
Motor Karta berhenti di depan rumah Tiara. Tiara segera turun dan melepas helmnya.
"Kamu langsung pulang ya, udah mau magrib," ujar Tiara.
Tapi Karta tidak menjawab. Laki-laki itu terlihat murung, tatapannya kosong melihat jalan.
"Karta," panggil Tiara lembut. Dia mengusap lengan Karta. "Lya pasti baik-baik aja."
Karta mendengus pelan. "Aku masih gak percaya dia sakit parah Ra."
"Kita doa buat Lya. Yang penting, kita harus selalu semangatin Lya supaya dia semangat untuk berobat."
Karta menggenggam tangan Tiara. Laki-laki itu merasa beruntung memiliki Tiara. "Makasi ya! Kamu selalu ngertiin aku."
Tiara tersenyum lembut. "Aku ngerti perasaan kamu. Dari awal aku ketemu Lya, aku udah yakin kalau dia anak yang baik. Tau kalau kamu buka hati untuk temenan sama dia ngebuat aku senang. Kamu bilamg kalau Lya bisa bikin kamu nyaman dan aku gak masalah, kamu izin ke aku untuk dekat sama Lya dan aku juga gak masalah. Kamu punya Lya sedangkan aku punya Bian, mereka punya tempat tersendiri di hati kita. Mereka sama-sama kita anggap sebagai saudara. Aku juga paham kenapa kamu bisa sekhawatir ini sama Lya, karena Lya adik Bima. Dan aku ngerti itu!"
"Sekali lagi makasi ya."
"Iya. Sekarang kamu pulang, besok kita jenguk Lya."
Karta mengangguk lalu segera pergi meninggalkan rumah Tiara. Hubungan keduanya sangatlah sehat, sama-sama dewasa menanggapi segala sesuatu hingga mereka sangat jarang bertengkar. Bahkan Elang secara terang-terangan mengatakan iri dengan kelancaran hubungan Tiara dan Karta. Padahal dia jauh lebih dewasa dari Karta dan Tiara tapi dia malah lebih sering bertingkah kekanakan jika sudah bersama Dara.
...🌻...
Lya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Mami Risma dan bunda Intan sudah berada disana bersama Clarissa.
"Gel gel, kamu laper gak?" Tanya Clarissa yang duduk di kursi di samping brangkar Lya.
"Lapar. Pesan makan sana!" Ujar Lya.
"Gak boleh! Kamu harus makan makanan dari rumah sakit," ujar mami Risma.
"Makanan rumah sakit tuh gak enak mi, gak bikin kenyang juga. Lya mau makan mie ayam bakso!"
Bunda Intan menggeleng. "Nanti tunggu udah keluar baru boleh jajan lagi."
"Kan yang sakit tangannya, bukan mulut apalagi perut," ucap Lya tetap membujuk.
"Kalau di kasih tau orang tua tuh nurut coba."
Lya mendengus kesal. Sedangkan Clarissa tengah tersenyum kikuk, takut ikut kena omel karena dia yang memulai.
Ceklek
Pintu dibuka oleh Diki yang datang bersama ayah David dan papi Agung.
"Udah malam bun, kita pulang yuk!" Diki datang menghampiri bunda Intan.
"Iya, kalian pulang aja sekalian sama Clarissa," ujar ayah David.
"Clarissa nginep disini aja deh, boleh ya, pi!" Clarissa meminta izin pada papi Agung.
__ADS_1
"Nanti kamu susah tidurnya, disini gak ada kasur. Kamu pulang aja, besok kesini lagi."
Clarissa mengerucutkan bibirnya. Niatnya dia ingin menemani Lya disini. "Tidur bareng Gel gel kan bisa."
Lya menepuk lengan Clarissa. "Pulang aja Cla, kasur udah kecil gini mau lo tumpangin lagi. Besok balik sekolah kesini lagi."
"Udah, ayo pulang. Entar lo nyusahin mami sama papi kalau disini." Diki mendekati Clarissa dan menarik tangan gadis itu hibgga Clarissa mau tidak mau mengikuti Diki.
Bunda Intan mendekati Lya. "Bunda pulang dulu, besok bunda bikinin pie susu untuk Lya. Kamu istirahat yang banyak."
Lya tersenyum. "Yes! Siap kapten!"
Mereka semua keluar dan menyisakan papi Agung dan mami Risma yang menjaga Lya. Lya membaringkan tubuhnya, menarik selimut menutupi tubuhnya dibantu mami Risma. Papi Agung duduk di sofa ruangan sambil membaca koran.
"Mami!" Panggil Lya.
"Kenapa?"
"Lya kemarin habis dari panti asuhan. Mami tau gak? Panti asuhan yang sering Lya datengan bareng teman-teman Lya itu enak tau. Anaknya lucu-lucu, baik-baik juga."
"Sama anggota geng motor kamu itu?"
Lya mengangguk. "Iya. Tapi ada satu anak yang bikin Lya selalu pengen kesana. Namanya Dirga, ganteng banget mi. Tapi sayang, dia beda."
"Beda kenapa?" Tanya mami Risma penasaran.
"Dia di jauhin teman-temannya karena dia sering marah-marah, dia gak suka gabung sama yang lain. Dia sendirian, dia bipolar."
"10 tahun. Anaknya pintar banget, Lya berhasil dekatin dia. Awalnya kata ibu panti, gak ada yang berhasil dekatin dia. Lya kasihan mi, dia kesepian. Lya pengen temenin Dirga terus jadinya, dia takut kalau Lya ngelupain dia."
"Kamu sering-sering kesana makanya. Mami jadi ikut sedih, umur segitu udah kena bipolar. Pasti dia tersiksa banget."
"Besok-besok mami harus ikut Lya ketemu Dirga, biar mami bisa liat gimana gantengnya adik Lya."
Mami Risma tersenyum. Tangannya terulur mengusap kepala Lya, tidak berbeda dengan papi Agung. Laki-laki itu juga tersenyum mendengar cerita Lya.
...🌻...
"Lya lagi ngapain ya?" Gumam Devan. Laki-laki itu tengah berbaring di kasurnya, ingin sekali dia pergi kerumah sakit menemui Lya sekarang, namun melihat jam sudah hampir jam sembilan dan dia sadar Lya perlu istirahat.
"Telpon gak ya?"
"Atau chat aja?"
"Aarrhhgg kenapa gue jadi pusing sendiri sih?"
Tubuh Devan yang awalnya telungkup jadi telentang menatap langit-langit kamarnya. Merasa frustasu memikirkan Lya.
^^^Lo udah tidur?^^^
Devan mengetik tiga kata lalu segera mengirim pesannya pada Lya.
__ADS_1
Waktu sudah berjalan tiga menit dan Lya belum juga membalas pesannya. Karena kesal, Devan melempar ponselnya ke ujung kasur. Matanya terpejam mencoba tidur walaupun dia tau dia tidak mungkin bisa tidur jam segini.
Ting!
Bunyi notifikasi membuat Devan bergerak heboh menyambar ponselnya.
Gelya sayang❣️
Belum, kenapa?
Devan tersenyum menatap layar ponselnya. Mencoba untuk tidak membalas pesan itu terlalu cepat agar Lya tidak mengira Devan sedang menunggu pesan darinya. Namun belum sampai dua menit, Devan sudah tidak tahan dan memilih membalas pesan Lya.
^^^Gimana keadaan lo?^^^
Devan kembali menunggu balasan Lya, namun semakin lama pula Lya membalas pesan Devan.
"Ck.. ni bocah pasti tidur."
Ting!
Gelya sayang❣️
Gue udah baik-baik aja.
^^^Kalau udah baik-baik aja kenapa balas chat gue lama banget?^^^
Devan membalas dengan cepat, berharap Lya juga membalas pesannya dengan cepat. Namun kembali lagi pada Lya yang mengirim balasan pesannya dengan waktu yang lumayan lama, membuat Devan semakin kesal.
Ting!
Gelya sayang❣️
Jaringan gue gangguan.
^^^Masa sih? Pake kartu apa lo? Bohong banget, di tengah kota mana mungkin gangguan.^^^
Kartu malah lah, jaringannya sih 4G!
^^^Tuh kan ketahuan bohongnya.^^^
*Tapi hati gue 4*U
"Anjing!" Devan berteriak melempar ponselnya. Laki-laki itu tengah menenggelamkan wajahnya di bantal. Kakinya menendang-nendang selimut, menggelepar seperti ikan kehilangan air. Wajah Devan merona!
"BANGSAT! HATI DIA BUAT GUE WOY, LYA SETAN MALU GUE!"
sevan berteriak kesetanan. Padahal hanya pesan singkat dari Lya namun bisa membuatnya terbang menabrak langit.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1