GELYA

GELYA
CHAPTERS 69


__ADS_3

Pagi ini Lya berangkat bersama Clarissa karena jarak rumah Careen dan rumah Lya tidak jauh membuat Lya menyetujui untuk berangkat bersama Clarissa. Lagi pula Diki akan berangkat bersama Chintya.


"Jadi papi bakalan stay disini juga?" Tanya Lya di sela-sela sarapannya.


Papi Agung mengangguk. "Untuk beberapa hari ini iya, perusahaan kita di Amerika biar Sean yang urus."


"Lya udah siap. Lya berangkat ya," ujar Lya memakai tasnya.


"Hati-hati! Jangan terlalu capek ya, kalau tangannya sakit lagi langsung telpon mami!"


"Jangan nakal!"


Lya menyalami mami dan papinya lalu segera berjalan keluar rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Lya mengecek ponselnya karena Clarissa sudah mengirim pesan bahwa dia sudah ada di depan.


"Morning!" Sapa Clarissa.


"Morning juga!" Jawab Lya terkekeh.


Clarissa dan Lya berangkat bareng ke sekolah. Saat sampai, Lya melihat Diki, Keenan dan Mira yang sudah menunggu mereka.


"Morning all!" Sapa Clarissa pada ketiga temannya.


"Happy morning!"


Diki menjitak kepala Keenan. "Gue tau lo bego, tapi jangan di perjelas juga Nan, kasihan gue sama lo."


Lya, Clarissa dan Mira hanya tertawa. Mereka berlima berjalan menuju kelas, meski sekarang mereka hanya berlima namun mereka tetap saja menjadi pusat perhatian jika tengah berjalan bersama seperti ini. Apalagi di mata adik kelas, mereka terlihat sangat keren.


"Kak Diki tinggi banget!"


"Kak Lya cantiknya gak ada obat!"


"Kak Lya sudah punya pacar gak ya?"


"Kak Keenan kalau di lihat-lihat manis juga."


"Kak Mira imut banget."

__ADS_1


"Kak Cla dong, bule gitu. Cantik banget!"


"Cardigan kak Cla ganti-ganto terus setiap hari, pasti lemarinya penuh. Jadi pengen!"


Clarissa tidak henti-hentinya tersenyum. Meski dia memang orang yang ramah, namun terdengar beberapa pujian dari adik kelasnya membuat senyum Clarissa makin lebar. Apalagi Diki dan Keenan, kedua laki-laki itu sudah bergaya dan menebar pesona ke siswi-siswi yang ada di sekitar mereka.


...🌻...


"Buruan Dik!" Bisik Lya.


"Bentar napa! Bingung gue."


Lya berdecak. "Cuman ngempesin ban doang susah amat!"


"Ekhem!"


Lya dan Diki terkejut.


"Lagi ngapain?" Tanya pak Burhan yang sudah berdiri di samping Lya.


Lya tertawa kikuk. "Eh pak Bur. Apa kabar pak?" Tanya Lya dengan bodoh.


"Udah lama pak?" Tanya Diki lagi.


Pak Burhan hanya menggelengkan kepala. "Diki dan Lya ke lapangan sekarang!"


"Iya! Upacara pembantaian kalian!"


"Astagfirullahaladzim! Bapak kejam banget," ujar Diki mendramatis.


"Sebaiknya kalian buruan ke lapangan sebelum saya kaish tau bu Lidya kalau kalian ingin menjahili beliau."


Lya mendengus. "Bapak gak asih ah!"


"Kalau kalian belum sampai lapangan dalam hitungan kesepuluh, hukuman kalian bertambah. Satu.. du..."


"ASTAGFIRULLAH PAK BURHAN KEJAM, SAYA BERUBAH PIKIRAN BUAT JADI ISRTI KEDUA BAPAK!" Teriak Lya segera berlari.


Kedua persepupuan itu berlari heboh ke tengah lapangan. Murid yang tengah olahraga sampai menoleh penasaran.


Lya dan Diki segera berdiri menghadap tiang bendera dan mengabaikan banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka.


"Lo sih kelamaan!" Rutuk Lya.

__ADS_1


"Enak aja main nyalahin gue. Ini salah lo karena gak jaga sekitar dengan benar!" Diki balas merutuki Lya.


Lya merotasikan matanya. "Kalau lo lebih cepat pasti gak bakal ketahuan!"


"Jangan bikin gue pengen nyempelungin lo ke kali ya!"


"Jangan bikin gue pengen motong kaki lo yang panjang itu ya!"


"Dih nyebelin!" Dua-duanya berucap bersamaan.


Lya kembali mendengus. "Rencana gagal ujung-ujungnya tetap dihukum juga."


"Siapa bilang gagal?" Tanya Diki dengan tersenyum. Laki-laki itu mengeluarkan sebuah paku dari kantong celananya.


Lya menganga, dia merasa tidak menyangka Diki sudah mulai pintar.


"Kalau cuma di kempesin mah gak asik. Sekalian bocorin aja, udah gedeg level dewa gue sama tuh guru."


Lya tersenyum lebar. Tangannya terangkat mengkode Diki untuk bertos ria. Mereka berdua tertawa kemenangan.


Tidak jauh dari sana, Karta dan teman-temannya tengah menatap Lya dan Diki. Mereka yang punya jam olahraga hari ini bisa melihat bagaimana Diki dan Lya datang dengan terburu-buru ke lapangan.


"Pasti buat ulah lagi!" Celetuk Kevin.


"Gue pikir mereka udah tobat," ujar Juna.


Elang yang duduk di samping Kevin dan Juna tertawa. "Mana bisa. Mereka itu bakal sakit kalau gak berulah sehari aja."


Karta hanya mendengar percakapan teman-temannya. Dia memang melihat Lya tadi, namun segera mengalihkan pandangannya kembali melihat siswi kelasnya yang tengah bermain basket di lapangan.


Ada perasaan aneh yang masih melingkupi hati Karta. Ada rasa bersalah setelah dia mengatai Dika dan memaki Lya, namun perasaan marah masih memenuhi dirinya juga.


"Ajak baikan kalau lo emang gentle. Gue tau lo gak semarah itu," celetuk Noah yang duduk di samping Karta. "Gak usah tinggiin gengsi!"


"Ngaca!" Balas Karta pada Noah.


Juna menatap kedua temannya dengan senyum miring. "Lo berdua itu yang ngaca biar sadar. Punya gengsi kok ngalahin langit!"


"Biasalah! Sok keren itu harus," cibir Elang pada Karta dan Noah.


Kevin juga ikut-ikutan. "Tungguin aja hasil penyesalannya."


"Diem lo!" Sentak Karta.

__ADS_1


Juna, Elang dan Kevin berlagak ketakutan. "Uhh atutt!" Setelahnya mereka tertawa mengejek.


...🌻...


__ADS_2