Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Kecelakaan.


__ADS_3

"Tin nanti di warung pengkolan depan berhenti bentar." Kini Nisa dan Tina tengah dalam perjalanan pulang mengendarai sepeda motor.


"Emang mau apa Nis?".


"Mau numpang mandi." Jawab Nisa ketus.


"Lah ngapain numpang mandi di rumah orang, kayak di rumah nggak ada air saja." Tanya Tina yang percaya begitu saja dengan omongan Nisa.


"Di rumah nggak ada air, habis di kuras sama katak."


"Emang katak bisa nguras air Nis, hebat ya katak." Jawab Tina yang sedang dalam mode lemot.


"Ya mau beli sesuatu lah Tin, emang mau ngapain lagi, ya kali numpang mandi." Nisa geleng-geleng kepala dengan isi pikiran Tina.


"Oh kirain mau numpang mandi beneran, kamu si ngomong nya kurang jelas. Salah paham kan jadinya." Kekeh Tina tak mau kalah.


"Terserah mau mu Tin, cepat belok sana. Keburu malam nanti kita datangnya."


"Iya, iya bawel. Ibu kamu dulu pas hamil ngidam apaan ya Nis?, kok jadinya kayak gini, bawell bener." Tanya Tina dengan jari telunjuk di tempel pada dagunya


"Ngidam batu." Jawab Nisa kesal, ia berlalu meninggalkan Tina yang masih duduk di motor menuju warung.


"Pantesan jadi nya kayak gini, sudah bawel,keras kepala pula." Tunjuk Tina pada Nisa.


"Ngomong sekali lagi Aku lempar ke kuburan kamu Tin!." Ujar Nisa dengan muka masam.


"Lo kok marah, kan kenyataan Nis." Jawab Tina dengan memasang wajah tanpa dosa.


"Terserah pada mu." Teriak Nisa yang sudah berada di depan warung.


"Ya elah anak emakk, gampang ngambekann." Tina segera menyusul langkah Nisa yang sudah sampai di depan warung.


*


*


*


"Itu buat apa Nis?." Tina memandang sesuatu yang berada dalam genggaman Nisa dengan wajah bingung.


"Buat di jadiin mainan di rumah." Jawab Nisa singkat.

__ADS_1


"Iiddiihhh udah gede masih ajah main yang gituan, ingat umur Nis. Sudah tua, nggak cocok."


"Ya nggak lah dodoll!, buat nabung emang buat apa'an lagi. Dari tampilannya saja begini, masih nanya, masak nggak tau kegunaannya apa." Jawab Nisa tensi.


"Nggak tau lah Nis, karena Aku nggak pernah beli yang kayak gituan." Tina menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Serius nggak pernah beli yang beginian?, wiihhh anak orang kaya dong." Cerca Nisa dengan menggebu.


"Nggak juga, biasa saja." Jawab Tina singkat.


" Ini namanya celengan, buat orang nabung." Nisa menjelaskan kegunaan benda yang sedang ia pegang.


"Kamu nabung buat apa'an Nis?." Tanya Tina antusis.


"Kita ngobrolnya sambil jalan saja deh, takut kemalaman kalau nggak jalan-jalan. Malah asik tongkrongan di sini." Ajak Nisa pada Tina yang sudah duduk dengan manis di kursi yang tersedia di depan warung, bersiap-siap mendengar cerita Nisa.


"Oh iya Nis Aku lupa, ayo jalan." Nisa dan Tina segera bangkit menuju motor yang terparkir indah di pinggir jalan.


Nisa menghentikan Tina yang baru saja akan duduk di jok depan mengambil posisi menyetir."Tin Aku saja yang nyetir, supaya cepat sampai." Pinta Nisa.


Tina memutar badan menghadap Nisa."Nggak ah, nanti Aku di ajak ke kuburan. Aku kan belum mau kenalan sama kakak pocong. Enak kalau kakak pocong nya ganteng, ini malah kayak permen di bungkus. Lebih keren calon suamiku di sekolah."


Nisa mengerutkan dahinya." Siapa juga yang mau ke kuburan Tin, Aku bakalan pelan kok nyetirnya. Kamu tenang saja, amann terkendali."


"Iya, iya jangan bawel. Kamu tinggal duduk yang nyaman saja di belakang." Nisa segera menyalakan mesin motor dan melaju dengan kecepatan sedang.


"Nis cerita dong, katanya mau cerita tadi." Ujar Tina ketika mereka tengah dalam perjalanan.


"Yang mana." Tanya Nisa lupa.


"Ya ampun belum tua saja sudah pelupa. Kamu kan tadi beli celengan, terus Aku nanya nabung buat apa." Cicit Tina dengan memalingkan mata jengah.


"Oh yang itu, Aku nabung buat beli seragam latihan Tin." Nisa sedikit meninggikan suaranya agar Tina bisa mendengar suaranya yang di terpa angin.


"Oh beli seragam, pantesan kamu tadi belum mesan sama coach. Kamu belum ngomong sama Ibu kamu ya Nis?." Tanya Tina penasaran.


"Sudah, tapi Ibu sama Bapak Aku lagi nggak punya uang. Soalnya bulan ini hasil panen di ladang sedikit." Jawab Nisa jujur apa adanya.


"Begitu ya, makanya kamu nabung."


"Iya Tin, sebenarnya Aku sedikit minder melihat yang lain sudah memesan seragan, sedangkan Aku belum. Tadinya Aku mau berhenti saja, namun Aku menyayangkan kalau Aku berhenti karena sudah terlanjur nyaman dengan belajar silat."

__ADS_1


"Iya Nis, kamu jangan berhenti dong. Bakalan berkurang geng kita kalau kamu berhenti." Cicit Tina.


"Kalau kamu enak Tin, orang tua Kamu sumuanya sama-sama kerja enak, punya banyak uang. Nggak kayak perkerjaan kedua orang tua Aku, kerja capek."


"Semua perkerjaan juga capek Nis, mungkin kedua orangtua Aku sedikit beruntung karena nggak langsung bertabrakan dengan sinar matahari atau yang namanya kotor. Tapi kamu nggak perlu berkecil hati, yang penting kedua orang tua kamu semuanya sayang sama kamu, dan mau berjuang dengan hati yang ikhlas demi anak-anaknya." Kata Tina bijak.


"Iya Tin, Tapi di pikir-pikir tumben ucapanmu bijak. Biasanya nggak jelas." Kekeh Nisa yang sedang menyetir di depan.


"Ye Aku kan juga bisa bedain waktu Nis, kapan buat serius dan kapan waktu buat bercanda." Ujar Tina tidak terima dirinya di katakan tidak jelas.


"Iya, iya deh. Jangan ngambek, jelekk." Nisa sedikit mempercepat laju motor yang mereka kendarai karena hari sudah bertambah gelap, Nisa takut kalau Tina sampai pulang ke malaman.


"Pegang erat-erat Tin, kita ngebut." Teriak Nisa yang sudah melajukan kendaraan mereka dengan kencang.


"Nisaaaaaa nggakkkk usah kencang-kecanggggg,,,, Aku belum mau masuk ke liang lahattt." Teriak Tina yang sudah memeluk erat Nisa dari belakang.


Sedangkan Nisa tidak menghiraukan triakan Tina kerena dirinya tidak mendengar jelas suara Nisa yang di terpa suara angin.


Ibuuuu tolong anakmu ini, Aku dalam bahaya, Aku mau di jodohkan Nisa sama kakak permen yang kayak bantal guling. Aku nggak mau buuuu. Teriak Tina dalam batinnya.


Jalan benar-benar sudah sepi, hanya ada beberapa motor dan mobil yang melintas melewati mereka.


Sudah terdengar suara hewan yang biasa di genangan air, yang menandakan hari akan segera gelap." Seram amat." Cicit Tina yang berada di belakang Nisa, bulu kuduknya seketika merinding mendengar suara binatang yang nyaring saling bersahutan.


"Nis cepetan Nis." Teriak Tina yang semakin takut.


Nisa pun menambah laju kendaraan mereka, dan ketika berada di pengkolan. Nisa tak sengaja meniti jalan berlobang, karena mereka dalam keadaan laju motor yang sangat kencang menyebabkan Nisa tak sempat mengerem. Motor mereka oleng tergeletak membentur aspal hitam, sedangkan mereka berdua tersungkur ke aspal sebelum terguling ke arah semak-semak yang berada di pinggiran jalan.


Aaaaaakkkkhhhh,,,


Terdengar nyaring teriakan mereka.


Badan mereka pun penuh luka, sedangkan tangan Nisa sedikit keseleo. Mereka meringis kesakitan hingga sampai tak sadarkan diri lagi.


Mereka di tolong oleh para pengguna motor yang juga sedang melintas, mereka segera di angkat di keluarkan dari dalam semak.Tidak menunggu lama tempat di mana kejadian mereka pun ramai di singgahi para pengguna roda empat yang melintas. Ada di antara mereka yang mengenal Nisa dan Tina.


Mereka yang kenal pun segera melajukan motor menuju rumah kedua korban guna memberi tahu keluarga mereka masing-masing. Bahwa mereka berdua sedang terkena musibah kecelakaan.


Badan mereka di penuhi dengan darah, karena sebelum terguling ke semak kulit mereka sempat mencium jalan aspal yang hitam.


Orang yang membawa mereka pun bergerak dengan cepat dan panik, karena detak jantung mereka melambat, darah terus mengalir membasahi baju mereka, dan mereka tak kunjung sadar walau hidung mereka di dekatkan minyak hangat yang baunya menyengat.

__ADS_1


**********


__ADS_2