GELYA

GELYA
CHAPTERS 86


__ADS_3

Pak Burhan menggelengkan kepalanya merasa pusing melihat tingkah laku muridnya. Apalagi Lya, masih ingat saja dia percakapan aneh mereka beberapa minggu yang lalu.


"Dev!" Panggil ketua kelasnya saat Devan dan Alix baru saja datang ke sekolah dengan terlambat. Sangat terlambat malah, untung saja kelas mereka sedang tidak ada guru yang mengajar. Devan cukup berterima kasih pada ketua kelasnya yang selalu memberi kabar padanya tentang kehadiran guru.


"Apa?"


"Gue tau sih kalau telat itu udah jadi kebiasaan lo. Cuma seharisnya hari ini lo datang lebih pagi."


"Lo manggil gue cuma mau ngomong ini? Gak penting banget," balas Devan hendak berjalan menuju kursinya.


"Tadi Lya sama Clara berantem!" Beritahu Hadi.


Devan menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Hadi dengan wajah tidak santai.


"Serius?"


"Iya. Tanya aja yang lain!"


"Aman kok Dev. Lya selalu menang, asal gak di jebak kayak kemarin aja!" Seorang teman yang lain ikut bersuara.


"Lo lambat sih, seru tau. Teman-teman Clara dan Lya juga ikut."


Devan mendengus. "Terus gimana?"


"Mereka di bawa pak Burhan ke lapangan."


Devan melempar tasnya ke arah Alix dan segera berjalan keluar kelas. Langkah lebarnya dengan cepat membawa Devan ke lapangan.


"Lya!" Panggil Devan.


Lya menghentikan larinya. "Ngapain kesini?"


"Lo istirahat aja. Gak usah ikut lari."


"Enak aja. Ini semua karena dia, seharusnya dia yang di hukum sendirian," ujar Clara ikut menghampiri Devan.


"Gue gak ngomong sama lo!" Balas Devan.


Lya tertawa. "Rasain!" Ledek Lya pada Clara. Gadis itu menjulurkan lidahnya.


"Heh kenapa kalian malah disini?" Tanya pak Burhan.


"Capek pak!"


"Udah ya pak!"


Clarissa dan Mira ikut menghentikan larinya.


"Aduh, kaki gue!"


"Capek pak!"


Teman-teman Clara ikut berhenti.


"Siapa suruh kalian berantem? Kamu juga, ngapain disini?" Tanya pak Burhan pada Devan.


"Nemuin pacar saya pak!" Jawab Devan santai. Clara yang mendengar itu merasa sangat kepanasan apalagi Lya sekarang tengah berlagak sombong di depannya.


"Masuk ke kelas sana!"


"Kelas saya gak ada gurunya."


"Tetap saja!" Balas pak Burhan. "Lanjutin hukuman kalian atau saya tambahin, bersihkan toilet di lantai satu dan dua!"


"NGGAK!"

__ADS_1


Teriak mereka frustasi. Sudah hampir mati berlari dan di tambah bersihkan toilet. Tentu saja mereka menolak.


"Saya hitung sampai tiga. Satu... Dua... Ti..."


Mereka semua berlarian melanjuykan hukuman. Rutukan kesal keluar dari mulut mereka masing-masing. Saking kesalnya, Lya bahkan sampai membatin tentang kapan pak Burhan pensiun.


"Jahat banget pak! Kalau ke Clara mah gak apa-apa, tapi kalau ke Lya jangan. Dia baru keluar dari rumah sakit." Devan menatap pak Burhan.


"Dia sudah sehat, buktinya sudah bisa berantem. Masuk kelas sana, kmau mau saya hukum juga?" Balas pak Burhan.


Devan berdecak, dengan berat hati dia pergi menjauhi lapangan. Bukan pergi menuju kelas, Devan malah pergi ke kantin.


Devan mengambil tiga botol air mineral. "Ini mang! Sekalian sama tissue satu," ujar Devan. Dia segera membayar dan langsung menuju lapangan lagi.


Pak Burhan sudah tidak ada lagi di lapangan. Devan segera memanggil Lya.


"Lyaa!"


Lya berlari menghampiri Devan. Nafasnya terengah-engah bahkan hampir kesulitan untuk bernafas. Mira dan Clarissa juga ikut menghampiri Devan yang berdiri di dekat tempat duduk di pinggir lapangan.


Lya mendudukkan dirinya di kursi sambil memgipasi wajahnya dengan tangannya.


"Minum dulu!" Devan memberikan air minum pada Clarissa dan Mira.


"Makasi Dev!"


"Thanks!"


Devan mengangguk. Dia membuka tutup botol dan memberikan air mineralnya pada Lya.


"Nih!"


"Makasi!" Ucap Lya langsung meneguk air minumnya.


Clara berlari mendekati Devan. "Devan aku juga mau!" Ujarnya dengan nada manja.


"Ck.. Devan aku juga haus, seharusnya yang kamu beliin minum itu aku bukan dia."


"Brisik lo, pergi sana!" Balas Devan menatap malas pada Clara. Devan kesal karena Clara hanya mengganggu waktunya dengan Lya.


Clara menghentak-hentakkan kakinya kesal. "Aku gak mau kamu dekat-dekat dia. Kamu itu punya aku Dev!"


"Heh gue harus ngomong pakek bahasa apa sih sama lo? Lo bukan siapa-siapa gue, jangan ganggu Lya lagi Clara. Ini peringatan terakhir dari gue, gue serius." Devan benar-benar muak dengan gadis di hadapannya ini. Kenapa tidak mengerti juga dengan semua omongan Devan, apa dia pikir Devan hanya main-main.


Clara yang kesal langsung pergi dari sana. Teman-temannya juga mengikuti Clara.


Devan mendudukkan dirinya di samping Lya. Membuka pembungkus tissue yang dia beli tadi.


"Berantem karena gue?" Tanya Devan. Tangannya sibuk mengelap keringat di wajah Lya.


Lya hanya mengangguk. Dia tengah malas melakukan apapun, tubuhnya lemas dan dia tidak bertenaga.


"Seharusnya gak usah di tanggepin."


"Mana bisa!" Clara mendelik pada Devan. "Clara harus di kasih pelajaran. Enak aja katain Gel gel pelakor, dia aja yang gak sadar diri."


"Betul. Lagian gue gedek lama-lama liat mereka. Puas banget rasanya bisa jambakin rambut Rima.


"Aku juga! Rasanya puas banget bisa balas nampar Chua!"


Lya terkekeh mendengar ucapan Mira dan Clarissa. "Harusnya lo pukul lebih keras Cla, cuma tampar mah gak berasa."


"Itu udah tamparan terkuat aku!"


"Lagian sok-sokan mau bikin gue mati. Mental keroyokan aja bangga!" Ujar Lya.

__ADS_1


Mira mengangguk antusias. "Ho'oh! Mana bilang kalau lo gak selevel lagi sama dia."


"Gue tampar pakek black card gue, modar tu cewek!"


Devan hanya tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya. Merasa tidak percaya pada dirinya sendiri yang tengah menyimak perbincangan tidak berfaedah ini.


"Tapi lo gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Devan pada Lya.


"Nggak lah! Bisa aja gue bales lebih tadi, cuma sayang aja sekarang lagi di sekolah."


Devan tersenyum, tangannya terulyr menyelipkan jari-jarinya ke jari tangan Lya. Menggenggam kuat seperti tidak akan pernah dia lepas.


"Cewek gue hebat banget!"


"Oh tentu!"


"Cantik lagi."


"Tidak diragukan lagi."


Devan tertawa. "Pipi lo merah!" Ujarnya menekan pipi Lya menggunakan telunhuk kanannya.


"Gue lagi malu ini," jawab Lya menahan diri. Meski sering di sebut cantik, namun Lya tetap saja akan merasa senang jika Devan yang memujinya.


"PANAS!" Teriak Clarissa.


"Hareudang sekali pemirsa," ujar Mira mengipasi wajahnya.


"Kenapa lo pada?" Tanya Lya.


"Gak kenapa-kenapa. Cuma sedikit merasa panas melihat sepasang kekasih sedang bermesraan!" Jawab Mira.


Devan dan Lya tertawa.


"Jomblo ya?" Tanya Lya masih tertawa. "Mau tau gak rasanya punya pacar perfect begini? Cobain deh, rasanya ah mantap!"


Clarissa dan Mira berekspresi ingin muntah. Menatap Lya dengan sinis sambil mencibir.


"Putus aja baru tau!" Ujar Clarissa.


"Iri? Bilang bos!" Balas Lya.


"Clarissa!" Panggil Devan.


Clarissa menoleh begitu juga Mira.


Cup


Devan mencium tangan Lya yang masih dia genggam. Bahkan Devan berkali-kali mencium tangan Lya membuat Clarissa dan Mira kesal bukan main.


Lya tertawa terbahak-bahak. "Duh, enaknya punya pacar!"


Devan ikut tertawa. Cukup senang menjahili kedua teman Lya, sedangkan Clarissa dan Mira tengah mengumpati Lya dan Devan.


"Nyebelin!" Ujar Clarissa berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Lya.


"Kemana aja asal gak ketemu pasangan bucin kayak kalian!" Jawab Mira.


"Hati-hati!" Balas Lya tertawa. Energinya kembali penuh karena menjahili teman-temannya, Lya merasa kembali bersemangat. Mungkin Devan juga menjadi salah satu alasannya.


"Duh punya vitamin tambahan gue!"


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2