GELYA

GELYA
CHAPTERS 80


__ADS_3

"Devan sudah terkena virus bucin," ujar Kevin.


Menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama, mereka terlihat sangat akur. Juna dengan kehebohannya diikuti dengan Kevin dan Diki, juga Lya yang sesekali ikut mengeluarkan leluconnya. Sibuk dengan keberisikan yang mereka buat, sampai tidak sadar jika hari sudah sangat sore.


"Udah sore, ayo balik!" Noah yang sedari tadi hanya menjadi penyimak keberisikan teman-temannya mengingatkan waktu.


Juna melirik kearah jam. "Perasaan baru aja kita datang. Cepat banget sih sorenya."


"Makanya, jangan sering-sering pakek perasaan," celetuk Diki.


"Udah lah, ayo balik. Lya perlu istirahat," ujar Karta. Laki-laki itu verdiri dan merapikan pakaiannya, segera mengambil tas dan mendekati Lya. "Kita pulang dulu, lo banyak-banyak istirahat."


Lya mengangguk patuh. "Siap bang!"


Satu persatu dari mereka pamit pada Lya dan keluar dari ruangan Lya. Tersisa Diki, Clarissa dan juga Devan yang masih setia di posisinya.


"Balik sana!" Lya mengusir Devan.


"Gue disini aja deh."


"Udah sore ini. Badan lo bau tau."


Devan menatap Lya sinis. "Mau gue gak mandi tiga hari juga badan gue tetap wangi," ujarnya sombong.


"Buktinya sekarang lo bau. Udah lo pulang sana, lo juga harus istirahat."


Devan masih tidak bergerak, laki-laki itu masih setia menatap Lya membuat Lya merasa salah tingkah.


"Kenapa sih?" Tanya Lya mencoba santai.


Devan tidak menjawab, dia berdiri dan memeluk Lya. "Cepat sembuh! Gue gak suka liat tangan lo di tempelin jarum begini," ujar Devan menunjuk tangan Lya yang di infus.


"Besok gue balik. Janji!" Ujar Lya.


"Gue balik," ujar Devan. Dia mengecup kening Lya lalu berjalan kearah pintu. "Kalau ada apa-apa, tolong kabari gue." Devan berucap pada Diki.


"Siap!"


"Hati-hati," ucap Lya sebelum Devan benar-benar keluar. Laki-laki itu mengulas senyum sebelum menghilang dari balik pintu.


"Oh my God! Devan sweet banget sih," uajr Clarissa yang duduk di sofa.


"Gak nyangka juga gue, mana pacarnya modelan Lya lagi," balas Diki. Laki-laki itu tengah berbaring di karpet lantai dengan sebuah bantal berbentuk anjing besar.


Lya mendelik tajam pada Diki. Merasa terhina dengan ucapan Diki. "Maksud lo apa ngomong begitu?"


"Ya , lo kan sejenis alien."


Lya kesal. Enak saja dia di katai alien, sia-sia selama ini dia perawatan sampai mengeluarkan banyak uang untuk membeli skincare mahal jika ujung-ujungnya malah di kataon alien. "Bangsat emang lo! Kalau gue alien terus lo apa? Pesawat alien?"


"Dih pundungan! Sifat lo abstrak, tau gak?" Balas Diki.


"Muka lo abstrak!"


"Hey shut up. You guys keep fighting, it hurts my head to see you. Kalian berdua itu sama-sama alien, sama-sama abstrak. Cuma aku yang waras disini," ujar Clarissa. Sudah pusing mendengar perdebatan tidak berpaedah dari kedua persepupuan itu.


Diki menatap Clarissa remeh. "Waras apanya? Gak ada cewek waras yang rela ngejar-ngejar cowok!"


"Ada! Dan itu aku."


"Gak ada harga dirinya. Cewek itu di kejar bukan mengejar."


Clarisaa menatap Diki tajam. "Gak semua perempuan harus nunggu laki-laki untuk ngejar dia. Emangnya cuma laki-laki yang bisa usaha untuk daoatin cinta mereka? Perempuan juga bisa."

__ADS_1


"Gue dukung lo," ujar Lya pada Clarissa. "Lagian Clarissa masih di batas wajar. Ngejar Noah itu bukan hal yang buruk, gue yakin Clarissa bisa dapetin Noah tanpa merendahkan derajatnya."


Clarissa tersenyum senang. Diki hanya mendengus menatap Lya dan Clarissa bergantian. "Cewek emang mana mau kalah," ujar Diki.


"Ngapain kita ngalah kalau kita rmang gak salah?" Telak Lya.


Clarissa mengacungkan jempolnya pada Lya. "It is true! Women are not weak."


"Ya ya ya terserah kalian aja," balas Diki. Lagi pula mau bagaimanapun dia tidak akan menang beradu mulut dengan kedua gadis itu. Dari pada memusingkan diri, lebih baik dia mengalah.


...🌻...


"Assalamualaikum," ucap Karta saat masuk kedalam rumahnya.


"Waalaikumsalam. Baru pulang? Habis dari mana?" Tanya ibunya.


"Dari rumah sakit, mah."


"Siapa lagi yang sakit?" Tanya ayah Karta. Masih menggunakan baju kemejanya menandakan baru pulang dari kantor.


"Lya pah."


"Kenapa Lya?"


"Ternyata Lya kena kanker tulang pa, Karta baru tau kemarin."


"Astagfirullahaladzim, kasian banget sih," ucap ibu Karta terkejut hingga mengelus dada.


"Nanti malam kita jenguk yuk, papa mau ngeliat keadaan Lya," ujar ayah Karta.


Karta melihat ibunya mengangguk, amu tidak mau dia ikut mengangguk. Karena merasa lelah dan tidak nyaman, Karta segera naik ke kamarnya dan memutuskan untuk mandi. Badannya terasa lengket dan bau.


Gelap sudah menyapa, Karta baru saja selesai melaksanakan solat maghrib. Karena lapar, Karta memutuskan untuk turun.


"Bikin brownies untuk di bawa nanti."


Karta hanya mengangguk. Dia segera mengambil piring untuk makannya, tidak menunggu ayahnya karena tadi sore ayahnya sudah makan dan biasanya tidak akan makan lagi saat malam.


"Mah," panggil Karta.


"Kenapa?"


"Lya itu adiknya Bima," ujar Karta. Memutuskan untuk memberitahu ibunya karena ibunya memang mengenal Bima. Berbeda dengan Karta dulu, Bima tidak pernah mengenalkan Karta pada orang tuanya karena orang tuanya yang sibuk bekerja.


"Bima teman SMP kamu dulu?" Tanya ibu Karta setelah beberapa saat terdiam.


Karta mengangguk. "Dan Bima udah meninggal mah, dia gak kabur dari Karta. Dia kecelakaan dan Karta gak tau sama sekali."


Ibu Karta mendekati Karta. Dia tau anaknya pasti tengah bersedih sekarang. "Yang sabar ya Ta. Ini semua takdir, gak ada yang tau bakal gimana takdir seseorang.


"Karta baik kok mah, Karta gak nangis. Karta udah lewatin masa sedihnya Karta. Karta udah ikhlas."


"Anak pintar! Sekarang selesaikan makannya terus siap-siap, kita berangkat sebentar lagi."


Karta tersenyum dan mengangguk pada ibunya.


Setelah bersiap, Karta dan orang tuanya segera bergegas menuju rumah sakit. Takut jika terlalu malam malah mengganggu istirahat Lya.


Saat sampai di rumah sakit, Karta berjalan di belakang kedua orang tuanya. Menunjuk salah satu ruang rawat agar ayahnya tak kelewatan.


Tok tok tok


Ceklek

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap ayah dan ibu Karta.


"Waalaikumsalam."


Di dalam ada mami dan papi Lya, begitu juga dengan Lya yang tengah makan malam. Papi dan mami Lya terdiam menatap kedatangan kedua orang tua Karta.


"Malam om, ini papa sama mama," ujar Karta memperkenalkan orang tuanya.


Keempat orang tua itu saling berjabat tangan dan berkenalan. Ibu Karta berjalan mendekati Lya.


"Halo Lya, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah susah baikan kok tante," jawab Lya tersenyum.


"Tante buat brownies tadi, semoga kamu suka."


Lya terlihat antusias, bahkan makanan dari rumah sakit yang tengah dia makan saja sudah dia lupakan. "Wahh pasti suka tante. Makasi banyak."


"Makanannya di habisin dulu, kalau belum habis gak boleh makan broeniesnya!" Mami Risma merebut kotak kue yang ada di genggaman Lya.


"Ih mami kok gitu sih, itu kan punya Lya!" Protes Lya mendelik pada mami Risma.


"Iya tau, makanya habisin dulu makannya baru minum obat."


Lya mengerucutkan bibirnya. Mau tidak mau dia kembali memakan makanan hambar dari rumah sakit disana. Hatinya memaki segala sesuatu.


Ini cuma perasaan guw atau emang ini ruangan berasa panas ya? Batin Karta menatap pendingin udara yang ada di dinding atas.


Kenapa jadi canggung begini? Udah kayak pertemuan antar keluarga sebelum nikahan. Batin Lya. Dia menatap papinya dan ayah Karta yang terlihat tidak banyak bicara. Maminya dan ibu Karta juga terlihat canggung.


Ceklek


"Malam Lya!" Dokter Rizal muncul bersama ayah David.


"Malam dokter," sapa Lya kembali.


"Malam ini kita periksa bahu kamu lagi ya, kamu ikut ke ruang pemeriksaan sama dokter," ujar dokter Rizal.


Lya hanya mengangguk karena Lya sudah menyelesaikan makannya. Dokter Rizal membantu untuk memvawa infus Lya.


"Nak Karta bisa temani Lya?" Tanya ayah David pada Karta. "Cukup menunggu di depan ruangan saja, tidak lama kok."


Karta menatap ayahnya. "Kamu antar Lya gih," ujar ayah Karta.


Karta mengangguk, dia segera mendekati Lya. "Infusnya biar saya aja yang bawa dokter," ujar Karta pada dokter Rizal.


Dokter Rizal memberikan infus Lya pada Karta. Mereka bertiga segera keluar dan menuju ruang pemeriksaan.


"Kamu tunggu di luar, gak msalah kan?" Tanya dokter Rizal pada Karta sebelum masuk ke ruangan.


"Gak masalah kok dok," jawab Karta.


Lya menoleh. "Maaf ya bang, jadi ngerepotin lo."


"Santai aja, masuk sana. Gue tungguin disini," balas Karta.


Lya dan dokter Rizal masuk meninggalkan Karta di luar sendirian. Karena tidak tau harus melakukan apa, Karta membuka ponselnya untuk melepas kebosanan.


"Karta?"


...🌻...


...Tbc....

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2