GELYA

GELYA
CHAPTERS 64


__ADS_3

Bel tanda pelajaran berakhir baru saja berbunyi. Sorak bahagia dari berbagai penjuru kelas terdengar. Tidak berbeda dari kelas Lya, teman-teman kelasnya juga ikut merasa lega karena bisa segera pulang kerumah.


Lya segera keluar bersama Diki, mereka bertemu dengan Keenan, Clarissa dan Mira.


"Gel gel ikut gak? Aku mau kerumah Mira."


Lya menggeleng pada Clarissa. "Gue ada janji sama ayah di rumah sakit, lain kali aja deh!"


"Janji apa? Gel gel sakit? Aku ikut ke rumah sakit deh."


"Gak usah, entar belum apa-apa udah minta balik!" Diki menolak Clarissa.


"Gue cuma mau ketemu ayah sebentar, lo sama Mira aja," ujar Lya.


Clarissa akhirnya mengangguk. "Ya udah deh. Kalau gitu kita duluan yah!"


"Gue ada stok film, kalau mau tinggal kerumah," ujar Mira yang langsung di angguki Lya. "Siap!"


"Gue duluan juga deh," celetuk Keenan saat mereka sampai di parkiran.


Lya dan Diki mengangguk. "Hati-hati," ujar Lya pada ketiga temannya.


Saat Diki sudah duduk di motornya dan berniat memasang helm, Chintya datang dengan berlari.


"Diki!" Panggil Chintya. "Huh.. syukur kamu masih disini."


Kenapa Chin?" Tanya Diki pada Chintya.


"Aku boleh minta kamu temenin buat nyari buku gak? Tugasnya di kumpulkan besok dan buku yang niatnya aku pinjam sama teman aku itu udah di pinjam sama yang lain." Kemudian Chintya beralih menatap Lya. "Boleh gak Ya? Soalnya aku butuh banget!"


Lya menatap Chintya yang sepertinya sangat memohon padanya. Akhirnya Lya mengangguk. "Boleh lah, lo pacarnya. Gue bisa balik sendiri," jawab Lya.


"Serius? Cla sama Mira udah balik, Keenan juga udah balik. Lo mau pulang sama siapa?" Tanya Diki pada Lya. Dia merasa tidak enak jika harus meninggalkan Lya untuk pulang sendirian.


"Serius! Gue bisa balik sendiri, Chintya kayaknya butuh banget."


"Serius?" Tanya Diki sekali lagi memastikan.


Lya mendengus. "Serius bego! Udah sana pergi. Lebay lo, dikira gue anak kecil?"

__ADS_1


Diki akhirnya mengangguk. "Ya udah, gue duluan. Hati-hati!"


"Makasi ya Lya," ujar Chintya segera naik kemotor Diki.


Lya hanya mengangguk. "Hati-hati!" Katanya pada Diki dan Chintya.


Lya berniat untuk keluar gerbang dan mencari taksi namun suara Tiara menghentikan langkahnya.


"Lya belum balik?" Tanya Tiara yang datang bersama Karta dan Noah.


"Eh mba Tiara!" Ujar Lya tersenyum. "Ini juga mau balik."


"Diki kemana?" Tanya Karta.


Lya menunjuk kearah gerbang. "Udah duluan sama Chintya, si Tya ada butuh."


"Terus kamu balik sama siapa?" Tanya Tiara lagi.


"Sendirian mba!"


"Balik sama Noah aja!" Karta menatap Noah. Laki-laki yang di tatap kemudian mengangguk.


Lya menggeleng. "Gue naik taksi aja," tolak Lya. Dia tidak berniat untuk ikut bersama Noah.


"Gak usah bang! Gue juga mau ketemu ayah dulu," tolak Lya lagi.


"Terserah lo sih, gue gak maksa!"


"Sama Noah ajalah Ya, sekolah udah sepi."


Lya tersenyum pada Tiara. "Gue bisa balik sendiri mba, lagian gue gak langsung balik, ada urusan sebentar. Kalian tenang aja!"


Karta mendengus. "Keras kepala banget sih lo!"


"Beneran gak mau?" Tanya Noah lagi. Tidak ada maksud khusus, hanya saja dia jelas tidak mungkin meninggalkan Lya pulang sendirian. Lagi pula dia ibgat kalau Lya akan kerumah sakit.


"Beneran. Gue bisa sendiri, makasi!"


Karena Lya tetap menolak, Karta, Tiara dan Noah memutuskan untuk pulang. Dengan berjalan santai Lya melangkahkan kakinya untuk keluar area sekolah. Sebenarnya Lya sedikit menyesal sudah menolak ajakan Niah, namun dia tidak ingin membuat Clarissa sedih. Mengejar Noah yang tidak menyukai siapa-siapa saja sudah sulit, Clarissa sudah banyak makan hati, apalagi dia harus tau kalau Lya dengan mudah bisa dekat dan pulang dengan Noah.

__ADS_1


Sudah hampir setengah jam Lya berdiri di depan sekolahnya namun tidak ada taksi yang lewat. Ada beberapa angkot yang lewat, namun maafkan Lya yang harus menolak menaiki angkutan umum tersebut. Dia mengingat bagaimana dia pernah mabik saat pulang sekolah bersama Diki menggunakan angkot, sejak itu Lya tidak pernah mau naik angkot lagi.


"Bego!" Gumamnya pada dirinya sendiri. Lya melangkahkan kakinya menjauh dengan wajah lesu. Tidak tau akan bagaimana nantinya, tapi Lya tidak ingin terlalu lama berdiri di depan sekolahnya itu.


"WOYYY!" Seseorang mengejutkan Lya.


Gadis itu menatap seseorang yang tengah melepaskan helmnya lalu mengacak ringan rambutnya.


"Rio!" Ujar Lya masih terkejut.


"Ngapain lo jalan sendirian? Udah gak punya ojek lagi? Atau udah di buang Diki?"


Lya tidak mengidahkan pertanyaan Rio, gadis itu bergerak cepat memeluk Rio membuat laki-laki itu terkejut.


"RIOOOOOO! YA ALLAH TERIMA KASIH."


Rio melepaskan pelukan Lya dengan mendorong tubuh Lya dengan kencang. "Gila lo! Ngapain peluk-peluk gue?"


Lya mengeluarkan ekspresi melasnya. "Tolongin gue! Gue butuh tumpangan, please!"


Rio tersenyum miring. "Gue bukan ojek, jalan kaki aja kayak tadi!"


Lya mengerucutkan bibirnya. "Please! Gue butuh tumpangan, entar gue traktir lo makan deh. Mau di manapun terserah!"


"Ogah! Entar ujung-ujungnya gue juga yang bayar."


"Rio please! Gue mau kerumah sakit. Diki nganter pacarnya nyari buku."


"Rumah sakit? Mau ngapain?"


"Mau berobat."


Rio menatap Lya dalam diam, sebenarnya tidak masalah jika dia mengantar Lya. Namun dia tidak mau di jaili lagi oleh gadis itu.


Lama berpikir akhirnya Rio merasa kasihan dengan Lya. "Ck.. ya udah ayo!" Ujarnya membuat senyum Lya mengembang.


Dengan cepat Lya naik ke jok motor Rio, gadis itu tanpa ragu melingkarkan tangannya di perut Rio membuat laki-laki itu terdiam. Bagaimana tidak, Lya bahkan menyenderkan kepalanya di bahu Rio.


"Gue lemas Io, gak apa-apa ya kalau gue begini."

__ADS_1


Rio mencoba menenangkan diri. Dia mengangguk pelan berusaha menguranhi kegugupannya.


...🌻...


__ADS_2