GELYA

GELYA
CHAPTERS 52


__ADS_3

"Terima kasih pak. Saya selaku ayah dari Clara meminta maaf kepada sekolah terutama terutama kepada nak Lya, tolong maafkan Clara. Saya pastikan anak saya tidak akan melakukan hal seperti ini lagi," ucap ayah Clara.


Lya hanya mengangguk. Tidak ada yang datang mewakili Lya, dia beralasan bahwa ayah David sedang mengoperasi pasien dan bunda Intan sedang tidak enak badan. Pak Burhan tau Lya bohong, namun dia membantu Lya untuk meyakinkan kepala sekolah dan pemilik sekolah yang juga datang karena masalah ini sudah menyebar.


Clara di skors selama tiga hari begitu juga dengan teman-temannya. Lya memaafkan mereka dengan syarat untuk tidak mengganggunya lagi.


Lya keluar dari ruang BK, para orang tua yang datang sudah pamit duluan. Lya baru saja ingin kembali ke kelas namun pak Angkasa selaku pemilik sekolah menghentikan langkahnya.


"Kamu yang juara umum sekolah kan?" Tanya pak Angkasa.


"Iya pak," jawab Lya ramah.


"Mau masuk kelas? Saya lagi pengen minum es jeruk di kantin, mau saya traktir?"


Lya mengeluarkan cengirannya. "Kalau gratis mah gak ada jawaban selain iya pak!"


Laki-laki paruh baya itu tertawa, mereka berjalan beriringan menuju kantin. Saat sampai kantin, beberapa murid masih ada disana padahal sedang jam belajar. Pak Angkasa berjalan kearah salah satu meja yang berisi lima orang siswa yang sibuk dengan makanan mereka, Lya hanya mengikuti di belakang.


"Bukannya ini jam belajar?"


Lya sedikit terkejut mendengar suara pak Angkasa berubah menjadi berat dan tegas.


"Pah?" Salah satu dari mereka terkejut, tidak salah satu tapi mereka semua.


"Om," celetuk Juna membulatkan matanya.


"Ngapain disini? Gak belajar?" Tanya pak Angkasa.


"Tadi kita ulangan harian pah dan ngambil jam istirahat. Jadi baru istirahat sekarang," jawab Karta.


Lya mengerutkan keningnya. "Pah?" Gumam Lya bingung yang masih berdiru di belakang pak Angkasa.


"Oh iya! Gelya kenalkan ini anak saya, Karta."


Lya meringis, sedikit terkejut mendengar bahwa Karta adalah anak dari pemilik sekolah.


"Halo kak saya Gelya," ujar Lya mengulurkan tangannya pada Karta.


Plakk


Karta memukul tangan Lya. "Gak usah sok gak kenal," ujar Karta menatap tajam Lya.


"Lya mau jaga image nih di depan on Angkasa," timpal Juna.


Lya tertawa geli.


"Jadi kamu sudah kenal mereka?"

__ADS_1


"Siapa yang gak kenal seorang Karta Angkasa pemimpin geng motor bernama Rakasa, pangeran sekolah SMA Satu Nusa," ujar Lya.


Pak Angkasa tertawa. "Benar juga! Ayo duduk," titah pak Angkasa duduk di depan Karta sedangkan Lya duduk di samping Noah. "Juna tolong pesankan om es jeruk. Sekalian sama Lya," ujar pak Angkasa.


"Siap om! Lo mau apa Ya?" Tanya Juna.


"Gue es tawar aja bang! Soalnya pernah pake rasa tapi tetap ditinggalin!"


Pak Angkasa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan inti Rakasa mendengus mendengar jawaban Lya.


"Serius Ya!" Ujar Juna menahan emosi.


"Samain aja hehe," jawab Lya cengengesan.


"Papa ngapain kesini?" Tanya Karta.


"Habis ngurus kasus video yang tersebar itu," jawab papa Angkasa.


Noah menoleh kearah Lya. "Nanti kita bahas soal lagi, terakhir!" Ujarnya.


"Siap bos!"


Papa Angkasa menoleh. "Kalian yang ikut olim itu?" Tanyanya membuat Lya dan Noah mengangguk. "Saya sebenarnya kagum sama kepintaran kamu, baru kelas sepuluh saja kamu sudah bisa juara umum sekolah."


Lya tersenyum malu. "Alhamdulillah pak, rahmat dari Allah."


"Muka lo pengen gue tampol Ya," celetuk Elang.


"Tampol aja kalau berani," balas Lya kembali dalam mode bar-bar nya.


"Sudah-sudah!" Ucap pak Angkasa menengahi. "Orang tua kamu kemana? Kenapa tadi tidak datang? Kamu malah menghubungi paman dan bibi kamu yang juga tidak bisa datang," tanya pak Angkasa lagi.


"Orang tua saya kerja diluar negeri pak jadi TKI," jawab Lya. "Saya numpang di rumah sepupu saya pak!"


Lagi-lagi inti Rakasa menahan kesal mendengae jawaban Lya.


"Om saja, jangan pak. Kamu teman Karta."


"Iya om hehe."


"Sudah lama orang tua kamu jadi TKI?"


"Iya om, sud-"


"Gak usah percaya pah," ujar Karta memotong kalimat Lya. "Orang tua dia emang di luar negeri tapi bukan jadi TKI yang papa pikirin, dia anak orang kaya."


Lya hanya menyengir tanpa dosa.

__ADS_1


Papa Angkasa menggelengkan kepalanya. "Kamu bohongin saya?"


"Eh nggak om! Serius," jawab Lya terlihat panik. "Kan kalau orang Indonesia kerja di luar negeri namanya jadi TKI."


"Tapi gak gitu konsepnya Lya, TKI jadi tenaga kerja sedangkan orang tua lo yang ngasih kerjaan buat orang-orang," jawab Kevin.


"Om tau gak? Dia ini pentolannya Rakasa om. Suka bener cari masalah, masalah tuh udah kayak hal wajib dilakukan setiap hari sama dia," celetuk Juna yang membawa dua gelas es jeruk dan satu piring gorengan.


"Lo cocok jadi pelayan kantin bang," cetus Lya membuat mereka tertawa.


Juna menjitak kening Lya. "Sialan lo!"


"Jun!" Tegur papa Angkasa.


"Ampun om," cengir Juna.


"Jadi kamu jago bela diri dong?"


"Bukan lagi om! Dia mah kerjaannya mukulin orang terus!"


Lya menyumpal mulut Juna dengan gorengan. "Yang ditanya tuh gue bang, mulut lo gak bisa banget diam. Gue jahit baru tau rasa."


Karta yang jengah pun mengeluarkan suara. "Yang Juna pukulin sampai masuk rumah sakit itu ya Lya pah, Lya juga yang nolongin Tiara waktu itu!"


Papa Angkasa terlihat kagum. "Hebat kamu! Om kalau bisa juga mau punya anak perempuan terus bisa bela diri juga."


"Pah!" Tegur Karta.


"Karta gak pernah mau punya adik, kata dia cukup dia aja yang jadi anak papa sama mama. Dia takut gak di sayang lagi, manja banget," bisik papa Angkasa pada Lya membuat Lya tertawa.


"Pah!" Karta terlihat kesal.


"Oh iya, siapa nama orang tua kamu? Saya penasaran bagaimana bisa mereka punya anak secantik dan sehebat kamu."


"Mami saya namanya Risma om, kalau papi namanya Agung," jawab Lya mendiami papa Angkasa.


Lya menatap papa Angkasa yang terdiam. "Kenapa om? Om kenal orang tua saya?" Tanya Lya.


Papa Angkasa mengedipkan matanya beberapa kali. "Saya rasa pernah mendengar nama orang tua kamu, mungkin saja pernah bertemu di acara temu perusahaan atau sejenisnya," jelas papa Angkasa membuat Lya mengangguk.


"Ya sudah, om harus kembali ke kantor. Kalian jangan bikin ulah, Gelya juga jaga dirinya," ujar papa Angkasa.


Mereka semua mengangguk dan ikut berdiri. Sebelum pergi, papa Angkasa sempat mengelus kepala Lya membuat gadis itu terpaku. Kenapa orang-orang sangat suka membuatnya merasa nyaman seperti ini.


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)

__ADS_1


...Tbc....


__ADS_2