
"Mana nomor ponsel Nisa?." Tanya Romadhon ketika berbalas pesan dengan Tina.
"Dia nggak punya aplikasi chat kak, cuma bisa berbalas pesan biasa." Balas Tina.
Di seberang sana, Romadhon menghembuskan nafas panjang. Dan mendudukan dirinya di kursi belajar yang bersebelahan dengan kasurnya.
"Kalau begini ya percuma saja, tidak bisa memantau." Gumam Romadhon lirih.
Romadhon mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu."Hem, nggak apa-apa deh, yang penting bisa berbalas pesan dan bisa tau dia lagi apa." Ujar Romadhon menyemangati dirinya sendiri.
Romadhon pun segera mengambil benda pipinya yang semula ia letakkan di atas kasur yang berada di sebelah bangku belajarnya.
"Hay Nis, lagi apa. By kakak tampanā¤." Tulis Romadhon.
Tiiinnggg.
Nada pesan masuk menghentikan aktivitas Nisa yang sedang membaca cerpen."Kakak tampan, siapa?." Gumam Nisa lirih, dengan dahi mengkerut Nisa terus berusaha mengingat siapa laki-laki yang memiliki nomer ponselnya dan sudah begitu berani mengirim pesan untuknya.
"Siapa ya?." Nisa terus berfikir.
Tak mau terus-terusan penasaran, akhirnya Nisa berinisiatif membalas pesan tersebut, dan menanyakan nya secara langsung. Karena itu adalah cara yang paling efektif fikirnya.
"Lagi belajar kak, ini siapa ya?. Maaf aku nggak tau." Balas Nisa.
Romadhon segera membuka pesan dari Nisa, hati nya pun berbunga-bunga karena pesannya di balas oleh wanita pujaan hatinya.
"Masa si nggak tau, padahal siang tadi habis ketemuš." Balas Romadhon di sertai emoticon cinta.
Setelah melihat balasan dari pria misterius itu, Nisa mencoba mengingat-ingat laki-laki yang bertemu dengan nya siang tadi.
Dan otaknya pun mulai menyadari siapa kemungkinan lelaki misterius itu.
Raut wajahnya pun mulai terlihat kesal."Kerjaan si Tina ni pasti, ngasi nomer ponsel aku ke kak Romadhon." Nisa segera meletakkan kembali handpone nya ke atas meja.
Namun suara berikutnya benar-benar membuatnya terganggu, Karena Romadhon melakukan panggilan.
Sekali dua kali Nisa terus mengabaikannya, namun karena handpone nya terus berbunyi dan membaca pun tak bisa konsentrasi, jadi mau, tak mau Nisa mengangkat telpon dari Romadhon.
"Iiisss ganggu saja." Desis Nisa sebelum mengangkat telepon.
"Hay Nis, ganggu nggak?." Tanya Romadhon.
Nisa memutar mata malas, diam tak menjawab.
"Em ganggu ya." Ujar Romadhon karena tak ada sahutan, namun ia tetap bersikap santai seolah tak menyadari sinyal bahaya, lahar panas akan segera meletus.
Di seberang sana, Nisa menghembuskan nafas dengan kasar." Udah tau ganggu kenapa telepon!!!." Jawab Nisa kesal karena aktivitas membacanya jadi terganggu.
Romadhon menjauhkan benda pipinya dari daun telinganya, karena suara Nisa menyakiti telinganya.
__ADS_1
"Galak bener calon bini." Gumam Romadhon lirih namun masih mampu di dengar oleh Nisa.
"Ngomong apa kakak tadi?!." Tanya Nisa dengan menajamkan indra pendengarannya.
Romadhon mendekatkan kembali benda pipinya ke daun telinganya, dengan senyum kecil tercetak di bibir berwarna pink miliknya.
Wajah Romadhon tidak lah buruk, dengan alis sedikit tebal, hidung mancung, di sertai bibir indah yang berwarna pink alami. Namun entahlah mengapa Nisa tidak bisa membalas perasaan Romadhon.
Padahal di sekolah banyak yang mengantri ingin menjadi kekasih Romadhon, namun Romadhon tak tertarik, karena dirinya sudah memiliki pujaan hatinya sendiri, yaitu Nisa.
"Nggak, nggak ada, kamu cantik." Jawab Roamdho tersenyum manis, namun tak mampu di lihat oleh Nisa.
"Jadi kakak telepon ada keperluan apa, aku lagi baca. Kakak ganggu." Ujar Nisa jujur sejujurnya, dan nada suara nya pun sudah ia lembutkan tidak seperti tadi.
"Em, apa ya." Romadhon mulai mencari alasan yang masuk akal agar dirinya bisa terus bicara dengan Nisa. Namun belum sempat dirinya bicara, sambungan telepon sudah di akhiri sepihak oleh Nisa.
"Ganggu saja." Nisa kembali melanjutkan kegiatan membacanya.
"Ya ampun gemesin banget si calon bini." Romadhon tersenyum kecil di sertai gelengan kepala, memandangi layar handpone nya yang sudah hampir mati.
"Denger suara nya saja sudah bikin aku sebahagia ini, apa lagi kalau bisa sama dia seharian. Ah nggak kebayang." Romadhon tak patah semangat menaklukkan hati Nisa yang keras.
"Ahhh, gila." Romadhon menjambak rambutnya sendiri, Romadhon menutup badannya sampai kepala dengan selimutnya, ia merasa dirinya sudah seperti orang gila.
*
*
*
"Buk, sayur di ladang sekarang udah benar-benar sedikit ya bu?." Tanya Nisa ketika ia mengisi piringnya dengan nasi.
Ibu menoleh ke arah Nisa dan tersenyum kecil." Iya nak, memangnya kenapa?." Tanya ibu.
"Nggak apa-apa bu, cuma nggak biasa saja qibu masaknya sedikit." Jawab Nisa.
Ibu baru saja akan angkat bicara, namun sudah di potong duluan oleh suaminya.
"Sudah, jangan banyak bicara saat makan. Cepat sarapan dan berangkat sekolah." Ujar Bapak tegas.
Melihat itu Arini kakaknya Nisa hanya menggelengkan kepala melihat adiknya.
Nisa segera menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Setelah sarapan Nisa dan kakaknya segera kembali ke kamar masing-masing, untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.
"Nisa ini uang jajan untuk mu." Kata ibu, ketika bertemu Nisa di depan pintu kamar Nisa.
Nisa memandangi uang pecahan lima ribu yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Kenapa nak." Tanya Ibu, ketika melihat raut wajah Nisa.
"Tidak apa-apa Bu." Jawab Nisa.
Ibu pun tersenyum kecil." Maaf nak, hanya itu yang bisa Ibu berikan." Jawab Ibu, seolah ia mengerti apa yang ada di dalam fikiran anaknya.
Nisa pun mengangguk dan menyalami ibunya untuk berangkat.
Ya hari ini Ibu Nisa berangkat agak siang, karena kondisi kesehatannya sedikit tidak baik. Sedangkan suaminya sudah lebih dulu ke ladang.
"Nisa berangkat ya Bu." Pamit Nisa.
Sedangkan Arini sudah berada di depan teras memanaskan mesin motor, dan sudah berpamitan lebih dulu sebelum Nisa keluar.
"Kita berangkat Ya Bu, Assalammualaikum." Ujar Arini ketika menjalankan roda dua milik kedua orangtuanya.
"Iya nak, hati-hati. Wa'alaikumsalam."Jawab Ibu.
Ketika kedua anak nya sudah menghilang dari pandangan nya, Ibu berinisiatif akan beristirahat di kamar, karena badannya terasa benar-benar lemas dan tidak enak.
Namun saat baru saja selesai mengunci pintu, ibu merasa pusing dan mual.
Ibu memijit pilipisnya yang terasa berdenyut, serta perutnya yang terasa di aduk-aduk.
Cepat-cepat Ibu ke kamar mandi, karena dirinya merasa ingin muntah sekaligus ingin buang air besar.
Ooekk oeekk.
Ibu Mulyani memuntahkan semua isi perutnya, di sela-sela itu ia juga buang air besar, yang berbetuk sepeti air.
Setelah selesai, Ibu berjalan ke kamar dengan sempoyongan, karena badannya benar-benar terasa lemas.
Sesampainya di kamar, Ibu membaringkan badannya di kasur lapuk miliknya bersama suaminya.
Ia menyelimuti badannya batas pinggangnya, menggunakan kain yang biada ia gunakan.
Ibu berusaha memejamkan matanya, berharap setelah bangun rasa pusing, mual, serta mencretnya akan segera hilang.
Ibu benar-benar lemas, dalam kondisi sendirian saat di rumah. Mau minta tolong di antar ke bidan pun tak bisa, karena anak dan suaminya tidak ada yang di rumah. Sedangkan meminta bantuan tetangga rasa nya ia tak sanggup, karena badannya sudah lemas karena sudah banyak kehilangan cairan.
"Ya allah beri hamba kekuatan." Ibu terus berdoa dalam hati agar ia segera sembuh.
Sedangkan Bapak di ladang terus melakuakan kegiatan nya, membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sekitar tanaman sayurannya.
Sesekali Bapak melihat ke arah pondok, mencari keberadaan istrinya.
"Kemana Ibu, kenapa belum datang juga." Gumam Bapak Syukri.
Bapak Syukri terus melanjutkan perkerjaannya, tanpa tau keadaan istrinya saat ini.
__ADS_1
"*****-*****"