
Pagi ini Lya berangkat bersama Diki, laki-laki itu sudah datang pagi-pagi sekali. Sedari semalam Lya mendiami maminya, Lya hanya butuh waktu untuk menerima kebohongan orang tuanya. Meski seperti itu, Lya tidak mengabaikan maminya. Hanya bersikap lebih diam dari biasanya.
Saat Lya dan Diki sudah sampai di depan kelas, mereka mendapati Devan yang berdiri menunggu kedatangan mereka. Lebih tepatnya menunggu Lya.
"Ya, ngobrol sama gue sebentar bisa gak?" Tanya Devan dengan nada berhati-hati. Dia cukup takut jika Lya menolak, sedari semalam dia sibuk menghubungi nomor Lya yang tidak aktif.
Lya menoleh pada Diki sebentar lalu mengangguk. Gadis itu berjalan menjauhi kelas, Devan tersenyum mengikuti langkah Lya. Ternyata Lya membawa mereka ke rooftop sekolah. Disana Lya hanya diam menunggu Devan berbicara tapi laki-laki itu hanya diam saja.
"Maaf kalau bikin lo khawatir. Hp gue mati semalam, belum gue hidupin sampai sekarang," ujar Lya. Dia yakin Devan tengah kebingungan memulau pembicaraan ini.
Devan menatap Lya. Tepat di mata gadis yang berstatus pacarnya itu, ada rasa takut di diri Devan. Takut jika Lya marah padanya, ada rasa sedih dan juga rindu yang Devan rasakan. "Gue minta maaf ya! Gue-"
"Gue saranin untuk gak usah bahas masalah kemarin, gue malas. Lupain aja," ucap Lya memotong ucapan Devan.
Laki-laki itu kembalo diam.
"Boleh gue peluk lo?" Tanya Devan akhirnya. Mulutnya terkatup menunggu jawaban Lya, sungguh Devan berubah menjadi laki-laki lemah sekarang, dia sangat mudah gugup dan takut jika bersama Lya.
Lya mengangguk. "Seharusnya lo nanya itu dari tadi," ujar Lya melangkahkan kakinya mendekati Devan. Melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya itu, Devan memeluk Lya dengan sangat erat. Rasanya dia tidak mau melepaskan gadisnya ini, Devan tidak siap.
"Gue takut lo marah, gue takut lo pergi, gue gak mau lo jauh. Gue sayang sama lo, Ya," bisik Devan mengecup puncak kepala Lya.
Lya tidak bersuara, dia sibuk menghirup aroma tubuh Devan yang selalu menenangkan baginya. Lya memeluk Devan dengan sangat erat, seakan-akan itulah jawaban dari Lya pada Devan. Tidak bisa Lya tahan, air matanya mengalir tanpa Lya mengerti apa maksudnya. Dia merasa sedih, namun dia juga merasa bahagia.
Devan memberi jarak pada keduanya, emnatap wajah cantik Lya dengan tatapan sayang. "Kenapa nangis?" Tanya Devan lembut.
Lya hanya menggeleng, tidak ada yang bisa dia katakan. Merasa mengerti perasaan Lya saat ini, Devan menghapus air mata Lya dengan lembut. Mengecup kedua kelopak mata Lya dan kembali mendekap erat tubuh gadisnya itu.
"I love you!" Devan kembali berbisik.
"I love you too!" Lya membalas.
...🌻...
Mood Lya kembali, dia kembali tersenyum hari ini. Lebih baik begini bukan? Lya merasa lebih baik jika dia tersenyum.
Lya berjalan melewati beberapa murid yang juga tengah berada di koridor. Banyak murid yang juga tersenyum menatap Lya yang juga tersenyum. "Gue ngerasa dapat feedback dari orang-orang di sekitar gue. Mereka ikut tersenyum ke gue padahal kita cuma sekedar papasan di jalan, gue ngerasa dapat energi positif dari mereka." Gumam Lya dalam hati. Kakinya melangkah menuju kantin untuk menyusul teman-temannya.
"Heh!"
Lnagkah Lya terhenti saat Clara muncul di hadapannya, posisinya masih tidak jauh dari toilet. "Kenapa?" Tanya Lya. Baru saja moodnya membaik, sekarang dia harus bertemu dengan ular piton cacingan.
Clara menatap Lya sinis. "Gue mau bilang makasih!" Celetuk gadis itu dengan nada tidak ikhlas.
__ADS_1
Ekspresi Lya berubah seketika. Dia menatap Clara dengan senyum miringnya mmebuat Clara merasa kesal. "Makasi buat apa?" Tanya Lya memancing.
"Ck.. gak usah sok lupa lo!" Balas Clara berdecak. Terlihat jika dia tidak berniat menemui Lya.
Lya terkekeh geli. "Kalau mau bilang terima kasih itu yang ikhlas, lo gue tolongin dengan mengorbankan banyak hal. Muka, tenaga dan waktu."
Clara semakin kesal. "Gak ikhlas lo tolongin gue?" Tanyanya bersedekap dada.
Bahu Lya terangkat. "Bukan gak ikhlas, tapi ya lo harus sadar dong. Karena tolonhin lo, muka cantik gue jadi babak belur, tenaga gue terkuras habis, waktu gue terbuang sia-sia. Dan juga, gue harus di omelin Karta sama Devan!"
"Ribet banget hidup lo. Ya udah terima kasih karena udah tolongin gue malam itu, GELYA RAWANGSA!"
Tawa Lya terdengar sangat menyebalkan bagi Clara. "Jangan pd dulu lo. Gue bilang makasih juga karena gue masih punya hati. Gue masih manusia, jadi jangan mikir kalau kita baikan sekarang."
Alis mata Lya terangkat sebelah, menatap Clara dengan ekspresi meremehkan. "Siapa juga yang mau baikan sama lo? Yang ke pd an itu lo. Gue tolongin lo kemarin juga karena gue gabut doang." Balas Lya dan berjalan meninggalkan Clara yang cengo.
"HEH JANGAN SOK-SOKAN YA LO. DASAR ULAT BULU NYEBELIN!" Teriak Clara.
"TERSERAH LO, ULAR PITON CACINGAN!" Balas Lya tanpa menghentikan langkahnya.
"WOY! GUE BELUM SELESAI NGOMONG, JANGAN PERGI LO!" Clara menghentak-hentakkan kakinya kesal mengejar Lya.
Jauh di kawasan kantin, Diki, Keenan, Clarissa dan Mira tengah menunggu Lya. Mereka sudah menghabiskan makanan mereka namun Lya belum juga datang, bahkan sedikit demi sedikit Diki menyuap soto yang Lya pesan sebelum pergi ke toilet.
Setelah sekian lama, akhirnya Lya muncul di sisi kantin. Dia segera melangkahkan kakinya mencari teman-temannya.
Dengan gerakan cepat Lya melepaskan tangan Tiara. Tidak kasar, tapi cukup membuat Tiara terdiam dengan perlakuan Lya. "Gue punya teman sendiri," jawab Lya dengan wajah datarnya. Dia melangkah meninggalkan Tiara dan Dara yang terpaku mendengar ucapan Lya. Lya tidak pernah sedatar itu jika berbicara pada Tiara, dia juga tidak pernah sedatar itu jika berbicara dengan Tiara, dia juga tidak pernah menolak berbagai perlakuan Tiara. Kejadian itu tidak luput dari inti Rakasa yang duduk tidak jauh dari sana.
Tiara dan Dara berjalan mendekati Karta. "Lya kenapa sih? Kok kelihatannya menjauh gitu?" Tanya Tiara pada Karta.
Karta hanya diam tidak menjawab. Dia sibuk memperhatikan Lya yang tengah tertawa bersama teman-temannya.
"Karta!" Panggil Tiara menyadarkan Karta. "Ada apa sih? Ada masalah ya?"
"Uhm Ra, mending dalam waktu dekat ini lo gak usah terlalu dekat dulu deh sama Lya," ujar Kevin.
"Kenapa? Tuh kan ada masalah ya?" Dara ikut penasaran. Pasalnya tidak pernah Lya mau jauh dari mereka.
"Ada masalah sedikit, kita bakal selesaikan ini secepatnya. Gak usah terlalu di pikirin." Karta mengusap rambut Tiara. Berusaha membuat kekasihnya itu diam dan tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia tidak siap memberitahu Tiara masalah ini.
"Dari mana aja sih lo?" Tanya Diki pada Lya.
Gadis yang ditanya malah tertawa tanpa dosa. "Ketemu babu dulu," jawab Lya singkat. Teman-temannya mendelik kesal, jawaban macam apa itu.
__ADS_1
Clarissa menyodorkan semangkuk soto yang sudah hampir habis karena Diki. "Mending kamu makan, ini udah hampir habis karena dia," ujar Clarissa menunjuk Diki.
"Salah sendiri lama," balas Diki yang tidak mau disalahkan. Untung saja Lya datang tepat waktu, hampir saja soto itu lenyap.
"Perut lo kayak karung!" Celetuk Keenan pada Diki. "Gimana tuh badan gak gede kayak kingkong. Makannya aja banyak banget."
Diki memukul kepala Lya. "Seenaknya aja kalau ngomong. Gue jahit muluy lo ntar, ganteng kayak idol kpop begini di katain kingkong," rutuk Diki.
Mira tertawa melihat kedua temannya. "Wajar, lagi masa pertumbuhan soalnya." Entah Mira sedang membela atau membantu Keenan mencibir Diki, yang pasti laki-laki bongsor itu tengah tersungut-sungut pada teman-temannya.
"Oh iya, nanti kalau mau balik sama Chintya gak apa-apa kok. Gue ada urusan sama babu gue yang satunya, jadi lo free hari ini." Ujar Lya pada Diki.
Diki mendelik. "Dih urusan apaan? Gaya banget lo."
"Sama siapa sih?" Clarissa ikut bertanya. "Devan?"
Lya melototi Clarissa. "Devan itu pacar! Bukan babu," ujarnya. "Adalah pokoknya. Rahasia negara," jawab Lya sekenanya. Mereka tidak bertanya lagi, percuma juga Lya tidak akan menjawab dengan benar pertanyaan dari mereka.
Bel istirahat berakhir berbunyi nyaring. Merwka yang ada di kantin segera bergerak meninggalkan tempat itu. "Mending kita ke kelas," ujar Mira.
Lya dan teman-temannya berjalan meninggalkan meja mereka, namun tidak sengaja mereka berpapasan dengan inti Rakasa. Lya tidak menoleh sedikitpun, dia tetap berjalan dengan santai melewati inti Rakasa sepeti tidak saling mengenal. Begitu juga Diki dan Clarissa, bahkan saat Noah menatap Clarissa pun gadis itu hanya melirik Noah sekilas.
"Kenapa masalahnya jadi rumit begini?" Gumam Juna. "Jadi bingung siapa yang salah, Lya nyalahin Karta. Karta nyalahin Bima. Kalau gue nyalahin Lisa, tapi yang Lisa tau dalangnya menjerumus ke kita. Tapi kita gak salah, kita gak ngelakuin itu."
"Ada yang salah, diantara kita semua. Masing-masing dari kita punya kesalahan di masalah ini," celetuk Elang. "Kita coba cari bukti sebisa kita. Seenggaknya kita cari bukti kalau Karta gak salah."
Karta mengangguk. "Gue lagi nyari wkatu buat ketemu Tomi. Dia sibuk kuliah katanya, jadi gak bisa gue temui dalam waktu dekat ini," ujarnya. "Bisa gue minta tolong lo buat temuin Lisa? Ajak dia ngobrol dan cari tau apa aja yang dia tau. Gue gak yakin dia tau kejadian yang sebenarnya dengan keseluruhan, dia pasti nuduh gue karena hari itu gue temui Tomi di markasnya. Apalagi kita ninggalin Bima disana, mungkin aja dia salah paham," ujar Karta lagi pada Noah.
Laki-laki itu hanya diam menatap Karta. "Gue mohon. Mungkin aja dia mau ngomong baik-baik sama lo!" Ujar Karta lagi.
Noah hanya mendengus. "Gak janji," jawab Noah berjalan menuju kelas meninggalkan teman-temannya.
Pembelajaran kembali di mulai. Lya merasa sangat bosan, seharusnya dia ikut saran Devan yang mengajaknya bolos. Coba saja dia ikut Devan dan Alix, pasti dia tidak akan mati kebosanan seperti sekarang. Diki saja sidah mengacak-acak rambutnya seperti orang gila, guru tua yang tengah mengajar di depan itu hanya sibuk mendikte buku paket tebal. Semua murid di suruh mencarat tanpa jeda, benar-benar tidak berperasaan. Lya paling tidak suka mencatat, penanya saja dia tidak tau ada dimana.
Setelah melewati banyak drama pembelajaran di kelas, akhirnya pembelajaran berakhir. Lya segera keluar bersama Diki. Mereka bertemu ketiga temannya di depan dan berjalan bersama menuju gerbang sekolah.
"Gue duluan ya, bye!" Celetuk Lya. Gadis itu berlari menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di depan gerbang. Setelah Lya masuk, mobil itu segera pergi meninggalkan kawasan sekolah.
"Lya pergi sama siapa sih?" Tanya Keenan penasaran.
Diki hanya mengendikkan bahunya tidak tau.
Mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Karena tidak ada kegiatan yang akan mereka lakukan lagi setelah ini.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)