GELYA

GELYA
CHAPTERS 53


__ADS_3

Pagi ini Lya merasa sangat bersemangat. Dirinya menyiapkan diri sedari subuh setelah sholat. Jika biasanya dia akan kembali tidur maka pagi ini dia sudah sangat sibuk. Lya sudah menyibukkan bunda Intan dengan membantunya mengepang rambutnya, menyiapkan bekal dan segala yang Lya butuhkan.


Karena hari ini adalah hari olimpiade membuat Lya sangat bersemangat. Padahal kemarin dia sempat kecewa karena sebenarnya olimpiade ini baru tahap awal penyeleksian dari tiga sekolah wilayah terdekat. Siapapun yabg terpilih akan mengikuti OSN tingkat provinsi.


Meski begitu, Lya tidak kalah semangat karena dari dua sekolah lainnya akan mengutus beberapa murid. Tidak hanya untuk olimpiade tapi juga sebagai kunjungan persahabatan, hanya saja tidak ada kegiatan besar. Hanya ada beberapa sosialisasi untuk murid yang akan datang.


"Beneran mau di kepang?" Tanya bunda Intan pada Lya yang sudah duduk di depannya.


Lya mengangguk. "Iya. Biar gak repot nanti kalau ngisi soal-soal. Takut berantakan, gerah juga kalau gak diikat."


Bunda Intan tersenyum. "Semangat banget kelihatannya."


"Hehe iya ya. Padahal baru jam setengah enam," jawab Lya yang juga tidak mengerti kenapa dia merasa sangat bersemangat.


"Nanti ngisi soalnya jangan terburu-buru, harus teliti. Anak ayah pintar, pasti bisa," celetuk ayah David yang ikut bergabung duduk di sofa.


Lya tersenyum manis. "Pastilah!"


"Nanti bunda buat nasi goreng aja ya. Kamu jadi kan bawa bekal?" Tanya bunda Intan sembari sibuk mengepang rambut Lya.


"Jadi dong. Agak banyak ya bun, Lya takut kalau kak Noah sama si bocil gatel belum sarapan."


Bunda Intan mengetuk kepala Lya. "Siapa bocil gatel?"


Lya terkekeh kecil. "Hehe teman Lya bun, panggilan sayang itu!"


Bunda Intan hanya geleng-geleng kepala, sedangkan ayah David tertawa mendengar ucapan Lya.


Setelah siap, Lya kembali ke atas untuk membangunkan Diki dan bersiap-siap. Gadis itu mengenakan seragam yang sudah dia setrika sedari subuh, kaos kaki putih panjang menutupi betisnya, memoles sedikit bedak tabur dan memakai liptint untuk menambah warna di bibirnya, takut jika nantu akan dikira sakit karena bibirnya malah terlihat pucat. Menyemprotkan parfum kesukaan lalu berdiri di depan cermin.


"Anjirr cantik banget gue!" Ujarnya memuji diri sendiri. "Gak heran cowok-cowok pada klepek-klepek sama gue, titisan bidadari gini siapa yang nolak!" Lya tidak henti-hentinya memuji diri. Bahkan dia berpikir untuk menggunakan bando dan jepitan berbentuk stawberry tapi segera dia urungkan, takut para murid laki-laki menyerbunya saat sampai di sekolah.


Dengan menggendong tas hitam polos dengan sebuah boneka beruang kecil berwarna putih menggantung di resletingnya dan dua buah pin terpasang di bagian depan bermotif bunga berwarna putih. Lya siap berangkat ke sekolah.


"Selamat pagi bunda, selamat pagi ayah, selamat pagi Diki!" Sapa Lya tersenyum lebar kepada ketiga anggota keluarga yang sudah berada di meja makan.


"Selamat pagi, rapi banget anak bunda," jawab bunda Intan.


"Pagi! Cantik banget anak ayah," jawab ayah David yang ikut menjawab.


Lya melebarkan senyumnya. "Harus rapi dong bun, makasi yah!"


Diki menelisik penampilan Lya, hidungnya mendengus seperti seekor anjing. "Wangi banget lo. Mandi parfum lo?" Tanya Diki membuat senyum Lya luntur seketika.


"Mandi kembang gue," jawab Lya ketus.


"Nih sarapannya, makan yang banyak," ujar bunda Intan meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Lya.


"Makasi bunda," jawab Lya mengembalikan senyumnya.


"Bekalnya udah bunda siapin, porsinya lumayan banyak sama sendoknya tiga buah. Air minumnya satu botol aja ya, takutnya keberatan kalau kamu bawa banyak."


Lya mengangguk sambil mengunyah makanannya. "Makasi bunda."


"Kamu jadi berangkat sama ayah?" Tanya ayah David. Diki langsung menoleh pada Lya.


"Kok?" Beo Diki.


Lya mengangguk. "Iya yah. Kalau naik motor nanti rambutnya rusak, bajunya juga nanti kusut lagi. Lya udah siapin semuanya dari subuh, gak mau kelihatan jelek. Nanti ada murid sekolah yang datang."


Diki mendengus. "Banyak gaya!" Cibirnya.

__ADS_1


Diki tetap menggunakan motornya untuk berangkat ke sekolah, sedangkan Lya bersama ayah David. Diki beralasan sulit saat pulang jika harus ikut serta bersama ayah David berangkat sekolah.


"Loh kok berangkat sendirian?" Tanya Chintya saat dia melihat Diki sampai di sekolah. "Lya mana? Kan dia olim hari ini."


"Lya sama ayah, gak mau naik motor kata dia takut seragamnya kusut," jawab Diki menghampiri kekasihnya.


Kedua orang itu berjalan masuk ke dalam sekolah. Banyak murid yang masih berdiri dan berkumpul di koridor karena sekarang memang tidak ada jadwal belajar. Diki menuju ruang yang Elang siapkan untuk ketiga utusan sekolah dan inti Rakasa beristirahat.


Ceklek


Semua mata tertuju pada Diki dan Chintya. Diki tersenyum lebar mendapati dirinya tengah ditatap.


"Lya mana?" Tanya Tiara.


"Lah emang dia belum datang?" Tanya Diki berlagak sok kaget mendapat pertanyaan dari Tiara.


"Kan Lya sama lo bego," timpal Kevin.


Diki menahan tawa melihat wajah mereka yang terlihat sangat panik mendengar pertanyaannya.


Elang menghampiri Diki. "Jangan bikin orang panik! Lya mana?"


"Gue berangkat sendirian bang," jawab Diki. Dia tidak berbohong, dia memang berangkat sendiri.


"Terus Lya mana?" Tanya Karta.


Juna yang tengah duduk saja langsung berdiri. "Wah parah lo, mana Lya? Jangan bilang lo tinggal?"


"Assalamualaikum," suara merdu Lya mengalihkan perhatian semua orang.


"Waalaikumsalam!"


"Masyaallah bidadari dari mana ini?" Tanya Juna melihat Lya yang tengah tersenyum manis. "Duh manis banget," tambahnya lagi membuat Kevin melemparkan pena pada Juna.


Tiara mendekati Lya. "Kita hampir panik karena Diki bilang dia gak berangkat bareng kamu."


Lya terkekeh. "Gak mau naik motor. Udah cantik gini, sayang kalau naik motor."


Beberapa dari mereka menggelengkan kepala.


"Semangat banget dia, heran gue. Subuh-subuh udah heboh aja," celetuk Diki.


"Biarin," jawab Lya.


"Tumben banget di kepang?" Kevin bersuara.


Lya terkekeh. "Cantik gak?"


"Cantik!" Jawab Kevin cepat yang langsung mendapat pukulan sayang dari Juna. "Modus!"


Lya membuka tasnya, mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa. "Udah sarapan belum bang?" Tanya Lya pada Noah. "Lo udah sarapan gak cil?" Tanyanya lagi pada Lolita.


Lolita menoleh. "Udah kak. Tadi mama bikin sandwich."


Lya mendengus. "Yah, gue udah bawa sarapan banyak nih. Kemarin katanya nyokap lo gak ada."


"Udah pulang kak, maaf yah." Lolita terlihat tidak enak.


Noah menarik kotak bekal Lya dan membukanya. "Bunda yang masak?" Tanya Noah menyuap nasi goreng ke mulutnya. Lya mengangguk mengiyakan.


"Ih gue juga mau," celetuk Juna. Laki-laki itu berjalan mendekati Noah dan langsung merebut sendok yang ada di tangan Noah.

__ADS_1


Noah menatap tajam Juna. "Gak liat kalau sendoknya banyak?"


Juna menyengir tanpa dosa. Dia mengembalikan sendok pada Noah.


Lya mengedarkan pandangannya menatap Karta yang tengah duduk bersama Tiara. "Udah sarapan bang?" Tanyanya.


"Udah!"


"Mba Tiara udah?"


"Udah Ya," jawab Tiara tersenyum. "Kamu yang seharusnya diperhatiin, kan kamu yang bakal berjuang nanti."


Lya terkekeh kecil. "Gue mah aman mba, udah siap lahir batin!"


"Lo wangi banget Ya," celetuk Juna.


Lya menatap Juna. "Lo aja yang jarang dekat gue, biasanya juga begini. Iya kan bang?" Tanya Lya di akhir pada Noah.


Noah menoleh lalu mengangguk. "Tapi sekarang lebih wangi," jawabnya.


Lya tertawa. "Gue mandi kembang hehe!"


Mereka yang mendengar jawaban Lya menoleh tidak percaya, apalagi Diki. "Lo beneran mandi kembang? Gue pikir lo bercanda tadi."


Tawa Lya semakin keras. "Beneran lah!"


Juna menyentuh kening Lya. "Gak panas, berarti gak sakit," ujarnya. "Lo dapat kembang dimana?"


"Gue ambil bunga mawar bunda, kemarin mekar terus wangi banget. Jadi gue ambil aja, masukin wadah terus simpan di kulkas. Hehe pintar kan gue?" Jawab Lya tanpa dosa.


Noah dan Juna geleng-geleng kepala. Tidak hanya mereka, bahkan Karta saja sampai memejamkan matanya mencoba untuk bersabar. Tiara dan Dara sudah tertawa bersama Lolita dan Chintya.


"Ngapain sampai mandi kembang? Lo mau nikahan?" Tanya Elang tidak habis pikir.


"Biar kecantikan gue bertambah. Gue rasa susuk dari dukun langganan gue mulai luntur," jawab Lya membuat inti Rakasa mendengus kesal.


"Heran gue kenapa punya sepupu begitu!" Desis Diki merasa malu.


Chintya terkekeh. "Lya lucu tau," ujarnya.


"Kamu ada-ada aja," celetuk Tiara tertawa.


"Kayaknya aku harus ngikutin cara kamu deh Ya! Biar bisa nular cantiknya," ujar Dara pada Lya.


Lya terlihat antusias. "Wah bisa mba! Nanti gue kirim nomor dukunnya!"


Elang langsung menjitak kepala Lya. "Gak usah nyesatin cewek gue," protesnya. "Kamu juga janga ikut-ikutan stres kayak dia ay!"


Lya berespresi ingin muntah, dia dan Juna sama-sama jijik mendengar kata akhir dari kalimat Elang.


"Gak usah bucin disini!" Cetus Juna.


"Bilang aja kalau lagi galau!" Timpal Kevin pada Juna. Juna langsung tersungut-sungut menatap Kevin.


Ceklek


Pintu kembali terbuka menampakkan Devan dan Alix. Lya tersenyum manis menyapa Devan.


"Selamat pagi Paku!" Celetuknya membuat Devan melototi Lya.


"Paku?" Beo Juna.

__ADS_1


"Papah dari anak-anakku," jawab Lya membuat Devan kesal dan merasa malu. Baru saja dia datang tapi Lya sudah menyambutnya dengan kata-kata gombalan, melihat Lya tersenyum saja sudah membuat jantungnya berolahraga apalagi harus menghadapi ucapan manis dari gadis itu.


__ADS_2