GELYA

GELYA
CHAPTERS 98


__ADS_3

"Mati aja lo, gak guna!" Ujar Juna berdiri tegak menatap nyalang Ronald yang sudah terbaring di tanah.


Tidak jauh dari sana, Karta juga sudah menjatuhkan Ardian. "Mana Tiara?" Tanya Karta mencengkram kerah baju Ardian.


Ardian tersenyum miring. "Cari aja!" Jawabnya. Karta menghempaskan tubuh Ardian, dia berlari masuk ke markas Drax diikuti Elang dan Devan.


"TIARA!" Panggil Karta memasuki setiap ruangan di markas itu.


"DARA!" Elang ikut mencari.


Devan mendobrak satu ruangan yang terkunci. "Ra, TIARA!" Mata Devan menyusuri setiap inci ruangan itu, namun tidak ada tanda-tanda Tiara dan Dara. "Gak ada!" Ujar Devan pada Elang dan Karta.


Mereka kembali keluar. "DIMANA TIARA?" Karta kembali mencengkeram kerah baju Ardian. Laki-laki itu tengah terbaring lemah di tanah, senyum Ardian mengembang.


"Gak tau!" Jawab Ardian membuat Karta semakin murka.


BUGH


Karta kembali melayangkan tinjunya pada Ardian. "Gue tanya sekali lagi dimana Tiara?"


Ardian meludahi darah dari mulutnya. "Gak tau. Kalaupun gue tau, gak akan gue kasih tau juga," jawab Ardian dengan santai.


"BANGSAT!" Teriak Elang.


"Cewek lo udah di bawa pergi, gak tau kemana. Udah gak bernyawa mungkin!"


"APA MAKSUD LO, BANGSAT?" Maki Karta geram.


"Luxers!" Jawab Ardian membuat Karta terdiam. "Mereka yang bawa Tiara sama Dara. King is back and you will be lose, Karta Angkasa!"


"ANJING!"


BUGH


BUGH


Karta kembali memukul Ardian dengan seluruh amarahnya.


"Stop!" Devan menarik Karta. "Ngebunuh dia juga gak ada gunanya. Kita cari Tiara!" Tambah Devan.


Perhatian mereka teralihkan oleh suara knalpot motor yang mendekat.


"Ngapain lo kesini?" Tanya Juna yang melihat Lioniel datang sendirian.


Lioniel mengabaikan Juna, dia berjalan mendekati Karta. "Tiara baik-baik aja. Dia di rumah sakit sekarang," ujar Lioniel membuat mereka terkejut.


"Maksud lo? Rumah sakit mana?" Tanya Karta tidak sabaran.


"Rumah sakit bokapnya Diki," jawab Lioniel. "Just info, yang masuk rumah sakit bukan Tiara tapi Lya." Tambah Lioniel membuat Devan dan Karta terpaku. "Lagi-lagi lo gagal selamatin cewek lo dan Lya selalu jadi pahlawan buat Tiara. Berharap dia bisa bertahan!"

__ADS_1


Devan tersentak saat Alix menariknya. "Ke rumah sakit, bego. Ngapain bengong!" Ujar Alix menarik Devan menuju motornya.


Inti Rakasa segera pergi meninggalkan tempat itu. Lioniel menatap Ardian yang masih terbaring. "Kalau Lya sampai kenapa-kenapa, gue yang bakal habisin lo dan antek-antekan lo itu." Ujar Lioniel lalu menyusul Karta.


🌻


Lya sudah di bawa ke ruang UGD. Mereka semua menunggu di depan pintu dengan perasaan cemas. Tiara tidak henti-hentinya menangis, begitu juga Clarissa. Diku memeluk tubuh bergetar Clarissa, semakin takut dengan kemungkinan yang terjadi.


Lama mereka menunggu tapi satupun dokter belum keluar dari ruangan itu.


"TIARA!" Teriak Karta. Dia berlari dan memeluk tubuh lemah Tiara.


"Lya, Ta!" Tangis Tiara pada Karta.


"Lya gimana?" Tanya Devan tidak santai.


Keenan menggeleng lemah. "Belum tau, dokter belum keuar," jawab Keenan.


Devan mengacak rambutnya frustasi. Selalu saja, Devan selalu tidak ada disaat Lya membutuhkannya.


"Gimana kalau Lya gak selamat? Gimana Dik?" Tangis Clarissa terdengar pilu. Mereka merasa iba melihat Clarissa yang seperti itu, ikut merasa khawatir menunggu pemeriksaan Lya.


Langkah kaki cepat terdengar mendekat. Orang tua Lya dan Diki datang bersamaan.


"Gimana keadaan Lya?" Tanya papi Agung.


"Belum tau om, dokter belum keluar," jawab Noah dengan tenang.


Mereka terkejut melihat ayah David menampar Diki. "Mana janjinya?" Tanya ayah David. "Mana janjinya yang akan bawa Lya pulang dengan selamat?"


Diki menunduk takut. Ayahnya sangat jarang marah, Diki benar-benar takut. "Maaf yah!" Cicit Diki hampir terisak. Ayah David mengusap kasar wajahnya.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka.


Papi Agung mendekati dokter itu. "Anak saya gimana dokter?"


"Luka di kepalanya cukup parah, benturan keras dari benda tumpul yang pasien alami menambah parah kondisi pasien terlebih penyakit yang pasien derita."


"Jadi gimana keadaan anak saya dok?" Tanya mami Risma.


"Anak ibu mengalami koma, kami belum bisa memastikan kapan pasien akan sadar. Yang sabar pak bu, banyak-banyak berdoa selagi kami membantu pasien dengan segala kemampuan kami," jelas dokter itu lalu meninggalkan mereka.


"Coba aja mami gak izinin Lya pergi, pasti dia bakal baik-baik aja," tangis mami Risma.


"Saya minta maaf tante, Kya begini karena nyelamatin saya!" Cicit Tiara membuat mereka semua menatapnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya papi Agung.

__ADS_1


"Tiara sama Dara di culik musuh Karta sama almarhum Bima om!" Jawab Mira membuat mereka semua terkejut.


"Awalnya kita mau nyusulin Karta ke markas Drax tapi teman kita datang dan bilang kalau dia tau kalau Tiara dan Dara di sekap di tempat lain. Lya langsung ngajak kita kesana dan tempat yang kita datangi itu gedung tua bertingkat, awalnya kita masuk dan di bagi karena setuap lantai itu ada yang jaga. Sampai dimana cuma saya dan Lya yang tersisa."


"Kita berdua naik san sembunyi di tempat yang benar-benar gelap. Awalnya kita masih nunggu Diki dan yang lainnya, tapi pas salah satu cowok itu ngomong ke Tiara dan bawa-bawa nama Tiara, Lya langsung marah."


"Lya ngelawan dua orang sedangkan saya satu. Awalnya target Lya cuma satu cowok itu, dia yang ngebunuh Bima. Lya marah besar, dia mukulin cowok itu sampai cowok itu udah tergeletak di lantai."


"Kita usaha buat buka ikatan Tiara sama Dara, tapi ternyata cowok itu gak beneran pingsan. Dia mukul Lya dengan balok sampai Diki sama Rio datang." Ujar Mira menyelesaikan ceritanya.


"Siapa laki-laki itu?" Tanya papi Agung lagi.


Mira menggeleng. "Maaf om, saya gak tau."


"Namanya Axel om, dulu waktu SMP dia suka sama saya, tapi saya gak mau karena saya sudah sama Karta." Jawab Tiara dengan takut.


Papi Agung mendengus frustasi. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Cari laki-laki yang menjadi dalang dari penculikan teman Lya malam ini, namanya Axel dan pastikan dia masih hidup saat sampai di hadapan saya." Ujar papi Agung pada orang yang dia hubungi.


Mereka yang mendengar ucapan papi Agung menjadi merinding seketika. Aura papi Agung sangatlah mencekam. "Lebih baik kalian pulang. Lya juga belum bisa di temui, terima kasih karena sudag membawa Lya kesini." Ujar papi Agung pada mereka.


Inti Rakasa saling tatap lalu mengangguk. "Maafin Karta om, Karta gak bisa jaga Lya," ujar Karta akhirnya.


Papi Agung mengangguk pelan. "Pulang saja, kasihan Tiara." Ujarnya. Karta dan yang lainnya pun berpamitan lalu pulang.


Devan masih berdiri disana. Sedari tadi dia tidak mengalihkan pandangannya dari pintu ruang UGD. "Pulang Dev, kamu iatirahat di rumah. Besok kesini lagi," ujar papi Agung pada Devan.


"Maaf om! Devan gak guna banget, maafin Devan om." Ujar Devan menangis.


Papi Agung menepuk pundak Devan. "Ini bukan kesalahan kamu, ini takdir. Lebih baik kamu pulang, Lya pasti sudah sadar besok!" Jawab papi Agung.


Devan tidak punya pilihan, dia menuruti perintah papi Agung untuk pulang.


Kini hanya tertinggal orang tua Lya dan Diki beserta Diki dan Clarissa. "Diki sama Clarissa pulang aja. Kalian istirahat," ujar bunda Intan.


"Kita disini aja bunda, Cla mau temenin Lya," ujar Clarissa menolak.


"Gak ada tempat tidur disini nak, besok kalian balik lagi kesini. Kamu pulang ya!" Bunda Intan kembali membujuk.


Diki berdiri dan menarik Clarissa. "Ayo pulang, besok kita kesini lagi." Ujar Diki pada Clarissa. Clarissa menghela nafas dan mengikuti langkah Diki untuk keluar dari rumah sakit.


Papi dan mami Lya duduk di kursi tunggu. Mereka sama-sama terdiam, papi Agung memikirkan semua ucapan Lya.


"Apapun yang terjadi, semua orang akan pergi kan? Lya udah ikhlas, Lya udah ikhlas pi. Atas Dika dan atas diri Lya sendiri."


"Kalau nanti terjadi sesuatu, gak ada yang perlu di salahin pi. Papi sama mami juga harus ikhlas!"


"Papi belum siap nak, jangan dulu. Biarin papi bahagiain Lya dulu!" Lirih papi Agung menangis. Mami Risma memeluk lengan papi Agung. "Papi belun diap mi, papi takut!"


"Lya kuat pi, anak kita kuat!" Ucap mami Risma ikut menangis. Mendengar kabar kalau Lya kembali masuk rumah sakit membuat hatinya semakin hancur, mereka tidak memikirkan apapun lagi selain bergegas kerumah sakit. Mami Risma minta pelayan rumahnya untuk menjaga Dirga karena anak itu sudah tidur lebih dulu di kamar Lya.

__ADS_1


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2