
Senin pagi biasanya waktu yang sangat Lya tidak suka. Namun berbeda dengan pagi ini, gadis itu terlihat sangat bersemangat.
"Semangat banget sih," celetuk mami Risma pada Lya.
"Harus semangat dong!" Balas Lya.
"Pagi ini berangkat sama siapa? Diki atau Cla?" Tanya papi Agung. "Atau mau papi antar?"
"Tenang. Pagi ini Lya berangkat sama calon suami," jawab Lya membuat kedua orang tuanya terkejut. "Lya berangkat dulu ya, assalamualaikum!" Lya menyalami kedua orang tuanya dan berjalan keluar rumah.
"Pagi!" Sapa Devan yang sudah duduk di atas motornya sambil memegang sebuah helm.
"Pagi!" Balas Lya tersenyum.
Devan memasangkan helm pada Lya. "Mami sama papi lo mana? Gue mau pamitan dulu."
"Mereka masih makan. Udah gak usah, gue udah bilang kok!"
"Bilang apa?"
"Bilang kalau bakal berangkat sama calon suami."
Devan tersenyum begitu juga dengan Lya. Laki-laki itu merasa pipinya memanas. Ingin sekali dia melompat mendengar ucapan Lya.
"Ayo berangkat!" Ajak Lya menaiki motor Devan. Devan mengangguk dan menghidupkan motornya lalu berangkat ke sekolah.
"Pantes aja semangat. Di jemput pacar baru ternyata," ujar papi Agung. Ternyata kedua orang tua Lya tengah mengintip Lya dan Devan dari balik jendela.
"Semoga Lya bahagia ya pi sama Devan," balas mami Risma.
Mereka hanya berharap Devan bisa membahagiakan Lya dan menerima Lya apa adanya.
Saat motor Devan memasuki kawasan sekolah. Banyak murid yang menatap mereka dengan penasaran. Ini pertama kalinya Devan perhi ke sekolah bersama seseorang, apalagi itu seorang gadis.
Saat Lya sudah turun dari motor. Devan kembali membuka helm Lya lalu merapikan rambut Lya yang sedikit berantakan. Hal itu tidak luput dari pandangan banyak murid yang ada disana, banyak yang merasa patah hati dan terkejut.
Ya ampun itu Lya?
Mereka beneran pacaran?
Devan sweet banget sih!
Lya beruntung banget dapatin Devan.
Aduh Devan bisa senyum juga, mana senyumnya manis banget sih!
Patah hati gue!
Potek hati adek bang!
Gak rela!
Bisik-bisik dari banyak murid itu terdengar. Tidak luput juga dengan inti Rakasa yang ternyata berada di parkiran.
"Sialan, Devan berangkat sama Lya? Tumben banget tuh bocah!" Ujar Juna heboh. "Mana pake usap-usapan lagi."
"Mereka beneran pacaran?" Tanya Elang.
Devan menggenggam tangan Lya lalu berjalan mendekati Karta dan teman-temannya.
__ADS_1
"Heh tangannya tolong di kondisikan. Kayak orang pacaran aja lo berdua," tegur Juna.
"Emang pacaran!" Jawab Devan membuat mereka terkejut.
"Serius?" Tanya Karta pada Lya.
Lya mengangguk. "Kasian bang kalau di anggurin, ganteng soalnya!"
Karta tersenyum miring menatap Devan.
"Gercep juga lo!" Ujar Kevin menepuk pundak Devan.
"Pagi!" Sapa Tiara yang batu saja datang bersama Dara.
"Pagi mba!" Balas Lya.
"Widihh udah gandengan aja nih!" Dara menatap Lya dengan tersenyum.
"Biar bisa kayak lo sama bang Elang, kak!" Lya tertawa.
"Udah mau bel, ayo masuk!" Elang mengingatkan.
Mereka semua berjalan beriringan. Banyak murid yang heboh dan menatap mereka dengan memuja. Siapa yang akan mengabaikan para most wanted sekolah. Karta dan Tiara memimpin jalan, lalu ada Juna dan Kevin berjalan sambil menebar pesona kepada siswi-siswi di sepanjang koridor, Noah berjalan di tengah-tengah mereka. Lalu Elang dan Dara disusul Lya dan Devan berjalan di belakang.
Pagi ini terasa sangat cerah dan Lya sangat suka itu. Lya sedang merasa jatuh cinta, gadia itu tidak henti-hentinya tersenyum. Jadi tolong untuk mengingatkan Lya agar jangan terlalu lama tersenyum karena ada seseorang yang merasa kepanasan saat banyak laki-laki menatap gadisnya dengan pandangan memuja.
...🌻...
"Lyaa!"
"Apa?"
"Ya!"
"Biarin aja! Gak usah di tanggapi," celetuk Clarissa yang berjalan di samping Lya. Mereka tengah dalam perjalanan menuju kantin. Diki tetap tidak membuka suara, dia menggandeng tangan Lya dan memainkan jari-jarinya.
"Lya!" Panggil Devan yang sudah duduk bersama inti Rakasa.
Lya dan teman-temannya berjalan kearah Devan.
"Duduk disini aja!" Devan menepuk kursi di sampingnya.
"Gabung aja, Devano mau traktir kita semua," ujar Juna.
Lya, Clarissa, Diki, Keenan dan Mira ikut bergabung disana. Lya hendak berjalan dan duduk di samping Devan, berhubung Diki belum melepas tangan Lya. Jadilah Diki ikut berjalan di belakang Lya. Diku duduk di antara Lya dan Karta.
"Kenapa sih lo?" Tanya Lya pada Diki lagi.
Diki tidak menjawab malah mengerucutkan bibirnya lalu menatap Clarissa yang duduk di samping Noah dan Mira.
"Kenapa sih Cla?" Tanya Lya pada Clarissa.
Keenan yang juga bingung ikut penasaran. "Di putusin Tya kali."
Clarissa menggeleng. "Biar dia jawab sendiri! Lagian kamu tuh kenapa diam aja sih? Bilang coba! Jangan kayak anak perempuan lagi ngambek."
Diki tiba-tiba menarik kepala Lya, laki-laki itu membisikkan sesuatu kepada Lya. Membuat semua yang ada disana menatap Diki penasaran.
"Ya elah, cuman kamera doang. Rio perhitungan banget sih!" Ujar Lya.
__ADS_1
Juna terlihat sangat penasaran. "Kenapa sih?"
"Diki ngerusakin kamera Rio," jawab Clarissa.
"Kamera doang sampai begini?" Kevin mencibur Diki. "Berapa emang harganya?"
"20 juta!" Jawab Diki.
"BANGSAT LO!" Pekik Lya membuat mereka semua terkejut. Sedangkan Diki hanya menatap Lya dengan pandangan memohon.
"Anjing! Gue pikir murah," ringis Kevin.
"Wah parah, kamera apaan sampai segitu mahalnya?" Tanya Juna.
"Pinjem dulu ya Ya! Please." Mohon Diki.
"Pinjam pala lo. Bayar pake apa ntar? Cih gayaan," balas Lya. Gadis itu memijat keningnya.
"Ayolah Ya, nanti kalau dia ngadu ke bunda bisa di gantung gue!"
"Biarin!"
"Lya please!" Mata Diki berkaca-kaca. Dia sudah hampir gila memikirkan bagaimana cara dia mengganti kamera Rio.
Lya mendengus kesal. "Biarin gue makan dulu!" Ujar Lya menyuap bakso yang sudah datang sedari tadi.
Mereka pun ikut Lya memakan makanan mereka. Sedangkan Diki tidak menyentuh sendoknya sama sekali, kepalanya tertunduk.
Lya menoleh pada Diki. "Makan dulu Dik, nanti kita cari gantinya."
"Kalau Rio bilang ke bunda gimana?" Cicit Diki.
"Gak akan. Nanti gue ngomong ke Rio!"
"Emang kenapa bisa rusak?" Tanya Karta akhirnya.
"Gue sama anak-anak komplek lagi main. Terus si Rio datang bawa kamera, karena gue juga suka kamera jadi gue pinjam. Awalnya sih baik-baik saja sampai Fahri ngerecokin anjing tetangga yang ternyata gak di rantai, kita semua di kejar deh. Terus gue belum sempat balikin kameranya malah jatuh dan hancur berkeping-keping!" Diki menjelaskan.
"Rio pinjamin lo dengan suka rela atau lo paksa?" Tanya Lya memicingkan matanya pada Diki.
Diki tersenyum kikuk. "Paksa sedikit!"
"Bravo!" Kevin bertepuk tangan pada Diki.
Juna ikut bertepuk tangan. "Good job men."
"Salut gue Dik." Elang ikut mencibir.
"Santai aja, cuma 20 juta kok!" Keenan menekankan jumlah uang di kalimatnya.
"Lain kali jangan gitu lagi Dik. Harus lebih hati-hati, jumlah yang harus lo ganti gak sedikit. Walaupun lo punya Lya yang kaya, tapi lo gak bisa anggap enteng duit." Peringat Karta pada Diki.
"Gue janji bayar kok. Nanti gue cicil!" Cicit Diki.
"Lo ngerendahin gue? Apa perly gue beliin lo lima biji yang begituan juga?" Tanya Lya menyombongkan diri.
"Sombong!" Ujar mereka pada Lya.
"Udah, lanjutin makannya," celetuk Devan pada Lya. Dia sebenarnya sedikit terkejut dengan Lya yang dengan mudahnya akan menggantikan kamera semahal itu. Devan hampir lupa jika Lya punya sebuah kartu yang unlimited.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)