
Ceklek..
Nisa memutar gagang pintu, membuka pintu lebar.
Setelah melepas sepatu, gegas Nisa menuju kekamarnya, dan di susul Arini yang berada di belakangnya.
Namun saat melewati kamar orangtuanya, Nisa tak sengaja mendengar suara seseorang yang menggigil dari arah dalam kamar ibunya.
Dahi Nisa mengkerut mencoba berfikir, apakah mungkin ibunya berada di rumah.
Arini yang berada di belakang Nisa pun ikut menghentikan langkahnya, heran mengapa adiknya berhenti di depan kamar orangtuanya, tidak langsung ke kamarnya yang sedikit berjarak dari tempat mereka berdiri sekarang.
"Kenapa?. " Tanya Arini.
Nisa pun menoleh ke arah Arini.
"Ada suara orang menggigil di dalam." Nisa menunjuk ke arah dalam kamar.
Dahi Arini mengkerut.
"Bukan kah ibu ke ladang, lalu siapa?. " Gumam Arini.
Nisa menghedikkan bahu, tanda tidak tau.
"Kita cek saja." Ajak Nisa pada sang kakak.
Arini mengangguk.
Mereka berdua pun akhirnya mencoba memeriksa sendiri, dengan cara mengendap-endap. Takut yang di dalam bukan ibunya, melainkan orang lain.
Arini membawa sapu, sedangkan Nisa membawa asbak rokok untuk sekedar berjaga-jaga. Takut ada maling yang bersembunyi di dalam kamar ibunya.
Mereka berdua tercengang di tempat, melihat ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang, dengan wajah pucat, mata terpejam dan di sertai suara mengigil.
Cepat-cepat mereka menghampiri ibu mereka, dan melempar ke sembarang arah alat yang mereka bawah.
Prraaakkkkk...
Tindakan mereka berdua sontak membuat Ibu Mulyani yang sedang istirahat terlonjak kaget.
"Astagfirullah." Ujar mereka kompak.
Sedangkan Ibu Mulyani mengusap dadanya yang berdetak lebih cepat, karena kaget.
"Astagfirullah, anak ini. Apa mereka ingin aku cepat mati. " Batin Ibu Mulyani.
"Ibu kenapa?, ibu sakit, kenapa tidak panggil tetangga. Di mana Bapak, belum pulang?." Arini mengedarkan pandangannya sampai ke luar kamar mencari keberadaan Bapaknya.
Mendengar banyak nya pertanyaan dari anaknya, Ibu Mulyani hanya dapat menjawab dengan gelengan kepala.
"Ayo Bu kita ke bidan." Ajak Arini.
Ibu menggeleng dengan air mata yang perlahan mengalir di sudut mata nya.
"Kenapa Bu?, Ibu sakit, Ibu harus segara berobat." Jawab Arini yang kini juga ikutan menangis.
"Ibu nggak punya uang nak." Jawab Ibu lirih.
Mendengar itu Nisa bergegas menuju kamarnya.
__ADS_1
Nisa mengambil pisau di dapur, tanpa berfikir panjang ia langsung menusuk celengan plastiknya menggunakan pisau yang ia ambil tadi.
Setelah di hitung-hitung, uang tabungannya hanya berisikan enam puluh tujuh ribu.
"Celengan Kodok ku ternyata lapar." Nisa membuang celengannya yang berbentuk kodok ke dalam tong sampah yang memang ada di dalam kamarnya.
Uang itu sengaja ia sisihkan untuk membeli baju seragam latihan silat. Namun kali ini ia harus mengubur angan-angan nya lebih dulu. Karena ibunya lebih membutuhkannya saat ini.
"Semoga saja cukup." Ungkap Nisa.
Ia bergegas menghampiri ibunya.
Sesampai nya di sana, Ternyata kakaknya Arini sedang menghitung uang yang baru saja ia ambil dari kamar nya juga.
Selapas Nisa pergi ternyata Arini juga pergi ke kamarnya.
Arini juga mengambil uang simpanan yang sengaja ia simpan jika ada keperluan mendadak seperti saat ini.
Uang yang Arini pegang hanya berjumlah tujuh puluh ribu, karena ia belum lama menabung.
Nisa menyodorkan uang yang ia bawa ke tangan sang kakak.
"Buat jaga-jaga kak, siapa tau kurang." Ujar Nisa.
Arini mengangguk menerimanya, dan mengabung uang mereka berdua, sambil berdoa di dalam hati, Semoga uang mereka cukup untuk biaya berobat ibu mereka.
Melihat perjuangan kedua anaknya, mata Ibu Mulyani tanpak berkaca-kaca."Maafkan ibu ya nak." Ibu Mulyani melihat ke arah anak nya bergantian.
"Tidak apa-apa bu, karena ini memang menjadi kewajiban kami. Ibu jangan banyak fikiran, yang penting ibu segerah sembuh." Ungkap Arini dewasa.
"Ayo kita berobat." Ajak Arini dan di jawab anggukan oleh ibu Mulyani.
"Ayo Bu naik, pelan-pelan." Nisa membantu Ibu Mulyani naik ke jok bagian belakang.
Sedangkan Arini sudah duduk di bagian jok depan.
"Pegangan Bu, Nisa kunci rumah dulu." Gegas Nisa mengunci pintu rumah.
Ibu Mulyani mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu anaknya Arini. Badannya teresa lemas, dan kepala terasa pusing.
Setelah mengunci rumah, Nisa segera menyusul duduk di jok bagian belakang, sedangkan ibu Mulyani berada di tengah-tenga di apit mereka berdua.
Nisa mengapit ibu Mulyani, takut tiba-tiba ibunya oleng.
Melihat kondisi ibu mereka yang lemah, cepat -cepat Arini menghidupkan mesin motor dan melajuhkanya dengan kecepatan sedang.
Kalau cepat-cepat Arini takut mereka tak hanya mengantar ibu mereka saja, malainkan mereka berdua juga bisa-bisa ikutan di rawat.
*
*
*
"Bagaimana kak keadaan ibu kami?." Tanya Arini setelah ibu bidan memeriksa Ibu Mulyani.
"Tidak apa-apa, Ibu kalian hanya terkena muntaber. Dan saya sarankan sebaiknya ibu kalian di pasang infus dulu, karena tubuh ibu kalian ke kurangan cairan." Terang Ibu Bidan ramah.
"Ibu kekurangan cairan tubuh?, karena apa ya kak?. " Tanya Nisa penasaran.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan seperti itu ibu Bidan tersenyum ramah." Itu terjadi karena ibu kalian terlalu sering muntah dan mencret, dan kurangya minum air putih." Terang ibu Bidan masih ramah.
Arini dan Nisa mengangguk mengerti.
"Nggg,,, kalau biaya infus mahal nggak kak?." Tanya Arini memastikan.
Karena mereka hanya mempunyai uang seratus tiga puluh tujuh ribu saja.
Melihat kegundahan di mata kakak beradik itu, Ibu Bidan tersenyum ramah." Insya Allah tidak dik." Pungkasnya.
Sekian lama berfikir, Arini akhirnya memilih ibu nya di infus. Karena melihat kondisi ibunya yang saat ini masih benar-benar lemah.
"Kamu pulang saja duluan, biar kakak yang jaga ibu. Kamu masak dan beres-beres rumah, takutnya Bapak pulang nggak ada makanan."
Nisa mengangguk patuh, memutar badan berniat melangkah pergi.
"Iiisss." Desis Arini.
"Kakak belum selesai."
Nisa cekikikan dan kembali menghadap sang kakak.
"Kalau sudah masak, sekalian bawah ke sini. Kakak lapar, dan ini beli kan ibu bubur ayam yang ada di depan rumah Santi." Arini menyodorkan uang sepuluh ribu ke tangan Nisa.
Nisa menerimanya."Sudah, uang jalannya ada tidak?." Nisa kembali mengadakan tangan.
Arini menoel kening Nisa dengan jari telunjuknya."Uang jalan dari hongkong!, yang ada kita fikirkan dapat dari mana tambahan uang buat bayar biaya perawatan ibu. Malah nanya uang jalan, ada-ada saja." Geram Arini.
Nisa cekikikan melihat wajah kesal sang kakak.
"Malah ketawa, kakak serius kali Nis." Arini geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya.
"Iya-iya, Aku bercanda kak. Ya sudah adik kakak yang cantik ini pulang dulu, bye, bye kakak pemarah." Setelah mengatakan itu Nisa lari tunggang langgang, takut mendapat amukan dari kakaknya.
Selepas kepergian Nisa, Arini kembali KE dalam ruangan khusus pasien yang ada di rumah buk bidan.
"Aduuhh, bagaimana ya. Apa aku pinjam saja sama Santi jika uang itu tidak cukup." Lirih Nisa di sepanjang jalan menuju rukang bubur yang biasa mangkal di depan rumah Santi.
Jujur saja, Nisa sangat khawatrir uang itu tidak cukup. Ia tau di tanbah biaya infus pasti akan melebihi uang yang mereka punya.
Di saat Nisa asik dengan lamunan nya, tiba-tiba is menabrak sesuatu yang terasa sangat keras.
Buuhhhgggg.
"Aw." Pekik Nisa terjatuh.
"Aduh telapak tangan ku." Nisa meringgis kesakitan karena telapak tangannya sedikit tergores di aspal ketika jatuh tadi.
"Kamu tidak apa-apa." Tanya seseorang.
Mendengar suara bariton itu, Nisa mendongak melihat ke atas.
Nisa tercengang di tempat.
"Ayo aku bantu." Pemilik suara bariton itu mengukurkan tangannya tepat di hadapan Nisa.
"Kamu." Ujar Nisa.
*************
__ADS_1