
"Lya! Papi mau bicara," ujar papi Agung. Lya yang baru saja sampai di rumah menoleh kearah papinya yang duduk di sofa ruang tamu.
"Apa?"
"Kamu kenapa? Mami bilang kalau kamu cuek banget ke mami," ucap papi Agung membuat Lya mendengus pelan.
Lya berdiri di depan papinya. "Lya cuma capek. Ada sedikit masalah, mami sama papi gak usah khawatir!" Balas Lya.
Papi Agung berdiri, dia menatap Lya dengan sendu. "Maafin papi sama mami. Kami belum bisa jadi orang tua yang baik untuk Lya, kita gak bisa jagain Lya, Lya lebih nyaman sama orang luar dibanding orang tua Lya sendiri. Maafin papi nak!"
Mata Lya memanas. Dia terlalu lelah, kenapa papinya harus membahas hal seperti ini sekarang. "Maaf Ya. Papi udah kehilangan Dika, papi gak mau kehilangan Lya juga." Air mata papi Agung mengalir. Dia merasa sangat menyesal, banyak waktu yang dia habiskan tanpa tau bagaimana perkembangan anak gadisnya ini.
"Lya gak masalah. Papi sama mami orang tua terbaik untuk Lya, Lya gak akan tinggalin mami sama papi," balas Lya.
"Papi bohong untuk kebaikan kamu. Dika gak mau kamu tau karena takut kamu semakin sedih."
"Lya tau. Gak apa-apa," jawab Lya. "Apapun yang terjadi, semua bakal pergi juga kan? Lya udah ikhlas, Lya ikhlas pi. Atas Dika dan diri Lya sendiri."
Papi Agung memeluk Lya. "Kalau nanti terjadi sesuatu, gak ada yang perlu di salahin pi. Papi sama mami juga harus ikhlas," ujar Lya lagi. Usapan lembut Lya dapatkan di kepalanya, papi Agung menatap wajah Lya dengan rasa sayang.
"Ya udah, kamu bersih-bersih terus istirahat."
Lya mengangguk. Menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Mami sama Dirga mana?" Tanya Lya.
"Tadi Dirga mau beli es krim, karena mami mau belanja jadi sekalian keluar," jawab papinya.
Lya kembali mengangguk. Dia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Rasanya sudah sangat lama Lya tinggal di rumah ini, tapi baru saja Lya merasakan rindu dengan rumahnya. Meski jarang di tinggali, rumah ini punya banyak kenangan di rumah ini.
...🌻...
"BANGSAT!" Teriak Karta marah. Anggota yang tengah berada di markas Rakasa terkejut mendengar teriakan Karta.
Juna mengelus dadanya dan menatap Karta kesal. "Heh kenapa sih lo?" Tanyanya. Hampir saja dia menjadi pasien rumah sakit dengan gejala serangan jantung.
Karta tidak menjawab. Mereka tau jika laki-laki tengah diliputi rasa emosi, bahkan urat lehernya tercetak jelas di kulit putih Karta. Karena penasaran, Kevin merebut ponsel Karta.
"Anjing!" Umpatnya melihat apa yang ada di ponsel ketuanya itu. Kevin memberikan ponsel Karta pada Noah. Noah ikut terkejut meski tidak bersuara, tangannya terkepal melihat Tiara dan Dara tengah terikat di kursi dengan kondisi pingsan.
Elang yang melihat Dara disana pun mengeram marah. "BANGSAT! Siapa yang berani-beraninya nyulik mereka?" Tanya Elang marah.
"Ardian!" Ujar Karta menggeram.
"Kumpulin semua anggota. Kita jemput Tiara dan Dara sekarang!"
Seluruh anggota Rakasa yang di dalam ruangan mengikuti langkah Karta keluar markas. Mereka berkumpul di depan markas sambil menunggu beberapa anggota yang belum datang. "Telpon Diki sama Keenan!" Titah Karta.
Kevin dan Juna masing-masing mengeluarkan ponselnya. Mereka menelpon kedua anggotanya itu. "Keenan gak aktif," ujar Juna.
"Diki gak angkat telpon gue," ujar Kevin. Dia memang tidak berharap banyak pada mereka berdua, jelas saja jika kedua anggota mereka itu tengah menjauhi mereka.
Karta terlihat sangat marah. Dia menendang tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk markas. "MANA YANG LAIN?" Tanya Karta marah.
Noah datang dengan ponsel yang masih menyala. "Kita udah siap. Seperempat anggota sudah menunggu di perempatan jalan depan!"
"BERANGKAT SEKARANG! KITA JEMPUT TIARA DAN DARA. GAK PERLU RENCANA, DATANG DAN RATAKAN!" Perintah Karta.
Seluruh anggota mengangguk dan segera menaiki motor masing-masing. Akan terjadi perang besar-besaran malam ini, tidak ada persiapan khusus. Bahkan Elang sudah tidak menghubungi ayahnya. Seperti yang Karta ucapkan.
Hanya datang dan ratakan!
__ADS_1
Karta dan seluruh pasukan sudah sampai di depan markas Drax. Ardian sudah berdiri paling depan menyambut kedatangan tamu mereka.
"Gue pikir lo perlu waktu lebih lama buat ngumpulin pasukan lo," celetuk Ardian pada Karta. Laki-laki itu tengah tersenyim miring dengan tatap luris kearah Karta dan inti Rakasa.
Masih berusaha menahan amarahnya, Karta tidak ingin Tiara disakiti oleh mereka. "Mana Tiara?" Tanya Karta tanpa basa-basi.
Ardian tertawa bersama teman-temannya. "Santai dong. Ngapain buru-buru tanya cewek lo, mereka belum mati."
"BANGSAT!" Umpat Elang. "LEPASIN CEWEK GUE."
"Hahhaaa kasihan banget nasib cewek lo. Maunya sih kita cuma bawa Tiara doang. Tapi dengan soknya dia ngelawan kita. Sok kuat banget, sekali pukul udah pada pingsan."
"BACOT LO! MAJU SINI," teriak Juna.
"Berisik lo," balas Ardian.
"Mana Lya?" Tanya Ardian akhirnya. "Eh lupa, udah gak temenan kan ya? Haha kasihan banget di cap sebagai penglhoanat atau emang pengkhianat."
Karta hendak maju dan memukul Noah namun di tahan Noah. Noah berusaha menahan emosi Karta karena Tiara dan Dara masih ada di tangan musuh, lagi pula Karta penasaran, dari mana Ardian tau masalah yang tengah mereka hadapi.
"Hahaa pada emosi semua kelihatannya. Dari pada lama-lama, gue mau tuntasin dendam gue selama ini. Gue pastiin kalian gak akan dapatin apa yang kalian mau! SERANG!" Titah Ardian. Seluruh pasukannya berlari maju.
"ATTACK!" Tetiak Karta.
Perkelahian antar geng motor besar ini terjadi kembali, namun sekarang tidak ada niat untuk memberi cela pada musuh. Karta yang biasanya hanya ingin memberi peringatan pada musuh, kini benar-benar di liputi rasa amarah yang tidak terbendung.
...🌻...
Malam ini Lya sibuk dengan kasur empuknya. Padahal baru saja dia sholat magrib, tapi dia memilih untuk bermalas-malasan di kasur. Sedari tadi notifikasi di ponselnya tidak berhenti berbunyi, Lya tau siapa yang melakukannya dan Lya tau apa yang terjadi, namun Lya tidak tau harus melakukan apa.
Diki👹
Karta minta kita untuk kumpul.
Kayaknya yang laki doang deh, gue ikut gak ya?
^^^Gak usah.^^^
^^^Gue otw kesana.^^^
^^^Ajak Keenan sama Mira kerumah lo.^^^
Setelah mengirim pesan untuk Diki, Lya bergegas bersiap-siap. Menggunakan jeans hitam dan kaos putih di baluti hoodie berwarna hitam juga. Lya berjalan keluar kamar mencari orang tuanya.
Saat melewati kamar Dirga, Lya tengah melihat anak laki-laki itu tengah bermain gameboy miliknya.
Tok tok
Lya mengetuk pintu kamar Dirga dan berjalan masuk. "Sibuk banget kelihatannya," celetuk Lya.
"Mau kemana?" Tanya Dirga melihat penampilan Lya yang jarang dia lihat.
"Mau pergi sebentar. Kamu jangan tidur malam-malam banget, gak usah nungguin kakak pulang," ujar Lya pada Dirga.
Dirga menatap datar Lya. "Kemana? Kenapa lama? Dirga ikut."
Lya tertawa geli mendengar ucapan Dirga, biasanya saja bocah itu sulit diajak main keluar. "Urusan orang gede, kamu dirumah aja. Oh ya, kamar kakak gak kakak kunci nanti kalau kamu mau main disitu aja," jelas Lya tersenyum. "Kakak pergi ya!"
"Dirga tidur di kamar kakak nanti, jangan pulang malam-malam banget," balas Dirga.
__ADS_1
"Siap bos!" Tangan Lya terangkat membentuk tanda hormat pada Dirga. "Kakak pergi dulu, bye!"
Lya menuruni tangga dan memcari orang tuanya. Ternyata mereka sedang berada di ruang tamu dan tengah menonton. Dengan cepat Lya menghampiri orang tuanya.
"Lya izin keluar ya!" Celetuk Lya yang sudah berdiri di depan papi dan maminya.
"Mau kemana?" Tanya mami Risma. Biasanya Lya akan izin dan pergi begitu aja.
"Mau main sebentar."
"Ini sudah malam, mainnya besok aja gimana?" Tanya papi Agung pada Lya.
"Gak bisa! Harus sekarang. Lya sama Diki kok," jawab Lya menolak saran papinya. "Sama Keenan sama Mira juga."
Papi Agung menghela nafas berat. "Tapi papi lagi pengen kamu dirumah, nak."
"Sebentar aja pi, Lya janji akan pulang tepat waktu."
Mami Risma memgelus lengan papi Agung. "Gak apa-apa pi," ujarnya. "Jangan pulang larut malam. Jangan ngelakuin hal yang macam-macam di luar, awas kalau berantem lagi."
Lya tersenyum dan mengangguk. "Siap komandan!" Jawabnya. Dia menyalami tangan mami dan papi nya. Bwrlari keliar ruamh dan ke dalam mobil. Lya meninggalkan rumah dengan perasaan gundah.
"It's oke! Janji di buat untuk di ingkari."
Mobil Lya melaju dengan kecepatan tinggi, memecah dinginnya malam. Berharap dia cepat sampai di rumah Diki. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama Lya sudah sampai disana. Terlihat motor Keenan sudah terparkir di depan dan sebuah mobil yang Lya yakini adalah mobil si Clarisot.
"Ngapain nyuruh kesini?" Tanya Keenan yang tengah duduk di teras rumah Diki.
Diki yang tengah duduk di lantai teras rumahnya menatap Lya. "Karta berharap banget kita bisa ikut. Mereka udah berangkat dua menit yang lalu dan gue yakin dia marah sama kita berdua," ujarnya membuat Keenan mengangguk.
"Emang lo yakin Karta bisa bawa Tiara balik?" Tanya Lya.
Mereka semua terdiam. "Ya bisa lah. Semua anggota pasti turun buat nyelamatin Tiara," jawab Mira.
"Siapa yang nyulik Tiara? Kenapa mereka nyulik Tiara? Apa tujuannya?" Lya kembali bertanya.
Keenan mengendikkan bahunya. "Mana kita tau."
"Lama-lama si Tiara jadi beban banget anjir," celetuk Diki.
Clarissa yang berada di drkatnya langsung memukul lengan Diki dengan keras. "Jangan ngomong begitu! Orang lagi kesusahan kok malah dikatain. Walaupun dia beban tapi ya.. emang beban sih sebenarnya," ujar Clarissa membuat mereka semua mendengus.
"Mau ikut gue gak?" Tanya Lya.
"Ikut kemana?" Tanya Clarissa balik.
"Mereka aja, lo nggak!" Jawab Lya menatap remeh Clarissa. "Lo sama aja, BEBAN."
Mereka tertawa mendengar ucapan Lya, sedangkan Clarissa tengah tersungut-sungut tidak terima. "Jadi kita mau kemana?" Tanya Mira.
"Susulin Karta lah," jawab Lya. Inilah tujuan dia mengumpulkan teman-temannya, datang terlambat di tengah-tengah perang layaknya pahlawan yang terlihat keren. Sangat tidak berpaedah.
"Bangsat!" Umpat Diki.
Tin tin
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1