
"Mana si itu anak, lama bener." Nisa terus saja mondar mandir di depan teras rumahnya menunggu ke datangan Tina.
Nisa terus saja menggerutu tidak karuan karena Tina belum juga datang menjemputnya, sedangkan jam latihan tinggal berapa menit lagi.
Tin,,tiinnn.
Mendengar suara klakson Nisa pun berhenti mondar mandir tak jelas, dan pandangannya langsung mengara pada sosok yang berdiri di atas motor dengan santai memasang wajah tanpa dosa.
Nisa segera menghapiri sosok manusia menyebalkan itu." Tin, kamu sengaja ya mau balas dendam." Serga Nisa dengan mimik jutek
Tina pun terkekeh."Hhheehhe, jangan marah-marah Nis, nanti cepat tua. Sudah cepat naik sebelum kita telat." Ajak Tina di sela tawanya.
Nisa pun mendengus sebal." Aku udah lama banget nunggu Tin, untung nggak beruba jadi nenek-nenek saking lamanya." Nisa segera naik ke belakang, ke boncengan Tina tepatnya.
"Maaf, maaf, udah kita tancap gas sekarang." Tina segera melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan sedang.
Di sepanjang perjalan tak henti-hentinya Nisa mengoceh, mempertanyakan mengapa hari ini Tina datang terlambat, tidak seperti biasanya yang selalu datang cepat.
"Maaf ya Nis, tadi aku sakit perut. Makanya datang agak telat." Tina nampak senyum-senyum sendiri di depan tanpa sepengatahuan Nisa, karena sebenarnya ia tengah membohongi Nisa.
Sebenarnya dirinya sengaja datang terlambat menjemput Nisa, karena ia ingin membalas Nisa yang tadi saat pulang sekolah telah mengerjainya habis-habisan.
"Emangnya habis makan apa?, sampai-sampai sakit perut." Tanya Nisa yang percaya dengan alasan Tina.
Sedangkan Tina tersenyum senang." Nggak tau."Jawab Tina enteng.
Alis Nisa mengkerut mendengar jawaban dari Tina." Kok nggak tau, kamu habis makan pedas kali, atau nggak kebanyakan makan asam." Cicit Nisa
"Mungkin." Jawab Tina lagi.
"Terserahlah, mau makan apa. Yang penting bukan racun."
"Kenapa emang?." Jawab Tina dengan alis mengkerut.
"Nggak apa-apa, cuma takut kalau sekarang di bonceng sama jelmaannya doang." Ujar Nisa di sertai kekehan.
Mata Tina langsung melotot dan langsung berhenti mendadak.
Sssruuttt,!!!,,..
"Aw." Pekik Nisa yang berada di boncengan Tina.
"Pelan-pelan Tin, kaget aku." Nisa mengusap-usap keningnya yang membentur keras bokong Tina.
"Ngomong apa kamu tadi?!." Ujar Tina dengan hidung penuh asap dan kepala yang sudah keluar tanduk, siap menyundul Nisa.
Sedangkan Nisa cengengesan."Hhheeh, nggak kok, nggak bilang apa-apa. Santai, orang sabar banyak yang sayang." Nisa mengusap-usap lengan Tina supaya Tina menyembunyikan kembali tanduknya.
Tina kembali melanjutkan perjalanannya setelah drama singkat tadi. Dengan hidung kembang kempis Tina terus ngedumel kecil meratapi kekesalannya. Sedangkan Nisa cengar cengir, karena senang melihat Tina yang sedang kesal, yang menurutnya terlihat lucu.
__ADS_1
*
*
*
"Akhirnya kalian datang juga." Ujar Dia ketika Nisa dan Tina sampai di depan kelas.
Nisa dan Tina segera siap-siap memasang baju pelengkapan serta sabuk, karena latihan akan segera di mulai.
"Tumben datang agak telat." Ujar Ayu di sela memasang sabuk di badannya yang berwarna putih.
"Tauk tu, tanya ma Tina noh." Nisa menunjuk ke arah Tina yang sedang mengikat sabuk dengan dagunya.
Merasa dirinya di tunjuk, Tina pun terkekeh kecil."Hhehe, maklum lah. Panggilan alam." Ujar Tina.
"Udah yuk cepat, nanti kena marah coach." Ayu segera berlari berkumpul bersama anak-anak yang lain yang sudah berbaris untuk melakukan pemanasan.
Setelah selesai Nisa, Tina dan Dia juga bergegas menyusul Ayu yang sudah lebih dulu ikut berbaris.
Pemanasan pun di mulai, seperti biasa pemanasan akan di pimpin oleh kakak senior mereka, yang terdiri dari dua orang saja. Sedangkan yang lain ikut pemanasan di barisan.
Setelah pemanasan mereka mengelilingi lapangan, sekitar lima putaran.
"Hay adek cantik." Ujar seseorang laki-laki yang kini sejajar dengan langkahnya Nisa yang sedang berlari kecil.
Nisa pun mendongak ke samping melihat siapa yang menyapanya.
"Nggak ada kak." Jawab Nisa.
"Masak si dek nggak ada, takut di marah pacarnya ya." Goda lelaki itu.
Nisa hanya geleng-geleng kepala, sabil melihat ke kiri dan ke kanan takut ada yang melihat mereka berdua.
"Pulang nanti kakak anter mau nggak, kakak sendirian lo." Tawarnya lagi.
"Maaf kak, aku nggak bisa, aku pulang sama teman Aku. Maaf ya kak." Tolak Nisa secara halus.
"Nggak apa-apa deh, Tapi lain kali mau ya kakak anterin." Sang lelaki terus saja merayu agar Nisa mau ia antar pulang.
Nisa tersenyum kecil." Nggak tau, Aku fikirin nanti." Ujar Nisa putus asa.
"Aku do'akan, semoga kamu nanti mau aku anter. Rugi dong kalau enggak, lah kakak nya ganteng gini." Ujar nya percaya diri.
"Aku duluan kak, daa." Nisa mempercepat lari menjauh dari sang lelaki misterius itu.
Melihat Nisa yang perlahan menjauh, sang lelaki pun merasa kecewa, karena merasa di tolak sebelum berjuang." Ya ganteng-ganteng gini di anggurin, sayang banget. Rugi besar dia." Ujar sang lelaki yang bernama Romadhon.
Pukkkkk,,,
__ADS_1
Pundak Romadhon baru saja di tepuk seseorang dari arah belakang, sontak membuatnya takut menoleh ke belalang. Karena dia takut coach yang menegurnya, karena dia sempat menggoda Nisa.
"Jet kamu kenapa?." Tanya lelaki yang baru saja sampai di dekat Romadhon.
Mendengar suara yang sangat familiar, Romadhon pun menoleh ke belalang, dan benar saja yang tengah memanggilnya ternyata teman dekatnya sendiri bisa di bilang sahabatnya. Dan bukan coach yang seperti ia takutkan.
"Ngagetin saja kamu Di." Ujar Romadon kepada temannya yang bernama Yudi.
Yudi pun cengengesan." Ngapain kamu kaget, emangnya kamu ngiranya siapa?, sampai tegang begitu, coach ya." Bisiknya di dekat telingah Romadhon.
Romadhon pun memutar matah jengah." Nggak, gue kira tadi tu setan yang nambok aku, eee nyatanya nenek nya setannn." Setelah mengatakan itu, Romadhon mempercepat lari nya agar menjauh dari Yudi, yang lmembuat nya kesal.
Yudi pun tak mau kalah, ia juga mempercepat larinya agar sejajar dengan Romadhon yang sudah agak jauh. Ia merasa terhibur saat melihat wajah kesal sahabatnya yang malah terlihat lucu di matanya.
"Woyy Ajet tunggu, Aku belum selesai." Yudi sedikit berteriak agar Romadhon mendengarnya.
Namun Romadhon tak menghiraukannya, malah ia mempercepat langkahnya.
"Sialan tu anak, terus-terusan manggil pakai nama itu. Teriak lagi, awas saja kalau ada yang ikutan manggil pakai nama itu, bakalan aku sunat dua kali dia." Gerutu Romadhon bersunggut-sunggut.
*
*
*
"Siapa tadi Nis." Tanya Dia.
Kini mereka tengah menjukurkan kaki setelah berjalan santai merilekskan kaki.
"Yang mana." Tanya Nisa balik.
Dia memutar mata malas." Kamu lupa apa pura-pura lupa Nis."
Nisa pun terkekeh." Nggak tau, aku belum sempat nanya siapa nama dia. Kenapa, kamu suka?." Tanya Nisa.
Dia pun keglagapan."Idddiih suka, aku cuma nanya, ngalatur kamu." Elak Dia, padahal di dalam hati ia membenarkan ucapan Nisa.
"Ya udah deh kalau nggak suka." Ujar Nisa pura-pura tidak tau.
"Tapi beneran Nis, kamu nggak tau siapa nama dia." Tanya Dia lagi.
"Nggak, kenalan sono kalau mau tau siapa nama dia."
"Nggak ah, apa kata dunia kalau aku duluan yang nyapa." Ujar Dia pelan, namun masih bisa di dengar oleh Nisa.
"Ck,Jual mahal." Cicit Nisa.
Sontak Dia menoleh ke arah Nisa." Apa kamu bilang Nis!?." Tanya Dia.
__ADS_1
"Nggak, nggak ada. Banyak nyamuk." Ujar Nisa, dengan tangan seolah sedang memukul nyamuk.
********