GELYA

GELYA
CHAPTERS 70


__ADS_3

Kring kring


Bunyi bel pertanda jam pelajaran terakhir terdengar. Lya segera merapikan buku-bukunya dan segera keluar bersama Diki. Baru saja dia sampai di depan pintu, seseorang sudah menghadang jalannya.


"Balik sama gue ya!" Ujar Karta.


Lya mengerutkan keningnya. "Gue sama Cla," jawab Lya.


"Gue butuh ngobrol sama lo."


"It's okay! Kamu bisa pulang sama kak Karta," celetuk Clarissa muncul di belakang Karta.


Lya menoleh pada Diki. Laki-laki itu mengangguk mengizinkan.


"Oke!" Jawab Lya lalu berjalan mendahului mereka semua.


Tiba di parkiran, Karta segera menaiki motornya. Mereka segera berjalan meninggalkan sekolah.


Lya hanya diam, dia berpikir kemana Karta akan membawanya. Lya merasa gelisah, apalagi motor Karta berhenti di depan pemakaman.


Lya turun dari motor. "Katanya mau ngobrol, kenapa malah ke kuburan?"


"Yang mau kita obrolin ada disini," jawab Karta. "Dimana makan abang lo?"


Lya terdiam. Tubuhnya tidak bergerak sampai Karta menggenggam tangan Lya dan menariknya masuk ke area makam.


"Gue gak tau letaknya dimana Ya, kasih tau gue!"


Lya menghela nafas panjang. Dia melangkah memimpin jalan hingga berhenti di sebuah makam bertulisan Bima Mahardika R.


Lya dan Karta berdiri tepat di depan makam Dika dan Karta tetap menggenggam tangan Lya, bahkan genggaman itu mengerat saat Karta membaca nama di nisan itu.


Lama mereka terdiam. Lya tidak membuka suara begitu juga Karta. Tapi Lya bisa merasakan tangan Karta berkeringat dan bergetar.


"Abang lo emang pengecut Ya!" Ujar Karta pelan.


Lya tidak menjawab. Dia butuh penjelasan dan dia akan menjadi pendengar untuk Karta kali ini.


"Abang lo pengecut banget sampai dia gak bisa ungkapin perasaan dia yang sebenarnya. Bima terlalu pengecut sampai dia pergi ninggalin gue sejauh ini."


"Lo tau? Dulu gue gak punya teman. Pertama kali masuk SMP gue udah di cap mengerikan sama anak-anak. Gak mau bersosialisasi, judes, gak peduli sekitar. Sampai Bima datang dan ngerecokin hidup gue."


"Lo tau? Abang lo itu nyebelun sama kayak lo. Dia tiba-tiba datang dan nyodorin buku buat gue baca. Lo gak ada kerjaan kan? Nih gue kasih bacaan. Ceritanya bagus."


Sudut bibir Karta tertarik. Mata laki-laki itu tidak lepas dari batu nisan Bima.

__ADS_1


"Lo tau? Yang ada do otan gue pas abang lo nhomong gitu adalah, dia anal yang aneh. Ental sial atau apa, gue sekelas sama dia dan dia duduk sebangku sama gue."


"Dia gak banyak omong kayak lo Ya! Tapi cukup menjengkelkan."


Karta menoleh pada Lya membuat Lya menatapnya.


"Abang lo selalu ganggu gue. Dia selalu ajak gue ngomong meski gak panjang. Dia selalu ngucapin selamat pagi dan hati-hati kalau pulang. Dia selalu bilang itu ke gue sampai terbiasa dan mulai mau ngobrol sama abang lo."


"Lo tau? Gue bahkan gak nyangka kalau gue bisa dekat sama dia cuma dalam waktu kurang lebih dua bulan. Dia pintar, dia ramah, dia lembut, dia bisa bikin gue betah main sama dia. Dia teman pertama gue Ya."


Lya mengelus tangan Karta, dia menyadari bahwa laki-laki ini seperti kekurangan oksigen sekarang.


"Kita selalu bareng kemana-mana, sampai dia kenalin gue ke Noah dan Tiara. Lo gak bakal nyangka kalau Noah lebih dulu kenal dan dekat sama Tiara. Bahkan waktu pertama gue kenalan sama mereka gue pikir mereka berdua pacaran. Kita jadi teman dekat setela itu, Noah sama Bima cocok banget. Mereka sama-sama pintar dan suka baca."


"Saking seringnya kita bareng, di kelas dua gue ngerasa kalau gue suka sama Tiara. Awalnya gue diam aja, tapi lama-lama gue gak bisa nahan perasaan gue."


"Ya!" Panggil Karta membuat Lya menatapnya. "Bima sama Noah jadi saksi gimana perjuangan gue dulu dapetin Tiara. Dari dulu sampai sekarang pun, banyak cowok yang suka sama Tiara. Dan Bima jadi orang yang paling berjasa dalam usaha gue buat dapetin tiara, dia yang selalu bantuin gue. Sampai kita udah kelas tiga, gue ungkapin perasaan gue ke Tiara."


"Lo tau? Rasanya gue pengen terbang pas Tiara nerima cinta gue. Padahal gue uda takut karena Tiara yang terlalu dekat dengan Dion, tapi Bima selalu semangatin gue Ya."


"Hubungan gue baik-baik aja sampai gue ngerasa semuanya hancur gitu aja dalam satu malam."


"Dengan wajah babak belur, abang lo datang ke gue dan bilang kalau Tiara di culik musuh Rakasa. Gue panik, tapi ucapan lain Bima di malam itu ngebuat gue hampir gila. Bima suka sama Tiara!"


Mata Lya memanas, gadis itu berusaha menahan air matanya. Tapi tidak dengan Karta, laki-laki itu sudah menangis meski tidak mengeluarkan isakan.


"Tapi ada hal yang bikin gue hancur malam itu, malam dimana gue teriak paling kencang kalau Bima bukan sahabat gue lagi, malam dimana gue teriak paling kencang pas ngeliat abang lo berdiri di barisan musuh. Malam dimana gue sadar kalau gue gak lebih dari orang bego sampai gak tau kalau sahabat gue sendiri ternyata adalah musuh gue sendiri."


Isakan Lya terdengar. Tangan kirinya menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar keras.


"Tiara gak di culik Ya, abang lo yang bawa Tiara ke leader dia, abang lo penghianat!"


"Malam itu Rakasa dan Dragon war besar-besaran. Tapi cuma gue yang bisa lolos, cuma gue yang byelamatin Tiara. Mereka biarin gue masuk ke markas mereka buat ngelepasin Tiara. Gue sendirian Ya!"


"Gue pikir gue bakal berhasil. Nyatanya nggak! Walaupun gue bisa nemuin dimana Tiara, tapi gue gak bisa bawa Tiara keluar. Gie dipukul habis sama mereka, gue dijebak. Mereka bilang kalau Bima mau gue mati malam itu. Gue ngerasa jantung gue bakal berhenti disana Ya, gue jatuh, gue hancur."


"Gue gak tau apa yang terjadi selanjutnya, sampai gue bisa buka mata gue setelah sebulan koma."


"Lo tau? Hal yang pengen banget gue rasain adalah abang lo ada di samping gue. Gue mau dia yang gue lohat setelah gue tidur lama Ya. Gue mau dia minta maaf sama gue. Gue mau dia jelasin kenapa dia harus khianatin gue Ya."


Karta terisak dengan keras. Tangannya menggenggam erat tangan Lya hingga tangan mungil itu memerah. Karta menarap nyalang pada batu nisan di depannya.


"Gue mau dia minta maaf sama gue Ya. Gue mau dia kasih tau alasan kenapa dia giniin gue. Gue hancur Ya."


"Bang!" Cicit Lya akhirnya bersuara.

__ADS_1


"Abang lo menghilang setelah kejadian itu. Gue pikir dia kabur karena takut untuk ketemu gue lagi. Gue bahkan nyari dia Ya. Gue nyari abang lo, gue masih butuh penjelasan dia. Gue gak terima dia pergi gitu aja. Gue bahkan nyari Lisa, dia cewek yang ngejar-ngejar abang lo selama tiga tahun kita di SMP. Dia selalu ada dimanapun Bima berada. Cewek itu gak jawab pertanyaan gue, dia cuma bilang kalau Bima pergi dan dia juga bakal pergi. Semenjak itu gue yakinin diri buat beneran benci sama abang lo."


Karta menghadap Lya.


"Tapi gue gak bisa Ya hiks.. kalau gue harus jujur, gue bahkan masih berharap Bima hidup. Gue masih butuh dia Ya, gue butuh permintaan maaf dia. Gue butuh dia temenin gue lagi, dia masih sahabat gue Lya."


Lya memeluk Karta. Laki-laki itu tidak menolak, Karta memeluk erat Lya. Lya langsung merasa basah di bahunya. Karta benar-benar menangis tanpa malu. Tubih laki-laki itu bergetar hebat. Lya mengusap punggung Karta mencoba menenangkan.


"Maafin gue! Kalaupun gue tau Bima suka sama Tiara, mungkin gue gak akan maksain perasaan gue. Kalau Bima ngasih pilihan ke gue malam itu, kalau dia minta gue pilih dia atau Tiara. Gue gak akan mikir dua kali buat pilih dia Ya. Gue bisa nyari cewek lain tapi gue gak bisa nyari sahabat kayak Bima lagi."


"Elang, Juna, Kevin, bahkan Noah sekalipun. Gak ada yang bisa ngertiin gue sebaik Bima.


"Kita semua bahkan gak tau Bima meninggal karena apa? Kita semua mikir kalau Bima pergi keluar negrri atau keluar kota. Ternyata dia pergi ketempat dimana gue beneran gak bisa temuin dia, mau gue pakek privat jet sekalipun."


"Gak ada yang tau Bima meninggal Ya."


Tangis Lya mengeras. "Abang gue gak mungkin khianatin lo bang, dia pasti ngelakuin itu dengan maksud."


"Dan sampai sekarang gue masih nunggu jawabannya Ya!"


Karta melepaskan pelukannya. Laki-laki itu berjalan mendekati nisan Bima. "Kasih tau gue jawabannya Bim, kasih tau gue kenapa lo lakuin itu. Kenapa lo bisa gini? Gak ada satupun anak-anak yang tau kalau lo meninggal. Bahkan malam itu Noah jadi saksi kalau lo masih bisa berdiri dan ngeliat gue dibawa ke rumah sakit. Kasih tau gue Bim!"


"Gue harus cari Lisa!" Ujar Lya membuat Karta menatapnya. "Lo bilang Lisa selalu deat Bima kan?"


"Tapi Bima gak suka dia Ya."


"Bisa lo ceritain tentang dia?" Tanya Lya.


Karta kembali mendekati Lya. "Gue gak terlalu dekat dengan dia. Tapi dia teman sekelas kita. Gue tau dari kelas satu, Lisa udah ngejar Bima. Dia udah berkali-kali nembak Bima tapi Bima selalu nolak dia. Lisa gak nyerah, walaupun dia selalu di tolak tapi dia tetao berusaha dekatin Bima. Sampai dimana gue ketemu dia untuk terakhir kalinya, waktu gue tanya kemana Bima, dia cuma jawab kalau Bima pergi dan dia juga bakal pergi."


Lya menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin kan dia ngikut Bima?" Dia tengah berpikir negatif kali ini.


Karta mengerti maksud Lya. "Apa jangan-jangan Lisa tau sesuatu? Kalau dia tau Bima meninggal, terus perginya dia kemana? Dia gak mungkin bunuh diri buat ikut Bima kan? Dia gak mungkin sebodoh itu."


Mereka berdua tengah terdiam memikirkan perkara ini.


Apa yang terjadi sebenarnya?


Kenapa tidak ada satupun anak Rakasa yang tau kalau Bima meninggal?


Kemana perginya gadis bernama Lisa itu?


Baik Lya maupun Karta tidak mampu memikirkan jawabannya sekarang. Entah mereka akan mencari tau atau mungkin mereka akan menerima keadaan.


Karena pada akhirnya, seseorang merelakan sesuatu hal bukan karena keinginan, tapi keharusan.

__ADS_1


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2