Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Jangan Di Tambrak.


__ADS_3

Di rumah Romadhon.


"Romadhonnnnnn!!!!!." Teriak ibu Romadhon kencang.


Hingga ayam yang sedang bertelur pun lari kocar kacir meninggalkan telurnya, karena menyelamatkan diri dari gempa dadakan.


Romadhon menarik selimutnya hingga menutup kepalanya." Apa'an si buk, subuh-subuh udah triak-triak, anak ibu ini belum budek." Cerocos Romadhon di balik selimut.


Mata Ibu Indah melotot keluar." Subuh kamu bilang!!, cepat mandi sana, nggak mau sekolah kamu apa!?, hah. Lagian kalau nggak teriak-teriak memangnya kamu dengar, ibu teriak-teriak begini saja nggak tembus ke telinga kamu. Sudah jangan banyak alasan cepat mandi dan keluar sarapan!." Titah Ibu Indah lantang.


"Iya ibu ratu." Jawab Romadhon lirih, karena dirinya masih mengantuk.


"Jangan iya,iya saja, cepat sana mandiii!. Bagun anak nakalll!." Ibu terus berusaha membangunkan Romadhon dengan menggoyang-goyangkan badan Romadhon.


Namun Romadhon enggan membuka selimutnya dan masih betah berada di tempat nya.


"Awas saja kalau nanti pulang karena telat, bakal ibu potong uang jajan kamu selama satu bulan!." Ancam sang Ibu karena sudah merasa lelah.


Mata Romadhon pun mendelik lebar mendengar ancaman sang ibu, namun dalam sekejap kembali tertutup. Seolah ancaman sang ibu hanya angin lalu yang numpang lewat.


Tak ada sahutan, sang anak tetap betah berdiam diri di balik selimut yang menutupinya.


"Ibu tunggu di meja makan." Setelah mengatakan itu ibu melenggang melangkah keluar.


Setelah menghabiskan tenaga karena teriak-teriak di kamar sang anak, ibu Indah segera kembali ke meja makan di mana suaminya berada.


Pagi ini Ibu Indah benar-benar kesal, bisa-bisanya anak semata wayangnya bilang hari masih subuh, padahal hari sudah terang benderang menandakan hari sudah siang. Dan sang anak pun kalah dengan ayam yang subuh-subuh sudah beraktifitas mencari makan.


"Hheehe Kenapa Bu?." Bapak Romadhon terkekeh dan menyodorkan segelas air putih ke hadapan sang istri.


Bu Indah mengambil dan menegaknya hingga menyisahkan setengah, setelah merasa lega ibu pun mulai menceritakan keluh kesahnya.


Ibu Indah menghembuskan nafas panjang." Anak Bapak itu, masak udah siang gini di bilang masih subuh. Ada-ada saja." Keluh Bu Indah.


"Tumben bangun siang, biasanya pagi-pagi buta udah bangun maen game." lirih pak Ali.


Romadhon sendiri memiliki pribadi sedikit absyur, sering menghabiskan waktu untuk main game, terkadang pagi-pagi buta sudah bangun untuk menatap layar handpone hanya untuk berselancar main game. Jadi Ibu merasa aneh saja jika Romadhon tiba-tiba bangun kesiangan.


Romadhon merupakan anak yang ceria, sering membuat sang ibu naik darah karena tingkah kekonyolannya. Walaupun begitu ia tetap belajar ketika sebelum tidur.

__ADS_1


"Nah itu maksdu ibu, Bapak tau alasannya?." Tanya sang ibu antusias.


Bapak Ali menghendikkan bahu." Biarkan saja la Bu, sekali-sekali ya tidak masalah. Yang penting ia tetap pergi ke sekolah dan belajar dengan serius." Belah Pak Ali.


"Bapak ini selalu saja begitu, bagaimana mau dewasa itu anak jika selalu di bela. " Ungkap Ibu Indah kesal, karena menurutnya sang suami terkesan membela sang anak yang melakukan kesalahan dan itupun sering terjadi jika ia sedang memarahi sang anak jika sedang marah karena sang anak terus main game di pagi buta.


Pak Ali pun terkekeh melihat muka masam sang istri yang malah terlihat imut di matanya." Sekarang bagaimana sudah bangun belum orangnya?." Bapak melihat ke arah kamar Romadhon yang pintunya sedikit terbuka.


"Kalau tadi si belum, nggak tau kalau sekarang. Awas saja kalau belum bangun, ibu potong uang jajannya, bila perlu nggak usah di kasih uang jajan sekalin. Ibu yakin dia sekarang mengantuk karena habis main game terlalu lama" Tebak Ibu Indah.


*


*


*


Di kamar.


Romadhon perlahan menyingkap selimut yang membalut tubuhnya, tangan nya terulur meraih handpone nya yang berada di atas meja. Romadhon ingin memastikan ucapan sang ibu yang mengatakan hari sudah siang.


Padahal dirinya merasa baru tidur beberapa jam saja, ya Romadhon baru bisa tidur tepat ketika jam menunjukkan angka dua belas malam. Itu lah mengapa Romadhon yang biasanya tidak pernah bangun siang, merasa aneh karena ibu memarahinya dengan alasan hari sudah siang.


Ya kamar mandi di rumah Romadhon berada di luar kamar, dirumahnya hanya terdiri dari dua kamar mandi saja, yang letaknya di bagian paling belakang dekat dengan dapur. Yang satu biasanya di pakai oleh kedua orangtuanya, sedangkan yang satunya lagi di pakai Romadhon seorang diri.


Kedua orang tua Romadhon hanya geleng-geleng kepala melihat Romadhon yang berlari sudah macam orang yang di kajar hantu.


"Ada-ada saja anak Bapak itu." Ujar Ibu Indah.


"Gawattt, gawatt, bisa nggak ketemu pujaan hati kalau sampai telat." Gumam Romadhon di sela larinya.


Di kamar mandi Romadhon menggosok badan dengan gerakan sangat cepat, busa nyaris tidak terkena menyeluru ke badannya, serta memakai sampo dengan asal-asalan, karen dirinya tak mau sampai telat.


Sepuluh menit Romadhon sudah keluar dari kamar mandi, saking terburu-burunya busa di kepalanya masih ada yang tersisa karena tidak terkena air bilasan.


Tak mau ambil pusing, Romadhon mengelapnya saja langsung dengan handuknya.


Setelah memakai seragamnya, Romadhon sejenak memperhatikan penampilannya di cermin." Oke sudah ganteng, nggak bakal malu-maluin karena masih ada belek di mata ataupun peta di muka." Ia pun terkekeh pelan.


Setelah memastikan penampilannya ganteng dan rapi, Romadhon menyambar tas sekolahnya yang ada di meja belajar dan segera ke luar kamar untuk berpamitan dengan kedua orangtuanya.

__ADS_1


Buuggghh,,.


"Aw, pintu sialan. Siapa juga yang pasang pintu di sini." Maki Romadhon sambil mengusap-usap keningnya yang baru saja mencium pintu. Karena terburu-buru Romadhon langsung nyelonong keluar bagitu saja tanpa memperhatikan jalan di depan.


Yang ada tulisan JANGAN DI TAMBRAK.


Andainya saja pintu bisa bicara, tentu ia akan berkata. Dasar bodoh kamu saja yang tidak lihat jalan, namun apalah daya, pintu harus berlapang dada karena harus menerima makian dari Romadhon dengan seluka rela tanpa bisa melayangkan protes.


"Awas ya pintu kalau muka ku berubah jelek, akan ku gantung kamu pakai tali nilon atau nggak di buang ke pantai biar jadi papan selancar. Enak saja nyium-nyium. Yang boleh nyium kening aku cumaa bebeb Nisa, kamu pahamm!!!." Bentak Romadhon serta jari telunjuk menunjuk ke arah pintu yang hanya diam.


"Kenapa kamu diam?, nggak punya mulut. Ck, kasihan." Cibir Romadhon dengan tangan berkacak pinggang serta kepala menggeleng ke kiri ke kanan macam orang senam pagi.


"Romadhoonnn!!!." Panggil ibu dari luar.


Romadho menoleh sejenak ke arah luar."Iya bu, bentar, Romadhon lagi ceramahin pintu biar nggak kerasukan setan yang suka jahilin orang sama ngegibah, biar Romadhon saja yang di jahilin sama dia. Biar hidupnya tentram, damai, dan sejahteraaa." Cerocos Romadhon panjang lebar, melupakan waktu yang hanya tinggal sedikit.


Ibu Indah menghampiri anak nya.


"Apa'an si nak bicara sama pintu, nggak jelas kayak orang gilaa, ayo cepat sarapan. Nanti kamu bisa telat jika waktu kamu buang sia-sia dengan bicara hal-hal yang nggak jelas." Jelas sang Ibu mengingatkan Romadhon.


Romadhon melihat jam yang berada di pergelangan tangannya." Ya ampun buk waktu tinggal dikit lagi, kenapa Ibu nggak bilang dari tadi." Protes Romadon.


Dahi Ibu pun mengkerut mendengar ucapan sang anak.


Pyyuurr,,


"Ibu kayaknya punya dendam lama deh sama aku, masak anak ganteng gini di sakitin mulu." Romadhon mengusap kepala nya yang baru saja mendapat toyoran dari sang ibu.


"Apa kamu bilang, dendam. Yang ada Ibu sedang mengingatkanmu agar kamu tidak jadi anak durhaka yang sering memfitnah Ibunya sendiiri." Ujar Ibu Indah tak mau di salahkan.


Karena tak mau terus berdepat dan akhirnya telat, Romadhon segera mengalah."Ya sudah Romadhon minta maaf, mana uang jajan." Ujar Romadhon sambil mengadahkan tangan.


"Nggak ada." Ujar Bu indah sambil melenggang menjauh meninggalkan sang anak yang bibirnya sudah manyut minta di jitak. wkwkwk.


Akhirnya Romadhon berangkat ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu, karena waktu sudah sangat mepet. Dan jika di paksakan bisa-bisa Romadhon telat dan pulang ke rumah sebelum melihat batang hidung sang pujaan hati.


Romadhon sendiri sudah di beri uang jajan oleh Ibu nya setelah ia bisa menyakinkan sang Ibu jika ia akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tidak terlalu sering main game di waktu subuh.


Ya entah lah apa jadinya nanti, apakah Romadhon benar-benar berubah atau malah masih tetap sama.

__ADS_1


*********


__ADS_2