GELYA

GELYA
CHAPTERS 75


__ADS_3

"DEVAN STOP!" Lya mencoba menghentikan Devan. Takut jika laki-laki itu sampai menghabisi nyawa Sam. "Devan berhenti, udah!" Lya menarik tangan Devan untuk menghentikanyta. Sam sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang memenuhi wajahnya.


"Udah," ujar Lya lembut. Devan yang tengah emosi melunak seketika. Dengan tangan yang masih di genggaman Lya, Devan berdiri dan memeluk tubuh Lya. Menelusupkan wajahnya di leher Lya sembari memejamkan matanya.


Lya mengusap rambut Devan menenangkan. Nafas laki-laki itu masih memburu, Lya yakin Devan masih sangat emosi.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Devan pada Lya lembut. Tangannya terulur mengusap sudut bibir Lya yang robek akibat pukulan Sam. Lya menggeleng dan tersenyum.


Ardian dan teman-temannya sudah babak belur. Juna dan Kevin merasa sangat bersemangat hingga bisa menghabisi beberapa musuh sekaligus. Mereka berdua merasa memiliki penerus saat melihat Diki dan Keenan yang juga sangat brutal memukuli musuh. Untuk Devan dan Alix tidak perlu di ragukan lagi, baik Juna maupun Kevin sudah tau betul kemampuan mereka.


"Kamu gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Karta pada Tiara.


"Aku gak kenapa-kenapa. Lya ngejaga aku Ta," jawab Tiara.


"Makasi Ya!" Ujar Karta pada Lya.


Lya tertawa. "Santai aja bang, tugas gue jagain bu bos! Mereka juga bantuin gue," jawab Lya. Dia menunjuk Jessy, Laura dan Zia.


"Ada yang luka?"


Lya menoleh pada Noah yang tengah menggenggam tangan Zia. Matanya terlihat khawatir.


"Gak ada kok," jawab Zia tersenyum. Noah mengangguk pada Zia.


"Kalau tau lemah, gak usah sok-sokan mau nyerang kita. Sakit sendiri kan?" Cibir Juna menatap Ardian sinis.


"Banyak-banyak latihan buat ngelawan kita!" Celetuk Alix tersenyum miring.


"Kita balik aja!" Ujar Karta.


Mereka semua pergi meninggalkan Ardian dan teman-temannya.


Lya memejamkan matanya menyandar di punggung Devan, merasa nyeri di bahunya.


"Kenapa Ya?" Tanya Devan yang merasa Lya tidak baik-baik saja.


"Sakit Dev!" Ringis Lya.


Devan segera menepikan motornya, dia segera menoleh ke belakang sedikit terkejut melihat wajah Lya yang memucat. Devan membantu Lya turun dan duduk di trotoar jalan.


"Tangan gue nyeri banget!"


Devan gelagapan, dia tidak tau harus melakukan apa. Diki yang menyadari Devan memberhentikan motornya langsung memutar balik dan menghampiri Devan. Begitu juga teman-temannya yang lain.


"Kenapa Ya?" Tanya Diki panik.


"Tangannya sakit Dik, gimana nih?" Devan ikutan panik.


Tiara berjongkok di samping Lya. "Lya kenapa?"


"Ssshhtt tangannya gak bisa di gerakin, gimana Dik hiks..."


Mereka semua terkejut melihat Lya menangis. Diki dan Devan panik minta ampun, dengan cepat Diki menghubungi ayahnya.

__ADS_1


"Ya! Kenapa nangis? Mana yang sakit?" Tanya Karta ikut berjongkok.


"Sakit hiks.. tangan gue gak bisa di gerakin!"


"Kita kerumah sakit ya, jangan nangis!" Devan menghapus air mata Lya.


"Halo yah! Tangan Lya gak bisa di gerakin katanya. Ini gimana?" Tanya Diki di telepon.


"Kita lagi di jalan."


"Oke, kita langsung kerumah sakit sekarang!" Diki mematikan sambungan teleponnya. Dia langsung menghampiri Lya. "Kita kerumah sakit ya, ayah udah nunggu disana."


"Gimana dong Duk, tangannya gak bisa di gerakin. Hiks.. takut!" Lya tidak henti-hentinya menangis. Rasa takut menghantuinya, bagaimana jika tangannya sudah tidak bisa di gerakkan lagi. Atau lebih parahnya tangan Lya hatus di amputasi, Lya tidak sanggup.


"Nggak! Itu gak apa-apa, jangan takut ada ayah yang bakalan obatin lo!"


"Woy naik taksi aja, gue udah dapet!" Keenan berlari menuju teman-temannya. Dia baru saja memberhentikan taksi untuk mengantarkan Lya kerumah sakit.


Devan segera menggendong Lya diikuti Diki yang membuka pintu mobil untuk mereka.


"Kita bakal kawal lo di belakang," ujar Diki pada Devan. "Lya jangan nangis!" Diki mengusap kepala Lya sambil kembali menutup pintu mobil.


"Titip motor gue," ujar Devan.


Taksi yang di tumpangi Devan dan Lya mulai berjalan.


"Lya kenapa Dik?" Tanya Karta.


"Mending kita ke rumah sakit sekarang!" Dara membuka suara.


"Motor Devan biar gue yang bawa," celetuk Jessy berjalan kearah motor Devan. Mereka semua segera menuju rumah sakit.


Diki memacu laju motornya dengan sangat cepat. Dia merasa gelisah melihat Lya menangis seperti tadi. Jujur saja, dia merasa sangat takut, ini pertama kalinya Lya tidak bisa menggerakkan tangannya dan itu sangat menyeramkan.


Saat sampai di rumah sakit, Diki dan teman-temannya segera berlari mencari Devan.


"Gimana Dev?" Tanya Diki.


Devan menggelengkan kepala. "Masih di dalam."


"Sebenarnya Lya kenapa sih?" Tanya Juna.


Diki dan Devan saling tatap. Mereka tidak berani mengatakan penyakit Lya, takut Lya marah karena akan jauh lebih baik jika Lya sendiri yang mengatakannya.


"Sakit bang," jawab Diki.


"Sakit apa?" Tanya Kevin menatap curiga kedua laki-laki itu.


"Kanker!"


"HAH?"


"Serius dong!"

__ADS_1


"Jangan ngaco!"


"Diki!" Karta menarik Diki untuk menghadap kearahnya.


"Bener bang! Lya sakit kanker."


Mereka semua terdiam. Tiara membekap mulutnya terkejut, bahkan matanya memerah ingin menangis.


Tangan Karta mengepal. "Kenapa gue gak tau?" Tanya Karta. "Lo tau?" Tanya Karta menatap tajam Devan.


"Baru tau juga. Lya takut kalau kita ngejauhin dia karena kita tau kondisi dia."


BUGH


Karta meninju dinding rumah sakit. Tiara terpekik, air matanya sudah mengalir, Dara memeluk Tiara. Karta merasa sangat tidak berguna, padahal dia sendiri yang mengakui bahwa Lya adalah adiknya. Tapi kenapa dia bisa tidak tau bahwa kondisi Lya sudah separah ini.


Kevin juga sama marahnya, dia tidak menyangka Lya bisa berpikiran negatif seperti itu. Sedangkan Elang hanya diam, dia sudah menebak kalau Lya pasti tengah sakit. Walaupun Elang tidak tau kalau sakitnya sampai separah ini, namun Elang sudah menebak kalau bahu Lya sudah bermasalah sejak awal.


Jessy dan teman-temannya juga tidak kalah terkejut, sedikut iba mendengar oenyakit Lya apalagi saat mereka melihat Lya menangis tadi.


Ceklek


Ayah David keluar bersama dokter Rizal.


"Lya gimana yah?" Tanya Diki.


"Lya biarin istirahat dulu ya. Kalian pulang saja, nanti orang tua kalian khawatir," ujar ayah David.


"Tapi Lya gak kenapa-kenapa kan om?" Devan bertanya.


"Nggak kok!"


"Kita gak bisa ngeliat Lya ya om?" Tanya Karta.


"Karta, Lya lagi butuh istirahat. Kalian bisa kesini besok." Ayah David mencoba membuat mereka semua mengerti.


"Kita balik aja, Ta. Kita kesini lagi besok!" Noah menepuk bahu Karta.


"Kalau gitu, kita pulang dulu ya om," pamit Karta.


"Hati-hati!"


"Kalau ada apa-apa tolong kabari ya Ki," ujar Devan pada Diki.


"Iya. Kalian hati-hati," jawab Diki.


Devan mengangguk. Sebenarnya dia tidak masalah jika harus menemani Lya di rumah sakit, namun dia juga harus membiarkan Lya istirahat. Terlebih Devan sadar kaalu keluarga Lya perlu waktu untuk menemani Lya.


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


...Tbc....

__ADS_1


__ADS_2