
"Selamat pagi!"
"Selamat pagi mami!"
"Masih capek?" Tanya mami Risma pada Lya.
"Nggak mi, udah mendingan kok. Lya mau ke kamar mandi."
Mami Risma membantu Lya untuk thrun dari tempat tidurnya. Karena pemeriksaan semalam, Lya merasa lelah dan lemas. Tapi hasil yang cukup baik membuat Lya tidak perlu berlama-lama di rumah sakit.
"Lya, semalam mami sama papi sudah membicaran tentang Dirga," ujar papi Agung saat Lya sudah kembali dari kamar mandi.
"Dirga?"
"Iya sayang. Mami sama papi berencana untuk mengadopsi Dirga, biar kamu punya teman di rumah sekaligus kita bisa bantu Dirga untuk berobat."
Lya terdiam. Sebenarnya dia tidak pernah memikirkan untuk mengadopsi Dirga, tapi Lya merasa senang karena orang tuanya ikut peduli dengan anak laki-laki itu.
Mami Risma mengelus rambut Lya. "Kalau kqmu setuju, tentu saja."
Lya tersenyum. "Lya setuju kok. Asal mami sama papi bisa sayang ke Dirga dengan tulus."
"Insya Allah, kita akan jadi orang tua yang baik untuk Dirga."
Senyum Lya tidak luntur, merasa senang karena Dirga akan ikut tinggal bersamanya. Sekarang Lya hanya berharap Dirga mau untuk ikut dengan Lya.
Karena kondisi Lya yang udah stabil dan dengan janji dokter, Lya bisa pulang pagi ini. Mami Risma tengah membereskan barang yang akan di bawa pulang, papi Agung mengurus biaya administrasi rumah sakit, sedangkan Lya sibuk dengan makanan dan ponselnya.
^^^Gue balik lagi ini!^^^
Lya mengirim pesan pada Devan.
Ting!
Devan 💩
Bagus! Nanti gue kerumah lo.
^^^Bawa es krim^^^
^^^Jangan cuma satu.^^^
Toko es krim aja bisa gue beli kalau lo mau.
^^^Gue juga pengen kembang gula.^^^
Apaan kembang gula?
^^^Gulali!^^^
Emang ada?
Bukannya tuh makanan cuma di jual kalau ada pasar malam.
^^^Ada juga kalau pasar siang.^^^
^^^Pokoknya harus dapat!^^^
Iya nanti
^^^Kalau gak dapet gak usah kesini^^^
Nyusahin lo
^^^Udah deh, gue udah mau balik.^^^
^^^Sekolah yang bener. Jangan centil ke cewek-cewek^^^
^^^Gue marah!^^^
Bodo amat
"Ck.. bodo amat katanya? Awas aja kalau dia kecentilan."
"Kenapa sih?" Tanya mami Risma.
"Gak kenapa-kenapa kok."
Setelah menyelesaikan segala sesuatu urusan di rumah sakit, Lya segera pulang. Namun ternyata papi Agung mengatakan jika pagi ini mereka akan menemui Dirga. Selama di perjalanan Lya terlihat sangat senang, selain karena sudah terbebas dari rumah sakit, Lya juga senang karena akan bertemu dengan Dirga.
Saat sampai di panti asuhan, mereka menemui ibu panti terlebih dahulu.
__ADS_1
"Nak Lya."
"Halo ibu."
Orang tua Lya berjabat tangan dengan ibu panti. Papi Agung tanpa basa-basi langsung mengatakan niatnya datang kepada ibu panti.
"Saya bersyukur pak, tapi sedikit takut jika Dirga menolak," ujar ibu panti.
"Kita tidak akan memaksa bu, jika memang Dirga menolak maka kami akan terima keputusan anak itu," jawab papi Agung.
Ceklek
Pintu ruangan dimana Lya dan orang tuanya berada terbuka menampilkan seorang anak laki-laki yang datang dengan seorang wanita yang membantu ibu panti merawat anak-anak panti.
Lay tersenyum pada Dirga, namun anak itu tidak berekspresi sama sekali.
"Dirga, sini nak," ucap ibu panti.
Dirga berjalan mendekati ibu panti, matanya tidak lepas dari Lya yang tengah tersenyum padanya.
"Ngapain kesini?" Tanya Dirga pada Lya. Ekspresinya masih sama, mungkin moodnya sedang tidak bagus saat ini.
"Dirga, kak Lya dan orang tuanya datang untuk ketemu sama Dirga," jelas ibu panti pada Dirga.
"Dirga gak kangen sama kakak?" Tanya Lya.
Dirga menggeleng. "Nggak! Kemarin sudah ketemu."
Lya mengerucutkan bibirnya, matany mendelik pada anak laki-laki yang terlihat sangat menjaga image di depan orang tuanya.
"Halo Dirga, kenalin sayang ini papi Agung dan ini mami Risma," ucap mami Risma tersenyum pada Dirga. "Kita orang tua kak Lya."
Dirga hanya mengangguk, lalu dia menoleh tajam pada Lya. "Kakak kenapa gak sekolah? Bolos ya? Anak nakal."
"Sembarangan. Kaka lagi libur."
"Ini bukan hari minggu."
"Kakak kesini mau jemput Dirga, Dirga mau gak tinggal sama kakak?"
Dirga terdiam. Matanya berkedip beberapa kali memperlihatkan kesan lucu meski wajahnya sangat datar.
Ibu panti mengelus rambut Dirga. "Dirga, kak Lya mau Dirga tinggal sama kak Lya dan orabg tuanya. Dirga mau kan?"
"Kenapa harus tinggal sama mereka? Rumah Dirga disini."
"Iya sayang, tapu nanti Dirga bisa tinggal sama mereka."
"Kayak kate sama Johan ya bu? Dirga di adopsi mereka ya?" Tanya Dirga.
"Iya sayang, kayak Johan sama Kate. Mereka punya orang tua baru, sama kayak Dirga sekarang. Dirga mau kan?"
Dirga menatap kedua orang tua Lya yang tengah menatapnya kagum. Diusia Dirga yang masih sangat muda ini, namun Dirga sangatlah pintar. Dia tidak bersekolah namun sangat suka membaca buku yang ada di perpustakaan kecil milik panti.
"Dirga mau kan? Nanti Dirga panggil kita mami sama papi, kita tinggal sama-sama di rumah. Dirga bisa main sama kak Lya," ujar mami Risma.
Dirga masih tidak bersuara, namun wajahnya terlihat memerah. Bibirnya bergetar menandakan dia akan segera menangis.
"Papa buang Dirga kesini, papa gak sayang sama Dirga. Cuma ibu yang sayang sama Dirga," ujar Dirga menangis.
Meskipun terlihat lucu, namun Lya tidak bisa menahan diri untuk tidak bersedih. Matanya ikut berkaca-kaca menatap Dirga yang tengah di peluk ibu panti.
Mami Risma mendekati Dirga. "Mami bisa sayang sama Dirga. Mami sama papi akan sayang sama Dirga, kan ada kak Lya juga. Kita akan sayang sama Dirga."
"Dirga sudah menjadi anak papi sama mami, Dirga jangan takut." Papi Agung ikut bersuara.
Dirga mengusap air matanya. Dia menatap Lya yang cemberut menatapnya. Dirga tertawa melihat Lya yang tengah menahan tangis.
"Dirga mau," jawab Dirga membuat mereka semua tersenyum.
Papi Agung segera mengurus segala sesuatu yang diperlukan untuk pengadopsian. Lya sedari tadi tersenyum menggenggam tangan Dirga.
Mereka tengah berpamitan dengan anak-anak panti lainnya, meski Dirga bahkan tidak bersuara sama sekali.
Kini mereka tengah berada di dalam perjalanan menuju rumah. Sedari tadi Dirga tidak pernah melepas genggaman tangannya dari Lya. Dia juga tidak berbicara, Lya yang mengerti pun tidak banyak bertanya.
Setelah beberapa puluh menit kemudian, mobil yang di kendarai papi Agung sampai di rumah. Lya menuntun Dirga untuk keluar dari mobil, dapat Lya lihat jika Dirga tengah menatap rumah dengan kagum.
"Ayo masuk!" Lya menarik tangan Dirga. Mereka masuk dan lagi-lagi Dirga terlihat kagum dengan isi rumah Lya.
"Rumah kakak kayak istana."
__ADS_1
"Sekarang rumah ini juga jadi rumah Dirga," jawab Lya tersenyum.
Mami Risma mendekati Lya dan Dirga. "Kamar Dirga kan belum siap, gimana kalau Dirga sama kak Lya dulu. Biar mami sama papi siapin kamar Dirga."
"Oke mi, biar Lya sama Dirga di kamar Lya dulu. Lya juga capek!"
"Ya udah, istirahat sana. Dirga sama kakak dulu ya," ujar mami Risma berjongkok di depan Dirga.
"Makasih tante," balas Dirga.
"Kok tante sih? Panggil mami dong sayang."
Dirga tersenyum. "Makasi mami," jawabnya membuat Lya dan mami Risma tersenyum.
Lya segera mengajak Dirga ke kamarnya. Dirga cukup sibuk dengan kegiatannya memperhatikan setiap sudut kamar Lya. Dia berjalan menuju rak buku yang ada di sudut ruangan. Memperhatikan beberapa foto dan pajangan-pajangan yang ada.
"Ini siapa?" Tanya Dirga.
Lya yang tengah duduk di kasurnya menoleh. "Itu namanya Bima. Kakaknya kak Lya, kakak Dirga juga."
"Dia dimana?"
"Di surga," jawab Lya.
Dirga diam. Dia berjalan mendekati Lya. "Mama Dirga juga sudah ada di surga. Kakak tenang aja, nanti Dirga bilang ke mama untuk cari kak Bima. Biar mama bisa jagain kak Bima. Nanti mama bisa masakin kak Bima, masakan mama enak."
Lya tersenyum sendu. "Iya, nanti bilang sama mamanya Dirga kalau kak Bima gak suka makan jamur. Dia suka makan ayam."
"Mama suka makan jamur. Tapi gak apa-apa, nanti Dirga bilang."
Lya tersenyum mengelus kepala Dirga. Mereka menghabiskan waktu berdua, karena sudah bingung akan melakukan apa, Lya dan Dirga tertidur. Mereka tertidur pulas bahkan tidak terganggu dengan kesibukan orang tuanya yang tengah merenovasi kamar untuk Dirga.
Ceklek
"Tidur rupanya."
Mami Risma yang baru saja masuk ke dalam kamar Lya tersenyum melihat Lya dan Dirga.
"Ya! Bangun yuk, makan siang dulu."
Bukan Lya yang bangun, malah Dirga yang sudah duduk sambil mengucek matanya.
"Lya bangun. Liat Dirga aja di bangunin."
Lya menggeliat. "Apa mi?"
"Bangun! Makan siang, kamu harus minum obat."
Lya duduk meski matanya masih terpejam. Dengan langkah gontau, Lya berjalan menuju kamar mandi.
"Adiknya di ajak juga, cuci muka terus turun," ujar mami Risma segera keluar dari kamar.
Lya dan Dirga masuk kamar mandi dan mencuci muka. Lalu turun untuk makan siang, di bawah sudah ada mami dan papi yang menunggu mereka berdua.
Dirga hanya diam mengikuti langkah Lya. Sampai di meja makan, Lya membantu Dirga duduk di sampingnya. Mereka pun makan dengan tenang, Dirga makan dengan lahap. Makanan di panti tidaklah kekurangan, namun jenisnya mungkin saja berbeda. Tentu tidak setiap hari anak pantu akan makan dengan ayam atau daging. Karena itu Dirga sangat lahap memakan makanan yang terbilang cukup lengkap di meja makan.
"Kamar Dirga sudah siap," ujar papi Agung yang sudah menyelesaikan makannya.
"Kamar Dirga yang dimana pi?" Tanya Lya.
"Di samping kamar kamu, tadinya mau renovasu kamar Dika tapi papi yakin kamu nolak."
Lya hanya mengangfuk. Kamar di samping kamar Lya adalah kamar yang pernah di pakai Clarissa. Setidaknya kamar itu tidak terlalu jauh, Lya takut jika Dirga tidak mau kamarnya terlalu jauh dari kamarnya.
Mereka kembali naik ke atas untuk mengantar Dirga melihat kamar barunya.
"Gimana? Dirga suka gak?" Tanya mami Risma pada Dirga.
Dirga tersenyum. Anak itu berjalan mendekati kasurnya, memperhatikan setiap sudut kamar dengan perasaan senang. "Suka. Kamarnya bagus."
"Alhamdulillah, papi bingung mau pakai tema apa tadinya," balas papi Agung.
"Makasi papi, mami!"
"Sama-sama sayang. Nanti kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang ke mami, klau Dirga lapar tinggal bilang ke mba pelayan yang ada di bawah. Pokoknya Dirga bebas ngapain aja dirumah ini."
Dirga tersenyum senang. Merasa bahagia bisa mendapatkan kembali keluarga setelah merasa kehilangan bahkan saat usinya masih enam tahun.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1