GELYA

GELYA
CHAPTERS 61


__ADS_3

Elang mencoba menggerakkan tangan Lya. Dia mengangkat lengan Lya dengan pelan, niatnya untuk melihat bagian mana yang membuat Lya sakit.


"Aww!" Pekik Lya.


Elang mencoba menekan bahu Lya dan Lya kembali terpekik.


"Aawshh.. sakit bang!" Gadis itu mencengkram bahu Karta, matanya terpejam menahan sakit.


"Ck.. kerumah sakit aja lah. Ini parah, lagian om David udah nyuruh lo berobat, om David pasti lebih tau lo kenapa makanya selalu ngebujuk lo kerumah sakit. Jangan bandel Ya," ujar Elang kembali ke tempat duduknya. "Ibu gue dokter juga, dia dokter spesialis tulang. Sedikit-sedikit gue belajar sama beliau, gue gak bohong. Lo mending ke dokter, takut makin parah!"


Lya hanya diam mendengarkan. Dia tidak suka rumah sakit. "Iya bang. Makasi," ujarnya.


Karta duduk di samping Lya. "Perlu di temani?" Tanyanya.


Lya menggeleng. "Gak usah! Besok sama ayah aja pas pulang sekolah."


"Ya, lo itu udah kita anggap sebagai adik kita, bukan sekedar anggota aja. Tepat sebelah lo bilang kalau Karta itu abang lo, otomatis kita juga ikut jadi abang lo. Jangan sungkan sama kita," ujar Kevin pada Lya. Laki-laki itu tersenyum hangat pada Lya.


Juna ikut menimpali. "Bener! Lo itu adikable banget Ya! Pinter, baik, gemesin, barbar, jagoan, gak manja tapi gemesin. Pokoknya lo juga harus anggap kita sebagai abang lo, gue gak mau tau." Lya tertawa geli. Kepalanya mengangguki ucapan Juna.


"Makasi bang! Senang gue," sahutnya.


"Pulang sana!" Suara ayah David mengintrupsi. "Sudah jam dua belas lewat." Mereka refleks melihat jam.


"Nginap aja," ujar bunda Intan yang muncul di belakang ayah David. "Udah malam banget takut kenapa-kenapa di jalan. Tidur di kamar Diki."


Mereka semua saling tatap. "Gak usah tante. Kita pulang aja takut ngerepotan," tolak Karta.


"Ini udah malam banget, kalian pasti capek. Kalau kenapa-kenapa di jalan gimana? Pagi baru pulang!" Bunda Intan menatap ayah David. "Gimana yah?"


Ayah David hanya mengangguk. "Ayah terserah mereka. Lebih baik menginap saja, lagi pula mereka bisa ngumpul di kamar Diki, nanti bentang kasur."


"Gue bebas!" Celetuk Noah mengetahui kebingungan teman-temannya.


"Me too!" Ujar Juna berlagak.


Karta akhirnya mengangguk. "Maaf ya om tante, kita ngerepotin."


Bunda Intan terkekeh. "Iya gak apa-apa. Diki ayo bantu bunda."


Diki berjalan mengikuti langkah bunda Intan. "Kamu disini aja, gak usah banyak gerak. Besok gak usah sekolah, kita kerumah sakit!" Ujar ayah David pada Lya.

__ADS_1


Lya mencebik kesal, dia menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Lya kebanyakan absen yah, kalau begini terus kapan pintarnya."


Ayah David merotasikan matanya. Bukan hanya ayah David saja, tapi mereka semua yang ada disana juga mendengus mendengar ucapan Lya. "Biasanya juga bolos," celetuk Juna.


"Kamu ini bnayak banget tingkahnya. Kenapa gak telpon ayah waktu orang tua kamu dipanggil ke sekolah?" Tanya ayah David membuat Lya terdiam. "Kenapa gak bilang kalau kamu habis di ceburin ke kolam sama teman kamu?"


Lya diam tidak menjawab. Tidak ada yang bersuara sedikitpun. "Kalau bunda sampai tau, bisa habis sekolah bunda bakar," ujar ayah David lagi.


Lya meringis. "Makanya Lya gak bilang," cicitnya membuat ayah David mendengus.


"Kerjaan kamu di sekolah itu belajar atau apa sih? Heran ayah!"


Lya tersenyum kikuk. "Belajar yah! Iyakan bang?" Tanya Lya pada Noah namun laki-laki itu tidak menjawab.


"Kalau mami sama papi kamu tau, bisa dikirim ke pluto itu si Clara!"


Lya melototkan matanya. "Kok ayah tau namanya Clara?"


"Ayah bahkan tau kalau kamu punya niat nyulik Clara."


Mereka semua terkejut dan menatap Lya tidak percaya.


"WAH PAK BURHAN PASTI CEPU NIH!" Pekik Lya.


"Dih nggak, itu rencana pak Burhan tau. Dia yang nyaranin buat nyulik Clara, gue mah gak mau."


"Pak Burhan lo kasih apa sampai bisa begitu? Padahal dia galak banget kalau sama gue!" Tanya Juna dan diangguki Kevin.


"Kita kalau bolos hukumannya gak main-main!" Timpal Kevin.


"Makanya jadi cantik plus pintar. Kalau kelakuan lo minus seenggaknya muka sama otak lo bisa nolong!" Jawab Lya berbangga diri.


"Emang ya, good looking selalu di bela." Kevin dan Juna berucap bersamaan. Devan dan Karta hanya tersenyum geli melihat ekspresi lebay dari kedua temannya sedangkan Noah tidak berekspresi seperti biasanya.


"Pak Burhan kalau sama Lya bisa nyantai gitu, waktu gue ke ruangannya buat ngecek lo yang beranyem sama, takutnya di kasih hukuman yang berat. Pas nyampe sana yang gue liat cuma pak Burhan yang lagi beresin gelas bekas lo minum teh sama dia! Heran gue," ujar Elang.


"Kamu ini!" Ayah David menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lya hanya tertawa kecil.


"Kamarnya udah siap, kalian istirahat aja. Lya juga masuk kamar," ujar bunda Intan menghampiri.

__ADS_1


"Sana naik!" Ucap ayah David.


Mereka semua berjalan mengikuti langkah Lya karena kamar Lya dan Diki bersebelahan.


"Diki lagi bersih-bersih kayaknya," ujar Lya berdiri di depan pintu. "Itu selimutnya cukup gak? Perlu gue tambahin?" Tanya Lya.


Devan menggeleng. "Udah cukup. Lo istirahat juga sana!" Ujarnya mengelus rambut Lya. "Cepat sembuh!" Bisik Devan lalu berjalan masuk ke kamar menyusul teman-temannya yang sudah berguling di kasur.


Lya menggelengkan kepala melihat Juna yang sudah mengkudeta kasur Diki bersama Kevin dan Elang. Karta yang masih berdiri di dekat meja belajar dengan Noah yang duduk di kursinya. Lya memutuskan untuk masuk ke kamarnya juga.


Devan berjalan ke sebuah rak yang berisi beberapa buku dan beberapa miniatur dan mainan Diki. Bibirnya tersenyum melihat fito Lya terletak rapi disana. Foto manis Lya dengan senyum khasnya, Devan juga melihat beberapa foto kecil Diki dan Lya.


"Wihh emang udah imut dari kecil," celetuk Juna mengagetkan Devan. Laki-laki itu ternyata sudah berdiri di samping Devan tanpa Devan sadari. "Gak usah ngagetin juga bego!"


Juna berdecak. "Ck.. bukan gue yang ngagetin, lo nya aja yang terlalu fokus sama foto Lya!"


"Kalau cinta itu ungkapin, keduluan orang baru mencak-mencak!" Celetuk Kevin yang masih berbaring di kasur Diki.


"Devan mah pengecut!" Timpal Juna dan segera menjauh, takut di amuk singa.


"Siapin hati dulu," ujar Diki yang baru keluar dari kamar mandi. "Gue sih gak takut percayain Lya ke lo. Yang gue takutin itu, ntar lo yang sakit hati sama tu bocah. Selama gue hidup bareng dia, gak pernah dia cerita soal cinta ke gue. Selain satu orang ini!" Diki melirik Kevin yang juga meliriknya. "Eh baru beberapa minggu udah ngomong kalau dia ternyata gak cinta sama tuh cowok, cuma sekedar nyaman dan gak ada perasaan lebih. Emang bego tuh bocah!"


"Lya itu tipe cewek yang gak bisa di seriusin cepat-cepat. Dia bisa bikin orang nyaman tapi dia gak secepat itu nyaman ke orang, usaha aja dulu!" Celetuk Noah.


Karta menarik sudut bibirnya. "Gue percaya sama lo!" Ujarnya menepuk bahu Devan sebelum masuk ke kamar mandi.


Juna tiba-tiba melompat di atas kasur. "Kalau Devan dan Lya udah jadian, kita bikin party di hotel bintang lima!"


Kevin tertawa. "Anjirr bener lo! Pajak jadian anak sultan."


Devan mendengus. "Mata duitan!" Ujarnya.


"Biarin!" Jawab Juna dan Kevin bersamaan.


"Heh jangan lo pikir disini yang sultan cuma lo sama Karta doang. Lo gak tau gimana sultannya bokap Lya," ujar Elang.


"Lya batuk aja keluarnya duit," timpal Juna.


"Serius?" Tanya Devan pada Diki.


Diki hanya mengendikkan bahunya. "Gue sih gak bisa jawab yang gimana-gimana, tapi yang ini mungkin bisa jawab pertanyaan lo," ujar Diki mengeluarkan sebiah kartu dari dalam dompetnya.

__ADS_1


...🌻...


Revisi nanti selesai terawih yaw pren:)


__ADS_2