GELYA

GELYA
CHAPTERS 89


__ADS_3

Di perjalanan Lya hanya terdiam, tangannya melingkar di perut Devan dengan kepala menempel di punggung kekasihnya itu.


Devan melirik Lya dari kaca spion. "Kenapa?" Tanya Devan.


"Gak kenapa-kenapa," jawab Lya tersenyum. Dia tengah menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, menikmati malam dengan banyak bintang bertaburan di langit dengan sangat cantiknya.


Melihat Lya yang tersenyum membuat Devan ikut tersenyum. Betapa bahagianya Devan sekarang, tidak perlu di tanya lagi apa keinginan terbesar Devan, karena sekarang jawabannya tidak pernah berubah. Devan ingin selalu bahagia bersama Lya, melihat senyum dari gadis cantiknya ini, mendengar ocehan dari gadisnya dan selalu bisa melihat Lya berada di sisi Devan.


"Langsung masuk, cuci kaki cuci tangan gosok gigi terus tidur," ujar Devan pada Lya saat mereka sudah sampai di depan rumah Lya.


"Lo mau ke markas lagi atau langsung pulang?" Tanya Lya.


"Ke markas dulu."


"Hati-hati kalau gitu, gue masuk dulu!" Ujar Lya berniat melangkah memasuki rumah.


"Ya!" Panggil Devan membuat Lya menghentikan langkahnya. "Pipi gue nganggur."


Lya membalikkan badannya kembali menatap Devan. "Terus?"


Wajah Devan mendatar. "Lupain aja, masuk sana!" Devan langsung mengambil helm yang dia letakkan di depannya.


Cup


Gerakan Devan terhenti. Tubuhnya terpaku mendapati serangan tiba-tiba dari Lya.


"Selamat malam pacar," bisik Lya lalu berlari masuk ke dalam rumah.


Tangan Devan bergerak menyentuh pipinya, merasa jantungnya tidak berdetak karuan akibat perbuatan Lya.


"Bangsat!" Desis Devan menahan diri untuk tidak berteriak disana. "Lama-lama gue bunuh juga lo Ya!" Ujarnya. Devan tengah melayang menyapa ribuan bintang malam ini, tersenyum-senyum seperti orang gila.


"Arrgghhh cewek gue gemes banget! Beneran gila nih gue," kesal Devan meninju angin. Devan berniat untuk tidak mencuci mukanya setelah ini.


Tidak berbeda dengan Devan. Lya bahkan tengah melompat heboh di kasurnya. Merasa tidak menyangka jika dia bisa nekat mencium Devan, meski hanya di pipi tapi Lya tetap saja merasa malu. Untung saja orang di rumahnya sudah tidur, setidaknya tidak ada yang melihat Lya bertingkah seperti orang gila saat masuk kedalam rumah.


...🌻...


"Karta!"


Karta yang tengah bermain game di ponselnya menoleg kepada mamanya. "Iya mah?" Tanyanya.

__ADS_1


Ibunya mendekati Karta dan ikut duduk di samping anaknya. "Gimana kabar Lya?"


"Baik kok, kata dia kondisinya semakin membaik sekarang," jawab Karta. Mengingat bagaimana Lya yang kembali menjadi wanita menyebalkan membuat Karta sedikit lega.


Ibunya tersenyum. "Jemput Lya kesini dong, mama mau ngajak dia bikin kue."


Karta menarik ujung bibirnya. "Lya gak bisa masak mah, dia tuh gak ada ceweknya sama sekali." Jawab Karta pada ibunya.


Ibunya menepuk lengan Karta. "Hush gak boleh ngomong begitu. Makanya kamu ajak kesini, biar mama ajarin dia masak."


"Iya mah iya, nanti Karta ajak Lya kesini." Ujar Karta kembali memainkan ponselnya.


"Sekarang!" Tegas ibunya yang bernama Alira.


Karta mendengus kesal. Tapi tetap saja dia beranjak meraih kunci motornya dan segera keluar meninggalkan mamanya yang tengah tersenyum.


Niat hati ingin beristirahat di hari minggu yang cerah ini, Karta malah di suruh menjadi tukang jemput antar penumpang. Bisa saja Karta menelpon Lya dan memintanya untuk datang, namun Karta masih sayang nyawa. Bisa di gantung dia sama mama Alira.


Motor Karta berhenri di depan rumah Lya. Melepas helmnya dan berjalan mendekati pintu. Karta menekan bel rumah lalu menunggu.


Cekleek


"Mencari siapa?" Tanya seorang pelayan.


Pelayan itu mengangguk dan mempersilahkan Karta untuk masuk. Karta di minta untuk menunggu di ruang tamu selagi pelayan itu memanggil Lya.


"Abang ngapain disini?" Tanya Dirga. Anak kecil itu muncul dari arah dapur dengan setoples biskuit di tangannya.


Karta tersenyum. Dia sudah tau kalau Dirga tinggal bersama Lya, namun baru sekarang dia bisa bertemu dengan Dirga disini. "Ada perlu sama kakak kamu," jawab Karta.


Dirga ikut duduk di depan Karta. Mulutnya masuh mengunyah biskuit yang dia bawa. Karta juga hanya memperhatikan Dirga yang terlihat jauh lebih baik sekarang, pakaian Dirga yang bermerek membuat Karta sedikit haru jika mengingat bagaimana Dirga yang dulu.


"Ada apa nih? Tumben banget kesini, sendirian lagi." Ujar Lya yang baru turun. Dia mendudukkan dirinya di samping Dirga mencomot biskuit milik adiknya.


Dirga melirik sinis pada Lya. "Apa gak bisa minta dulu?" Tanya Dirga ketus.


Lya mengeluarkan cengiran kudanya. "Cuma satu doang, gak boleh pelit," jawab Lya.


"Bukan pelit. Tapi etika!" Balas Dirga mendiami Lya. Bahkan Karta yang sedari tadi diam menjadi semakin terdiam mendengar ucapan Dirga.


Lya mengerucutkan bibirnya menatap Dirga. "Iya maaf kanjeng, tidak akan di ulangi," jawab Lya. Orang yang diajak bicara oleh Lya tidak menjawab, dia hanya melirik Lya sekilas lalu kembali sibuk dengan biskuitnya.

__ADS_1


Karta tertawa melihat kedua orang di depannya. "Malu banget gue kalau jadi lo," celetuk Karta membuat Lya menoleh padanya.


"Malu apaan?" Tanya Lya tidak santai.


"Udah gede tapi malah di ajarin etika sama anak kecil. Kasihan banget!" Balas Karta membuat Lya menatapnya tajam. Karta terlihat puas melihat Lya yang kalah melawan Dirga.


Merasa kesal, Lya berdecih tidak senang. "Berisik lo. Ngapain kesini?" Tanyanya ketus.


"Mau ngajak lo kerumah. Mama pengen ketemu." Karta tidak mengatakan jika mamanya ingin mengajak Lya membuat kue, takut gadis itu menolak.


Lya melirik Dirga sebentar. "Mami sama papi lagi keluar. Gue disuruh jagain ni bocah, gak mungkin gue tinggal," jawab Lya. Walaupun banyak pelayan dirumahnya, tapi dia tetap tidak ingin meninggalkan Dirga.


Karta sedang memikirkan cara. Setidaknya dia harus tetap membawa Lya menemui mamahnya. "Dirga ikut aja mau gak?" Tanya Karta pada Dirga.


Anak kecil itu mendongak menatap Karta. "Mau ngapain di rumah abang? Dirga di rumah aja," jawab Dirga menolak.


"Nanti kita main, dirumah abang banyak mainan. Emang kamu gak bosan dirumah terus?" Karta tetap mencari cara agar Dirga mau ikut dengannya.


Besar harapan Karta agar Dirga mengangguk setuju, tapi balasan dari anak itu malah berbeda. "Kalau kakak mau pergi gak apa-apa. Dirga disini aja sama mba Mulia," jawab Dirga lagi. Dirga memang punya pelayan pribadi, khusus untuk segala keperluan Dirga jika mami Risma tidak ada.


Lya ikut memutar otak agar Dirga mau ikut dengannya. "Ikut aja ya, gak enak sama tante Alira kalau kakak gak kesana. Habis dari sana kita kerumah ayah David, gimana?" Tanya Lya.


"Ya udah deh!" Ujar Dirga akhirnya.


Lya dan Karta tersenyum. "Lo bawa motor bang?" Tanya Lya. "Kita gak mungkin pergi bertiga pakek motor kan?"


Karta kembali berpikir. Benar juga, mana bisa dia membawa kedua kakak beradik ini. "Ya terus kalau gak naik motor mau gimana?" Tanya Karta balik.


"Kita pakek mobil aja, lo bisa duluan pakek motor lo," jawab Lya. Karena dia juga ingin mengunjungi bunda Intan nantinya, lebih baik dia membawa mobil sendiri.


Karta mengangguk setuju. "Gue ngikut di belakang," putus Karta.


Lya segera bersiap begitu juga dengan Dirga. Setelah itu mereka segera berangkat menuju rumah Karta. Seperti biasa, Dirga hanya diam menatap jalanan selagi Lya menyetir.


Lya menoleh pada Dirga. "Mau mampir dulu gak? Jajan gitu?" Tanya Lya pada Dirga.


Anak kecil itu menggeleng cepat. "Gak usah, gak sopan bawa makanan dari luar kalau kita bertamu. Kecuali kalau kakak beli untuk tuan rumah," jawab Dirga kembali mendiamkan Lya.


Lya tau kalau adiknya ini sangat pintar, apalagi selama ini Dirga sering sekali meminjam buku-buku Lya. Entah itu buku cerita atau buku pengetahuan umum, Dirga sering kali ketiduran dengan buku di dekatnya. Lya rasa Dirga sangat mirip dengan Bima, mereka sama-sama pintar dan suka membaca. Berbeda dengan Lya, dia sangat malas membaca untungnta Lya punya otak yang cerdas dan itu sangat membantu.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan prenku semuaaa.


__ADS_2