
Yang cepat nangis jika ada sad part, harap siapkan tissue untuk beberapa part ini. Thanks xoxo:) Enjoy!
...🌻...
"Karta?"
Merasa namanya di panggil, Karta mendongak mencari sumber suara. Karta menemukan seorang dokter yang berdiri tidak jauh darinya, Karta mencoba mengenali dokter itu.
"Karta kan?" Tanya dokter itu.
"Dokter Yadi?" Tanya Karta memastikan.
Dokter itu mengangguk. "Ternyata benar ini kamu, sudah sangat lama dan kamu tumbuh menjadi laki-laki yang tampan."
Karta tersenyum dan menyalami dokter Yadi.
"Ngapain kamu disini?"
"Saya nungguin teman, dokter," jawab Karta.
"Teman kamu di dalam?" Tanya dokter Yadi lagi menunjuk ruang Radioterapi.
"Iya dokter."
"Sakit apa?"
"Kanker tulang," jawab Karta.
"Wahh kanker tulang itu sangat langka sebenarnya. Di bandingkan dengan kanker lainnya, kasus kanker tulang jarang terjadi."
"Saya gak nyangka juga dok."
"Orang tua kamu gimana? Sehat?"
"Sehat dok Alhamdulillah, mereka juga ada disini nunggu di ruangan Lya."
Dokter Yadi terlihat berpikir. "Lya? Gelya anak pak Agung keponakan dokter David?" Tanya dokter Yadi.
Karta mengangguk. "Iya dokter."
"Jadi orang tua kamu sudah menceritakan kepada kalian ya? Seharusnya memang sudah, ini juga sudah lumayan lama."
Karta memicingkan matanya. "Cerita apa dok?"
"Cerita tentang pendonor jantung kamu dulu, mereka sudah cerita kan?" Tanya dokter Yadi memastikan.
"Dokter tau siapa pendonor jantung saya?" Tanya Karta.
Dokter Yadi terdiam. Sepertinya dia sudah salah bicara. "Uhmm sepertinya mereka belum pernah cerita, maaf Karta. Saya tidak bisa mengatakannya, orang tua kamu lebih berhak atas itu," ujar dokter Yadi hendak pergi namun Karta menahannya.
"Siapa dokter?" Tanya Karta.
"Kamu tanya orang tua kamu saja ya."
Karta segera berbalik menuju kamar rawat Lya. Langkah besar membawanya cepat sampai di depan pintu.
"Mau sampai kapan ini semua di rahasiakan? Mereka perlu tau."
Karta bisa mendengar suara ayah David seperti tengah membentak seseorang.
"Jangan mas, Lya gak boleh tau. Kondisi Lya belum stabil, lagi pula Bima gak mau Lya tau."
"Lya berhak tau. Bima itu kakaknya. Apalagi Karta, dia berhak tau!"
BRAKK
__ADS_1
Karta membuka pintu kamar dengan kasar. Dia masuk dan berdiri di depan ayah David.
"Apa yang harus Karta tau om?" Tanya Karta.
"Karta!" Ibu Karta mendekati Karta.
Karta menoleh pada ibunya. "Apa mah? Bima kenapa? Apa yang gak Karta dan Lya tau?"
Mami Risma sudah menangis dan terduduk di kursi di samping brangkar Lya.
"Keputusannya ada di kalian berdua. Tapi aku tetap memilih untuk memberitahu mereka," ucap ayah David pada papi Agung dan ayah Karta.
"Cukup beri tahu Karta. Lya jangan, aku gak mau Lya kembali down," ucap papi Agung akhirnya.
"Apa ini ada kaitannya dengan pendonor jantung Karta?" Tanya Karta.
Ibu Karta juga ikut menangis. Dia menggenggam tangan Karta membuat Karta semakin tidak mengerti.
"Kenapa sih? Pah? Jawab Karta!"
"Di bagian mana yang mau kamu tau?" Tanya ayah Karta.
"Semuanya! Semua yang kalian sembunyiin dari Karta."
"Bima meninggal bukan karena kecelakaan," ucap papi Agung membuat Karta menatapnya. "Malam dimana kamu di bawa kerumah sakit, Bima juga di bawa kerumah sakit beberapa puluh menit setelah kamu. Kondisi Bima jauh lebih buruk, dia di pukuli hingga Bima tidak bisa di selamatkan."
"Gak mungkin!" Protes Karta menolak percaya. Tangannya terkepal. "Noah sendiri yang lihat kalau Bima masih baik-baik aja malam itu."
"Begitulah adanya. Bahkan yang membawa Bima kesini itu hanya seorang gadis. Kondisi Bima benar-benar buruk, kedua ginjalnya hancur akibat pukulan benda tumpul. Bima sekarat!"
"Mah!" Cicit Karta pada ibunya. Berharap apa yang dia dengar bukannya kebenarannya. Ibu Karta menguatkan genggaman tangannya.
"Jantung yang ada di tubuh kamu sekarang adalah jantung Bima!" Ujar ayah Karta pada Karta.
Lutut Karta melemas, jantung Karta berpacu dengan cepat. Tubuhnya bergetar, air matanya mengalir begitu saja. Karta kesulitan untuk bernafas, otak Karta menolak semua suara yang memaksa masuk ke telinganya. Tangisan mami Risma dan ibunya bahkan terdengar seperti kaset rusak yang memaksa untuk menyebrangi gendang telinganya. Karta menolak untuk percaya!
"Bohong! Papa bohong!" Racau Karta. Ibunya memeluk tubuh Karta yang sudah terduduk di lantai.
"Papa gak bohong Ta! Maaf kalau papa harus menyembunyikan ini semua. Bima sendiri yang meminta pada kami untuk merahasiakan ini semuanya."
"BOHONG!" Teriak Karta. Dia berdiri dan menatap ayahnya tajam. "Papa bohong! Om Agung bohong, om David juga bohong. Kalian semua pembohong!"
"Karta! Bima sudah tidak tertolong. Dia gak mau kamu harus pergi juga, dia bilang harus ada yang jaga Tiara. Bima terlalu sayang sama kalian berdua."
"Pembohong! Om Agung jangan bohongin Karta om hiks," isak Karta. "Kenapa kalian tega bohongin Karta? Kenapa harus begini? Karta bodoh banget!"
"Karta percaya sama mamah. Ini semua maunya Bima, di gak mau kamu sedih makanya dia minta kita rahasiakan kematian dia."
Karta menoleh lemah pada ibunya. Air matanya mengalur deras, perasaannya hancur, karta hancur. Orang yang paling Karta percaya di dunia ini bahkan ikut membohonginya. "Mama juga bohongin Karta, selama ini? Karta kecewa sama mamah," ujar Karta lirih. Laki-laki itu berbalik dan berjalan pergi.
"Karta mau kemana nak? Dengerin mama dulu!" Ibu Karta mencoba menghentikan Karta tapi Karta tidak memperdulikan panggilan ibunya.
Karta butuh waktu. Dia butuh udara segar untuk membuat otaknya bisa berpikir jernih. Karta mencoba meyakinkan diri jika sekarang dia tengah bermimpi, mungkin saja Karta tengah tertidur sekarang. Karta butuh seseorang untuk membangunkannya dari mimpi buruk ini. Karta takut, dia tidak sanggup, dia tidak bisa dan tidak mau. Karta butuh pertolongan, Karta butuh pegangan sebelum dia ikut terjatuh dan hancur tertimpa kenyataan yang pahit namun namun adanya.
...🌻...
"Lo gak ada kerjaan kan? Nih gue kasih bacaan. Ceritanya bagus kok!"
"Maksud lo?"
"Gue Bima."
"Hue gak nanya nama lo, gue tanya maksud lo ngasih ni buku ke gue apa?"
"Gue perhatiin dari tadi lo diam aja, baca aja ceritanya bagus."
__ADS_1
"Gak jelas lo!"
--
"Karta, kita sekelompok aja. Gue ada bukunya!"
"Gue gak butuh!"
--
"Lo minum obat sebanyak ini untuk apa?"
"Gak usah ikut canpur!"
--
"Ta, jadi balik bareng kan?"
"Iya, tungguin sebentar."
--
"Bima bego!"
"Lo yang bego!"
--
"Obat lo jangan lupa di minum!"
"Iya."
--
"Bim, kayaknya gue suka sama Tiara."
"Udah gue duga, Tiara kan cantik!"
"Bantuin gue dekatin Tiara dong!"
"Aman!"
--
"Tiara sama Noah dekat banget sih?"
"Lemah banget sih lo, usaha sedikit lagi."
"Tiara kenapa bisa secantik itu sih, kan gue jadi susah."
--
"Makasih udah mau jadi teman gue. Lo teman pertama gue."
"Makasi juga udah mau jadi teman gue."
"Sahabat?"
"Sahabat!"
"Hahhaaha!"
...🌻...
Jangan lupa kencengin vote dan hadiahnya bestiiiii ku tunggu:)
__ADS_1