bakalan seru. Kita main bareng sama Anak-anak kita nantinya, anak kita nanti empat cowok, lima cewek." Ujar Romadhon tersenyum membayangkan bahagia bersama keluarga kecilnya.


Ppllukkkk.


Nisa menjitak leher bagian belakang Romadhon." Apa'an banyak amat, emang kamu fikir mudah melahirkan?, hah. Kayak kucing gitu?, kucing ajah penuh perjuangan melahirkan anaknya. " Ujar Nisa sewot.


"Cciiieee berarti mau dong nikah sama aku, jadi ibu dari Anak-anak aku, nggak apa-apa deh nggak banyak anak, kalau begitu cukup dua cowok tiga cewek ajah. Yang penting nikahnya sama kamu." Ujar Romadhon cengengesan.


"Iiiihhh ngeselin tau nggak, itu masih banyak. Emang aku pernah ngomong mau jadi ibu dari Anak-anak kamu?, nggak ada kan." Jawab Nisa dengan tangan bersedekap di depan dada.


"Tadi bilangnya dikit ajah, berarti mau dong."


"Iissss ngeselin tau nggakk!!!, nggak usah bahas anak bisa nggak!. "Kesal Nisa.


"Iiidddiih serius amat bu, udah nggak tahan ya mau nikah sama kakak." Goda Romadhon.


Ssuuuiitt, suuuiiittt..


Siluit Romadhon.


Tambah masam saja muka Nisa, sedangkan Romadhon tidak berhenti mengoda Nisa. Karena semakin Nisa marah semakin lucu di mata Romadhon.


"Asyikk, berarti mau dong?." Goda Romadhon lagi.


"Apa'an sih, fokus ajah sana nyetir. Kalau kita mat* nggak bakalan terjadi mimpi kamu yang ngarep nikah sama aku. Makanya fokus nggak usah mikir macam-macam dulu."


"Yyeey horee!!!." Teriak Romadhon sambil jinkgrak-jingkrak di atas motor.


"Eeehhh, ehhh, ehhh, hati-hati dong don!. " Teriak Nisa di belakang karena sepeda motor yang mereka tunggangi hampir saja masuk ke dalam semak-semak, karena Romadhon kurang fokus saking asiknya menertawakan Nisa.


"Maaf, maaf." Ujar Romadhon ketika tawanya sudah reda.


Sedangkan Nisa di belakang memasang wajah masam sambil memegang erat besi di bagian belakang motor Romadhon.


Sejenak Romadhon menoleh ke arah belakang, karena tidak mendengar suara Nisa lagi.


"Nis, kok diam. Kamu masih di belakang aku kan?, nggak mungkin kan set*n nyulik bidadari aku, Niss." Ujar Romadhon seolah-olah tidak melihat Nisa.


Ppllukkkk.

__ADS_1


"Sembarangan ajah kalau ngomong, pengen ngerasain tidur di balik papan!!??." Teriak Nisa dari belakang Romadhon dengan kesal.


"Aduuhh, bisa nggak Nis nggak usah main kasar. Bisa aku laporin sebagai tindakan kekerasan dalam rumah tangga tindakan kamu barusan. Kepala aku juga ada perasaan kali." kata Romadhon sambil sebelah tangan mengusap bagian kepalanya yang barusan di pukul Nisa, walaupun tidak terlalu kuat namun masih terasa pedas di kepala.


"Kekerasan dalam rumah tangga?, lah emang kita udah nikah?. Jangan mimpi masih siang, takutnya jatuh terus sakit." Jawab Nisa dengan tangan bersedekap di depan dada, tidak lupa dengan wajah sinis.


"Awas ajah di masa depan nanti nangis-nangis karena aku nikah sama cewek lain, terus kamu datang ke pernikahan aku minta di batalkan. Gara-gara nggak rela aku sama dia."


"Mimpi terus!!!. " Teriak Nisa.


"Alaaahhh Nis, bakalan nyesal kamu nanti. Di tinggal nikah sama pangeran yang baik hati, rajin menabung, nggak sombong, anak ke sayangan mama papa." Cerocos Romadhon panjang lebar.


"Terserah kamu ajah Don, males aku kalau debat sama kamu. Bikin darah tinggi, pengen gantung diri." Nisa menutup telinganya dengan kedua telapak tangan nya agar tidak bisa mendengar Romadhon bicara lagi.


"Anak baik kayak aku di sia-sia'in, nggak bakalan nemu yang modelan kayak aku Nis, langkahh. Dimana-mana sekarang udah jarang ada anak muda yang baik hati, rajin menabung, nggak sombong kayak aku. Kamu tau kan aku anak kesayangan."


"Sombong amaat pakk!!!, yang ada nggak bakalan ada yang mau, karena bikin darah tinggi. Sering liat wajah kamu bikin enek, kalau lagi makan, bisa-bisa nggak jadi makan, nggak selera."


"Nggak tau ajah kamu Nis, kamu itu orang yang paling beruntung di dunia ini." Ujar Romadhon.


"Paling beruntung?, sial iya." Gumam Nisa kecil.


"Apa Nis,? coba ulangi. Nggak dengar aku kayaknya ada set*n kentuttt barusan lewat nutupin telinga aku." Kata Romadhon sambil mengusap-usap daun telinga nya.


Nisa geleng-gelengkan kepala.


"Jangan salah kan set*n, salahkan ajah tu telinga kenapa nggak dengar. Jangan senangnya nyalahin orang lain, sekali-sekali korek itu telinga, udah banyak isinya mungkin. "


"Enak ajah kalau ngomong, aku setiap hari lo bersihin teliga." Ujar Romadhon membela diri.


"Iya apa, pantesan budek."


"Lah kok gitu."


"Lah iya lah, setiap hari di korekkk. Nggak iritasi tu telinga?."


"Ahh, wanita memang selalu benar!!!." Teriak Romadhon.


***********

__ADS_1


__ADS_2