
Lya baru saja membuka mata, menoleh kearah pintu balkonnya. Senyumnya terukir memgingat dia akan kembali bersekolah. Lya segera beranjak dari kasurnya, memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap.
Setelah mandi dan memakai seragamnya, Lya berdiri di depan cermin besar kamarnya. Memoleskan liptint berwarna satu tingkat dari warna asli bibirnya, tidak terlalu tebal tapi mampu menambah kesan cantik padanya. Menyemprotkan parfum kesukaannya lalu segera keluar untuk sarapan.
"Pagi," sapa Lya pada orang tuanya dan juga Dirga.
"Pagi sayang, ayo sarapan," jawab mami Risma.
Lya mendudukkan dirinya di samping Dirga. "Widihhh udah pakek seragam juga. Ganteng banget sih adek gue," ujar Lya pada Dirga.
Dirga yang tengah menyuap sepotong roti ke dalam mulutnya hanya menoleh pada Lya. Tidak terlalu banyak bicara, itulah Dirga. Papi Agung memang sudah mengurus segala sesuatu agar Dirga bisa bersekolah. Dirga yabg tidak pernah sekolah pun merasa senang tapi juga merasa tidak nyaman, mungkin karena dia akan bertemu banyak orang membuatnya semakin berdiam diri.
Lya meneguk habis susu coklatnya. "Yok berangkat!" Ujarnya pada papi Agung.
"Kamu gak di jemput Devan?" Tanya papi Agung.
"Nggak! Mau lihat sekolahnya Dirga."
Papi Agung hanya mengangguk. Mereka segera berjalan menuju pintu depan.
"Dirga sekolah yang bener ya, nanti di jemput sama pak Iwan aja soalnya papi ada rapat di kantor kak Fero," ujar mami Risma.
Dirga yang tengah di pasangkan tas oleh mami Risma hanya mengangguk mengerti. Dia menyalami tangan mami Risma lalu berjalan menuju mobil. Lya juga melakukan hal yang sama, kedua anak itu berjalan mendekati papi Agung yang sudah berada di mobil.
"Sudah siap?" Tanya papi Agung pada Lya dan Dirga.
"Siap!" Jawab Lya semangat. Gadis itu duduk di kursi belakang sedangkan Dirga duduk di samping papi Agung.
Mobil bergerak meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan Dirga hanya diam saja membuat Lya memajukan tubuhnya.
"Kenapa diam aja?" Tanya Lya pada Dirga.
"Gak kenapa-kenapa."
"Gugup ya?"
"Nggak!"
"Halah, ngaku aja!"
"Lya, duduk yang benar!" Tegur papi Agung. Lya mengerucutkan bibirnya lalu membenarkan posisi duduknya.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah sekolah dasar yang cukup besar. Papi Agung keluar bersama Dirga, Lya juga ikut keluar.
__ADS_1
"Dirga masih ingat guru Dirga yang ketemu sama kita kemarin kan?" Tanya papi Agung.
Dirga mengangguk. "Itu!" Ujarnya menunjuk seorang guru perempuan yang usianya masih cukup muda.
"Nah kalau gitu, Dirga masuk sana."
Lya berdiri di depan Dirga. "Apa perlu kita antar?"
Dirga melirik Lya tajam. "Dirga bukan anak kecil," jawabnya. "Dirga bisa sendiri!"
Papi Agung terkekeh kecil melihat Dirga sedangkan Lya mencebikkan bibirnya mencibir Dirga.
"Ya udah, kalau gitu Dirga masuk sana. Jangan nakal, oke?"
"Oke!" Balas Dirga menyalami tangan papi Agung.
"Kalau ada yang jahatin kamu bilang sama kakak, atau kalau kamu bisa balas aja. Jangan diam aja," bisik Lya pada Dirga.
Papi Agung mendengar ucapan Lya menyentil kening anak perempuannya itu. "Heh adiknya kok di ajarim gak bener sih," ujarnya. Sudah cukup Lya dan Diku saja yang punya kelakuan preman, anaknya yang masih polos inu jangan sampai ikut menjadi nakal seperti kakaknya.
Dirga menatap Lya dengan terzenyum smirk. Lya melototkan matanya melihat Dirga yang tengah mengejeknya.
Ni bocah belajar dari mana senyum smirk begitu. Batin Lya menatap horor Dirga.
Mobil kembali berhenti. Lya pamit terlebih dahulu sebelum turun dari mobil papinya.
"Gel Gelllllll!"
Lya menarik ujung bibirnya. Sudah sangat hafal dengan siapa yang berteriak tidak tau malu memanggil namanya.
"Pagi!" Sapa Lya pada Clarissa dan teman-temannya yang lain.
"Pagi!" Sapa mereka kembali.
Clarissa tebgah bergelayut manja di lengan Lya. "Kangen banget!"
"Gue juga," balas Lya terkekeh.
"Kata mami, pagi ini Dirga udah masuk sekolah," ujar Clarissa.
Lya mengangguk. "Iya, mana dia ganteng banget lagi. Gue yakin dia bakal jadi cogan di sekolahnya nanti."
"Iyalah, dia harus ganteng kayak gue!" Timpal Diki menyibak rambutnya.
__ADS_1
"PD lo!"
"Dirga beruntung banget bisa tinggal sama keluarga lo Ya," ujar Keenan.
"Iya. Gue berharap Dirga bisa lebih bahagia nantinya," lanjut Mira. Mengingat bagaimana kisah Dirga yang di tinggalkan ayahnya di depan panti dalam keadaan hujan dan petir membuatnya merasa iba.
"Amiinnnn. Gue juga berharap begitu Mir," jawab Lya.
"Mending kita masuk," ujar Diki. Dia berjalan di belakang bersama Keenan, sedangkan Lya, Clarissa dan Mira berjalan di depan mereka.
"Gel gel, cardi aku bagus gak?" Tanya Clarissa pada Lya. Dia berputar di depan Lya.
Lya mengangguk meneliti. "Bagus. Tapi bukannya warna ungu udah ada?" Tanya Lya.
"Beda! Ini warna lilac, yang satunya warna lavender," jawab Clarissa.
"Sama-sama ungu!" Jawabnya.
Mira mengangguk menyetujui ucapan Lya. "Kemarin aja habis beli yang hijau, tiga biji."
"Yang itu warna matcha, army sama hijau muda, beda kok!" Jawab Clarissa lagi. Mana bisa dia membeli satu warna saja saat melihat banyaknya warna cantik yang menarik perhatiannya. Apalagi model cardigannya yang sangat lucu di matanya.
"Buat apa beli banyak-banyak? Boros tau. Lagian outer lo itu udah banyak banget Clarissa," tanya Lya merasa gemas.
"Tapi kan aku suka. Lagian daddy gak keberatan kirimin aku uang buat beli itu semua."
Diki menatap jengah pada Clarissa. "Lo minta beliin toko baju juga daddy lo gak bakal nolak. Lo kan manja banget, ntar gak diturutin lo ngambek berhari-hari."
Clarissa memanyunkan bibirnya. Matanya melirik tajam pada Diki. Sedangkan Diki tidak menghiraukan tatapan Clarissa.
"Gak apa-apa Cla! Selagi bisa, lo bebas mengekspresikan kesukaan lo. Selagi lo beli dan lo gunain, itu masih wajar. Asal jangan lo belanja banyak barang tapi gak lo pakek sama sekali," ujar Keenan membuat Clarissa tersenyum.
"Yeah, i know you're smart!" Clarissa mengacungkan jempolnya pada Keenan.
Lya hanya menghela nafas saja. Toh mau di larang juga tidak akan di dengar oleh Clarissa. Mengingat betapa cintanya Clarissa pada fashion, terlebih pada sesuatu yang berbau outer. Mungkin Clarissa sudah punya berbagai macam bentuk dan warna dari barang itu.
Saat mereka berbelok kearah salah satu koridor, mereka bertemu Clara dan teman-temannya. Clara menatap Lya tajam sedangkan Lya hanya melirik malas pada Clara.
"Eh sekolah lagi? Gue pikir udah mau mati," ujar Clara dan tertawa bersama teman-temannya.
Lya berusaha untuk mengabaikan Clara, namun percuma kelima gadis itu sudah berdiri di depan Lya dan teman-temannya.
...🌻...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)