GELYA

GELYA
CHAPTERS 82


__ADS_3

Kenangan-kenangan Karta bersama Bima memaksa berputar di otaknya membuat Karta semakin merasa sesak.


Karta melajukan motornya memecah malam. Langit tidak berbintang malam ini, terlihat sekali sengaja memperburuk malam Karta. Mempercepat laju motornya menuju sebuah rumah yang dia rasa perlu dia kunjungi untuk saat ini.


Tok tok tok


Karta mengetuk pintu rumah besar itu.


Ceklek


"Karta?"


"Noah ada, Zi?" Tanya Karta pada Zia.


Zia mengangguk. "Ada kok. Langsung ke kamarnya aja."


Karta segera masuk ke dalam dan naik ke lantai atas menuju kamar Noah.


Ceklek


Karta membuka pintu kamar Noah, pemilik kmaar itu tengah duduk di meja belajarnya dengan membaca sebuah buku tebal yang Karta juga tidak tau apa isinya.


"Ngapain lo kesini?" Tanya Noah bingung. Tumben sekali Karta datang tanpa memberitahu Noah terlebih dahulu.


Karta tidak menjawab. Laki-laki itu melangkah pelan kearah kasur Noah dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Karta menelungkupkan kepalanya bersembunyi di bantal empuk Karta.


Noah mengernyitkan dahinya merasa sesuatu tengay terjadi namun tidak tau apa itu. Karta tidak pernah begini jika tidak sedang dalam masalah.


Lama berdiam diri, Noah sedikit terkejut mendengar Karta terisak meski sangat pelan. Noah semakin yakin ada masalah besar yang tengah di hadapi ketuanya ini.


"Perlu gue panggil anak-anak kesini?" Tanya Noah. Merasa Karta tidak bergerak membuat Karta memutuskan untuk menghubungi inti Rakasa lainnya.


"Karta!" Noah memanggil Karta. Setidaknya jika Karta tengah butuh cerita atau butuh tempat pengaduan, Noah siap mendengarkan.


Noah sedikit kesal karena Karta masih tetap tidak bergerak. Merasa mendengar suara motor di depan rumahnya, Noah segera turun.


"Ada acara apa nih? Tumben banget Karta mau nginap disini?" Tanya Juna.


Noah mengabaikan Juna, laki-laki itu menghampiri Elang. "Tengokin adek lo sana!" Ujar Noah membuat Elang bertukar pandang dengan Noah.


Tanpa berlama-lama, Elang segera naik ke kamar Noah. Juna dan Kevin mengikuti langkah Elang.


"Anak-anak bakalan nginap disini," ujar Noah pada Zia yang baru keluar dari dapur.


Gadis itu hanya mengangguk. "Perlu gue bawian minum gak?" Tanya Zia.

__ADS_1


"Gak perlu. Udah malam, tidur sana," ujar Noah segera menyusul teman-temannya.


Elang yang baru saja membuka pintu kamar Noah langsung menunjukkan matanya pada Karta. Langkahnya mendekati Karta yang masih di posisinya.


"Ta!" Panggil Elang. Laki-laki itu duduk di pinggir kasur sembari menepuk pelan punggung Karta.


Laki-laki bongsong yang tengah tertelungkup itu membalikkan badannya. Mengambil posisi duduk menatap anggota tertuanya.


"Mau cerita?" Tanya Elang mencoba membuat Karta nyaman.


Juna dan Kevin ikut duduk di kasur Noah sedangkan sang pemilik kamar duduk di kursi belajarnya.


"Bego banget ya gue? Bego banget sampai bisa di bohongi sama mereka semua selama ini."


Tidak ada yang menjawab. Selain masih tidak mengerti maksud dari Karta, mereka memang lebih memilih mendengar keluhan Karta terlebih dahulu.


"Lo semua tau kan kalau gue punya kelainan jantung dari kecil? Li semua tau kan kalau sekarang gue udah sembuh? Gue udah gak sakit lagi."


Mereka semua mengangguk. "Karena lo udah dapat pendoronya Ta," ucap Kevin.


Air mata Karta kembali mengalir. Elang dengan lembut mengusap punggung Karta.


"Jantung inu," ujar Karta menunjuk dadanya. "Punya Bima!"


Pecah sudah tangis Karta. Merasa sesak menahan tangisnya sedari tadi. Noah mematung, ini diluar pemikirannya, Juna dan Kevin ikut terdiam.


"Kenapa Bima se bangsat itu? Kalau dia sayang sama Tiara, seharusnya dia bertahan biar bisa jagain Tiara. Bukannya nyerah!"


"Dulu gue pikir dia yang paling pengecut, brengsek banget, tapi sekarang gue sadar kalau gue yang pengecut sampai butuh kematian orang untuk bertahan hidup, gue yang brengsek karena hidup dengan baik sedangkan sahabat gue pergi tanpa gue tau penyebabnya padahal dia alasan gue bisa bertahan sampai di detik ini."


"Ta tenang," ujar Elamg. "Nafas pelan-pelan."


"Gue jahat ya Lang?"


"Nggak!" Jawab Elang. "Gak ada yang jahat disini, kalian semua lagi jalan di takdir kalian masing-masing. Percaya sama gue Ta, apapun keputusan Bima itu yang terbaik, dia sayang sama lo, dia sayang juga sama Tiara. Jangan sia-siain usaha yang udah Bima kasih ke lo."


"Benar Ta. Allah pasti ngasih jalan terbaik buat lo dan Bima. Bima yang pergi itu bukan salah lo," ucap Kevin ikut bersuara.


"Gimana kalau Lya sampai tau?" Tanya Karta mengusap kasar wajahnya. "Gimana kalau Lya tau Bima meninggal bukan karena kecelakaan. Gimana kalau Lya tau tentang jantung gue. Gue takut Lya marah sama gue."


"Lya belum tau?" Tanya Juna.


Karta menggeleng.


"Yang pasti jangan sampai Lya tau dulu, gue gak yakin dia bakal baik-baik aja nanti," ujar Noah.

__ADS_1


"Terus gue bohongin dia gitu?" Tanya Karta.


"Demi kebaikan Lya juga. Dia pasti shock banget, takut kesehatan dia menurun Ta," jawab Elang.


"Boleh gue tanya?" Celetuk Juna. "Siapa yang mukulin Bima? Jujur malam itu gue ngeliat Bima baik-baik aja."


"Gak tau. Tapi om Agung bilang kalau Bima di bawa kerumah sakit sama cewek. Gue yakin itu Lisa."


Noah mengernyitkan dahinya. "Lisa?"


"Cewek yang ngejar-ngejar Bima dulu?"


"Lo yakin?" Tanya Noah lagi.


Karta diam. Dia memang tidak begitu yakin, karena tidak tau juga siapa yang membawa Bima. Tapi hanya nama Lya yang muncul di otak Karta sekarang. "Gue juga gak tau. Tapi dia yang muncul di otak gue dan gue berharap bisa nemuin dia."


"Dia pergi Ta."


"Bakal gue cari."


"Lisa yang dulu satu kelas sama gue?" Tanya Juna menebak.


"Iya, Lisa Anggraini," jawab Noah.


Karta menoleh pada Juna. "Lo tau rumah dia dimana?"


Juna berpikir keras. "Dulu gue pernah kerja kelompok di rumahnya kalau gak salah. Tapi gue rasa lupa."


"Ingat-ingat lagi Jun," ujar Kevin.


Juna merebahkan tubuhnya di kasur Noah. "Nanti deh, otak gue gak berfungsi kalau malam-malam begini."


"Ck.. lagi urgent ini. Masih sempat-sempatnya rebahan."


"Iya ini gue juga lagi mikir. Sabar dong, lo semua kan tau kapasitas otak gue gimana."


"Lanjut besok aja. Udah malam, pada cari posisi sana. Gue mau tidur," ujar Noah.


"Gantian dong No, gue yang tidur di kasur!" Juna menawar.


"Ogah! Ambil kasur sendiri sana."


Juna mendengus. Mereka segera membentang kasur yang biaaa mereka gunakan jika menginap disana. Tidak perlu waktu yang lama, para remaja itu sudah terlelap menyapa mimpi mereka. Tapi tidak dengan Karta, dia merasa tidak bisa tidur memikirkan kenyataan yang terjadi. Karta hanya berusaha tidur meski masih banyak suara-suara yang sangat berisik di pikirannya.


...🌻...

__ADS_1


Seperti biasa jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2