GELYA

GELYA
CHAPTERS 74


__ADS_3

Seperti biasa, part sebelumnya sudah di revisi jadi lebih panjang. Silahkan di baca ulang part sebelumnya pren:) ENJOY!


...🌻...


Semua murid sudah keluar dari kelas mereka. Lya dan Diki juga sudah beranjak untuk keluar. Di depan kelas dapat Lya lihat Devan yang sudah menunggunya.


"Lo ikut ke panti kan?" Tanya Devan pada Lya.


Lya mengangguk. "Ikut dong."


Anak-anak Rakasa memang akan kembali mengunjungi panti asuhan. Beberapa dari mereka menunggu di parkiran, Lya berjalan diantara Devan dan Diki.


"Eh mba Tiara ikut lagi?" Tanya Lya melihat Tiara berdiri di samping Karta.


"Iya," jawab Tiara tersenyum.


"Kita yang disini langsung ke panti asuhan Kasih Bunda. Yang lainnya udah berangkat ke panti lain," ujar Karta.


"Jun, gue sama lo!" Jessy datang bersama Zia dan Laura.


"Gue ikut siapa dong?" Tanya Laura.


"Kevin kosong!" Jawab Elang.


"Boleh aja. Asal jangan peluk-peluk, cewek gue ngamuk ntar!" Timpal Kevin.


Laura mengangguk. "Aman!"


"Terus Zia sama siapa?" Lya bertanya.


"Sama gue!" Jawab Noah. Lya terdiam menatap Noah.


"Ya udah ayo berangkat!" Instruksi Karta.


Mereka semua segera menuju motor masing-masing. Lya berjalan menuju motor Devan dalam diam. Sebenarnya dia sangat penasaran tentang hubungan Zia dan Noah. Tumben sekali Noah menawarkan diri dengan suka rela untuk membonceng seorang gadis.


"Kenapa?" Tanya Devan yang menyadari Lya tengah memikirkan sesuatu.


"Nggak," jawab Lya.


Devan memasangkan helm pada Lya. Namun Lya tengah fokys pada Noah yang membantu Zia memasang helmnya.


Jangan-jangan bang Noah sama Zia pacaran lagi? Batin Lya. Melihat bagaimana Noah memperlakukan Zia dengan sangat lembut.


Sepanjang perjalanan Lya hanya diam saja, dia jadi takut kalau Clarissa sampai tau Noah dekat dengan Zia. Bisa nangis tujuh hari tujuh malam kalau tau.


"KAKAK!" Teriak anak-anak panti saat Karta dan teman-temannya sudah sampai disana.


"Halo Chloe!" Sapa Karta.


"Chloe senang kakak datang lagi."


Lya berdiri di barisan paling belakang bersama Devan. Tapi gadis itu terkejut tiba-tiba ada yang memukul lengannya.


"Aduh," ringis Lya mengeluas tangannya. Mereka menoleh melihat Lya.


"Lepasin tangannya!" Ujar Dirga yang ternyata sudah berdiru di samping Lya. Anak laki-laki itu menatap tajam Devan.


Lya tersenyum lebar. "Hehe ada Dirga ternyata," ujar Lya kikuk.


Karta tersenyum jail menatap mereka. "Lya selingkuh! Itu pacar barunya," ujar Karta. Mereka semua terkejut walau tidak mengerti. Berbeda dengan Diki, laki-laki itu tengah tertawa bersama Karta.


"Maksud lo apa sih?" Tanya Devan.


Dirga berdiri di depan Devan. "Heh laki-laki tua, lepasin tangan kak Lya. Dia pacar Dirga!"


Devan cengo. Bersama dengan teman-temannya yang lain.


"Ni bocah kok gak lupa sih?" Desis Lya pelan.


"Heh anak kecil, dia ini pacar abang. Anak kecil kayak kamu mana ngerti pacar-pacaran." Devan mengeratkan genggaman tangannya pada Lya.


"Dirga, kamu gak boleh gitu." Lya tersenyum pada Dirga, takut anak ini marah.


"Kakak belain dia?" Tanya Dirga kesal pada Lya. "Kakak lebih pilih dia daripada Dirga? Ya udah kita putus!" Ujar Dirga menginjak kaki Devan dengan kuat sebelum beranjak dari sana.


Lya menutup mulutnya dengan telapak tangan, dia bingung. Kenapa dia terlihat seperti playgirl yang ketahuan selingkuh. Sedangkan Devan tengah mengadu kesakitan.


"Pppftttt parah lo Ya!" Ujar Diki.


"Lya playgirl!" Juna mencibir.


"Dia siapa sih? Bisa-bisanya ngaku jafi pacar lo?" Devan menatap Lya kesal.

__ADS_1


"Lo sih bang, lihat tuh jadi ngambek. Kalau dia ngamuk gimana?" Rutuk Lya pada Karta.


"Susulin sana!" Noah berucap pada Lya.


Lya menghentakkan kakinya lalu berjalan mengejar Dirga. Baru saja Devan mengejar Lya tapi di tahan Noah.


"Lo disini aja!"


Lya mencari Dirga yang tidak nampak di manapun. Lya sendiri bingung harus apa jika menemukan Dirga nanti, anak laki-laki itu sangat sensitif. Sudah lelah berjalan, akhirnya Lya menemukan Dirga yang tengah duduk di taman belakang. Dengan langkah pelan Lya berjalan mendekati Dirga. Lya mengintip aja yang tengah di lakukan Dirga, dia sedikit terkejut saat melihat Dirga menyobek kertas bergambar wajahnya. Memang tidak sebagus itu namun Lya yakin itu dia saat melihat ada nama di sisi kertas.


"Dirga!" Panggil Lya lembut.


NGAPAIN KESINI? PERGI!"


Lya memejamkan matanya. Gadis itu terkejut mendengar teriakan Dirga. Anak laki-laki itu menodongkan sebuah penggaris besi pada Lya membuat Lya mundur beberapa langkah.


"Dirga tenang dong! Kak Lya datang kesini buat main sama Dirga."


"PERGI!"


"Dirga gak mau main sama kakak lagi?"


"JANGAN SEBUT NAMA AKU, PERGI!"


Lya mencoba mendekati Dirga yang kelihatan sudah tidak terkontrol. Dia takut Dirga akan menyakiti dirinya sendiri.


"Dirga, kak Lya kangen."


"PERGIII AKU GAK MAU KETEMU, AKU GAK MAU MAIN! PERGI."


"Dirga!"


Srett


"Aws," ringis Lya saat tangannya tersayat ujung penggaris besi Dirga. Memang tidak dalam namun cukup sakit karena tangan Lya mengeluarkan darah walau tidak menetes.


"Dirga!" Cicit Lya dengan mata berkaca-kaca. Dia takut melihat anak laki-laki itu mengamuk.


"KAKAK JAHAT HIKS KAKAK GAK SAYANG SAMA DIRGA LAGI!"


Dirga membuang penggarisnya ke sembarang tempat. Dia menangis menatap Lya.


"Kak Lya sayang Dirga kok.


"SAYANG!" Tanpa sadar Lya meninggikan suaranya membuat Dirga terdiam. "Kakak sayang sama Dirga, kan Dirga adik kak Lya. Jangan gini dong, kakak takut," ujar Lya melembut. Dia melangkah mendekati Dirga yang menangis.


"Dirga adik kakak ya?"


Lya tersenyum. "Dirga adik kak Lya," jawab Lya memeluk Dirga.


Dirga menangis di pelukan Lya. Lya mengelys punggung Dirga dengan lembut, menenangkan anak laki-laki tampan yang sangat menggemaskan di mata Lya.


"Tangan kakak berdarah," cicit Dirga. Anak itu menarik tangan kiri Lya llau meniupnya membuat Lya tersenyum.


"Gak apa-apa. Gak parah juga kok."


"Tapi berdarah."


"Kan udah di tiup Dirga, jadi udah sembuh."


Dirga kembali memeluk Lya. "Dirga sayang sama kakak, cuma kakak yang mau jadi teman Dirga. Teman-teman yang lain gak mau, mereka takut!"


"Emang Dirga nakalin mereka?" Tanya Lya.


Dirga menggeleng. "Dirga suka marah-marah. Jadi mereka takut, kak Lya gak pernah main kesini lagi, Dirga kesepian."


Lya tersenyum miris. Dia merasa kasihan pada anak ini, di usianya yang masih sangat muda dia harus merasa di jauhi orang-orang sekitar karena kekurangannya.


"Gak apa-apa. Sekarang udah ada kak Lya yang temenin Dirga.


Setelah menenangkan Dirga, Lya mengajak anak itu bergabung dengan yang lain. Dirga menggenggam tangan Lya berjalan memgikuti langkah Lya yang menghampiri Devan, Karta dan Tiara.


"Dirga minta maaf karena udah injak kaki kakak," ujar Dirga pada Devan.


Lya tersenyum sedangkan Devan hanya diam cengo. "Heh, kok malah diem sih?" Tegur Lya pada Devan.


Devan mengangguk. "Iya dimaafin. Lain kali jangan begitu ya!"


"Tergantung!" Jawab Dirga singkat.


Devan mendengus kesal. Apalagi mengingat cerita Karta tadi, kenapa juga anak kecil ini mengaku-ngaku jadi pacarnya Lya. Untung saja dia masih kecil, hampir saja Devan mengamuk.


"Tangan lo kenapa?" Tanya Karta melihat tangan Lya.

__ADS_1


"Gak apa-apa," jawab Lya melirik Dirga yang terdiam.


"Gak apa-apa gimana? Ini kenapa bisa luka begini?" Devan terlihat panik.


Lya meremas pergelangan tangan Devan memberi kode untuk tidak membahas masalah ini. Dia takut Dirga sedih.


"Ke gores doang kok, beneran gak kenapa-kenapa," jawab Lya membuat Devan diam.


Tidak bisa berlama-lama disana. Seluruh anggota berpamitan kepada ibu panti dan anak-anak lalu bergegas untuk pulang.


Motor Karta memimpin jalan, sekitar delapan motor yang mengikuti motor Karta di belakang. Hari sudah hampir sore, mereka memacu laju motor dengan santai sambil menikmati perjalanan mereka.


Tiba-tiba beberapa motor menghadang motor mereka. Karta terpaksa berhenti diikuti yang lainnya.


"Wih rame nih. Lagi sunmori ya?" Salah aatu anggota Drax.


Inti Rakasa berdiri sejajar berhadapan dengan Ardian dan gengnya. Jika di lihat, mereka kalah jumlah karena Ardian membawa banyak pasukan.


"Ada masalah apa lo?" Tanya Karta pada Ardian.


"Gak ada sih. Cuma kangen aja, udah lama kita gak ketemu dan pas ketemu malah ada bonusnya," jawab Ardian. Laki-laki itu melirik kearah para gadis yang berdiri di belakang inti Rakasa.


Juna menatap Ardian tidak suka. "Mau gue colok mata lo?"


"Santai dong!"


"Gue yang ini aja deh Ian, cantik soalnya!" Tanpa mereka sadari anggota Drax sudah mengelilingi mereka. Dan salah satu dari mereka tengah merangkul Tiara yang berdiri paling pinggir.


Karta menggeram marah, baru saja hendak memukul laki-laki yang sudah berani menyentuh Tiara, namun terhenti karena Lya sudah lebih dulu membuat laki-laki itu tersungkur.


"Tangan lo mau gue patahin?" Sentak Lya menatap laki-laki itu tajam.


"Brengsek! Mending lo semua cabut sebelim kita bikin babak belur disini," ujar Juna.


"Kali ini kalian yang akan babak belur. SERANG!" Ardian memerintah.


Inti Rakasa bersama Diki, Devan, Alix dan Keenan melawan Ardian dan teman-temannya. Sedangakn para gadis hanya diam, lima anggota Drax tetap diam mengelilingi Lya dan lainnya.


"Kalian bisa aja selamat, asal mau sama kita-kita!" Celetuk Ronald.


"Bacot lo!" Balas Jessy.


"Lo ikut kita!" Sam menarik Tiara.


Lya yang melihat itu segera menghalangi Sam. "Gak usah sentuh mba Tiara gue," ujar Lya.


"Kalau lo mau ikut sekalian gak masalah, lumayan cantik semua!"


BUGH


"LYAAA!" Tiara memekik takut. Dia dan Dara hanya berdiri di tenga-tengah merasa ketakutan.


Lya memukul Sam. Jessy, Zia dan Laura yang memang punya basic bela diri ikut membantu Lya. Lya melawan dua dari mereka sedangkan Jessy, Zia dan Laura melawan satu lagi.


BUGH


BRUKK


"Banci lo, beraninya sama cewek!" Laura memaki musuhnya.


BUGH


Lya terhuyung.


BRUKK


Zia menendang orang yang memukul Lya. "Gak malu lo ngelawan cewek?" Sentak Zia. Lya cukup terpukau dengan kemampuan bela diri Zia, dia pikir Jessy lebih jago namun ternyata Zua jauh lebih terlatih.


"WOY ANJING LO!" Kevin berteriak melihat para gadis yang ikut di serang.


Karta yang melihat itu berlari membantu. Devan melihat Sam yang memukul Lya pun mengeram marah. Dia berlari menerjang Sam hingga laki-laki itu tersungkur di tanah, dengan emosi yang menggebu-gebu, Devan menindih tubuh Sam dan memukul Sam dengan membabi-buta.


"BANGSAT!"


BUGH


"BERANINYA LO MUKUL CEWEK GUE!"


BUGH


BUGH


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2