
Sebelum baca, harap nyalakan musik sad dulu ya..
Enjoy pren❣️
...🌻...
Terhitung sudah lima hari Lya di rawat di rumah sakit. Teman kelas Lya beserta wali kelasnya juga sudah pernah menjenguk Lya, tapi Devan belum menampakkan diri. Dia menghubungi Diki untuk memgatakan pada Lya kalau dia akan segera menyelesaikan urusannya dan menemui Lya secepatnya.
Padahal Lya berharap Devan menghubunginya secara langsung, tapi Devan malah menghubungi Diki, dia takut semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak menemui Lya sebelum urusannya selesai.
Seperti hari ini dengan wajah semangat, Devan melamgkahkan kakinya dengan segenggam bunga mawar merah di tangannya.
Ceklek
Lya yang tengah di suapi oleh bunda Intan menoleh ke arah pintu, senyumnya mengembang melihat Devan datang.
"Assalamualaikum, orang ganteng datang!" Ujar Devan. Denganntawa kecilnya dia menyalami mami Risma dan bunda Intan. "Hey bro!" Sapa Devan pada Dirga yang tengah bermain game boy di dekat mami Risma.
"Berisik!" Sentak Dirga. Devan mendelik tidak suka, sedangkan bunda Intan dan mami Risma hanya tertawa.
"Kebetulan ada Devan, boleh kita titip Lya sebentar. Kita mau keluar dulu cari makan," ujar mami Risma pada Devan. Dia sadar betul jika kedua remaja ini butuh waktu berdua.
Devan tersenyum lebar. "Bisa dong tante!" Jawab Devan semangat. Bunda Intan, mami Risma dan Dirga keluar meninggalkan Devan dan Lya.
"Hai!" Sapa Devan. "Nih, lima tangkai bunga mawar buat lo. Karena lo udah lima hari di rawat disini!"
Lya menerima bunga itu. "Cuma lima? Tanggung banget, apa gue harus tidur lama-lama biar lo kasih bunganya lebih banyak?" Tanya Lya.
Devan melotot. "Sembarangan! Nanti gue beliin lagi yang lebih banyak, makanya cepat sembuh terus gue beliin lo bunga mawar satu truk, atau kalau perlu sekalian sama bunganya." Jawab Devan.
Lya mengerucutkan bibirnya. "Gue kangen!" Ujar Lya.
Devan tersenyum menggoda. "Cieee Lya kangen cieee," ucapnya. Dengan kesal Lya berdecih, ekspresi Devan benar-benar menyebalkan. "Ululuuuu, sini peluk, kasihan banget pacar Devan." Dengan lembut Devan menarik Lya lalu mendekapnya.
Bohong jika Devan juga tidak merindukan Lya. Nyatanya, dialah yang paling tersiksa mendengar Lya sadar sedangkan dia tidak bisa menemui gadisnya. "Gue juga kangen, kangen banget malah." Ucap Devan pelan sembari mengecup puncak kepala Lya.
"Lo wangi!" Balas Lya. "Selalu wangi, gue suka!" Senyum Devan semakin mengembang, tidak ada yang lebih membahagiakan dari hari ini.
"Jangan sakit lagi, lo selalu sukses bikin gue panik." Ujar Devan melepaskan pelukannya. "Lagian gue heran, punya pacar suka banget tidur di rumah sakit. Rumah lo kurang gede? Apa perlu nih rumah sakit gue beli?" Tanya Devan.
Lya terkekeh. "Lo main bola di rumah gue juga bisa, bawa satu kampung buat numpang tidur di rumah gue juga masih muat," balas Lya.
Kepala Devan menggeleng cepat. Sifat sombong Lya memang sudah mendarah daging. "Gue gak mau lo sakit lagi, Ya! Gak mau!" Ujar Devan pelan.
__ADS_1
"Gak akan. Besok gue udah gak sakit lagi. Lagian gue juga cuma nungguin lo doang kali!" Jawab Lya membuat Devan tidak mengerti. Tapi dia merasa sangat senang karena Lya sangat menunggu kedatangannya.
Hari ini Devan akan menghabiskan waktu bersama Lya, hanya Lya. Dia membolos untuk hari ini hanya untuk gadisnya. Devan hanya membalas semua rasa rindu dia pada gadis di hadapannya ini.
"Kangen banget!" Ucap Devan mengecup tangan Lya. "Otak gue mau pecah disuruh ngapalin materi rapat sama papah!" Keluhnya.
Lya tersenyum. "Lo anak satu-satunya om , kalau bukan lo yang belajar ngurus perusahaan bokap lo, terus siapa?"
"Habis lulus langsung nikah aja. Gak usah kuliah, gue males."
Lya mendelik. "Dih, dikira nikah itu enak." Ujarnya mengetuk kening Devan.
"Enak! Entar gue bisa peluk lo setiap saat, bisa liat lo setiap saat." Jawab Devan. "Gue pengen punya anak kembar empat. Cowok semua biar nanti nerusin inti Rakasa."
"Enak aja. Lo kira hamil itu enak? Satu aja udah syukur, malah mau empat. Dikira mudah?"
"Mudah! Bikinnya sering-sering biar dapat empat sekaligus. Kalau bisa lima juga gak masalah, pokoknya cowok dulu, tahun depannya baru cewek."
Lya melototkan matanya. "Nikah aja lo sana, gue gak jadi sama lo."
"Enak aja, lo harus nikah sama gue. Kemanapun lo pergi bakal gue kejar, cowok manapun yang rebut lo bakal gue bunuh!" Ujar Devan.
"Sembarangan!" Tegur Lya. "Gak boleh gitu, kalau gak jodoh gimana?"
"Doa sayang," ujar Devan menatap Lya. "Berdoa semoga Aamiin kita yang ini beneran di kabulin sama Allah."
"Jodoh itu ada dua. Yang pertama, jodoh sama manusia. Yang kedua, jodoh sama kematian!" Celetuk Lya.
"Maunya lo jodoh gue!" Putus Devan.
"Iya iya!" Ujar Lya akhirnya.
Devan sibuk memainkan jari-jari tangan Lya, sesekali mengecupmya lembut.
"Nanti gue kemoterapi!" Celetuk Lya menatap Devan yang sibuk memainkan jari-jarinya.
Devan menoleh. "Perlu gue temenin?" Tanya Devan.
Lya menggeleng. "Gak ah, nanti pasti gue nangis. Gue gak mau di ejek sama lo." Ujar Lya membuat Devan tertawa pelan.
"Gak akan!" Protes Devan.
"Gak usah! Takutnya malah lo yang nangis."
__ADS_1
Semalam dokter Rizal sudah memeriksa keadaan Lya. Dari berbagai rangkaian pemeriksaan, Lya bisa melakukan kemoterapi untuk kankernya. Lagi pula dokter Rizal menyarankan Lya untuk segera kemoterapi mengingat sel kanker yang ada di tubuhnya semakin menyebar.
...🌻...
Hingga siang ini, dokter Rizal datang bersama ayah David. "Lya sudah siap?" Tanya dokter Rizal.
Lya mengangguk. "Siap dong!"
"Mau di temenin sama Devan?" Tanya ayah David. Lya menggeleng cepat. "Atau ayah yang temenin?" Tanya ayah David lagi.
"Lya sama dokter Rizal aja gak apa-apa," balas Lya. Sebenarnya dia sangat takut, kemoterapi, bukanlah pengobatan biasa. Lya akan merasa sangat kesakitan saat proses pengobatan itu berlangsung dan Lya tidak ingin orang-orang melihat dia tersiksa.
"Beneran? Atau mau mami temenin?" Tanya mami Risma. Lya kembali menggeleng.
"Gak apa-apa, temani saja. Biar Lya gak sendirian, perawat memang ada tapi ditemani orang terdekat bisa berdampak baik untuk pengobatannya. Hitung-hitung ada yang jadi menyemangati Lya nanti," celetuk dokter Rizal.
Lya menghela nafasnya. "Devan, temenin gue mau?" Tanya Lya.
"Pasti!" Jawab Devan.
Mami Risma tersenyum. Setidaknya ada yang menemani Lya. "Temenin Lya ya, nak!" Ujar mami Risma pada Devan.
Sekarang Lya tengah berbaring di sebuah ranjang pasien. Seorang perawat yang membawa senampan obat-obatan yang akan disuntikkan pada Lya. "Rileks, jangan tegang." Ujar dokter Rizal yang mulai menyuntikkan cairan ke dalam selang yabg sudah tertancap di vena Lya. "Ini bakal sakit seperti kemarin, tapi dokter tau kalau Lya kuat."
Lya masih tenang beberapa detik ini, namun tiba-tiba saja tubuhnya menegang. Matanya terpejam merasa nyeri di tubuhnya, terlebih bahunya.
Devan yang melihat itu langsung menggenggam tangan Lya. "Kuat, Ya!" Bisik Devan mengelus rambut Lya.
Lya mengeluh kesakitan, dia menggenggam dengan sangat erat tangan Devan, bahkan Devan merasa perih di tangannya. "Lo bisa, Ya!" Hanya itu yang bisa Devan katakan untuk gadisnya.
Air mata Lya mengalir, dadanya terasa sesak hingga dia harus meraup udara dengan tergesa-gesa. Perawat yang melihat itu langsung memasangkan ventilator agar Lya bisa bernafas dengan baik.
Devan ikut merasa sakit melihat Lya kesakitan seperti ini, dengan sangat berusaha dia menahan air matanya agar dia tetap terlihat kuat menemani Lya.
"Sakit Dev." Ringis Lya.
"Iya sayang. Gak apa-apa, lo kuat. Tahan ya!" Balas Devan mengusap air mata Lya.
"Udah Dev, capek gak kuat."
Ringisan-ringisan Lya memenuhi ruangan itu. Tubuhnya yang terasa sangat sakit hingga rasanya sudah tidak bisa merasakan apapun lagi. Diam-diam Devan mengusap air matanya, tadi dia sangat santai menawarkan diri untuk menemani Lya. Jika tau kalau Lya akan kesakitan begini, mungkin Devan akan membiarkan ayah David yang menemani Lya. Devan tidak kuat melihat Lya seperti ini.
"Sah-skitt..."
__ADS_1
"Sabar sayang! Gue mohon, lo kuat." Bisik Devan menguatkan Lya.
...🌻...