GELYA

GELYA
CHAPTERS 97


__ADS_3

Tin tin


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Diki. Lya mengernyit heran, pasalnya dia kenal mobil itu.


"HEH GUE NYARIIN LO MALAH ASIK-ASIKAN DISINI."


Mereka menatap Clara cengo, kecuali Lya tentu saja. "Ngapain lo kesini?" Tanya Diki ketus.


"Nyariin ni ulat bulu," jawab Lya menatap Lya tajam.


Lya mendelik kesal. "Ngapain lo nyari gue, ular piton cacingan. Gak sopan lo datang-datang malah teriak gak jelas."


"Gue telpon lo berkali-kali dan gak lo angkat satupun," ketus Clara. Lya tersenyum kikuk mengingat ponselnya dia tinggal di mobilnya. "Gue tau dimana Tiara, Karta dan anak bawangnya itu dijebak. Gak ada Tiara di markas Drax, Tiara di culik sama anak Luxers."


Keenan mengerutkan keningnya. "Luxers? Mana mungkin. Luxers udah bubar lama, jangan ngaco lo," ujarnya tidak percaya pada Clara.


"Ck.. gak percaya lo sama gue?"


"Nggak!"


Clara terkejut mendengar jawaban mereka semua. Dengan kesal dia menoleh pada Lya. "Lo juga gak percaya sama gue?" Tanya Clara pada Lya.


Lya mengendikkan bahunya. "Percaya! Ayo cari Tiara. Kalau sampai lo bojong, gue patahin tulang rusuk lo," jawab Lya.


"Gue bagian tangan!" Mira ikut bersuara.


"Gue leher!" Ikut Keenan.


"Gue kaki aja," ujar Diki juga.


"Gue-"


"Lo cuma perlu diam Clarisot, banyak omong tanpa aksi itu disebut beban." Lya memotong ucapan Clarissa. Lagi-lagi membuat Diki dan Keenan cekikikan, kasihan sekali.


"Gue udah ngecek keadaan disana. Sekitar lima belas orang yang jaga," ujar Clara menghentikan ocehan tidak bermutu para manusia di hadapannya.


"Lo bisa tau dari mana?" Tanya Diki penasaran. Mana bisa dia percaya pada ular dihadapannya ini, lagi pula sejak kapan Clara bersikap baik sama mereka.


Clara mendengus. "Banyak tanya, buruan kalian gak punya banyak waktu!"


"Kita kurang orang," ujar Lya. Kalau musuh mereka ada lima belas dan mereka yang bisa bela diri hanya empat orang, sudah di pastikan kalau mereka akan gagal.


"Cari bantuan lah, bego banget sih," balas Clara dan langsung mendapat tatapan tajam dari Lya. Karena malam semakin larut, Lya memutar otak untuk mendapatkan ide yang bisa membantu mereka. Sibuk dengan pikirannya, dia tersenyum tiba-tiba. "Gue pergi dulu, kalian tunggu sebentar," ujar Lya berlari menjauh.


Mereka menatap Lya dengan bingung. Kemana gadis itu, pergi dengan berlari meninggalkan mobilnya disana.


"RIO!" Panggil Lya. Sesuai harapannya, ada beberapa anak Daksa di rumah Rio. "RIO!"


"Apaan sih lo, teriak-teriak dirumah orang," ujar Rio muncul.


"Gue butuh bantuan!" Lya berucap tanpa basa-basi. Tidak ada waktu membahas bacotan dari laki-laki di hadapannya ini.


Rio tersenyum miring. "Gue tau. Kapan sih lo nyari gue kalau lagi gak butuh," jawab Rio.


"Gue butuh banget. Tiara di culik dan ternyata Karta di jebak sama Ardian. Tiara gak ada di markas Drax sedangkan Karta dan yang lainnya udah berangkat kesana. Gue kurang pasukan buat nyelamatin Tiara."


Rio terdiam mendengar ucapan Lya. Cukup terkejut karena tau Tiara di culik, tapi lebih terkejut karena Lya terlihat sangat memohon padanya. "Please. Gue butuh bantuan lo," ucap Lya memohon lagi.


"Ayo!"


Rio dan Lya menoleh kearah pintu. Lioniel tengah berdiri disana dengan tangan yang sibuk memakai jaket gengnya. "Kita selamatin Tiara," ujar Lioniel lagi.


Lya tersenyum senang. Dia mengangguk dan berjalan kearah Lioniel. "Makasi banyak. Gue beneran butuh bantuan kalian. Setelah ini kalau kalian butuh sesuatu gue bisa turutin," ujarnya pada Lioniel.


Laki-laki setengah bule itu hanya mengangguk singkat. Dia langsung memerintahkan tujuh anggotanya untuk bersiap. "Gue di rumah Diki. Kalian bisa kesana kalau udah siap," ujar Lya lagi lalu berlari kembali ke rumah Diki.


Dengan kecepatan penuh, Lya berlari seperti tengah di kejar anjing pak Doddy yang biasa dia jahili bersama teman kompleksnya. Sampai dengan terengah-engah di depan Diki yang berdiri bingung menatapnya.


"Habis dari mana sih?" Tanya Diki.


Lya menetralkan nafasnya. "Kita berangkat sekarang. Lo pimpin jalan, gue bakal ikut mobil lo," ujar Lya menunjuk Clara.


"Aku ikut!" Clarissa berdiri di depan Lya. "Apapun itu, aku harus ikut. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, biarin aku ikut. Aku janji gak akan jadi beban, janji bakal dengerin semua perintah kamu."


Lya menatap Clarissa datar. Susah sekali membuat gadis ini mengerti. "Oke!" Jawab Lya akhirnya. Senyum Clarissa mengembang. "Lo stay di mobil bareng Clara, kalau gue berhasil bawa Tiara keluar, langsung bawa dia pergi dari sana. Liat kondisi dia, kalau butuh ke rumah sakit, langsung bawa aja," tambah Lya. Clarissa mengangguk patuh.

__ADS_1


Lioniel dan teman-temannya sudah sampai di depan rumah Diki. Mereka yang melihat itu terkejut mendapati tujuh motor sport berwarna merah berada disana.


"Jangan bilang kalau lo minta bantuan mereka?" Tanya Diki pada Lya dengan ekspresi tidak percaya.


Lya mengangguk. "Gak ada pilihan. Mereka mau bantu kita, gue jamin mereka lagi di mode baik," jawab Lya.


Tidak banyak bicara, mereka segera pergi dengan Clara yang menjadi petunjuk jalan. Lya dan Mira duduk di bangku penumpang mobil Clara dan Clarissa yang duduk di samping Clara.


"Kita gak susun rencana dulu?" Tanya Mira. Dia cukup merasa gugup, ini pertama kalinya dia ikut misi penyelamatan seperti ini.


"Gak ada. Datang, jemput Tiara dan pulang," ujar Lya sibuk memperhatikan jalan.


"Emang bisa di jemput gitu aja?" Tanya Clarissa membuat mereka mendengus. Seharusnya dia tidak perlu mempertanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.


"Bisa! Makanya gue suruh lo untuk nunggu di mobil," jawab Lya ketus.


Mereka sampai di gudang tua bertingkat. Terlihat sangat menyeramkan karena gudang itu tidak di beri pencahayaan sama sekali. Namun bisa Lya lihat ada sebuah lilin yang menyala meski sangat redup.


"Udah kayak uji nyali aja," celetuk Keenan saat mereka sudah berkumpul.


"Ssttt.. kita lagi sembunyi bego! Jangan ngomong keras-keras nanti kita ketahuan," peringat Diki menjitak kepala Keenan.


"Beneran ini tempatnya? Kok serem sih?" Tanya Rio yang sudah merapatkan dirinya pada Lioniel.


"Di setiap lantai ada yang jaga. Jujur aja yang gue tau ada lima belas orang, tapi gue gak yakin. Bisa lebih bisa kurang," bisik Clara.


"Lo masuk mobil sana, inget pesan gue. Kalau keadaan udah benar-benar gak aman telpon polisi," ujar Lya pada Clarissa dan Clara. Kedua gadis itu langsung kembali masuk ke mobil.


"Kita ada dua belas orang, gimana kalau kita bagi. Kita masuk empat dulu, untuk alihin musuh di lantai satu, terus yang lain masuk dan langsung ke lantai dua, empat orang lagi alihin musuh selagi empat lainnya naik ke lantai atas," jelas Lioniel.


"Setuju. Lioniel sama tiga lainnya masuk duluan, gue percaya sama lo Niel. Terus Rio pimpin tiga lainnya, gue, Diki, Keenan sama Mira bakal naik. Dan kalau kalian udah bisa ngalahin musuh, gue harap kalian cepat naik bantu yang lain." Ujar Lya.


Mereka semua mengangguk, mulai berjalan masuk, Lioniel dan tiga temannya langsung masuk dan benar saja, ada lima orang musuh disana. Dengan langkah cepat mereka mencari tangga dan naik ke lantai dua. Di lantai dua ada tujuh orang, mereka cukup terkejut. Rio dan ketiga temannya langsung melawan.


"Diki sama Keenan tolong bantu mereka, gue sama Mira naik," bisik Lya.


"Nggak! Gimana kalau di atas lebih banyak?" Tolak Diki.


Lya menggeleng. "Kita bakal sembunyi, usahain untuk gak terlalu buat keributan. Takutnya mereka sadar dan malah berbuat yang nggak-nggak ke Tiara."


Lya menarik tangan Mira untuk mengendap-endap naik ke lantai atas. "Banyak-banyak berdoa Mir, gue gak janji bisa bawa lo keluar dengan selamat abis ini," bisik Lya.


"Jangan ngomong begitu, lo bikin gue makin takut," balas Mira berbisik.


Tangannya menggenggam erat tangan Lya.


Lya dan Mira sangat terkejut melihat keadaan di atas. Bukan hanya Tiara yang ada, tapi juga Dara. Untung saja hanya ada tiga orang musuh disana.


"Berhenti nangis. Gue gak akan lepasin lo Tiara dan gak akan ada yang nyelamatin lo." Ucap seorang laki-laki yang berdiri di depan Tiara. Dapat Lya lihat kalau Tiara terlihat sangat ketakutan, apalagi saat laki-laki itu mengelus pipi Tiara.


"****!" Umpat Lya pelan.


"Kita bakal diam aja?" Bisik Mira, mereka tengah bersembunyi du balik kardus bekas.


"Kalau aja lo lebih milih gue dulu, lo gak akan begini Ra. Gue juga gak akan nyakitin Karta apalagi Bima. Sayang banget, lo maksa gue untuk bunuh teman lo itu."


Lya merasa hawa di sekitarnya memanas. Tangannya terkepal mendengar penuturan laki-laki yang tidak Lya kenal itu. "Urus yang di ujung Mir, dua lainnya bagian gue," ujar Lya lalu berlari.


BRUKK


Laki-laki di depan Tiara tersungkur di lantai.


"ANJING LO!" Teriak Lya.


BUGH


BUGH


Lya seperti kesetanan, memukuli dua orang laki-laki tanpa ampun. Meski dia juga harus mendapat pukulan, tapi dia tidak memyerah sedikit pun.


"SIAPA LO?" Tanya salah satu dari mereka.


"Malaikat pencabut nyawa lo!" Jawab Lya.


BRUKK

__ADS_1


BUGH


BUGH


BRAKK


Satu.musuh Lya terpental menabrak meja bekas dan jatuh tidak sadarkan diri. Lya meludari darah dari mulutnya, menatap tajam satu laki-laki yang sedari tadi menjadi targetnya. "Lo yang bunuh Bima?" Tanya Lya.


Laki-laki itu tertawa jahat. "Lo kenal Bima? Oh atau lo adik Bima?" Tanya laki-laki itu.


Lya menggeram marah. "Lo yang bunuh Bima?" Tanya Lya lagi.


"Iya!"


BUGH


"BANGSAT!"


"MATI LO! ANJING!"


BRUKK


Laki-laki itu terjatuh menabrak dinding.


Lya berdiri dengan nafas tersengal. Tubuhnya terasa mati rasa, namun dengan sekuat tenaga dia berjalan kearah Tiara dan Dara yang sudah menangis melihat Lya. Mira berlari membantu Dara membuka tali yang mengikatnya, sedangkan Lya lebih dulu membuka penutup mulut Tiara.


"Lya hiks.. kamu selamatin aku," ujar Tiara menangis. Lya hanya mengangguk, dia berusaha melepaskan tali yang mengikat Tiara.


"Makasi banyak!" Ujar Dara menatap Mira.


Tiara yang menangis menatap Lya tiba-tiba berteriak. "LYAA AWAS!" Teriak Tiara.


BUGH


Sebuah balok menghantam kepala Lya. Mata Lya terasa berkunang-kunang, tiba-tiba saja dia merasa gelap yang berbeda dari suasana ruangan ini.


"LYAA!"


"ANJING!"


"BRENGSEK!"


Diki dan Rio datang. Mereka menghajar laki-laki yang memukul Lya.


Lya linglung. Tiara memeluk tubuh Lya, darah segar mengalir dari kepala Lya. "Sadar, Ya. Tolong!" Tangis Tiara.


Mira dan Dara mengelilingi tubuh Lya. "TOLONG!" Teriak Mira. "Bertahan Ya!"


Diki segera mengambil alih tubuh Lya. "Ya, astagfirullahaladzim. Kita kerumah sakit sekarang," ujar Diki mengangkat tubuh Lya.


Tidak ada yang baik-baik saja. Lioniel dan teman-temannya berakhir dengan babak belur begitu juha dengan Diki, Keenan dan tenru saja Mira. Dara dan Tiara juga terluja di bagian ujung bibir. Pasti mereka mendapat perlakuan kasar dari orang-orang ini.


"OH MY GOD! GEL GEL!" Teriak Clarissa melihat Diki berlari menggendong Lya.


"Kita kerumah sakit," ujar Diki panik.


"Biarin Tiara sama Dara di mobil. Kita naik motor aja," ujar Mira pada Diki.


Melihat kondisi Tiara dan Dara membuat Diki mau tidak mau mengangguk. Dia meletakkan Lya di jok belakang bersama kedua temannya. Clara segera menjalankan mobilnya.


"Gel gel, bangun please," ujar Clarissa menggenggam tangan Lya. Air matanya mengalir dengan deras.


"Lya jangan tidur dulu, kamu harus kuat," bisik Tiara.


Tanpa mereka sadari, Lya sebenarnya masih sadar. Sedari tadi dia mendengar semua ucapan teman-temannya.


"Kenapa kamu ngelakuin ini Ya?" Tanya Tiara. "Kenapa harus ngorbanin diri kamu sendiri buat aku?" Tanya Tiara terisak.


"Karena lo mba Risa nya gue," jawab Lya pelan. Tiara semakin menangis, tangannya menggenggam erat tangan Lya. Kepala Lya yang menyandar di Clarissa menoleh pada Tiara. "Kalau Dika rela berkorban untuk Karta biar lo gak sedih, gue juga bakal berkorban untuk lo biar Karta dan Dika gak sedih," ujar Lya pelan.


Isakan pilu terdengar di mobil yang tengah melaju dengan kencang itu. Bahkan Clara sjaa sampai ikut menangis mendengar ucapan Lya.


"Lo kebahagiaan mereka berdua," ujar Lya lagi sebelum benar-benar menutup matanya.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2