
Devan tidak punya pilihan, dia menuruti perintah papi Agung untuk pulang.
Kini hanya tertinggal orang tua Lya dan Diki beserta Diki dan Clarissa. "Diki sama Clarissa pulang aja. Kalian istirahat," ujar bunda Intan.
"Kita disini aja bunda, Cla mau temenin Lya," ujar Clarissa menolak.
"Gak ada tempat tidur disini nak, besok kalian balik lagi kesini. Kamu pulang ya!" Bunda Intan kembali membujuk.
Diki berdiri dan menarik Clarissa. "Ayo pulang, besok kita kesini lagi." Ujar Diki pada Clarissa. Clarissa menghela nafas dan mengikuti langkah Diki untuk keluar dari rumah sakit.
Papi dan mami Lya duduk di kursi tunggu. Mereka sama-sama terdiam, papi Agung memikirkan semua ucapan Lya.
"Apapun yang terjadi, semua orang akan pergi kan? Lya udah ikhlas, Lya udah ikhlas pi. Atas Dika dan atas diri Lya sendiri."
"Kalau nanti terjadi sesuatu, gak ada yang perlu di salahin pi. Papi sama mami juga harus ikhlas!"
"Papi belum siap nak, jangan dulu. Biarin papi bahagiain Lya dulu!" Lirih papi Agung menangis. Mami Risma memeluk lengan papi Agung. "Papi belun diap mi, papi takut!"
"Lya kuat pi, anak kita kuat!" Ucap mami Risma ikut menangis. Mendengar kabar kalau Lya kembali masuk rumah sakit membuat hatinya semakin hancur, mereka tidak memikirkan apapun lagi selain bergegas kerumah sakit. Mami Risma minta pelayan rumahnya untuk menjaga Dirga karena anak itu sudah tidur lebih dulu di kamar Lya.
...🌻...
Hari ini Diki dan Clarissa kembali bersekolah, mereka tengah berada di kantin sekolah bersama Keenan dan Mira.
"Salut banget gue ke Lya, sebegitu pedulinya dia ke Tiara," celetuk Keenan. Laki-laki itu mengaduk sedotan di gelas kacanya, mengingat kejadian semalam.
Mira mengangguk. "Lya luar biasa sih, dia berkorban banget buat Tiara. Rasanya gue beruntung bisa temenan sama dia. Ingat banget gue pas dia belain gue di depan Jessy. Padahal waktu itu kita bak saling kenal, tapi Lya dengan santainya nampar Jessy buat gue."
"Lya bakal ngelakuin apapun buat nolong orang di sekitar dia," ujar Diki. "Gue mohon ke kalian untuk bantu doa supaya Lya cepat sadar dan sembuh."
"Tanpa lo minta pun kita bakal berdoa untuk kesembuhan Lya. Dia itu bukan orang lain, kita berenam ini sahabat. Keenan, Diki, Lya, Mira, Clarissa dan Eadred." Balas Keenan. "Gue harap kita selalu jadi sahabat sampai kapanpun dan di manapun kita berada."
"Promise!" Ujar Clarissa.
"Promise!"
Baik di pisahkan oleh masa depan atau di pisahkan oleh kematian, harapan terbesar mereka adalah tetap saling mengingat dan menjaga satu sama lain.
"Diki!" Panggil Devan yang datang bersama inti Rakasa. "Gimana keadaan Lya?" Tanya Devan.
"Masih sama," jawab Diki membuat Devan menghela nafas berat. Apa keadaan Lya semakin parah?
"Bagaimana bisa kalian tau tempat Tiara di sekap?" Tanya Karta.
"Nah itu dia. Gue juga penasaran, mending kita cari Clara dan tanya kenapa dia bisa tau kalau Tiara di sekap. Bahkan dia tau berapa musuh yang ada disana," jawab Keenan heboh. Mereka yang mendengar itu terkejut mendengar kalau Clara ikut andil dalam kejadian semalam, kareja setelah mengantar Lya kerah sakit, Clara langsung pulang.
"Clara?" Beo Devan tidak percaya.
"Iya. Dia yang antar kita kesana," balas Clarissa.
Karta berbalik menatap dua temannya. "Kevin, Juna tolong cari Clara dan bawa ke rooftop. Gue tunggu disana!"
Kedua temannya itu mengangguk. "Siap bos!" Jawab Juna. Dia langsung pergi bersama Kevin untuk mencari Clara. Selagi mereka pergi, Karta dan yang lainnya langsung bergegas ke atap sekolah.
Butuh beberapa menit mereka menunggu Juna dan Kevin datang untuk membawa Clara. "Apa-apaan sih? Kenapa bawa gue kesini?" Ketus Clara melepaskan tangannya dari Juna dan Kevin.
"Aduh, lo berisik banget sumpah. Sakit kuping gue," balaa Juna.
__ADS_1
"Ngapain lo semua nyari gue?" Tanya Clara menatap Karta dan teman-temannya.
Karta melangkah mendekati Clara. "Sebenarnya lo ini siapa? Kenapa lo bisa tau Tiara di culik? Dan kenapa lo mau bantu Lya?" Tanya Karta tanpa basa-basi.
Clara mendengus. "Ngapain tanya-tanya? Gue bantu nyari Tiara bukannya udah cukup? Gue gak ada urusan sama kalian." Balas Clara hendak pergi namun di hadang oleh inti Rakasa, mereka berdiri mengelilingi Clara. "Ck.. gue bantu Lya karena dia pernah bantu gue, puas?" Tanya Clara kesal.
"Jawaban lo kurang memuaskan!" Celetuk Devan.
Clara mendengus kesal, sangat kesal. "Dari semua pertanyaan lo." Clara menunjuk Karta. "Gue kenal Axel dan Lisa. Lisa itu sepupu gue dan Axel itu bukan siapa-siapanya Lisa. Tapi yang buat semua masalah ini adalah Lusi, saudara kembar Lisa. Dia dendam sama lo dan Tiara. Dia mau balas dendam atas kematian Lisa."
Mereka terdiam. Mengetahui kalau Lisa adalah sepupu Clara saja sudah membuat mereka terkejut apalagi tau kalau Lisa punya kembaran dan ternyata gadis itu sudah meninggal.
"Kematian Lisa? Di-dia udah meninggal?" Tanya Noah syok.
Clara mengangguk. "Lisa sakit, ginjal dia bermasalah, penyakit dia udah parah. Bima adalah salah satu alasan dia bertahan, waktu Bima meninggal Lisa hancur banget. Dia drop dan meninggal satu bulan setelah Bima meninggal."
"Jadi perkataan dia hari itu benar, dia bilang kalau dia juga bakal pergi," ujar Karta pelan.
"Lusi stress, dia gak terima di tinggal kembarannya. Dia nyari semua bukti bareng Axel, itu juga karena Lusi baca diary Lisa. Dia marah karena Bima nolak Lisa berkali-kali, dia marah karena Bima lebih perhatian ke Tiara dan dia marah karena lo dan Tiara adalah alasan kematian Bima."
"Axel suka sama Tiara, dia yang pengaruhi Tomi sampai Tomi marah besar ke Rakasa waktu itu. Axel juga yang mengancam Bima dan mukulin Bima. Semua permasalahan ini datangnya dari Axel."
"Lo gak bohong kan?" Tanya Devan.
Clara mendengus. "Lo bisa tanya Lya. Gue udah cerita duluan ke dia, kemarin gue punya video percakapan Axel sama Lusi tapi udah di hapus Lya. Dia bilang bahaya kalau gue simpan video itu di hp gue, takut ketahuan dan gue bisa celaka. Tapi dia udah kirim video itu ke hpnya dan gue yakin kalau Lya masih simpan tuh video."
"Jadi, Lya udah tau tapi gak ngomong ke kita," ujar Diki tidak habis pikir.
"Dia baru aja tau kemarin, kita pulang kesorean dan malamnya kita sibuk nyelamatin Tiara," balas Clara. "Ingat ya, gue bantuin Clara cuma karena gue utang budi sama dia. Gue masih manusia yang punya hati dan gue sama Lya gak temenan. Jadi jangan mikir kalau kita dekat!" Ujar Clara lagi lalu pergi dari sana, tapi sebelum itu dia kembali berucap. "Yang gue dengar, Drax itu di bentuk sama Axel dan anak-anak Luxers yang lama, tujuannya tetap jadi musuh Rakasa." Clara meninggalkan rooftop. Tujuannya sekarang adalah kantin karena dia butuh air untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering akibat bercerita panjang lebar.
Inti Rakasa terdiam, memikirkan bagaimana bisa mereka tidak mengetahui hal seperti ini. Tidak ada yang membuka suaea sampai mereka membubarkan diri dan kembali ke kelas masing-masing.
...🌻...
Karta dan inti Rakasa bersama Tiara dan juga Dara ikut mengunjungi Lya sesekali. Begitu juga dengan Devan, akan tetapi laki-laki itu kini tengah berada di luar kota bersama Alix dan papahnya untuk mengurua bisnis.
"Sadar dong, Ya!" Bisik Diki. Dengan pakaian khusus yang dia gunakan untuk bisa masuk keruangan Lya, Diki menjadi yang paling kehilangan dengan keadaan Lya yang sekarang. "Lo gak capek tidur mulu? Ayo bangun!"
Diki menggenggam tangan Lya sampai dia merasa jari mungil itu bergerak. Diki tersentak dan menatap jari-jari tangan Lya. "Ya!" Panggilnya.
Bulu mata lentik Lya bergerak pelan dan membuka kelopak matanya, Diki tersenyum senang. Laki-laki itu bergerak keluar ruangan dengan cepat.
"Diki kenapa?" Tanya mami Risma yang tengah duduk di bangku depan ruangan Lya bersama Clarissa, Mira, Keenan dan Dirga.
"Lya sadar, mi!" Jawab Diki lalu berlari memanggil dokter.
Mami Risma terseyum bahagia, berkali-kali dia mengucap syukur. Mereka membiarkan dokter memeriksa kondisi Lya terlebih dahulu. Tidak beberapa lama, dokter itu kembali keluar ruangan.
"Gimana kondisi anak saya dok?" Tanya mami Risma tidak sabar.
"Alhamdulillah, Lya sudah sadar. Kondisinya cukup baik bu, suster akan memindahkan Lya ke ruang rawat." Jawab dokter itu.
Mereka mengangguk dan tersenyum pada dokter itu. Dengan cepat mereka menuju ruangan yang akan menjadi kamar Lya nantinya.
"Kakak udah sehat kan mi?" Tanya Dirga pelan.
Mami Risma tersenyum dan mengelus rambut Dirga. "Iya, tapi kakak masih perlu di rawat. Dirga doakan kakak supaya cepat sembuh biar kita bisa cepat pulang kerumah."
__ADS_1
Pintu ruangan kembali terbuka menampakkan tiga orang perawat yang tengah mendorong ranjang pasien Lya.
"Alhamdulillah, anak mami sudah sadar," ujar mami Risma. Air matanya mengalir menatap Lya yang masih terlihat lemah.
Lya tersenyum pada maminya. "Lya baik kok mi, jangan nangis," lirih Lya. Bukannya berhenti, mami Risma malah semakin menangis dan begitu juga Clarissa, gadis itu menangis sambil memeluk Dirga.
"Makasih udah selamatin gue," lirih Lya menatap teman-temannya. "Makasih Mir," uajr Lya lagi pada Mira.
Mira mendekati Lya. "Makasi juga udah bertahan," balas Mira mengelus lengan Lya.
Clarissa belum menyelesaikan tangisnya membuat Lya tertawa geli. "Sini!" Ujar Lya pada Clarissa.
Dengan cepat gadis itu mendekati Lya dan memeluk Lya pelan. "Pasti sakit!" Ujar Clarissa mengelus kepala Lya yang di perban dengan pelan.
Lya tersenyum. "Makasih udah bantuin gue kemarin, makasi udah nurut sama gue." Ujar Lya.
Clarissa hanya mengangguk. Diki mendekat dengan Dirga yang ada di gendongannya, dia meletakkan Dirga di samping Lya. "Dirga tungguin kakak kemarin, janjinya mau pulang tapi malah kesini," ujar Dirga.
"Maaf ya, kamu jadi nungguin kakak," balas Lya menggenggam tangan mungil Dirga.
Tidak lama pintu kamar terbuka menampakkan Keenan yang tadi keluar. Ternyata dia menjemput Karta dan teman-temannya.
"Lya, Alhamdulillah kamu udah sadar," ucap Tiara mendekati Lya.
Lya tersenyum. "Alhamdulillah mba!" Jawab Lya pelan. Mira, Clarissa dan juga Dirga berpindah untuk duduk di sofa ruangan.
"Makasi Ya," ujar Tiara. Lya hanya tersenyum menanggapi.
Karta duduk di bangku samping ranjang Lya sedangkan Tiara berdiri di belakang Karta. Tangan Karta menggenggam tangan Lya dengan erat. "Maaf!" Ucap Karta lirih. "Gue gak bisa jagain adek gue. Maafin abang Ya!" Tiara mengelus punggung Karta menguatkan kekasihnya yang Tiara yakini sedang menahan tangis.
Lya menatap Karta dengan lembut. "Gue gak apa-apa kok, bang. Ini bukan salah lo, udah kewajiban gue buat nyelamatin mba Tiara." Balas Lya membuat Karta dan Tiara semakin sedih.
Tiara mendongakkan kepalanya menahan air mata dan Karta mengecup tangan Lya. "Lo mau apa?" Tanya Karta. "Mau makan buah? Atau gue pesanin bubur sama perawat?" Tanya Karta lagi.
Lya menggeleng pelan. "Gue gak lapar bang, cuma kepala gue pusing," jawab Lya.
Karta mendekatkan tubuhnya dan mengelus kepala Lya. "Sakit, lo jangan lama-lama disini, kasihan adek gue." Ujar Karta pelan.
Inti Rakasa twrharu melihat bagaimana Karta sangat menyayangi Lya. Jika mereka mengingat bagaimana dekatnya Karta dan Bima dulu, jujur mereka merasa iri bisa mempunyai teman yang sangat dekat dengan keduanya.
"Devan mana bang?" Tanya Lya.
"Devan ada urusan bisnis sama papahnya di luar kota, dia bakal kesini besok!" Jawab Karta.
"Ya, makasih ya. Lo udah nyelamatin Dara!" Celetuk Elang.
"Bilang makasi juga gak ke Mira, dia yang ngelepasin Dara kemarin." Jawab Lya tersenyum.
Elang mengangguk. "Pokoknya kita berterima kasih banget sama kalian, tanpa kalian mungkin Tiara sama Dara udah celaka."
"Kita juga di bantuin sama Lioniel dan teman-temannya. Yang jelas kita gak akan bisa tanpa mereka." Celetuk Diki.
Karta menoleh. "Tenang aja, gue udah nemuin Lionuel kemarin, gue gak lupa dengan kebaikan dia dan gengnya." Ujarnya membuat Diki dan Keenan mengangguk mengerti.
"Aku kupasin apel ya, Ya!" Ujar Tiara bergerak mengambil apel yang ada di nakas samping brangkar pasien.
Hari itu mereka habiskan dengan bercengkrama satu sama lain. Menghabiskan banyak waktu bercanda ria sekaligus menemani dan menghibur Lya. Lya sangat beruntung, dia dikelilingi orang-orang baik yang sayang dan peduli terhadapnya.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)