
Lya merasa jijik saat melihat Clara yang dikelilingi oleh lima laki-laki asing. Clara tengah menangis dan berusaha melepaskan diri. Karena tidak tahan melihat salah satu dari mereka ada yang mulai mencoba menyentuh tubuh Clara membuat Lya memunculkan tubuhnya.
"WOY!" Teriak Lya membuat kelima lelaki itu berbalik begitu juga dengan Clara.
"Siapa lo?" Tanya salah aatu dari mereka.
Lya hanya bersedekap dada. "Black widow," jawab Lya asal. Penampilannya yang serba hitam seperti ini memang terlihat sangat persis dengan salah satu karakter Avengers itu.
Dua orang dari mereka berjalan manu mendekati Lya. "Wihh cantik juga. Lebih cantik dari si Clara!" Celetuk salah satunya.
Temannya tertawa. "Mau gabung? Kasian dong cantik-cantik gini di anggurin."
"Boleh! Tinggal pilih mau yang mana." Lya sedikit tersentak saat Jessy tiba-tiba muncul di sampingnya bersama Mira.
"Wow! Rame ternyata. Pesta kita malam ini."
Lya tertawa terbahak-bahak membuat mereka heran. "Muka pas-pasan kayak lo semua mana cocok sama kita. Upgrade dulu muka lo, baru ngajak kita pesta." Ujarnya mencibir.
Mira ikut tertawa. "Mana bisa Ya. Mental *****-***** di pinggir jalan begini mana sanggup buat upgrade muka," ujar Mira ikut mencibir.
Para laki-laki itu menggeram marah. Orang yang berdiri di depan Lya mendorong bahu Lya dengan keras. "Gak usah sok lo. Gue gak akan segan-segan untuk nyakitin lo disini."
Senyum sinis terukir di bibir Lya. "Gue juga gak akan segan-segan buat nyakitin lo disini," balas Lya.
BUGH
Merasa malas berlama-lama disana. Jessy langsung memukul laki-laki yang berdiri di depannya. Karena serangan mendadak dari Jessy membuat laki-laki itu terjatuh.
"SIALAN!" Teriak laki-lkai itu. "JANGAN DIAM AJA WOY!"
BUGH
BUGH
BUGH
Perkelahian pun dimulai. Bersyukur Noah tidak pernah absen memberikan mereka pelatihan bela diri ke semua anggotanya. Meski ini adalah pertama kalinya Mira berhadapan langsung dengan musuh, Mira merasa bisa mengimbangi laki-laki yang tengah melawannya ini.
BUGH
"Lemah! Lawan cewek aja kalah," cibir Lya. Dengan tertawa jahat, Lya mengejek laki-laki yang tengah terbaring lemah di aspal.
BUGH
Dua orang lainnya datang menghajar Lya. Karena mereka cuma bertiga dan lawan mereka berlima, membuat mereka sedikit kewalahan. Mira saja hanya bisa melawan satu musuhnya. Jessy cukup kuat untuk melawan dua diantara mereka sedangkan tiga lainnya melawan Lya.
__ADS_1
BRUKK
Dengan tenaga yang tersisa, Lya bisa menjatuhkan ketiga lawannya. Mira dan Jessy juga sama berhasilnya. Mereka berdiri menatap para laki-laki yang sudah terbaring di aspal, lalu mereka menatap Clara yang tengah berjongkok di tempatnya sambil menangis.
"Balik lo. Kalau gak kuat di tempat beginian gak usah ngesok. Nyusahin!" Ujar Lya.
Clara mendongak. Dia tidak bersuara namun berdiri mendekati ketiga perempuan yang wajahnya sedikit lebam itu. Karena malas melihat Clara, Lya segera berjalan meninggalkan tempat itu.
"Sama-sama!" Celetuk Jessy sebelum ikut pergi bersama Mira yang menatap jengah pada Clara.
Sedangkan di markas besar Rakasa. Diki, Keenan, Andika dan Toni tengah berdiri dan menundukkan kepalanya takut pada Karta yang tengah berdiri menatap garang pada mereka semua.
"Kenapa di lepas? Inu udah malam, kalau mereoa ketemu geng motor lain yang gak suka sama kita gimana?" Rutuk Karta. Merasa kesal dengan anggotanya, apalagi kepada Andika. Anggota senior yang Karta pikir bisa diandalkan itu bahkan ikut memberikan motornya pada Jessy.
Devan berdiri di depan Toni. "Kalau cewek gue kenapa-kenapa, motor lo gue bakar. Sekalian sama lo nya juga." Ujarnya menatap tajam Toni. Toni meringis kecil mendengar ancaman Devan, dia cukup sadar dengan siapa dia berurusan sekarang.
"Mereka cuma keliling doang. Tungguin aja!" Celetuk Wira. Merasa tidak ada yang perlu di salahkan, lagi pula ini bukanlah masalah. Laki-laki itu cukup berani menyela karena dia anggota senior yang cukup di takuti di Rakasa.
Karta mendengus kesal. Dia hanya khawatir pada Lya, gadis itu tidaklah sehat seperti biasanya. Dia sakit dan Karta tidak ingi Lya kenapa-kenapa.
Perhatian mereka teralihkan dengan tiga motor yang datang. Diki dan Keenan menghela nafas lega. Toni mengucap syukur bersama Andika.
Lya melepas helmnya dan sedikit bingung menatap teman-temannya. Matanya beralih menatap Karta yang tengah menatapnya tajam begitu juga dengan Devan.
Devan berjalan mendekati Lya. Matanya melotot sempurna melihat sudut bibir Lya yang berdarah. "SIAPA YANG HABIS MUKUL LO?" Teriak Devan tidak santai. Karta dan inti Rakasa lainnya mendekati ketiga anggota perempuan itu begitu juga dengan Diki dan Keenan.
Karta menggeram marah. "Kenapa bisa babak belur begini?" Tanya Karta dengan suara rendahnya. Anggota yang lain merinding mendengar suara Karta, aura laki-laki itu sangatlah mengerikan sekarang.
Devan menangkup wajah Lya. "Siapa?" Tanya Devan mengulang.
Lya menghempaskan tangan Devan dengan pelan. "Gak tau," jawab Lya santai.
"Lyaa!" Tegur Karta.
Lya mendengus. "Emang gak tau bang. Gak kenal, kita ketemu di dekat diskotik."
"Ngapain lo bertiga kesana?" Tanya Juna heboh. "Wah benar-benar lo Ya, udah gue bilang gak usah kesana lagi."
"Kita cuma lewat," jawab Jessy. "Terus Lya gak sengaja lihat Clara di dekat sana terus nyuruh kita berhenti."
Devan mengerutkan keningnya. "Clara?"
"Iya! Mantan tunangan lo. Habis di *****-***** cowok." Mira ikut bersuara. Mereka yang mendengar itu cukup terkejut.
"Kalau bukan karena Lya yang nekat buat nolongin tuh cewek, gue juga ogah buat ngebuang tenaga. Mana musuhnya banyak banget lagi." Tambah Jessy melirik kesal Lya.
__ADS_1
Lya balas melirik Jessy. "Gue aja udah capek. Waktu gue nolongin lo aja gue sendirian." Balas Lya.
"Lo nolongin gue karena kita sama-sama-"
"Jangan lo pikur gue nolong lo cuma karena kita sama-sama Rakasa. Lo manusia, gue manusia sama kayak Clara. Mau seburuk apapun lo ataupun dia ke gue, gak akan gue biarin kalian di gangguin orang. Gak cuma kalian aja, semua orang yang butuh bantuan bakal gue tolong kalau gue bisa."
Mereka terdiam mendengar jawaban Lya. Tidak diragukan, Lya memang gadis yang sangat baik. Mau seaneh apapun gadis itu, tidak pernah dipungkiri Lya selalu punya cara untuk membuat orang-orang kagum padanya.
"Tapi lo nekat!" Balas Jessy. "Kalau tadi ada anak geng motor lain yang ngeliat dan ikut bantu mukulin kita gimana? Atau kalau misalnya mereka punya teman-teman lain disana gimana?"
"Gak senekat gue yang pernah punya niat ngebunuh Clara pakai pisau dapur."
Karta mendengus kesal. "Ini bukan waktunya bercanda Lya. Kalau kalian kenapa-kenapa gimana?"
"Intinya kita udah balik dan baik-baik aja sekarang. Maaf kalau bikin kalian khawatir!" Balas Lya.
"Udah lah. Biarin mereka obatin luka mereka dulu, udah malam mereka harus pulang." Noah bersuara.
Devan menarik Lya untuk masuk ke dalam markas. Meski kesal, Devan tetap menggenggam tangan Lya dengan lembut. Mendudukkan tubuh Lya di sofa dan pergi mengambil kotak obat.
Devan duduk di samping Lya dan mengobati luka di wajah kekasihnya itu. "Tangannta gak sakit kan? Gak ada sakit yang lain kan?" Tanya Devan masih fokus pada pekerjaannya.
Lya tersenyum manis. Matanya tidak lepas dari wajah tampan Devan. "Nggak! Lo tenang aja, pacar lo ini saudaranya Marvel!" Jawab Lya tertawa.
Devan ikut tertawa. "Lo emang selalu jadi pahlawan," balas Devan mengacak rambut Lya. "Gue gak nyangka lo masih mau tolongin Clara setelah apa yang dia lakuin ke lo. Gue bangga!"
Lya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Siapapun bakal gue tolong kalau gue emang mampu. Kalau buat Clara, gue gak berharap banyak. Gue cuma gak bisa ngeliat orang susah tapi gue gak ngelakuin apapun. Apalagi Clara, gue suka gedek sama orang yang gangguin musuh gue. Maunya gue itu musuh gue nangis atau sakit ya karena gue. Bukan orang lain!"
Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Lya selalu punya jawaban aneh di setiap perkataannya. "Udah malam, ayo balik." Devan berdiri mengulurkan tangannya pada Lya.
Dengan senang hati Lya meraih tangan Devan. Mereka berdua berjalan keluar dan mencari Karta.
"Gue antar Lya balik dulu," ujar Devan pada Karta.
Karta yang semula duduk langsung berdiri. Laki-laki itu menatap Lya yang berdiri di depannya. "Gue gak mau lo begini lagi, jangan maksain diri Ya. Kalau lo kenapa-kenapa gimana?"
Lya tersenyum pada Karta. "Iya bang, maaf." Jawabhya. Bukankah Lya sangat beruntung, dia dikelilingi orang-ornag yang sangat peduli padanya. Lya tidak perlu khawatir akan kesepian karena dia mempunyai banyak orang-orang baik di sekelilingnya.
Karta mengacak pelan rambut Lya. "Ya udah, balik sana nanti papi sama mami khawatir!"
Lya mengangguk. Devan segera menarik tangan Lya menuju motornya setelah berpamitan dengan anggota yang lain. Diki sudah pulang duluan bersama Mira dan Keenan, karena Lya memang di jemput Devan membuat Diki tidak perlu menunggu Lya untuk pulang.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren.
__ADS_1