Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Panikk


__ADS_3

"Ayo aku bantu." Pemilik suara bariton itu mengulurkan tangannya tepat di hadapan Nisa.


"Kamu." Ujar Nisa.


Pemilik suara bariton itu tersenyum manis, bahkan sangat manis, yang bisa saja membuat Nisa mengalami diabetes jika terus-terusan memandangnya.


Nisa segera memutus pandangan.


"Ayo aku bantu." Ujar pemuda itu lagi.


"Aa-aaku bisa sendiri." Nisa keglagakapan melihat laki-laki yang pernah ia kagumi semasa Sekolah Dasar berada di depan matanya.


Pumuda itu menarik kembali tangannya, karena tidak mendapat balasan.


Nisa segera bangkit, menepuk telapak tangannya yang sedikit kotorr dan mensejajarkan tubuh mereka.


"Hay Nis, udah lama nggak ketemu, apa kabar sekarang?." Tanya pemuda itu ramah tak lupa dengan senyum menawannya.


Pemuda itu tak tau saja, bahwa sejak melihat senyum manis itu jantung Nisa berdetak dengan cepat, bahkan Nisa merasa tubuhnya berkeringat dingin.


"Alhamdulillah baik." Jawab Nisa dengan senyum ragu-ragu.


Siapa yang tidak terpana melihat sosok Aldo yang berwajah tampan, tubuh tinggi berisi, berkulit putih, hidung mancung, senyum manis, gigi gingsul sebelah kiri di sertai lesung pipi yang menambah kadar kesempurnaannya.


"Alhamdulillah kalau begitu, oh iya tadi kamu kenapa jalan melamun." Tanya Aldo, seraya menautkan kedua tangannya ke belakang badannya.


"Egggg,, nggak ada apa-apa, cuma lagi mikirin tugas sekolah Do." Elak Nisa.


Aldo pun manggut-manggut mengerti.


"Ya udah Do, Aku permisi dulu. Udah mau sore." Pamit Nisa, karena Nisa tak bisa mengendalikan detak jantungnya yang kembali berdetak hebat.


"Buru-buru amat Nis, ngobrol gitu. Kan kita udah lama nggak ketemu, udah beda sekolahan lagi. Kamu malu ya temanan sama aku?." Tanya Aldo mendadak melow.


Dengan cepat Nisa menggeleng kepala "Nggak, nggak kok Do, aku seneng kok temenan sama kamu."


"Yang bermasalah itu jantung aku DO bukan nggak seneng temenan sama kamu, malahan aku seneng kalau kita jadian." Batin Nisa.


"Bener?, tapi kok buru-buru." Tanya Aldo memastikan.


"Iya Do, Aku masih ada perkerjaan lain soalnya, ibu aku lagi sakit, dan sekarang masih di rumah Buk Bidan." Jelas Nisa.


Aldo manggut-manggut." Gitu ya, ya sudah kalau gitu aku titip salam buat Ibu kamu, semoga cepat sembuh."

__ADS_1


Nisa tersenyum manis." Iya do, ya udah Nisa pergi dulu. Bye Aldo." Pamit Nisa.


Setelah mendapat anggukan dari Aldo, Nisa segera berlalu dari hadapan pria yang pernah hadir di dalam hatinya dan sampai sekarang pun perasaan itu masih bertahtah di hatinya.


"Huuuff, kenapa bisa ketemu Aldo si. Kan gagal move on jadinya, apa lagi Aku lihat sekarang Aldo tambah ganteng, bisa-bisa di ketawain sama Trio asem Aku, gara-gara masih suka sama mantan gebetan. Hahh menyebalkan." Gerutu Nisa seraya menganyunkan kakinya ke tempat jualan bubur ayan yang biasa mangkal.


Trio asem yang Nisa maksud adalah Tika, Santi, dan Jesica.


"Ini juga, ngapain pakai jedag jedug kenceng-kenceng, kalau sampai kedengaran Aldo kan malu, untung suaranya nggak sampai ke teliganya Aldo, coba kalau denger, kan malu." Nisa memukul pelan jantung nya yang kini sudah kembali berdetak dengan normal.


Sepanjang jalan menuju penjual bubur ayam, tak henti-hentinya Nisa menggerutu dirinya yang tak kunjung bisa melupakan Aldo yang kembali tebar pesona, eh ralat, Nisa yang masih terpesona.


*


*


*


Tiba di tempat penjual bubur ayam.


"Pak minta bubur ayam nya satu porsi, di bungkus." Ujar Nisa pada Bapak-bapak penjual bubur ayam yang biasa mangkal di seberang jalan rumah santi.


"Iya nak, tunggu. Silakan duduk dulu." Tawar Bapak penjual bubur ayam sambil menyodorkan kursi plastik yang tadi ia duduki.


Nisa menerima kursi yang di beri Bapak penjual bubur." Iya pak, makasih." Nisa segara mendaratkan tubuhnya menyandar pada kursi plastik yang Bapak penjual bubur ayam tadi tawarkan.


Setelah mendapatkan yang kakak nya pesan kan tadi, gegas Nisa pulang kerumahnya, yang berada tidak terlalu jauh dari rumah Nisa.


Nisa meletakkan bubur ayamnya ke dalam tudung saji.


Sedangkan dirinya segera berganti pakaian, karena dirinya sekarang masih memakai seragam sekolah. Karena sepulang sekolah dirinya belum sempat berganti pakaian.


Setelah selesai baru lah Nisa mengerjakan pekerjaan rumah, dari mencuci piring bekas sarapan pagi, mengangkat pakaian sampai melipat, menyapu rumah, serta memasak untuk makan malam.


Kini Nisa sedang melipat pakaian yang baru saja ia angkat dari jemuran.


"Assalammualaikum." Ucap Bapak Syukri.


Mendengar suara Bapaknya, Nisa pun menoleh." Wa'alaikumsalam, sini pak Nisa bantu." Nisa segera menghampiri Bapaknya dan mengambil barang bawaan Bapaknya.


"Nis, nanti talasnya di rebus ya, Bapak lagi pengen makan talas rebus." Ujar Pak Syukri di sela melepas sepatu bot miliknya.


"Iya pak." Jawab Nisa patuh.

__ADS_1


"Ibu mu mana Nis?." Tanya Pak Syukri setelah sepatunya ia lepas, karena sedari pagi ia tidak juga melihat wajah istrinya.


Nisa menghentikan langkahnya menuju sudut dapur.


"Ibuu, ibu di rumah Buk Bidan Pak." Ujar Nisa apa adanya.


Sontak Bapak mendelik lebar." Rumah buk Bidan, Ibu mu sakit Nis?." Tuding Pak Syukri.


Ternyata benar firasatnya yang mengatakan ada apa-apa terhadap istrinya, karena tidak biasanya istrinya tidak menyusulnya ke ladang. Jika pun tidak, pasti memberi tahu dirinya terlebih dahulu.


"Iya Pak, kata Bu Bidan, Ibu terkena muntaber. Sekarang Ibu lagi di infus, karena kekurangan cairan." Terang Nisa.


Raut muka Pak Syukri berubah sendu." Kakakmu di sanakan Nis?." Pak Syukri mendaratkan punggungnya di kursi kayu yang tidak terlalu jauh dari posisinya berdiri tadi.


"Iya pak, Kak Arini ada di rumah Buk Bidan nungguin Ibu."


Bapak bernapas lega." Ya sudah bikinin Bapak kopi, Bapak mau istirahat dulu sebentar." Pak Syukri melangkah ke depan menuju teras, mengistirahatkan tubuh tuanya yang lelah.


"Iya Pak." Jawab Nisa.


*


*


*


"Bagaimana Buk, apa sekarang udah agak mendingan?." Tanya Bapak Syukri memastikan keadaan sang istri.


Kini Bapak Syukri sudah tiba di rumah Buk Bidan di mana istrinya berada.


Ibu Mulyani mengangguk." Alhamdulillah Pak, sudah lebih baik dari sebelumnya, sekarang udah nggak kayak tadi, sekarang sudah ada sedikit tenaga." Terang Ibu Mulyani tentang kondisinya.


"Sejak kapan Ibu sakit, kok Bapak sampai nggak tau?, maaf ya Bu." Mohon pak Syukri.


Kini Pak Syukri dan Ibu Mulyani hanya sedang berdua di dalam ruangan yang sengaja di buat khusus untuk pasien Ibu Bidan Mentari jika sedang berobat.


Nisa berada di teras depan rumah Buk Bidan, mencari udara segar, sedangkan Arini pulang untuk mandi dan mengganti pakaian. Karena ia pun tak sempat mengganti pakaian ketika mengantar Ibunya ke rumah Bu Bidan. Saking paniknya.


"Nggak apa-apa pak, Bapak nggak usah minta maaf, Bapak nggak salah, tadinya Ibu pengen nyusul Bapak ke ladang, tapi pas selesai nganter Nisa sama Arini di teras Ibu mulai pusing dan mual."


"Ibu kira dengan istirahan sebentar, rasa pusing dan mual akan sedikit berkurang, taunya badan Ibu tambah lemes, karena muntah dan mencret terus." jelas Ibu Mulyani panjang lebar.


Bapak terlihat matuk-matuk dan sedikit merasa legah.

__ADS_1


__ADS_2