Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
SGT.


__ADS_3

Selama di sekolah, teman-teman Nisa masih kompak mendiaminya, bahkan saat latihan silat pun mereka masih saja mendiami Nisa.


"Ciiaatttt!!!."


Bugghhttttt!!!!.


"Aw, Aduuhh, pelan-pelan Nis." Gerutu Ahmad sambil memengangi pantattnya yang baru saja terbentur di atas rerumputan hijau.


Namun Nisa diam tak menjawab, hanya tersenyum samar.


"Bangunn, seharusnya kamu harus menahan kuda-kuda mu agar tidak mudah tumbang. Cepat, sparing kalian belum selesai." Titah sang wasit.


Ya, kini mereka tengah berada di lapangan yang biasa mereka sebut dengan gelanggang rumput hijau.


Di mana tempat itu sering di jadikan tempat sparing antara anak didik pak Joni yang ikut extrakurikuler silat.


Seminggu sekali akan di adakan sparing, guna melihat sejauh mana perkembangan terhadap anak didik pak Joni.


Apakah sudah mampu menguasai salah satu teknik yang di ajarkan atau tidak, jika sudah menguasai berarti ia berhasil dalam membagi ilmu yang ia punya, jika pun belum menguasai maka akan di bimbing sampai menguasai.


Ahmad pun bangkit dari posisi terduduk." Awas kamu Nis, akan aku balas. Ah memalukan!." Batin Ahmad.


Ahmad melihat sekeliling, adakah yang menertawakannya. Ia benar-benar merasa malu.


Coach Joni terkadang memang memasangkan lawan anak didiknya secara silang, karena agar anak didiknya lebih serius.


Bagi perempuan sparing dengan laki-laki akan lebih menantang, begitu pun bagi laki-laki, mereka akan merasa malu jika kalah dengan seorang perempuan. Maka dari itu mereka akan sama-sama sparing dengan serius.


"Bersedia, siap, pasangggg,,, mulaii!." Sparing pun kembali di mulai.


Nisa dan Ahmad sama-sama memasang kuda-kuda siap siaga.


Nisa memasang kuda-kuda kaki kiri di depan, sambil berfikir mencari celah untuk menyerang.


Sedangkan Ahmad sendiri juga memasang kuda-kuda kaki kiri depan, ia pun sama sedang memikirkan cara agar bisa menyerang Nisa dan menghalau seragan balik atau bantingan dari Nisa.


Karena bantingan Nisa tak bisa di anggap remeh.


"Ssiiitttt,,,." Ahmad baru saja melakukan zigzag dan menyerang Nisa dengan serangan kenter.


Setelah melakukan kenter, Ahmad mundur kembali, seraya berfikir cara agar bisa menyerang Nisa kembali tanpa mendapat perlawanan.


Nisa kembali siaga, setelah kecolongan.


"Aaaggghh,, sial." Umpat Nisa dalam hati.


Nisa siap dengan kuda-kudanya, melihat ada sedikit celah Nisa mencoba untuk menyerang Ahmad.

__ADS_1


Ciiitttt.


Nisa menangkis tangan Ahmad dan dengan gerakan kilat Nisa melakukan tendangan depan dengan telak.


Ahmad berusaha menangkis dan berusaha membalas , namun Nisa siap dengan jurus andalannya, dengan menyilang kaki di antara kaki ahmad dari belakang dan badan Ahmad ia dorong ke depan.


Buuuggggghhh,,


Ahmad kembali terjatuh.


Pprrooookkk, proookkk, proookkk.Tepuk tangan menggema untuk Nisa.


"Aku pada mu Nis." Teriak Romadhon.


Nisa melihat ke arah Romadhon sekilas. Nisa tersenyum kecil di antara wajah datarnya.


Sedangkan teman-teman Nisa masih nyaman dengan wajah datar mereka, wajah tanpa expresi.


"Hhhuuuuuu." Sorak anak didik Joni yang lain, saat mendengar penuturan Romadhon.


"Sudah, sudah lanjutkan, Ahmad lebih serius!." Titah coach Joni.


Sontak anak didik Pak Joni kembali diam, setelah mendengar suara dari coach mereka, dan akhirnya mereka fokus memperhatikan kembali.


Acungan jempol kebawah tertuju untuk Ahmad, sedangkan jempol ke atas tertuju untuk Nisa. Yang berarti nilai bantingan untuk Nisa.


"Bersedia, siap, pasang, mulai."


Ahmad berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai seseorang laki-laki.


Ahmad sudah siap-siap dengan serangannya, Ahmad mengangkat kaki untuk menutup serangan balik dari Nisa.


Dengan gerakan kilat Ahmad melakukan tendangan depan, sedikit halangan dari Nisa, namun tendangan tetap masuk telak, dan kembali Ahmad meluncurkan tendangan menyerupai bentuk T.


Nisa terpental ke belakang, dengan tangan di depan dadanya, tendangan Ahmad benar-benar masuk telak tanpa ada halangan.


Sakit?, tentu saja.


Nisa mencoba mengatur pernasapannya, karena walaupun memakai body pengaman, tetap saja tendangan Ahmad patut di perhitungkan.


Sakittt, sampai-sampai sulit untuk bernapas.


Setelah lebih tenang, sparing pun tetap berlanjut, sampai sparing pun selesai, dengan Nisa mengantongi tiga kali menjatuhkan Ahmad, sedangkan Ahmad dua kali membanting Nisa. Namun di sini poin serangan Ahmad lah yang lebih unggul, walaupun sering terkena bantingan.


Sekarang giliran anak didik Pak Joni yang lainnya, hari ini mereka semua akan mendapat kesempatan untuk sparing. Karena waktu masih menunjukkan angkah empat, sedangkan jam mereka pulang setengah enam.


*

__ADS_1


*


*


Hari terus berlalu, bulan, minggu bahkan tahun terus berjalan, kita pun sama, akan terus berjalan walaupun kita tidak melakukan apa-apa. Dunia yang penuh dengan tipu daya, yang terkadang membuat kita lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya. Kita selalu berusaha mengejar dunia, tanpa kita sadari, bahwa kita telah tersesat di dunia yang fana.


Di pagi yang cerah ini, Nisa mengerjapkan matanya, sesekali ia menguap, tanda ia baru saja bangun dari alam bawa sadarnya. Nisa mematikan alarmnya yang beberapa menit tadi terus berbunyi.


Nisa berusaha mengumpulkan nyawanya. Sebelum mendengar suara familiar yang sangat ia hapal.


"Nis, Nisa cepat bangun nanti telat!!!." Teriak Ibu Nisa di balik pintu kamar Nisa.


"Iya Bu." Jawab Nisa tak kalah berteriak.


Setelah mendengar sahutan dari anaknya, ibu pun kembali ke dapur.


Nisa melihat jam di dinding kamarnya, masih ada waktu satu jam lagi, Namun ibunya sudah heboh di depan pintu kamarnya.


Demi menjaga perdamaian telinganya, Ibunya akan benar-benar cerewet jika melihat ia tak kunjung melaksanakan perintahnya. Ya pada dasarnya para ibu-ibu akan memang bersikap cerewet jika menyangkut masa depan anaknya. Dengan terpaksa akhirnya Nisa segera siap-siap untuk mandi.


Baru saja akan keluar, Nisa kembali duduk di sisi ranjangnya. "Ah, rasa nya benar-benar masih mengantuk, mataku seperti ada lem nya." Gumam Nisa.


Setelah mencoba membuka matanya, Nisa kembali menabrakan badanya di atas kasur miliknya, karena matanya benar-benar tak mau di ajak kompromi.


Terdengar suara dengkuran halus, kini Nisa sudah tertidur kembali.


Sedangkan Ibu Nisa yang sedang menyiapkan makanan di dapur pun menoleh ke arah kamar Nisa.


Ya pintu kamar Nisa bisa di lihat dari dapur, karena tidak ada penyekat yang menghalangi.


"Ya ampun anak itu, benar-benar, pasti tidur lagi!." Ibu Nisa segerah meletakkan piring ke atas meja, karena yang lainnya sudah ia siapkan, dan hanya tinggal piringnya saja.


Gegas Ibu Nisa menuju ke arah kamar Nisa, namun belum sampai, di tengah jalan, tiba-tiba muncul Arini dari pintu kamarnya.


"Kenapa Bu." Tanya Arini.


Arini menutup pintu kamar nya yang terbuat dari kayu.


Ibu pun menghentikan langkahnya.


"Itu adik kamu, udah di bangunin tapi belum keluar-keluar juga, ini ni kebiasaan adik kamu, pasti tidur lagi!." Gerutu Ibu Mulyani.


Arini tersenyum kecil." Ya sudah Bu, biar Arini saja yang bangunin lagi si Nisa." Ujar Arini.


Arini sudah tamat sekolah menengah atas, dan sekarang tengah berkerja di toko rumah makan di kota kecil tempat mereka tinggal.


Sedangkan Nisa sediri sudah duduk di bangku sekolah menengah atas.

__ADS_1


Dan kebetulan sekarang sedang mengambil cuti, karena ada kepentingan yang tidak bisa di tinggalkan, dan untunglah tempat ia berkeja mengizinkan Arini Cuti, walaupun hanya satu hari.


\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2