GELYA

GELYA
CHAPTERS 59


__ADS_3

"Kerja kelompok apaan sih? Besok hari minggu."


Clarissa terkekeh. "Buat tugas prakarya sekalian nonton film," jawab Clarissa membuat Lya mendengus.


Lya fokus ke jalan, dia sesekali bersenandung kecil. Namun fokusnya teralihkan dengan dering ponselnya yang kembali berbunyi.


"Eadred," ujar Clarissa yang mengecek dering di ponselnya Lya.


Kening Lya mengerut. "Angkat tolong!"


Clarissa segera mengusal tombol hijau di layar.


"Halo?"


"TOLONGIN GUE KI!"


Clarissa terkejut, dia sampai menjauhkan ponsel Lya dari telinganya.


"Kenapa?" Tanya Lya.


"KI TOLONGIN GUE!"


Lya merasa ada yang tidak beres, tangannya merampas ponselnya dari Clarissa.


"Halo? Kenapa Red? Ini Lya."


"LYA? GUE DI KEJAR-KEJAR GENG MOTOR!"


"Sebisa mungkin lo kabur. Gue susul lo sekar-"


Beluk selesai Lya berbicara, sambungan telponnya sudah terputus.


"****!" Umpat Lya.


"Tolong cek nomor Eadred, liat lokasi dia dimana!" Lya menyerahkan ponselnya pada Clarissa.


Dengan cepat Clarissa mengecek lokasi Eadred, namun ponsel Lya mati karena kehabisan daya.


"Handphone kamu mati Ya."


"Pake hp lo bego!" Omel Lya terlihat panik.


Clarissa berkutat dengan ponselnya. "Jalan raya pasar manggis, Ya!" Beritahu Clarissa.


Lya dengan cepat menginjak gas mobilnya. "Telpon Diki!"


Clarissa segera menghubungi Diki namun panggilannya masih tidak diangkat.


"Gak di angkat!"


"Diki anjing!" Umpat Lya.


Lya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia merasa Eadred sangat membutuhkan bantuannya sekarang. Setelah beberapa menit mencari keberadaan Eadred, Lya bisa menemukan laki-laki itu tengah di keroyok oleh lima orang musuh.


"Eadred bego! Ngapain dia kabur ke tempat sepi gini?" Desis Lya segera menepikan mobilnya. "Jangan keluar! Terus telpon Diki. Kalau misalnya ada apa-apa, telpon polisi!"


Clarissa mengangguk. "Hati-hati!" Ujar Clarissa pada Lya yang berlari menghampiri Eadred.


BRUKK


Lya menendang salah satu dari mereka.


"Banci lo. Beraninya main keroyokan!" Ujar Lya pada mereka.


"Ya!" Ucap Eadred sedikit lega karena ada yang membantunya. Eadred sudah terlihat babak belur melawan mereka semua.


"Gak usah banyak bacot. Dia anak Rakasa juga, hajar keduanya," ujar salah satu dari mereka.


Aksi baku hantam tidak terhindarkan. Lya melawan dua dari mereka, namun Lya yang sudah lama tidak berkelahi membuatnya memiliki tenaga ekstra malam ini.


BUGH


BUGH


BRUKK


"ANJING LO!"


BUGH


BUGH


"BANGSAT!"


Clarissa yang melihat perkelahian itu hanya bisa berdoa di dalam mobil. Dia terpikir untuk menghubungi Noah.


"Kak Noah ayo angkat," cicit Clarissa menunggu Noah menjawab panggilannya.


Clarissa mencoba berkali-kali namun tetap tidak ada jawaban. Dia full panik sekarang.


"Ya Allah selamatin Gel gel sama Eadred."


BUGH


"Lemah lo!" Cibir Lya yang menjatuhkan dua lawannya. Dia segera menendang salah satu musuh Eadred untuk membantu temannya itu.


BUGH


BUGH


BUGH


Lya sedikit merasa kewalahan menghadapi musuh. Walaupun dia kuat, namun dia tetaplah seorang wanita. Sedangkan musuhnya adalah lima laki-laki bertubuh jangkung dan dia hanya bersama Eadred.


BUGH


Bibir dan hidung Lya sudah mengeluarkan darah, namun gadis itu masih bertahan melawan musuhnya.


Eadred sudah merasa sangat tidak sanggup, badannya sudah dipenuhi lebam. Dia bahkan berpikur untuk menyerah aaja, kenapa lawannya tidak berhenti juga. Dia mencoba menahan semua pukulan dari musuhnya hingga tiba-tiba tubuhnya menegang sempurna.


Eadred merasa sesuatu yang tajam berhasil merobek kulit perutnya. Nafasnya tersegal menyadari bahwa musuhnya berhasil menusuknya.


Srett


Orang yang menusuk perut Eadred menarik paksa pisaunya kembali, dengan cepat dia berjalan meninggalkan tempat itu.


"CABUT!" Teriaknya memerintah teman-temannya.


Lya kebingungan melihat musuhnya yang pergi tiba-tiba, namun sedetik kemudian teriakan keras keluar dari mulutnya.


"EADREDDDD!" Lya berlari kearah Eadred yang sudah duduk di tanah.


"Red? Pe-perut lo?"


"Huh.. Ya, thanks!" Ucap Eadred dengan nafas tersenggal-senggal.


"Bertahan Red. Kita kerumah sakit!" Ujar Lya berusaha mengangkat tubuh Esdred.

__ADS_1


"EADREDDDD!"


Clarissa datang dan terkejut melihat kondisi Eadred.


"Kita bawa kerumah sakit!" Ujar Lya.


Clarissa membantu Lya membawa Eadred kedalam mobil. Setelah memasukkan Eadred ke jok belakang, Clarissa berlari memasuki kursi kemudi.


"Cepat Cla!" Titah Lya.


Clarissa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Lya membantu menghentikan pendarahan di perut Eadred.


"Jangan tidur Red. Jangan tutup mata lo!" Ujar Lya pada Eadred.


Lya bisa melihat wajah Eadred sangat kesakitan namun dia berusaha tersenyum. "Ma-makasi Ya. Makasi u-udah datang."


Lya menggeleng. Rasanya dia ingin sekali menangis. "It's oke. Lo teman gue, gue wajib bantuin lo. Sekarang lo harus bertahan."


"Arghh.. huh.. sa-sakit Ya!"


"Iya sabar!" Air mata Lya mengalir begitu saja. Dia sudah merasakan ini, dia tau bagaimana sakitnya mendapat luka seperti ini.


"Cla cepat!"


"Iya hiks.. Eadred bertahan hiks!" Clarissa tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia sangat takut melihat kondisi Eadred.


Tangan Eadred meremas pergelangan tangan Lya. Kepalanya bersandar di bahu kecil Lya.


"Gak ku.. huh.. kuat Ya! To-long!"


Tangis Lya pecah. Dia tidak tau harus berbuat apa, darah Eadred semakin merembes keluar. Lya sekuat tenaga menahan darah dengan tangannya.


"Ya!" Eadred bersuara dengan sangat lirih. "Bantuh.. huh.. gu-gue Ya!"


"Apa Red? Lo butuh apa?"


"Huh.. ban-bantu gue huh ngucapin.. syahadat!"


Deg


Hati Lya mencolos, tubuhnya memanas mendengar permintaan Eadred. Tangis Lya semakin pecah bersamaan dengan isakan Clarissa.


"Gue gam bisa. Gue gak bisa Red!" Tolak Lya takut.


"Toh.. tolong Ya! Bantuh bantu gue."


"Nnati. Gue bakal panggil ustadz buat lo, sekarang lo bertahan. Cla cepetan!"


Clarissa sudah melajukan mobilnya secepat yang dia bisa, namun jarak mereka dengan rumah sakit memnag sangat jauh, hingga memerlukan waktu sedikit lebih lama.


"Lo bi-bisa! Gueh mo-mohon huh to-long gue, Ya!" Nafas Eadred semakin berat. "Gue ud-udah bela-jar Islam be-berapa mingu i-ini Ya, to-long!"


Tangis Lya terasa pilu. Dia takut, dia takut dengan pikiran buruk yang memenuhi otaknya sekarang. Dia takut Eadred pergi.


"Ya!" Lirih Eadred. Tangannya meremas baju kaos putih Lya yang sudah berubah warna menjadi merah. "Gu-gue yakin, ini yang ter-baik buat gu-e Ya."


Lya memejamkan matanya, dia menguatkan diri lalu menatap dan mengambil tangan kanan Eadred.


"Ikutin gue ya Red."


Eadred mengangguk pelan.


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Bish.. huh.."


"Bismillahirrahmanirrahir"


"Asyhadu an laa"


"As huh... Asyhadu an laa"


"Ilaaha illallaahu"


Huh.. Ilaaha huh.. illallaahu"


"Wa asyhaduanna"


"Wa asyhaduanna"


"Muhammadar rasulullah"


"Huh.. Muh-muhammadar Rasuluah"


"Aku bersaksi"


"Akuh.. bersaksi"


"Bahwa"


"Bahwa"


"Tidak ada Tuhan"


"Ti-dak ada Tuhan"


"Melainkan Allah"


"Melainkan Allah"


"Dan aku bersaksi"


"Dan ak-u bersaksi"


"Bahwa Nabi Muhammad"


"Bah-wa Nabi Muhammad"


"Adalah utusan Allah"


"Ada-lah huh utusan Allah"


"Alhamdulillahi rabbil 'alamin"


"Alhamdulillahi rabbil 'alamin"


Genggaman tangan Eadred pada Lya melemas, nafasnya masih tersenggal namun bibirnya tersenyum tipis.


"Makasi Ya!"


Lya mengangguk. "Hiks.. sabar ya Red!"


"Sebentar lagi sampai Red, kamu harua bertahan!" Ujar Clarissa yang melihat rumah sakit sudah tinggal beberapa ratus meter saja.


"Gue huh sa-sayang Mira, Ya."


Lya mengangguk. "Iya, gue tau. Mira juga sayang sama lo. Jadi lo harus bertahan, oke?"

__ADS_1


"Bilang ke Mira, Ya!"


"Iya Eadred."


"Bi-lang jang-jangan cengeng.. argrhh!"


Isakan Lya mengeras. Dia hanya bisa mengangguk tanpa menjawab.


"Sa-sakit Ya! To-tolong hiks..." Akhirnya Eadred menangis. Air mata yang sedari tadi dia tahan sudah mengalir dengan deras membasahi pipinya. Eadred menyerah.


"Bertahan!" Bisik Lya memeluk tubuh lemah Eadred. Dapat dia lihat bagaimana Eadred berusaha menarik nafas untuknya bertahan, seakan ada dinding yang menghalangi pasokan udara di sekitarnya.


Nafas Eadred semakin melemah. Tubuhnya lunglai, tangannya yang menggenggam baju kaos Lya sudah terlepas. Lya bisa merasakan bagaimana helaan nafas berat Eadred seperti akan mengakhiri hidupnya.


"CLA CEPAT! EADRED PLIS JANGAN TIDUR!" Lya mengeratkan pelukannya. Tubuh gadis itu bergetar hebat.


"Kita udah sampai, Ya!" Clarissa menghentikan mobilnya di depan UGD. Dengan gerakan cepat dia berlari masuk memanggil perawat yang ada. "SUSTER TOLONG TEMAN SAYA!" Teriakan Clarissa menggema di ruangan besar itu.


Tiga orang perawat berlari membawa brangkar pesakitan menghampiri mobil Clarissa. Mereka langsung mengambil alih tubuh Eadred dan kembali memasuki UGD.


Eadred dibawa masuk ke dalam ruangan. Banyak perawat bahkan orang-orang yang mungkin menjadi sanak saudara dari pasien dirumah sakit itu menatap mereka kasihan. Apalagi melihat Lya yang dipenuhi darah.


Lya menangis sesegukan di depan ruangan. Dia sudah tidak memikirkan penampilannya, sedangkan Clarissa terduduk lemas di kursi depan ruangan.


"Kirim pesan ke Keenan. Suruh dia jemput Mira dan kesini, jangan bilang soal kondisi Eadred, cukup bilang kita di rumah sakit!" Ucap Lya pada Clarissa.


Clarissa segera mengirim pesan untuk Keenan. Setelah itu Clarissa juga mengirim pesan untuk Diki.


Tidak beberapa lama, ponsel Clarissa berdering.


Kak Noah is calling...


"Kenapa lo spam telepon malam-malam begini?" Tanya Noah pada Clarissa.


"Hiks.. hiks..." Tangis Clarissa yang tidak mampu menjawab.


"Cla? Lo kenapa?"


"Eadred masuk rumah sakit hiks.. tolong kesini kak. Dia hiks.. parah!"


Sambungan terputus begitu saja. Clarissa kembali menangis melihat Lya yang terduduk di depan pintu ruangan. Gadis itu beranjak dan menghampiri sepupunya.


"Eadred bakalan baik-baik aja kok, dia kuat. Kita harus percaya, Allah pasti jagain dia," ucap Clarissa menenangkan Lya.


"Gimana kalau Eadred gak selamat Cla? Gue gak bisa nyelamatin dia."


"Jangan ngomong gitu, Ya!"


Tidak beberapa lama pintu ruangan terbuka.


Ceklek


Terbuka, seorang dokter keluar dari sana. Lya dan Clarissa berdiri.


"Gimana dokter?" Tanya Lya.


"Yang sabar ya, Tuhan lebih sayang dengan teman kalian. Maafkan kami!"


Lya terdiam. Tubuhnya terpaku seketika.


"CLARISSA!" Panggil Mira yang berlari mendekat bersama Keenan. Inti Rakasa juga berada di belakang Mira bersama Diki, Devan dan Alix.


"Cla, Eadred gimana?" Tanya Mira menahan tangis.


Tidak ada yang menjawab. Baik Lya maupun Clariss, kedua gadis itu terdiam.


"Lya?" Mira memanggil Lya. Lya tidak menoleh sedikit pun, gadis itu menunduk, tubuhnya bergetar menahan isakan. Melihat bagaimana derasnya air mata Lya membuat Mira menerobos masuk kedalam ruangan.


"Mira!" Panggil Keenan mengikuti Mira masuk.


"EADRED!"


Teriakan Mira membuat mereka semua yang ada di luar terkejut, kecuali Lya dan Clarissa. Mereka ikut masuk melihat kondisi Eadred.


"Eadred! Hiks bangun," tangis Mira pilu. Gadis itu memeluk tubuh dingin Eadred. "Red, ini gue Mira hiks.. bangun Eadred, jangan tinggalin gue!"


Keenan tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia berdiri di samping Mira sembari menatap tubuh Eadred.


Karta terdiam melihat mayat Eadred. Tangannya terkepal kuat, dengan langkah pelan dia berjalan mendekati Mira dan Keenan.


"Bang hiks.. tolong Eadred bang, suruh Eadred bangun bang!" Ujar Mira menggenggam erat jaket milik Karta.


Karta tidak bersuara. Dia menarik Mira kedalam dekapannya, dia tau bagaimana kedekatan Mira dan Eadred. "Sabar Mir. Ikhlas!" Ujar Karta membuat Mira semakin terisak. Dia berontak didalam dekapan Karta, Mira mengamuk menolak keadaaan. Dia melepaskan diri dari pelukan Karta saat melihat salah satu perawat ingin menutup tubuh Eadred.


"Jangan suster! Teman saya masih hidup!" Ujar Mira mendorong tubub suster itu. Keenan menarik Mira untuk menjauh dari sana namun Mira berontak keras. Tangis Mira terdengar sangat pilu, Juna dan Kevin bahkan tidak bisa menahan tangis mereka.


"Eadred Nan hiks.. dia jahat! Eadred ninggalin gue," tangis Mira lemah di pelukan Keenan.


"Ikhlas Mir, ikhlas!" Bisik Keenan.


Mereka semua keluar dari ruangan itu. Mereka melihat Lya dan Clarissa yang terduduk di kursi tunggu.


"Ya!" Panggil Diki mendekati Lya.


BUGH


Diki terhuyung mendapat pukulan tiba-tiba dari Lya.


"Lya!" Tegur Karta menahan tubuh Diki.


"PACARAN AJA SANA! BUANG HP LO YANG GAK GUNA ITU. KEMANA LO ANJING? KITA NELPON LO BERKALI-KALI DAN GAK LO ANGKAT SATUPUN? BANGSAT!"


Lya memaki Diki. Clarissa menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya sudah lelah tidak mampu berdiri menghentikan Lya.


"Ya tenang! Jangan gini," ucap Devan menarik Lya dan memeluk gadis itu. Lya berusaha melepaskan diri namun Devan tetap memeluk erat Lya. Tangannya terulur mengusap kepala Lya.


"Sabar," bisik Devan.


Diki menangis menatap Lya dengan pandangan menyesal. Dia menyesal mensilent ponselnya karena dia sedang jalan-jalan dengan Chintya.


"Clarissa!" Noah mendekati Clarissa. Laki-laki itu merasa menyesal karena juga tidak mengangkat telpon dari Clarissa. Noah memeluk Clarissa menenangkan gadis itu. Dia menyesal menyetujui usulan Juna dan Kevin untuk melakukan boys time, sibuk bersenang-senang di halaman rumah Karta dengan semua ponsel mereka simpan di kamar Karta.


Keenan membawa Mira keluar. Clarissa yang melihat itu segera melepaskan pelukan Noah dan berjalan menghampiri Mira dan memeluk temannya itu.


"Dia muslim, dia minta Lya untuk bantu dia menyebutkan kalimat syahadat. Dua muslim sekarang," ujar Clarissa membuat tangis Mira kembali keras.


Mereka yang mendengar ucapan Clarissa menatap Lya yang masih terisak di pelukan Devan. Lya melepaskan pelukan Devan, gadis itu berjalan memeluk Clarissa dan Mira.


"Dia cinta banget sama lo Mir, dia cinta banget. Hiks.. jangan cengeng Mir, Eadred bilang jangan cengeng," bisik Lya pada Mira.


...🌻...


2.003 kata.


Mana vote dan hadiahnya pren?


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)

__ADS_1


__ADS_2