
"Hhuuufff, untung nggak telat. Bisa berabe kalau sampai telat." Gumam Nisa yang mengendarai sepeda motornya.
Nisa memarkirkan sepeda motornya ke tempat parkiran motor berada, suasana di parkiran sudah sepi, hanya tinggal beberapa siswa saja, yang kebetulan baru saja sampai seperti Nisa.
"Nis, tunggu!!!." Teriak seseorang yang tidak begitu jauh dari tempat Nisa berada.
Mendengar namanya di panggil, sontak Nisa mebalikkan badannya menghadap si pemanggil
"Cepetan!." Teriak Nisa ketika sudah melihat sesosok manusia ganteng yang telah memanggilnya.
Buru-buru Romadhon menghampiri Nisa.
Romadhon sedang mengatur nafasnya yang sedang ngos-ngosan akibat berlari.
"Ah kamu Nis, pagi-pagi begini aku sudah di suruh mandi keringat.!" Celetuk Romadhon protes.
Nisa terkekeh pelan." Siapa yang suruh kamu lari coba?." Tanya Nisa lengkap dengan senyum mengejek.
Romadhon mencebik." Ya setidaknya kamu halangi aku gitu, biar nggak lari-lari. Kayak yang di film-film gitu."
Nisa geleng-geleng kepala mendengar penuturan Romadhon barusan."Udah ayo, nanti saja debatnya, masih banyak waktu!. Keburu guru masuk kelas kalau harus mendengar ocehan mu dulu." Celoteh Nisa karena memang begitu kebiasaan Romadhon kalau sedang protes begitu akan panjang kali lebar ocehannya, membuat kita yang mendengarnya pusing sendiri.
Nisa segera menarik tangan Romadhon menuju kelas mereka berada, karena kelas mereka berhadapan maka mereka akan berpisa di saat berada di tengah-tengah.
Romadhon pasrah saja ketika baju nya di tarik oleh Nisa."Pelan-pelan Nis." Cerocos Romadhon ketika Nisa menariknya sambil sedikit berlari.
Di sekolah Nisa yang sekarang, Nisa mulai memiliki banyak teman laki-laki di bandingkan teman perempuan. Entahlah Nisa merasa jauh lebih nyaman berteman dengan laki-laki, bukan karena kegatelan, tetapi karena nyaman saja.
Teman laki-laki Nisa menjaga jarak dengan Nisa, karena sebelumnya Nisa memperingati agar teman-temannya tidak melakukan tindakan kontak fisik, mereka bercerita dan berkumpul dalam batas wajar. Mereka hanya berteman biasa tanpa melibatkan perasaan, karena bagi Nisa itu semua hanya akan merenggangkan persahabatan mereka.
Dulu pernah Romadhon mengungkapkan perasaannya terhadap Nisa, namun Romadhon menuai kekecewaan, karena pernyataan cintanya di tolak mentah-mentah oleh Nisa, dengan alasan Nisa tidak mau pacaran.
Romadhon sangat kecewa kalah itu, namun ia tidak berputus asa, karena selanjutnya ia malah bisa berteman sebagai sahabat Nisa, tak apa jika tidak berpacaran, yang penting bisa dekat dan tau semua tentang Nisa pun itu sudah lebih dari cukup. Dan siapa yang tau di masa yang akan datang, siapa tau Nisa membuka hatinya untuk Romadhon, dan Romadhon sering berdo'a di setiap habis sholat, agar di jodohkan dengan Nisa di masa depan yang akan datang.
Untunglah Nisa mau berteman dengannya hingga menjadi sahabat hingga sekarang.
__ADS_1
Ayu, Dia dan Tina masih satu sekolahan dengan Nisa hanya saja mereka tidak seakrab dulu waktu masih sekolah menegah pertama. Kini mereka hanya bertegur sapa sekedar nya saja, dan mereka kumpul berempat pun hanya sesekali saja, karena Nisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman laki-laki nya yang baru.
Ayu, Dia dan Tina tidak mempermasalahkan itu semua.
*
*
*
"Nis, kamu jadi kan latihan hari ini?." Tanya Romadhon.
Nisa menghirup kuah bakso urat yang mereka makan." Jadi, tapi nanti kamu jemput aku ya, soalnya lagi males bawa motor." Jawab Nisa setelah menelan kuah hangat pedas bakso urat, terasa nikmat ketika melewati kerongkongan, dan pedasnya terasa menyiksa ketika sudah di lambung.
Dulu Nisa memang sering berangkat latihan barengan dengan Tina, namun sekarang, semenjak kakak Nisa tamat sekolah menengah atas, motor yang biasa di bawah Arini sudah berpindah ke tangan Nisa.
Biasanya Nisa minta di jemput oleh Romadhon jika dirinya tengah malas menyetir ataupun ketika sedang tidak punya bensin.
Romadhon mengangguk mengiyakan.
"Eh Nis, kamu nanti ikut nggak seleksi atlet antar kabupaten?." Romadhon menatap Nisa lekat, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Nisa.
"Entahlah Don, aku nggak tau, aku masih bingung." Jawab Nisa." Kalau kamu sendiri ikut nggak?." Nisa kembali menyuap bakso yang tersisa ke dalam mulutnya.
Romadhon diam sambil mengaduk-aduk isi baksonya." Kalau aku ikut kamu saja Nis, kalau kamu ikut aku juga ikut, kalau nggak, ya aku juga nggak bakalan ikut." Jawab Romadhon mantap dengan senyuman menampilkan deretan gigi putih khasnya.
Dahi Nisa mengkerut." Kok ngikutin aku si, ikutin apa kata hati mu dong." Jawab Nisa tak terima dengan jawaban Romadhon yang tidak tepat menurutnya.
"La, itu aku sudah ngikutin kata hati aku lo Nis, salahnya di mana coba?." Tanya Romadhon.
"Ya salah la, itu kan pilihan yang harus kamu pilih karena keinginan mu sendiri, misalnya mau jadi atlet kabupaten atau nggak, demi prestasi misalnya. Bukan malah ngikutin kemauan orang lain!." Jelas Nisa protes, lengkap dengan bibir manyun.
"Itu sudah dari hati, dan mantap dari keinginan aku sendiri Nis, dan juga demi kebaikan kita bersama." Terang Romadhon ambigu.
Makin mengkerut saja dahi Nisa." Aku nggak ngerti Don."
__ADS_1
"Aku jelasin,, misalkan ni, misal ya. Misalnya kita sama-sama di terima jadi atlet kabupaten, ya kamu gak bakalan sendirian, karena kamu bakalan punya teman baik kayak aku. Yang tentunya nggak bakalan kayak orang lain yang mungkin hanya pura-pura baik, kalau pun kamu nggak ikut seleksi aku juga gak bakalan ikut, karena aku akan tetap di samping kamu sebagai teman baik kamu." Jelas Romadhon panjang lebar, dan tentunya ia mengambing hitamkan persahabatan.
Nisa manggut-manggut mengiyakan, lebih tepatnya iya saja, dari pada pusing sendiri.
"Jadi pendamping hidup pun boleh. "Romadhon cekikikan di dalam hati.
"*Memangnya Nisa mau." Kata fikiran Romadhon. *
"Sirik aja lo." Jawab hati Romadhon.
*
*
*
"Hari ini putarannya lima keliling ya." Intrusi coach Joni pada anak didiknya.
"Siap coach." Jawab Nisa dan seluruh anak didik coach Joni serentak.
"Bareng Nis." Ujar Romadhon setengah berteriak.
"Cepetan lelettt!." Jawab Nisa setengah berteriak juga.
Romadhon cengengesan ketika sudah berada di samping Nisa, mereka joging memutari lapangan dengan gerakan santai agar tidak terlalu ngos-ngosan." Galak amat kamu Nis, ibu kamu dulu pas ngidam, ngidam nya makan apa, kok jadi begini."
"Apa'an nggak jelas!." Jawab Nisa sewot.
"Ya ngambek, hahhaha." Romadhon tertawa lantang, tak ayal banyak teman-teman mereka yang lain memandang ke arah mereka.
Buuhhhgggg,,.
Nisa menabok pundak Romadhon.
"Sakit tau Nis." Protes Romadhon yang belum sadar menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Sadar menjadi pusat perhatian, seketika Romadhon menghentikan tawanya."Maaf." Ujarnya.
**********