GELYA

GELYA
CHAPTERS 67


__ADS_3

"Selamat pagi bunda!"


"Pagi! Kalian sarapan buruan nanti telat."


Lya dan Diki segera duduk di meja makan.


"Ayah mana bun?" Tanya Lya.


"Sudah berangkat."


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Lya dan Diki segera berangkat ke sekolah.


Diperjalanan menuju sekolah Lya hanya diam memperhatikan jalanan.


Motor Diki memasuki gerbang sekolah.


"Lya!"


Lya yang tengah melepaskan helmnya berbalik dan mendapati Karta menghampirinya bersama Tiara dan inti Rakasa lainnya, Devan dan Alixy juga ada di antara mereka.


"Kenapa bang?"


"Foto cowok yang sama lo itu siapa?" Tanya Karta tanpa basa-basi.


Lya terlihat berpikir. "Dika!"


"Itu Bima, Lya!" Karta terlihat menolak percaya.


Lya mengangguk. "Iya itu Bima abang gue. Bima Mahardika Rawangsa."


Karta memejamkan matanya. Tiara memegang erat tangan Karta. "Jangan bohong Ya! Orang yang ada di foto itu bukan abang yang lo ceritain selama ini kan?"


"Kenapa sih? Lo kenal Dika?"


"Lya, Bima itu bukan Dika abang kamu kan?" Kali ini Tiara yang bertanya.


Lya menoleh pada Diki, mereka berdua sama-sama berasa bingung.


"Dika itu panggilan kita buat Bima bang. Bima itu abang Lya yang udah meninggal!" Diki menjelaskan.


Karta menggeleng. "Gak mungkin! Lo berdua pasti bohong. Bima gak mati, dia masih hidup."


"Kalian pagi-pagi udah bikin gue pusing. Bima itu Dika. Dika yang gue ceritain ke kalian." Lya berujar.


"PEMBOHONG!"


Lya terkejut. Bukan hanya gadis itu, tapi mereka semua yang ada di sekitar parkiran juga ikut terkejut akibat teriakan Karta.


"Karta!" Tegur Noah.


"Bima masih hidup. Pengecut itu masih hidup, dia gak mungkin mati. Dia kabur kan? Dia kabur keluar negeri. Dia kabur setelah hancurin semuanya, setelah dia hampir celakain Tiara dan ngebunuh gue."


Lya menatap Karta. "Lo ngomong apa sih?" Tanya Lya tidak mengerti. "Gue gak ngerti. Lo kalau mau ngeprank jangan kayak gini."


"Abang lo itu pengecut Lya. Dia pengkhianat, gue hampir mati karena dia."


"NGGAK! BOHONG. DIKA ANAK BAIK, DIA GAK MUNGKIN NGELAKUIN ITU."


Kini mereka menjadi pusat perhatian murid-murid yang ada disana.

__ADS_1


"Buktinya emang gitu. Lo tanya mereka semua!" Karta menunjuk teman-temannya. "Lo tanya gimana abang lo itu ngerusak hidup gue dulu!"


Devan berjalan mendekati Karta. "Udah cukup! Lo berlebihan."


Diki berdiri di depan Lya dan menatap Karta. "Gue masih gak paham maksud lo apa bang, tapi lo gak harus maki-maki Lya."


"Udahlah Ta, kejadian itu udah lama. Bima juga udah meninggal," ujar Kevin.


"Dia emang pantas mati!"


BUGH


Diki memukul Karta dengan keras. Tiara terpekik, beberapa murid perempuan juga ikut memekik menyaksikan kejadian itu, Juna menahan tubuh Karta sedangkan Kevin menahan Diki agar tidak menyerang Karta kembali.


"Jaga mulut lo. Jangan karena lo leader gue, gue gak berani buat mukul lo."


"Diki stop!" Ujar Kevin.


"Gue gak ngerti maksud lo apa?" Ujar Lya. Gadis itu menatap Karta datar, dia cukup terkejut dan merasa sakit saat laki-laki yang dia anggap sebagai abangnya itu mengatakan hal yang sangat jahat. "Gue gak tau masalah lo, kalau emang abang gue punya salah sama lo, gue minta maaf atas nama dia," ujar Lya menatap Karta kecewa. "Kata-kata lo terlalu kasar bang, gue sakit dengarnya."


Karta terdiam. Dia menatap kepergian Lya dalam diam.


"Trust me. You will regret!" Celetuk Clarissa menatap Karta. Gadis yang sudah melihat kejadian itu menatap Karta tidak percaya lalu segera menyusul Lya.


"Gue perjelas kata-kata Cla. Lo bakal nyesal!" Diki ikut menyusul Lya.


Karta mengepalkan tangan berusaha meredam amarahnya. Kacau, itu yang ada di pikirannya.


"Lo keterlaluan!" Devan ikut pergi disusul Alixy.


Sepanjang jalan menuju kelas, Lya hanya mengeluarkan ekspresi datarnya. Lya segera duduk di kursinya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Otaknya terus saja memutar semua ucapan Karta tadi, dadanya sesak menahan amarah. Ada hubungan apa Dika dengan Karta?


Kenapa Karta bilang kalau Dika kabur darinya?


Kenapa Lya tidak tau apapun?


Lya merasa terbodohi, dia merasa sangat terbodohi. Lya sakit, dia merasa sakit mendengar ucapan terakhir Karta.


Sejahat apa Dika?


Seburuk apa perlakuan Dika hingga Karta terlihat sangat membencinya?


Dika orang baik. Dia bahkan tidak pernah membentak Lya. Karta pasti salah orang, mungkin saja Dika dan orang yang Karta maksud itu adalah orang yang mirip. Lya mencoba berpikir positif, dia tidak ingin memusingkan diri untuk saat ini.


"Gak usah dipikirin Ya!" Diki berbisik.


Lya menoleh pada sepupunya itu. Senyum tipis terukir di bibirnya. Lya mengangguk, tangan Diki menggenggam tangan Lya, setidaknya dia mencoba menenangkan gadis itu.


Bel tanda masuk sudah berbunyi, Lya sibuk melamun hingga tidak sadar jika guru pelajaran pertama sudah masuk. Dia tidak memperhatikan sama sekali.


Bahkan hingga jam istirahat tiba pun Lya tidak pernah mengeluarkan suara.


"Mau ke kantin?" Tanya Diki.


Lya menggeleng. "Gue nitip air mineral aja boleh?"


Diki mengangguk. "Lo tunggu disini!" Diki berjalan keluar kelas.


"Gel gel mana? Gak ikut ke kantin?" Tanya Clarissa.

__ADS_1


"Biarin dia sendiri dulu, dia butuh waktu," ujar Diki. "Gue mau beliin dia minum, kalian makan aja," uajr Diki pada Clarissa, Mira dan Keenan.


Diki tidak tau harus melakukan apa, bahkan sudah kembali memulai pelajaran pun Lya tidak juga berbicara. Gadis itu hanya menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"GELYA!" Tegur bu Lidya pada Lya. "You don't listen to me?"


"Sorry miss," ujar Lya.


"Kamu pikir ini sekolah punya kamu? Jangan seenaknya di kelas saya, sudah berkali-kali saya memanggil nama kamu tapi kamu mengabaikan saya."


"Maaf bu!"


"Kalau kamu tidak mau belajar, kamu bisa keluar. Menyusahkan saja!"


BRAKK


Lya berdiri dengan kasar membuat kursinya terjungkal. Semua teman kelasnya menatap Lya terkejut. Lya tidak mengeluarkan suara apapun, ekspresi datar menghiasi wajahnya, dia keluar kelas tanpa memperdulikan bu Lidya yang berdiri di dekatnya.


"LYAA!" Panggil Diki. Baru saja laki-laki itu ingin menyusul Lya, namun di hentikan bu Lidya.


"Mau kemana kamu? Duduk!" Ujarnya membuat Diki menatap tajam guru muda itu.


Diki mendengus kesal. Namun dia tetap mengikuti perintah gurunya.


Lya berjalan tanpa memperhatikan sekitar. Kakinya melangkah menuju rooftop, setidaknya dia butuh udara segar saat ini. Memejamkan matanya membiarkan angin menerpa kulit wajahnya menerbangkan helai rambutnya.


"Gue pengen tanya lo kenapa, tapi gue yakin lo bakal jawab kalau lo gak kenapa-kenapa!"


Lya membuka matanya, matanya menangkap Devan yang tengah berdiri di sampingnya.


"Gue peluk aja mau?"


Lya masih diam menatap Devan. "Apapun yang lo rasain, masalah yang lo hadapin. Semoga ini bisa ngebantu, seenggaknya lo bisa istirahat sejenak," ujar Devan. Laki-laki itu menatap Lya lembut, senyum di bibirnya terasa menenangkan.


Lya tersenyum tipis. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Devan membuat laki-laki itu melebarkan senyumnya. Devan memeluk Lya erat, mengusap rambut Lya dan memberikan kecupan kecil di pucuk kepala Lya.


Lya menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, memejamkan matanya mencium aroma tubuh Devan yang menenangkan.


"Kalau lo mau tau cerita yang sebenarnya, lo bisa nanya ke Noah. Dia lebih tau semuanya," bisik Devan. "Asal lo udah siap aja, jangan di paksain. Sekarang lo istirahat dulu, gue temenin."


"Gue pengen pergi," ujar Lya.


Devan merenggangkan pelukannya. "Masih jam sekolah."


"Gak apa-apa, gue lagi pengen bolos. Lo disini aja, gue bakal pergi sendiri."


Devan menggeleng. "Kita bolos sama-sama, gue udah bilang kalau mau temenin lo."


Devan menggenggam tangan Lya dan mengajaknya turun. Lya tersenyum menatap tangannya. Devan melangkah pelan sambil memperhatikan sekitar, dia melihat gerbang yang tertutup. Satpam sekolah pasti tengah berada di dalam sekolah karena posnya kosong. Untung saja gerbangnya tidak di kunci.


Devan segers masuk kedalam mobilnya saat Lya berjalan kearah gerbang untuk membuka gerbang itu. Devan tersenyum melihat Lya dengan hati-hati membuka gerbang untuknya. Saat sudah berhasil keluar, Lya segera masuk kedalam mobil dan mereka pergi meninggalkan sekolah. Lya tertawa kecil bersama Devan.


"Mau kemana?" Tanya Lya.


Devan terlihat berpikir. "Habisin hari ini sama gue mau?" Tanya Devan.


Lya menatap laki-laki yang tengah fokus pada jalanan. "Kita pergi jauh gak masalah kan?" Tanya Devan lagi. "Gue pengen ajak lo ke suatu tempat."


Lya mengangguk membuat Devan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2