GELYA

GELYA
CHAPTERS 101


__ADS_3

Setelah sekian lama obat itu menyiksa Lya, kini gadis itu tengah tertidur kelelahan. Devan dan perawat membawa Lya kembali ke kamarnya yang ternyata sudah ada Diki dan Karta disana.


Perawat itu kembali memasang infus untuk Lya sedangkan Devan berdiri di ujung dinding sambil menundukkan kepalanya. "Makasi ya Dev, udah mau temani Lya kemoterapi," ucap papi Agung.


Devan mengangguk singkat. Matanya merah, bibirnya bergetar menahan isakan. Dia masih merasakan bagaimana melihat Lya di dalam ruangan itu. "Jangan nangis. Anak laki-laki gak boleh cengeng!" Ujar papi Agung lagi membuat Devan malah benar- benar mengeluarkan isakannya.


Karta berbalik dan terkejut melihat Devan menangis begitu juga Diki. Mami Risma dan Dirga pulang untuk istirahat jadi dia tidak ada disana.


"Lya kesakitan om, dia bilang dia capek. Lya sakit tapi Devan gak bisa ngapa-ngapain!" Ujar Devan terisak.


Papi Agung memeluk Devan, tangannya menepuk-nepuk punggung Devan. "Lya kuat, Dev. Penyakit begitu gak akan bikin dia nyerah."


Diki mendekati Lya yang tengah tertidur. Dia mengambil tisu lalu mengelap dahi Lya yang berkeringat. Mendengar ucapan Devan membuat Diki ikut menahan tangisnya, kemoterapi pertama Lya lewatkan bersama ayah David. Diki tidak menyangka kemoterapi membuat Lya sangat tersiksa.


Di saat papi Agung keluar ruangan menemui dokter, Karta mendekati Devan. "Kita jaga Lya sama-sama, dia kuat Dev!" Ujar Karta.


Mereka bertiga tengah menunggu Lya sambil bermain game di ponsel mereka. "Malam ini inti lama minta kita buat kumpul!" Celetuk Karta pada Devan.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Banyak yang perlu di omongin, kita juga harus segera urus Luxers dan Drax. Kalaupun kita harus perang besar-besaran buat bubarin mereka lagi, gue siap!" Jelas Karta.


"Gue juga!" Celetuk Diki. "Mereka gak bisa bisa di diemin bang. Gue gak rela kalau mereka tetap bisa bebas berkeliaran di luar sana setelah apa yang udah mereka lakuin."


Karta mengangguk. "Karena lo penerus gue nanti, jadi lo harus selalu ada di samping gue mulai sekarang." Karta berucap pada Devan lagi.


"Jam berapa?"


"Oke!" Balas Devan.


Tanpa mereka sadari, hari sudah sore. Karta juga sudah pulang dan Devan juga sudah berganti pakaian. Dia memang membawa mobil hari ini, karena khusus dia ingin menemani Lya seharian, makanya dia membawa baju ganti.


"Udah, Ya! Udah gak ada yang lo muntahin!" Ujar Devan sambil memijat tengkuk Lya. Sedari tadi Lya merasakan mual dan muntah-muntah.


"Udah ya sayang, kita balik ke kasur ya?" Tanya mami Risma yang berdiri di sebelah Lya.

__ADS_1


"Mual mi," lirih Lya.


"Iya, ini efek kemoterapi kamu. Gak apa-apa, kita ke kasur lagi ya," jawab mami Risma.


Devan kembali menggendong Lya meninggalkan toilet, tadi Lya meminta untuk di antar ke toilet dan ternyata dia ingin muntah meski hanya air yang dia muntahkan.


Dengan pelan Devan membaringkan tubuhnya Lya di kasurnya. "Pusing mi," ringis Lya pada maminya. Salah satu yang tidak ingin dia dapati dari kemoterapi adalah efek setelahnya. Lya benci itu.


Mami Risma mengelus pelan rambut Lya, sedangkan Devan sibuk memijat kaki Lya karena gadis itu mengeluh pegal-pegal. "Papi mana mi?" Tanya Lya.


"Papi lagi jemput Dirga. Tunggu sebentar ya sayang."


"Devan mana mi?" Tanya Lya lagi.


"Gue disini, Ya!" Jawab Devan menggantikan posisi mami Risma.


Melihat penyakit Lya yang kembali berulah, membuat mami Risma tidak sanggup terus-terusan menatap anaknya yang tidak berhenti menangis.

__ADS_1


__ADS_2