
Lya sudah berada di dalam laboratorium bersama Noah dan Lolita. Dia duduk di sisi kanan Noah sedangkan Lolita di sisi kiri Noah. Mereka sudah di beri amplop berisi soal dan kertas jawaban. Lya merasa gugup tiba-tiba, ini pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini.
"Relax!" Lya dapat mendengar Noah berbisik padanya. Lya menoleh menatap Noah yang terlihat menguatkannya. Lya tersenyum dan mengangguk.
Di luar ruangan, inti Rakasa dan Diki dkk (Clarissa, Keenan, Eadred dan Mira) sedang menunggu Lya dan Noah menyelesaikan sesi mereka. Mereka memutuskan untuk menunggu di kantin seraya mengisi perut mereka.
"I'm so nervous. Gimana malau Gel gel gagal," bisik Clarissa pada Diki.
"Jangan ngomong gitu bulepotan! Ngeraguin kepintaran sepupu gue lo?" Balas Diki yang tengah menyantap semangkok mie ayam.
Diki dkk duduk di samping meja inti Rakasa yang tengah duduk bersama Tiara dan Dara ditambah Devan dan Alixy.
"Tenang aja Cla, tes begini mah mudah bagi Lya," ujar Keenan santai.
Mira mengangguk. "Lya, kak Noah sama Loli udah belajar selama ini. Yakin aja," ujar Mira. Eadred mengangguk menyetujui ucapan Mira.
Bisik-bisik terdengar memenuhi kantin saat beberapa orang berjalan memasuki area kantin. Ardian dan teman-temannya berjalan dengan angkuh menuju inti Rakasa. Ardian berdiri tepat di samping Karta. "Sekolah lo lumayan juga," celetuknya.
"Iya lah jelas! Sekolah favorit!" Juna menjawab ucapan Ardian. "Mata lo gak usah jelalatan, cewek-cewek disini gak akan tertarik sama lo!"
Ardian dan teman-temannya tertawa. "Gue kedipin sekali aja mereka semua pada pingsan," ujarnya dengan sombong.
Inti Rakasa mendecih. Karta berdiri menatap Ardian. "Kalau lo kesini mau makan, silahkan cari tempat duduk lo. Kita gak punya waktu buat ladenin bacotan lo."
Senyum miring Ardian terukir. "Santai kali, kita kesini dalam rangka persahabatan."
Karta menggeram melihat senyum menyebalkan dari Ardian, Tiara yang merasa Karta bisa saja membuat keributan pun berdiri dan mengelus lengan Karta. "Lanjutin makannya Ta, nanti dingin," ujar Tiara lembut.
Emosi Karta meredam, namun Ardian semakin mengeluarkan senyum yang sangat menyebalkan bagi Karta. "Pinter juga lo nyari cewek. Gue pikir si Lya cewek lo, oh atau lo punya banyak cewek?"
"Jaga mulut lo!" Geram Juna. Kevin yang duduk disampingnya menarik Juna untuk duduk kembali. "Gak perlu bikin keributan. Gak untuk dia," ujar Kevin menenangkan.
"Gue pacar Karta, Lya adik kita. Kita gak sedekat itu untuk ngobrol panjang sama lo, silahkan pergi selagi gue masih berbaik hati mau nenangin Karta. Takutnya dia bikin lo babak belur disini, kasihan muka gak seberapa lo itu," ujar Tiara panjang lebar membuat inti Rakasa tertawa. Alix yang biasanya diam saja sampai tertawa melihat Tiara yang notabene-nya tidak pernah berbicara kasar bisa mengeluarkan ucapan seperti itu.
Ardian mengepalkan tangannya, dengan kesal dia pergi meninggalkan kantin.
"Tiara abis belajar dari mana ngomong kayak gitu?" Tanya Dara menghentikan tawanya.
Tiara tersenyum. "Dengerin Lya ngomong, lagian dia emang gak ganteng. Banyak omong banget!"
Karta terkekeh mengacak rambut Tiara, merasa gemas dengan kekasihnya ini.
"Cukup yang begitu aja Ra jangan yang lain. Lya sesat, entar lo ikut badung kayak dia," celetuk Elang.
Diki yang mendengar itu, melempar tisu bekas pada Elang dari mejanya. "Jaga bicara anda wahai ketua OSIS yang sebentar lagi turun jabatan, perkataan anda terdengar merendahkan sepupu saya!"
"Hm.. your mulut is very rude!" Clarissa ikut-ikutan mencibir Elang.
__ADS_1
"Waduhh di serang pengawalnya," ujar Juna tertawa.
Diki mendelik pada Diki. "Jangan bawa-bawa jabatan, nyebelin lo!" Ujarnya. Elang itu sangat bangga dengan jabatam OSIS nya, dia sangat cinta dengan kegiatannya selama di OSIS, mendengar ucapan Diki yang membawa penurunan jabatannya membuat Elang kesal.
Diki hanya mengeluarkan ekspresi mengejek pada Elang.
Setelah berpuluh-puluh menit berlalu, Lya sudah sangat kebosanan berada di dalam ruangan yang hening itu. Dia sudah menyelesaikan semua soal yang ada, dia melirik kearah Noah yang juga telah menyelesaikan soal-soalnya.
Setelah waktu habis, Lya, Lolita dan Noah langsung keluar dari laboratorium.
"Ya ampun, tangan Loli keringetan," ujar Lolita sesaat setelah keluar.
"Lebay lo," timpal Lya.
Lolita mengerucutkan bibirnya. "Bukan lebay, soalnya emang susuh. Muka kak Lya aja sampai pucat gitu."
"Dih! Gue mah biasa aja. Liptint gue udah hilang makanya begini," jawab Lya. "Otak lo berasap!"
Lolita melotot. "Serius kak?" Tanyanya. Entah dia memang percaya atau pura-pura untuk percaya, Lya hanya mendengus. "Uhm.. pengumuman hasilnya masih lama kan? Loli izin ke teman-teman Loli dulu ya kak," izin Lolita pada Noah.
Noah mengangguk. Lolita kemudian berjalan meninggalkan Lya dan Noah. "Kok sepi sih bang?" Tanya Lya.
"Kan ada sosialisasi, mereka laati ngumpul di aula."
Lya mengangguk. "Terus kita kemana?"
Lya menatap Noah kesal. "Kok gue di tinggal sih!" Desisnya berjalan sambil menghentakkan kakinya kesal.
Noah segera masuk dan menyelesaikan urusannya di toilet, saat ingin keluar dan baru saja membuka pintu dia sudah di kejutkan dengan Lya yang berdiri di tengah-tengah.
"Lo ngapain disini?" Tanya Noah. Keningnya mengkerut melihat Lya yang berdiri sembari menutup hidungnya.
"Hidung gue berdarah bang," ujar Lya pelan.
Noah menarik tangan Lya membuatnya terkejut melihat darah yang meleber kemana-mana, bahkan bibir Lya sudah ikut terkena darah.
"Kenapa bisa mimisan gini?" Tanya Noah panik. Dia segera menarik Lya masuk ke toilet pria yang memang tengah kosong.
Lya hanya diam mengikuti Noah. Sampai di wastafel, Noah membasahi tangannya dan mengelap darah di hidung Lya. "Kenapa gak bilang kalau sakit?" Tanya Noah.
"Gue aja gak tau!"
Noah menghela nafasnya, dia sedikit bingung karena tidak mempunyai tisu. Sedangkan darah Lya kembali mengalir. "Kita ke UKS aja ya?"
Lya hanya mengangguk. Mereka keluar dan segera menuju UKS. Beberapa murid yang tidak mengikuti sosialisasi terlihat penasaran dengan Noah yang berjalan menggandeng Lya, sedangkan Lya tengah menutup hidungnya dengan sebelah tangannya.
"Jangan-jangan gue udah mau mati lagi bang," celetuk Lya asal.
__ADS_1
Noah mendengus. "Kalau ngomong jangan sembarangan!"
Mereka sampai di UKS, petugas UKS segera berlari menghampiri Lya.
"Lya kenapa?" Tanya petigas UKS itu.
Lya mengeluarkan cengirannya. "Mimisan buk," jawabnya.
Lya duduk di brangkar pesakitan, petugas UKS itu membersihkan darah dan memeriksa Lya.
"Kamu kecapekan. Ini mungkin karena kamu terlalu memaksakan otak kamu akhir-akhir ini "
"Gak ada yang serius kan bu?" Tanya Noah.
"Nggak! Dan semoga nggak. Kamu gak sering minisan kan?"
Lya menggeleng. "Ini pertama kalinya.
"Kalau nanti kamu kembali mimisan, sebaiknya langsung temui dokter. Ibu ambilin makan buat kalian dulu, kalian pasti capek habis ngerjain soal tadi."
Noah hanya mengangguk. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi di samping brangkar Lya. Sedangkan gadis itu tengah duduk dengan hidung yang tersumbat kain kasa.
Lya memperhatikan Noah yang tengah mengangkat sambungan telpon dari seseorang. "Gue di UKS," ujarnya.
"Lya mimisan," ujarnya lagi sebelum mematikan sambungan teleponnya.
"Siapa bang?" Tanya Lya.
"Karta!"
"Lo tau gak bang?"
"Nggak!"
"Ck.. gue belum selesai. Lo tau gak? Cowok yang di depan gue tadi ganteng bang. Gak sia-sia gue mandi kembang tadi pagi, semoga aja dia kepincut."
Noah menatap datar Lya. "Gak akan diizinin Karta!"
Lya mengerutkan keningnya. "Hah?"
"Lo mau kenalan sama tuh cowok? Mau dekat sama dia? Gak akan di kasih izin sama Karta. Dia anggota Drax!"
"Yah.. masa sih?"
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1