
"Papah dari anak-anakku," jawab Lya membuat Devan kesal dan merasa malu. Baru saja dia datang tapi Lya sudah menyambutnya dengan kata-kata gombalan, melihat Lya tersenyum saja sudah membuat jantungnya berolahraga apalagi harus menghadapi ucapan manis dari gadis itu.
"Bacot lo!" Umpat Devan. Bukannya marah, Lya malah tertawa. Bagaimana tidak, telinga Devan kembali memerah seperti saat mereka di rooftop kemarin.
"Anjirr! Devan salting. Telinganya merah," celetuk Kevin. Mereka langsung melihat Devan dengan tatapan menggoda.
"Ekhem," dehem Alix mendudukkan dirinya di samping Kevin.
"Dev!" Panggil Lya.
Devan hanya menaikkan sebelah alisnya menanggapi panggilan Lya.
"Lo siapanya dewa 19 sih?"
Devan mengerutkan keningnya. "Hah? Maksud lo?"
"Pintar banget bikin gue kangen," timpal Lya membuat para laki-laki disana berteriak geli. Juna bahkan sampai menggigit sendoknya. Para gadis tertawa melihat tingkah Lya.
"Gila Lyaaaaaa! Ngalus banget," ujar Elang.
Devan malu bukan main, tapi dia harus menjaga eskpresi wajahnya. Dia tidak boleh terlihat lemah oleh gombalan receh Lya, walaupun sebenarnya dia ingin sekali tersenyum.
"Senyum aja kali, jangan di tahan-tahan!" Celetuk Karta mengetahui bahwa Devan sebenarnya tersipu dengan gombalan Lya.
Lya hanya tertawa menanggapi tanggapan dari teman-temannya.
"Lagi Ya!" Ujar Kevin.
"Dev, kalau pasien terkena gejala rindu dibawa kemana?" Tanya Lya lagi.
"Kemana tuh?" Timpal Juna mengompori.
"Ke ruang I see you," jawab Lya mengedipkan matanya pada Devan.
Habia sudah usaha Devan. Laki-laki itu memerah sempurna.
"Lya setann!" Umpat Devan membiat teman-temannya tertawa.
Juna tertawa sampai memukul-mukul lengan Noah. "Ngerasa gagal gue jadi cowok ngeliat reaksi lo begitu Dev."
"Halah lo lebih gagal. Katanya fukboy tapi di putusin satu cewek aja galaunya gak ketulungan," sindir Kevin pada Juna.
Juna mengerucutkan bibirnya menatap Kevin kesal. "Ririn itu spesial! Dia itu istimewa."
"Biasanya bang, yang istimewa itu yang ninggalin luka," celetuk Lya pada Juna.
__ADS_1
"Makanya, udah tau lo beneran cinta. Kenapa masih selingkuh sana sini, gak guna cewek-cewek lo yang banyak itu. Rasain! Karma lo sekarang," ujar Elang mencibir Juna.
Juna menyenderkan kepalanya di bahu Noah. Noah segera mendorong kepa Juna namun Juna menolak dan tetap pada posisinya. "Nyesal gue!" Cicitnya.
"Lo di putusin Ririn bang?" Tanya Diki pada Juna.
Juna mengangguk. "Gue udah janji buat gak duain dia, tapi gue tetap jalan sama yang lain," jawab Juna. "Gue kan udah biasa begitu. Awalnya gue kira bakal biasa aja, tapi setelah Ririn benar-benar putusin gue. Gue nyesel, gue beneran cinta sama dia."
"Gak apa-apa, begitu aja lagi," ujar Karta sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.
"Tobat! Gak semua cewek bisa lo mainin kayak gitu," nasihat Noah mendorong kepala Juna.
"Bang Juna!" Panggil Lya membuat Juna menatapnya. "Kalau kata bang Fiersa Besari, cewek itu seumpama laut. Tenang bukan berarti gak bisa ngamuk, menyambut bukan berarti gak menenggelamkan, menghidupi bukan berarti gak mematikan. Marahnya cewek itu diam, terus menghilang."
Bukan hanya Juna yang terdiam. Mereka yang ada di ruangan itu ikut terdiam.
"Ririn capek. Dia juga punya batas sabar, kalau dengan ngomong baik-baik tapi lo masih sia-siain. Perginya dia itu udah titik terakhir yang bakal dia tunjukin ke lo bang."
"Gue udah minta maaf sama dia. Dia bilang dia maafin gue, tapi dia gak mau balikan sama gue Ya," ujar Juna.
"Lo itu kayak anak sekolah yang masuk jam tujuh tapi berangkat jam delapan," ujar Lya.
Juna tidak mengerti. "Maksudnya?"
"Terlambat!" Satu kata jawaban yang keluar dari Lya kembali mendiami Juna. Laki-laki terlihat berpikir, berpikir keras lebih tepatnya.
Lya terlihat berpikir. "Pasir mungkin," jawabnya. "Semakin kuat di genggam, semakin bertaburan."
Devan tidak melepaskan pandangannya dari Lya. Matanya menatap lekat gadis cantik itu. Dia mengakui pesona Lya tidak main-main, terpana dengan senyumnya dan terkagum dengan semua perkataannya. Lya mengikat perhatian Devan agar Devan tidak teralihkan. Devan suka!
"Gak yakin gue kalau Lya gak pernah pacaran, lo keliatan banget soal beginian!" Celetuk Elang.
Dara mengangguk menyetujui. "Kata-kata lo keren Ya, lo pinter banget."
"Orang yang gak pernah pacaran bukan berarti gak pernah jatuh cinta kan?" Tanya Lya membalikkan ucapan Elang.
"Ya!" Panggil Juna lagi. "Menurut lo gue harus apa? Gue udah minta maaf ke Ririn, apa gue harus minta maaf ulang? Gue beneran cinta sama dia Ya. Karma beneran gue."
Lya sedikit tidak paham sebenarnya. Dia tidak tau permasalahan Juna dan mantannya itu. "Waktu lo minta maaf ke Ririn, dia ada ngomong apa aja?"
"Dia bilang, dia bakal berdoa supaya gue berubah dan dapat yang terbaik. Tapi gie bilang ke dia kalau dia yang terbaik buat gue."
"Ya udah, lo ikut doa juga. Berdoa sama Allah semoga cewek yang terbaik itu Ririn. Seperti kemauan lo!"
"Udah! Tapi sama aja, doa dia ngehalangin doa gue," ujar Juna terlihat frustasi.
__ADS_1
"Biarin! Doa aja yang banyak, biar doa lo sama doa dia duel di langit. Selebihnya biarin Allah yang nentuin siapa yang menang."
"Gitu ya?" Tanya Juna tidak yakin.
Lya mengangguk. "Allah itu penulis skenario terbaik bang! Gak ada yang bisa nandingin."
"Perbaiki diri lo dulu, abis itu baru minta apapun ke Allah. Allah emang maha mengasihi, tapi apa sopan seorang hamba yang hina apalagi sejenis lo minta berbagai macam sama Allah," timpal Noah yang sedari tadi diam. "Allah emabg maha pendengar, pengampun, penyayang dan segalanya. Tapi gak etis banget kalau kita nangis-nangis mohon dan minta sesuatu di saat kita down aja. Pas senang lupa, pas sedih berasa hina banget."
Mereka yang mendengar perkataan Lya dan Noah mendadak bungkam. Beberapa dari mereka tiba-tiba saling tatap seperti Devan dan Alixy, ada Diki yang menunduk mendengar ucapan Noah. Ada Kevin dan Karta yang juga merasa tersindir dengan ucapan Noah. Para gadis yang hanya diam mendengarkan dan Juna yang merasa sangat bersalah.
"Gak nyesal gue temenan sama kalian berdua," celetuk Elang mencoba mencari topik pembicaraan.
Lya tertawa dan Noah hanya mengendikkan bahunya.
"Mending kalian siap-siap, udah jam sembilan. Kita ke laboratorium sekarang aja," ujar Tiara pada Noah, Lya dan Lolita.
"Ayo mba!"
"SEMANGAT!" Teriak Juna dan kevin bersama.
"Semangat yah! Kalian pasti bisa, yakin gue," ujar Dara menyemangati Lya, Noah dan Lolita.
"Semangat ya Lya," ucap Lya ikut menyemangati Lya.
"Makasih Chintya," balas Lya tersenyum.
Diki berjalan menghampiri Lya dan memeluk gadis itu. "Semangat! Nanti gue sama Cla bakal nungguin lo diluar ruangan," bisik Diki mengecup puncak kepala Lya sebelum melepas pelukannya. Lya mengangguk dan tersenyum.
Karta menghampiri Lya. "Gak usah terburu-buru. Gue percaya lo bisa, semangat!" Ujar Karta mengelus kepala Lya.
"Makasi bang."
Tiara tersenyum lalu menggandeng tangan Lya untuk keluar, sebelum itu Lya sempat melirik kearah Devan yang tengah tersenyum padanya. Entah kenapa pipi Lya terasa panas, gadis itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Ketiga utusan sekolah itu keluar bersama Tiara dan Elang. Sedangkan yang lainnya masih disana.
"Juna! Lo sama Kevin tolong bilang sama anak-anak buat mantau sekolah sesekali, suruh beberapa anggota juga keliling ke kelas-kelas. Gue yakin Ardian gak akan mau biarinsekahnya ngutus murid-murid tanpa dia. Lioniel juga kayaknya ikut," ujar Karta.
"Siap bos!"
"Thanks."
Dua sekolah lainnya yang datang adalah SMA Harapan yaitu sekolah Lioniel dan SMA Bineka Satu yaitu sekolah Ardian. Karta hanya takut jika pemimpin geng motor itu berbuat ulah di sekolah, sebenarnya selagi mereka menjaga sikap, mereka akan aman.
...🌻...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)