
Tok tok tok
Ceklek
"Kenapa bi?" Tanya Devan pada asisten rumah tangganya.
"Dibawah ada non Clara deh."
Devan mendengus kesal. Kenapa juga Clara datang pagi-pagi begini, membuat mood Devan rusak saja. Devan turun untuk menemui Clara dengan rasa malas.
"Hai Dev!" Sapa Clara.
Devan duduk di sofa yang jaraknya sedikit lebih jauh dari sofa yang Clara duduki. "Ngapain lo kesini?"
Clara berpindah dan duduk di samping Clara. "Emang gak boleh? Kemarin-kemarin juga aku sering kesini."
"Nggak!"
Clara mengurutkan bibirnya pada Devan. "Kamu gak beneran batalin perjodohan kita kan? Please lah Dev, aku gak mau!"
"Perjodohan gila itu gak akan pernah terjadi."
"Kenapa? Aku kurang apa sih?"
"Banyak!"
Lagi-lagi Clara merasa sangat kesal dengan Devan. Devan tidak pernah berbicara dengan lembut jika bersamanya.
"Kamu suka ya sama Lya?" Tanya Clara tidak suka.
"Iya."
Clara mendengus. "Jangan Devan, dia itu jelek."
"Lo yang jelek!"
Mata Clara melotot mendengar ucapan Devan. Bisa-bisanya Devan mengatainya jelek. Lagi pula kenapa laki-laki ini tidak mengeluarkan ekspresi sedikitpun, hanya wajah datar yang membuat Clara muak.
"Bisa gak sih kalau ngomong gak usah nyakitin hati. Kamu tega banget sama aku."
Devan menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum miring. "Suka-suka gue lah. Gak suka? Pergi sana!"
"Kamu tuh benar-benar yah! Pokoknya aku gak terima kamu batalin perjodohan kita."
Devan menatap tajam Clara. "Mau lo sampai nangis darah sekalipun, gue gak akan mau nikah sama lo. Sadar diri dong lo, gak punya malu? Apa yang sudah lo lakuin sama Lya waktu itu udah jadi bukti kuat gue untuk gak berurusan lagi sama cewek gila kayak lo."
Mata Clara berkaca-kaca. Dia merasa sakit hati atas apa yang Devan katakan. Clara berdiri. "Aku gak akan lepasin kamu gitu aja. Bahkan Lya sekalipun gak akan bisa dapetin kamu."
Devan ikut berdiri. "Kalau lo sampai ngelakuin hal yang buruk lagi ke Lya, gue yang akan bales lo. Gue pastiin lo bakal nyesal bahkan sampai lo udah gak bernafas sekalipun," ucap Devan menatap Clara dengan sangat tajam.
Air mata Clara menetes, gadis itu dengan cepat merampas tasnya dan segera pergi dari sana. Devan menghempaskan tubuhnya ke sofa, laki-laki itu memijat keningnya merasa sangat frustasi. Bahkan hari libur saja dia tidak bisa merasa tenang.
...🌻...
Ceklek
"Udah siap?"
"Udah mi," jawab Lya. Gadis itu sudah bersiap menuju rumah sakit bersama mami Risma.
"Cantik banget sih anak mami!"
Lya tertawa. "Tidak di ragukan lagi," jawab Lya membangga diri.
Kedua wanita itu segera keluar dari kamar dan berjalan keluar rumah. Dengan diantar sopir pribadinya, mami Risma bersama Lya segera pergi kerumah sakit.
Setelah sampai, mereka turun dan masuk menuju ruangan dokter Rizal. Dengan penampilan mami Risma yang sangat elegan dan Lya yang terlihat santai namun tetap menarik perhatian beberapa orang yang ada disana.
"Selamat pagi menjelang siang dokter!" Sapa Lya pada dokter Rizal.
Dokter Rizal terkekeh kecil. "Selamat pagi menjelang siang juga."
Lya ikut tertawa. "Dokter udah nikah belum?" Tanya Lya setelah mendudukkan diri dikursi.
"Heh kamu ini!" Tegur mami Risma.
__ADS_1
Dokter Rizal mengeraskan tawanya. "Kenapa nanya begitu? Mau jadi istri saya?"
Lya mengangguk membuat mami Risma memejamkan matanya sambil menggelengkan kepala. "Kalau di lihat-lihat dokter ganteng juga, baru sadar saya."
Mami Risma memijat keningnya. "Semua orang juga kamu sebut ganteng."
"Saya belum menikah, tapi sudah bertunangan!" Ujar dokter Rizal memperlihatkan cincin tunangannya.
"Wahh kalah cepat dong saya?"
"Iya. Jadi kamu yang sabar yah!" Dokter Rizal kembali tertawa. Ada-ada saja. "Sekarang kita mulai pemeriksaannya!"
Lya mengangguk. "Gimana keadaan kamu selama ini? Perkembangan rasa sakit dibahu kamu semakin sakit atau sudah mendingan?"
"Sakitnya tetap dok, kalau malam makin terasa sakitnya. Badan saya juga sering lemas, mana sering keringetan lagi."
"Itu wajar, lemas dan keringatan itu bagian dari gejala penyakit kamu. Sekarang kita lihat kondisi tulang kamu lagi ya."
Lya kembali melanjutkan CT scan, dengan bantuan dokter Rizal dan seorang perawat. Karena hasilnya tidak langsung jadi, Lya memutuskan untuk keluar dan mencari angin.
"Lya bosan, boleh keluar gak mi?" Tanya Lya pada mami Risma.
"Boleh! Tapi jangan jauh-jauh, nanti mami telpon kalau sudah tebus obatnya."
Lya mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu. Kakinya melangkah tidak tentu arah karena bingung juga hendak kemana.
BRUKK
"Ehh ya ampun maaf gue gak sengaja," ujar Lya membantu seseorang berdiri karena baru saja dia tabrak.
"Nggak apa-apa," balasnya dengan wajah datar.
"Aduh gue beneran gak sengaja, maaf yah!" Lya merasa tidak enak hati.
"It's oke, salah gue juga gak perhatiin jalan," jawab gadis itu. Hendak pergi meninggalkan Lya namun mengurungkan niatnya sebenatar. "Lo Lya?"
Lya mengerutkan keningnya. "Iya! Lo kenal gue?"
"Nggak!" Jawab gadis itu dengan wajah yang masih saja datar. "Cuma tau doang."
"Kita satu sekolah."
"Hah, serius?"
Gadis itu mengangguk kecil.
"Kok gue gak pernah ketemu sama lo?"
"Ngapain ketemu sama gue?" Gadis itu bertanya balik.
Lya merasa bahwa gadis ini satu paguyuban dengan Noah. Dari ucapan hingga ekspresi, sangat-sangat menyebalkan.
"Maksud gu-"
"Gue duluan!" Ujar gadis itu hendak meninggalkan Lya.
Lya segera menghentikan langkahnya. "Eh tunggu-tunggu? Mau kemana?" Tanya Lya.
"Makan!"
"Oke. Gue ikut."
"Lapar juga?"
"Nggak sih, cuma bosan aja. Gak ada teman, gue sama lo aja deh."
"Emang lo teman gue?" Tanya gadis itu.
Sialan! Batin Lya menahan emosi.
Lya tersenyum manis menahan emosi. "Ya elah. Ribet banget lo, ayo ke kantin." Lya menarik paksa tangan gadis itu.
Takut jika lama-lama berbicara, dia akan kesal dan memukul wjaah cantik dari gadis yang sedang dia seret ini.
Ketika sampai di kantin. Gadis itu melepaskan tangannya dari Lya meski sedikit kasar. Dia menatap datar Lya lalu berjalan untuk memesan makanan, sedangkan Lya hanya membeli sekotak susu.
__ADS_1
Mereka duduk di salah satu meja yang ada. Gadis itu sibuk dengan makanannya tanpa memperdulikan Lya sedikitpun. Karena kesal, Lya menarik makanan gadis itu.
"Apaan sih lo?" Gadis itu terlihat kesal.
"Jangan diemin gue dong!"
Gadis itu menarik kembali piringnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Lya berdecak kesal.
"Ngapain lo kesini?" Tanya gadis itu akhirnya.
"Berobat!" Jawab Lya yang masih kesal.
Gadis itu hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Lya.
"Lo ngapain kesini?" Tanya Lya balik.
"Nungguin adek!"
"Adek lo sakit?"
"Lo pikir?"
Sudah habis kesabaran Lya menghadapi gadis di depannya ini. Kenapa juga Lya memilih untuk ikut dengan gadis ini.
"Lo ngeselin tau gak!" Sungut Lya, gadis itu hanya mengangguk. Lya semakin menekuk wajahnya.
"Kenapa muka lo?" Tanya gadis itu membuat Lya mendengus.
"Gue kesal. Ngobrol sama lo gak asik."
"Siapa yang nyuruh lo ngobrol sama gue?"
"Wah benar-benar ya lo. Lo gak tau gue siapa? Gak takut sama gue? Gue lapor ke Karta baru tau rasa lo!"
"Atas dasar apa gue harus takut sama lo? Lo mau lapor apa ke ketua lo itu? Perasaan gue gak punya masalah sama lo."
"Punya!" Jawab Lya kesal. "Lo nyebelin."
"Lo PMS?"
Lya memejamkan matanya, rasanya dia ingin sekali melempar gadis itu ke selat Sunda.
"Dari awal gue nyoba buat asik sama lo, kita satu sekolah. Siapa tau kita bisa jadi teman, tapi lo gini banget ke gue."
"Gue gak punya teman dan gak perlu punya banyak teman, gue gak asik dan gak suka di asikin. Lo salah orang!"
Lya menatap gadis di depannya ini dengan tidak percaya. "Lo manusia kan?" Tanya Lya.
"Lo gak bego kan?" Balas gadis itu.
"Ekspresi lo dari tadi datar banget, jangan-jangan lo boneka lagi atau mungkin robot?"
"Gue pikir lo sepintar itu untuk jadi juara umum sekolah, nyatanya lo gak jauh lebih bego dari Fatih." Gadis itu beranjak pergi.
Lya melototkan matanya. Lya ikut beranjak dan berlari menyusul gadis itu. "Enak aja lo ngatain gue bodoh. Mau adu kepintaran sama gue?" Rutuk Lya.
Gadis itu tidak menjawab. Dai hanya diam dan tetap berjalan tanpa menghiraukan Lya.
Saat gadis itu sudah sampai di ruangan adiknya, dia hendak masuk namun di tahan oleh Lya.
"Apa?" Tanya gadis itu.
Nafas Lya memburu, dia lelah. "Gelya!" Ujar Lya mengulurkan tangannya. Entah apa niat Lya mengajak gadis itu berkenalan, Lya pun tidak tau.
"Udah tau," balas gadis itu segera masuk ke ruangan adiknya.
Lya cengo. Lya menatap tidak percaya pintu di depannya yang tertutup rapat itu.
Sialan! Bisa-bisanya gue di giniin sama tuh cewek. Batin Lya.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1