
Lya tau kalau adiknya ini sangat pintar, apalagi selama ini Dirga sering sekali meminjam buku-buku Lya. Entah itu buku cerita atau buku pengetahuan umum, Dirga sering kali ketiduran dengan buku di dekatnya. Lya rasa Dirga sangat mirip dengan Bima, mereka sama-sama pintar dan suka membaca. Berbeda dengan Lya, dia sangat malas membaca untungnta Lya punya otak yang cerdas dan itu sangat membantu.
Tidak berapa lama kemudian, mobil Lya sudah berhenti di halaman rumah Karta. Lya keluar dan membantu Dirga membuka pintu mobil.
"Ayo masuk!" Ajak Karta pada Lya dan Dirga. Mereka berjalan menuju pintu rumah dan langsung masuk.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Sudah datang, ayo masuk," ujar mama Alira menghampiri Lya dan Dirga. "Ini siapa Ya?" Tanya mama Alira menatap Dirga.
"Ini Dirga tante, adik Lya. Dirga salim dulu sama tante Alira," jawab Lya. Dirga segera menyalami tangan mama Alira.
Mama Alira terlihat bingung namun tetap tersenyum menyambut Dirga. "Aduhh ganteng banget sih!" Puji mama Alira.
Dirga tersenyum mendapat pujian untuknya. Mama Alira mengajak mereka untuk duduk di ruang tamu, sedangkan dia pergi ke dapur menyiapkan minuman.
"Dirga itu anak panti yang sering kita kunjungi mah, Lya sama orang tuanya memutuskan untuk adopsi Dirga," jelas Karta mengikuti langkah mamahnya.
Mama Alira hanya mengangguk mengerti. "Mama sedikit bingung tadi, tapi mereka baik banget ya. Mana Dirga ganteng banget, mama jadi pengen punya anak ganteng begitu," balas mama Alira.
"Karta udah ganteng, paling ganteng di sekolah. Mama udah punya Karta!" Potong Karta menatap mama Alira kesal.
Mama Alira tertawa. "Iya iya, kalau gitu ambil gelas sana."
Karta mengangguk. Dia membantu mama Alira membawa air minum untuk kedua tamunya.
"Duh pakek repot-repot segala bang, kan jadi enak," celetuk Lya pada Karta. Laki-laki yang tengah meletakkan sebuah nampan di meja pun merotasikan matanya malas.
Mama Alira pun ikut bergabung. "Tante minta Karta jemput kamu kesini karena mau ajak Lya bikin kue."
Lya cengo. Kue? Masak air saja hangus apalagi buat kue. Lya hanya terkekeh kecil namun matanya menatap Karta, laki-laki yang ditatap pun menyeringai puas. Tentu saja Lya merasa kesal, seharusnya Karta mengatakan terlebih dahulu jika dia mengajaknya kesini untuk membuat kue. Lya pasti akan malu sekarang.
Karena Lya hanya diam tanpa menjawab ucapan mama Alira, Dirga yang tau kenapa pun bersuara. "Kak Lya gak bisa masak tante," celetuk Dirga.
__ADS_1
Mama Alira terkekeh. "Gak apa-apa. Makanya kita belajar sekarang biar Lya tau dan terbiasa," jawab mama Alira membuat Lya semakin tertekan. "Yuk ke dapur," ajak mama Alira pada Lya.
Lya hanya tersenyum canggung, dia berdiri dari duduknya. Menatap Karta dengan tajam menandakan dia tengah memusuhi laki-laki itu. Bukannya takut, Karta malah tertawa mengejek. Lya yang kesal pun segera meninggalkan ruang tamu dan menyusul mama Alira ke dapur.
Mama Alira sudah menyiapkan berbagai bahan untuk membuat kue. Lya hanya diam menatap mama Alira yang sibuk sendiri.
"Karena Lya suka brownies, kita sekarang buat brownies aja. Gimana?" Tanya mama Alira.
Lya mengangguk menyetujui. "Lya ngikut aja deh tante." Suara Lya terdengar putus asa.
Mama Alira tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Kamu gak di suruh perang Lya, cuma bikin kue aja. Kok lemes begitu sih? Semangat dong," ujar mama Alira.
"Kalau disuruh pilih mukulin sepuluh preman atau disuruh buat kue. Lya bakal pilih mukulin banyak preman tante, Lya punya pengalaman buruk di dapur. Lya pernah hampir bakar dapur bunda Intan, kalau Lya ngulang lagi disini gimana?" Jelas Lya frustasi.
Mama Alira tersenyum pada Lya. Lya akui mama Alira sangatlah cantik, senyuman mama Alira terasa menenangkan. "Belajar sayang. Gak selamanya kamu bisa mengandalkan orang lain apalagi kamu anak perempuan. Wajib untuk kamu mengerti berbagai urusan di dapur," jelas mama Alira dengan lembut.
Helaan nafas berat keluar dari mulut Lya. "Kalau Lya salah jangan di omelin ya tente," ujar Lya akhirnya.
Mama Alira terkekeh lalu menggeleng cepat. Karta yang mendengar percakapan Lya dan mama Alira ikut tertawa. Benar-benar tidak habis pikir dengan adik temannya itu, penampilan Lya tidaklah tomboy seperti kebanyakan gadis dengan kepribadian pria lainnya. Lya cukup baik dalam hal make up dan pakaian, hanya saja gadis itu terlalu nyaman dengan pakaian yang simple dan warna yang tidak terang.
"Ini gula sayang, kan tante suruh Lya masukin tepung," ujar mama Alira.
Lya terkejut. "Masa sih?" Dia mencolek benda halus berwarna putih itu lalu menjilatnya. "Eh iya gula ternyata," ujar Lya saat merasakan manis di lidahnya.
Mama Alira menggeleng heran. Walaupun sama-sama putih tapi tekstur dari kedua benda itu sangatlah berbeda. Lya benar-benar buta dengan bahan-bahan dapur.
"Lihatlah wanita muda itu, sangat primitif!" Celetuk Dirga menatap Lya datar.
Karta mati-matian menahan tawanya. Kalau Lya mendengar ucapan Dirga, sudah dia pastikan kalau Lya akan berteriak protes dan mengocehi Dirga.
Lya kembali sibuk dengan pekerjaannya. Cukup frustasi karena dia tidak tau apapun. Mama Alira cukup membantu, namun tetap saja membingungkan bagi Lya.
Setelah memakan banyak waktu, akhirnya Lya selesai membantu mama Alira. Dia membereskan semua bekas peralatan yang dia pakai dan segera bergabung dengan Karta dan Dirga.
__ADS_1
Melihat Lya yang tengah menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan keringat yang membanjiri keningnya membuat Karta kembali tertawa. "Kenapa lo?" Tanya Karta.
"Habis perang!" Jawab Lya memejamkan matanya.
Dirga yang tengah sibuk dengan mainan lego milik Karta menoleh kearah Lya. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil selembar tisu lalu mengelap keringat Lya. Karta memperhatikan pergerakan Dirga dalam diam.
"Tangannya sakit?" Tanya Dirga.
Lya menggeleng dengan mata yang masih terpejam, tangan kecil Dirga bergerak memijat lengan Lya. "Kalau ada yang skait bilang, Dirga gak mau kakak kayak semalam lagi," ujar Dirga membuat Lya membuka mata.
"Gak sakit," jawab Lya. "Kakak capek, pusing juga. Kan kamu tau ini pertama kalinya kakak masak, otak pintar kakak langsung ngelag."
"Semalam?" Beo Karta. "Semalam kenapa?" Tanya Karta.
"Gak kenapa-kenapa," jawab Lya.
Dirga menoleh kearah Karta. "Kalau malam kak Lya suka kesakitan. Apalagi kalau tangannya habis di pakek kerja keras."
Karta terdiam, dia pikir Lya sudah baik-baik saja. "Sering?" Tanya Karta.
Lya menggeleng. "Nggak bang! Kadang-kadang aja. Itu biasa, gejala dari penyakit gue."
"Pasti karena semalam lo berantem. Ini yang gue takutin kalau lo berantem lagi," ujar Karta.
"Gue beneran gak kenapa-kenapa. Selagi rutin minum obat dan cek ke dokter, gue bakal baik-baik aja. Jangan berlebihan!"
Karta mendengus. "Bukan berlebihan, gue khawatir. Lo bukan orang asing bagi gue Ya, lo adik gue. Jangan buat gue gagal lagi untuk yang kedua kalinya." Jawaban Karta mendiami Lya.
"Jangan marah-marah, Dirga gak suka kak Lya dimarahin."
Baik Lya maupun Karta tidak ada lagi yang bersuara, mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing. Lya tau kalau Karta akan lebih protektif kepadanya setelah dia tau kalau dia adiknya Bima, terlebih karena penyakitnya. Lya maklum dan merasa senang di perhatikan Karta, apalagi ada Dirga yang sangat mengerti Lya. Hampir setiap malam Lya mengeluh kesakitan namun hanya Dirga yang menemani dia. Lya tidak ingin mami dan papinya tau membuat Lya mati-matian membujuk Dirga agar tidak membuka suara.
...🌻...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw prenku.